Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
KERAGUAN ITU HILANG


__ADS_3

☕FLASHBACK


Semua raga mengikuti mobil Aric dari belakang, meninggalkan Kalina yang memilih menjaga Shiza yang masih tampak pulas di rumah. Ya, walau hatinya terfikir pada kondisi menantunya, tapi sudah banyak orang yang mendampingi Sashi. Pun Shiza juga membutuhkan penjaga. Ia memilih di rumah menjaga cucu pertamanya itu.


Sampai di rumah sakit, Sashi langsung di bawa ke UGD melakukan pemeriksaan hingga akhirnya diketahui melalui USG janin itu sudah tidak bergerak dan detak jantung itu tidak terdengar. Janin itu tidak bertahan. Sashi dibawa ke ruang pembedahan setelahnya.


Aric sedih bercampur gusar, marah pada perilaku ceroboh Kaysan yang menyebabkan calon anaknya tiada. Sashi yang belakangan tercekam banyak beban baru akan merasa bahagia kembali ke rumah justru masalah yang lebih berat menimpa, menyisakan kehilangan yang sangat menyakitkan.


Aric tak terkendali, dicengkram kerah baju yang dipakai Kaysan. Ditarik raga itu hingga ke tepi. "Puas! Kamu puas sekarang! Kamu menyebabkan calon bayi kami tiada. Jahat! Ini yang kamu bilang cinta? Cinta yang memaksakan kehendak? Cinta yang membuat orang yang dicinta kesakitan? Bahkan kehilangan?" Kaysan terdiam. Tampak ia juga tak menyangka akan terjadi hal seperti itu.


"Aric sabar, Nak!" Aira mendekat menahan lengan Aric yang bertambah kuat menarik pakaian yang Kaysan kenakan. Kaysan pasrah.


"Sadarilah! Cerita kalian sudah lama berakhir! Kamu fikir hidup yang kami jalani mudah? Tidak! Karena ada bayang-bayang kamu selalu, adikku! Tapi siapa yang menjadi korban di sini? Sashi! Lagi-lagi istriku yang polos itu adalah korban!" Aric menghentikan kalimatnya sejenak dengan air mata sudah bercucur di pipi.


"Aku menggantikanmu menikahi Sashi, benar! Aku ingat amanahmu? Itu pun benar! Semua orang di sini menjadi saksi bagaimana Sashi sempat ingin menyerah dalam hidup karena aku tak pernah memberi cinta suami yang seharusnya! Aku salah! Aku berdosa! Karena aku memegang janji pa-da-Mu!" Aric menunjuk dada Kaysan baru melanjutkan ucapannya.


"Sashi tidak tahu apa-apa, tapi ia yang harusnya masih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya menanggung banyak beban itu! Beban kesepian! Tidak dicintai! Mengalami masa kehamilan di usia belianya seorang diri. Karena apa? Karena aku menjaga janjiku padamu! Aku selalu ingat kamu masih ada, kamu masih terbaring di ranjang itu walau seolah tanpa jiwa! Dan Sashi menjadi korban kerapuhanku!" Aric melepas eratan di pakaian Kaysan. Ia berlutut di lantai tampak sangat sedih dan lemah.


"Jangan jadi pria lemah Aric. Bangun!" pekik Rico.


"Diam Pa! Aku juga muak pada Papa! Papa secara tidak langsung membelitku pada lingkaran kisah Aruna. Papa lelaki brengsek! Terlepas Papa ternyata bukan papa Ciara, tapi Papa berdosa telah bermain di belakang Mama! Menghancurkan Aruna dan mengembangkan bibit kebencian dalam hati Aruna! Karena apa? Karena Papa tidak bersyukur memiliki Mama!"

__ADS_1


"Kamu berlebihan Arr! Kamu yang terlalu sok pahlawan!" dalih Rico.


"Iya aku salah! Selalu aku yang salah menurut Papa! Padahal aku sedang berusaha membayar kesalahan Papa di masa lalu! Sekarang jujur Pa! Apa Aric benar-benar anak Papa? Mengapa Papa selalu menomor duakan Aric!"


"Apa ini! Tentu kamu adalah anakku!"


"Aric tidak percaya!"


"Tes DNAku jika kamu ragu! Kamu putraku!" Rico mendekat, namun Aric membuang wajah.


Lutfi yang sejak tadi terus menggelengkan kepala mendengar setiap penuturan Aric ikut melontarkan keganjilannya.


"Tunggu Ric, bukankah anak sulungmu dulu setauku pe-rem-puan?" Aric menoleh dengan cepat.


"Berikan saja jawabanmu, Pa! Siapa bayi perempuan itu?" gusar Aric.


"Berhenti bicara keras pada papamu, Arr!" Wanita paruh baya berambut ikal bersama seorang bayi dalam gendongannya tampak mendekat. Ya, Shiza terbangun dan terus menangis di rumah tadi membuat Kalina berinisiatif membawanya ke Rumah Sakit. Bersyukur saat di mobil Shiza yang letih menangis dan menolak diberi apa pun ke mulutnya akhirnya terlelap.


"Ma-ma?"


"Titip sebentar, Mbak!" Kalina menyerahkan tubuh Shiza pada Aira.

__ADS_1


"Kamu itu anak kami, Ar! Jangan sangsikan itu! Masalah bayi perempuan, sebenarnya kami sudah menutup rapat kisahnya. Ia saudara kembarmu, tapi di usia 3 bulan ia panas dan tidak tertolong. Saat mas Lutfi menjenguk, papamu memang sedang menggendong Alana, adik kembarmu karena kondisimu lebih kecil jadi masih berada di ruang inkubator. Jadi tidak boleh ada yang meragukan kamu putra kami. Kamu lahir dari rahim Mama, Ar. Dan masalah Papa yang sering mengutamakan keperluan Kay, semua tak lain karena untuk mendapat anak kedua saat itu kami terbilang kesulitan. Butuh waktu 7 tahun dengan pengobatan ke sana ke mari hingga akhirnya Mama hamil Kay, bahkan saat itu kondisi Kay sangat lemah." Mama melihat Aric dan Kay secara bergantian baru melanjutkan ucapannya.


"Walau Aric terlahir prematur tapi kondisi fisiknya kuat, berbeda dengan Kay. Kay terlahir dengan bobot terbilang besar tapi fisiknya lemah, bahkan jalan na-pas itu sempat berhenti." Mama terlihat sangat sedih membuka kisah itu. Aric mendekat mencium puncak kepala wanita yang nyatanya adalah ibu kandungnya itu.


"Sudah Ma, jangan lanjutkan! Aric percaya anak mama dan papa. Maaf Aric meragukan kalian!" Aric memeluk raga Kalina. Rico membuang napas kasar, berusaha menetralkan sesak yang ia rasa. Ya, sekeras apa pun ia. Ia sedih melihat Kalina membuka cerita kelam itu.


Belum lagi melanjutkan kata, pintu ruang pembedahan itu akhirnya terbuka, dua orang perawat mendorong ranjang keluar. Aric seketika mendekat menatap gadis polos tampak pucat dengan mata terpejam. "Bagaimana istri saya, Dok?" tanyanya.


"Rahim pasien sudah dibersihkan, sementara pasien masih di bawah pengaruh obat bius."


"Aric tetaplah di sini! Sepertinya kalian sekeluarga perlu duduk bersama, membuka setiap yang mengganjal dengan kepala dingin. Semua keraguan sudah ditepis. Tinggal kalian perlu saling memaafkan satu sama lain," lirih Lutfi. Keempat raga keluarga perwira menunduk. Di dalam hati mereka membenarkan ucapan Lutfi.


"Satu lagi! Kay! Putriku untuk saat ini hanya menginginkan Aric! Tentu hubunganmu dan Shiza selamanya tak akan terputus, tapi Sashi adalah istri Aric kakakmu. Legowo itu baik. Kamu masih muda pasti Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu, seseorang yang akan melengkapimu. Yakinlah, Nak!" lirih Lutfi yang beberapa saat lalu berjalan mendekati Kaysan. Kini ia terlihat merangkul sosok yang sempat akan menjadi calon menantunya namun nyatanya Pencipta memiliki takdir lain. Kaysan terdiam beberapa saat, menatap wajah sang kakak dan mencerna setiap kata yang diucap kakaknya itu baru kemudian ia mengangguk. Lutfi tersenyum tenang.


"Baik sementara menunggu Sashi sadar biar kami yang menunggu Sashi di kamar. Kami akan memanggilmu setelah Sashi sadar, Arr!"


"Terima kasih, Yah!"


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Masih ada beberapa bab ke depan menuju end yaa❤❤


☕Untuk mas Dimas, selalu di hati Bubu. Segera diinfokan jika sudah mulai ada🙏


__ADS_2