
Di tengah perbincangan keduanya suara mobil masuk pelataran terdengar oleh Sashi. Netranya langsung berbinar, ia hapal suara mobil itu. Tak menunggu lama ia pun langsung melangkahkan kaki keluar. Lutfi terus menggeleng sembari tersenyum.
"Sashi terlihat begitu terikat pada Aric. Apa langkah yang kuambil ini terlalu jahat ya Rob, memisahkan sepasang suami istri yang saling mencintai. Ini memang sebetulnya salah, tapi Sashi masih terlalu lugu dan Aric perlu dipecut. Ahh, baik akan kulihat, sejauh mana usaha Aric ... mungkin keputusanku bisa berubah."
...▪♧♧♧▪...
Wajah pria tampan di mobil seketika merona. Isrtri kecilnya tampak keluar rumah. Ia paham, istrinya itu pasti sudah rindu, kelewat rindu bahkan. Sashi berdiri di sisi pilar dengan senyum membingkai wajah ayunya. Aric menatap bibir merona itu, terlihat Sashi seperti halnya ia ingin memberi penampilan terbaik untuk pasangannya. Aric tersenyum. Ia baru saja mematikan mesin mobil saat suara ketukan terus terdengar di kaca mobil di sisinya. Aric membuka jendela itu.
"Kakak jangan keluar dulu! Tolong buka pintunya!" Suara Sashi langsung di dengarnya. Ia menekan sebuah tombol dan otomatis pengunci terbuka. Sashi langsung masuk ke jok depan di sampingnya.
"Kakak kenapa lama! Apa Kakak baru ingat hari ini jadwal Kakak datang! Kakak tau sejak pagi aku sudah bersiap untuk kedatangan Kakak. Tapi Kakak tak juga terlihat! Kakak tau sudah berapa kali aku mondar mandir melihat teras? Sudah tak terhitung! Ini kakiku sampai pegal. Otakku bahkan mulai berfikir kemungkinan Kakak sedang bersama mbak Aruna. Aku jadi sedih. Apa posisiku sudah tergeser mbak Aruna? Apa cinta Kakak sudah hilang? Apa------
Belum lagi Sashi melanjutkan kata, Aric sudah meraih tubuh mungil dengan manik yang mulai berkaca itu masuk dalam dekapannya. "Jangan bicara lagi! Kamu tahu 5 menit berlalu hanya mendengar setiap kalimatmu barusan! Begini lebih baik! Buang setiap fikiran negatif itu, aku rindu Sashi! Sangat rindu Sashi Mumtaz!" Aric mempererat lagi pelukannya, sangat erat.
"Kakak, jangan terlalu kencang, sakit!" kata polos itu spontan terucap, Aric tersenyum. Ia melonggarkan pelukannya. Menyapu kepala dan merapihkan anak-anak rambut itu ke belakang. Aric mulai mencium kening Sashi, ke pipi, hidung, bibir, dagu dan seluruh bagian wajah itu tak terkecuali. Ia rindu wajah itu, seakan tak puas-puas wajah Sashi diciumnya.
"Ka-kak, su-dah!" Sashi mendorong pelan raga Aric.
"Kenapa? Kamu sekarang tidak suka aku cium?" lirih Aric masih mencium wajah itu.
"Malu dilihat-----
"Tidak ada yang bisa lihat! Kacanya gelap!"
"Ka-kkk!"
Aric menghentikan aktivitasnya. Ia menatap lekat Sashi. "Apa lagi hem?"
"I-tu ... ada ayah!"
"Sudah kukatakan kacanya tidak terlihat dari luar!"
"Tapi jendelanya terbuka!"
"Hahh?" Aric menoleh dan kaget ada mertuanya berdiri terus menggelengkan kepala.
"Sash .... Ajak Aric masuk, jangan di mobil!" pekik itu terdengar, tak lama Lutfi sudah tak terlihat. Ia masuk membawa Shiza yang sudah tertidur karena lelah ke kamarnya. Agaknya ia paham dan membiarkan dua insan untuk berdua saja menghabiskan waktu.
Tok .... Tok ....
"Ayahhh ...!"
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Lutfi kaget Sashi justru datang ke kamarnya.
"Aku mau ambil Shiza, nanti dia mengganggu Ayah!"
__ADS_1
"Shiza tidur biarkan di sini! kamu temanilah Aric, ia sepertinya begitu rindu! Tanyakan ia sudah makan atau belum, layani makannya dan temani saja suamimu itu!"
"Oh." Sashi mengangguk. Pintu tertutup
•
•
"Mana Shiza?"
"Tidur di kamar ayah. Kata ayah aku layani Kakak saja," lirih kata itu terucap. Aric tersenyum.
"Kakak sudah makan?"
"Hmm ... kamu sudah?"
"Sudah tapi sedikit!"
"Ya sudah aku mau makan, kita makan bersama!" Aric merangkul bahu itu, mencium puncak kepala Sashi selama menuju dapur.
Sashi mengambil makan untuk Aric dan ikut duduk di samping suaminya itu. Mereka santai saja walaupun ada Ningsih di tepi sedang membersihkan perkakas.
"Ayo Kak di makan!" ucap Sashi. Aric yang disajikan makan bukan memasukkan makan ke mulutnya tapi ia justru terus menyuapi Sashi. Ia senang Sashi terlihat lahap.
"Iya kamu dulu! Apa saat sarapan kamu makan sedikit?" tanya Aric melihat Sashi yang tampak lahap dan terus membuka mulut.
"Hanya masuk beberapa suapan. Perutku sedang tidak baik!" Aric menghentikan aktivitasnya.
"Sashi sakit?" Wajah Aric mendadak panik. Sashi menggeleng. Ia yang ingat hasil tespack itu justru terus tersenyum. Ia membayangkan betapa bahagianya Aric jika mengetahui sudah ada benihnya di dalam perutnya. Sebaliknya Aric heran melihat Sashi yang dikhawatirkan justru terlihat senang.
"Kamu baik-baik saja?"
"Ka-kak ... aku baik-baik saja, tapi aku punya hadiah untuk Kakak!"
"Hadiah?"
"He em. Nanti kuberitahu setelah makan!"
"Oh, oke!" Aric menyapu puncak kepala Sashi. Istrinya itu terlihat seperti kucing kecil yang menggemaskan.
"A lagi, Kak," pinta Sashi sudah membuka mulutnya lagi, Aric tersenyum.
"Aku suka makan disuapi Kakak!" Sashi terus bicara sambil mengunyah.
"Jangan bicara saat mengunyah, Sayang!" Sashi tersenyum. "I-ya Kakak," jawab Sashi masih sambil mengunyah. Aric menggelengkan kepala.
__ADS_1
Di kejauhan Ningsih bahagia melihat interaksi dua insan tak jauh dari raganya itu. Ia bahkan lega melihat Sashi bisa makan banyak tanpa mual disuapi Aric. Ningsih tampak mendekat saat ini.
"Mas Aric mau minum apa?" tanya Ningsih.
"Air putih saja, Bik!"
Tak berselang lama Ningsih sudah kembali lagi dengan air putih dan teh panas. Tanpa diminta Ningsih sudah membuatkan minuman Sashi.
"Ini teh untuk siapa?" tanya Aric bingung.
"Ini punya mbak Sashi, Mas!" Ningsih melenggang pergi.
"Aku baru tahu kamu suka teh panas?" Sashi tersenyum. "Semenjak di sini aku suka teh panas, Kak."
"Ohh ...."
Dan keduanya pun menyelesaikan makan mereka. Makan Sashi tepatnya. Aric sudah merasa kenyang melihat istrinya itu makan dengan lahap dan bersemangat. Toh ia juga sebetulnya sudah sarapan banyak tadi pagi, ia mengiyakan tawaran Sashi karena mendengar Sashi makan hanya sedikit saat sarapan.
"Kakak ayo ikut! Aku akan tunjukkan sesuatu!" Aric mengikuti jemari Sashi menariknya hingga memasuki kamar. Baru saja membuka laci ingin mengambil alat tes kehamilan, ia seketika berbalik arah. Sashi berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Aric mengejar. Ia kaget melihat makanan yang belum lama masuk kini sudah keluar lagi.
"Sayang, ada apa?" Setelah membersihkan mulut dan kotoran yang ia keluarkan , Sashi berdiri.
"Ka-kak ... ma-af makanannya keluar lagi seperti biasa."
"Seperti biasa? Kamu se-ring seperti ini? Apa Sashi sakit? Ayo kita ke dokter sekarang juga!" Sashi mendekati raga suaminya itu, dilingkarkan lengan di leher Aric. Ia berjinjit dan berbisik.
"Kakak aku bukan sedang sakit. Ta-pi a-ku------
"Aku apa?"
Sashi mengambil satu telapak tangan Aric dan mengarahkan ke perutnya. "Semua karena i-ni! Ada Aric kecil yang sangat nakal di dalan si-ni!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Selalu dinanti komen dan like kalian❤❤
☕Sambil nunggu bisa mampir dulu ke chat story Bubu, yang ceritanya gak kalah meliuk-liuk. Sudah END yaa😊
☕Bisa klik foto profil Bubu🌹🌹
JUDUL : Bayang Masa Lalu SANG DUDA
__ADS_1