
Tin ... Tin ... Tinnnn ....
Sahut-sahutan suara klakson mobil membuat riuh area perempatan jalan dengan lampu merah yang beberapa menit lalu telah berganti hijau, namun jejeran kendaraan masih terlihat.
Dug ... Dug ....
Pria tegap dalam sebuah mobil itu tiba-tiba tersentak, sadar dari lamunan saat ada ketukan terus terdengar dari jendela yang berada di sisinya. Jendela itu dibuka.
"Woiii ... lo tidur? Ini jalanan woii. Noh lo liat jalanan macet gara-gara mobil lo nggak jalan jalan!"
Seorang pria ditaksir berusia 24 tahun itu marah, suaranya nyaring dan kedua tepi alis itu saling berpaut. Pria tegap dalam mobil hanya bisa mengangguk. Ia menutup jendela dan mengemudikan mobil setelahnya.
"Hahh ... Sashi, aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Tahukah kamu kalau aku selalu mengingatmu di mana pun," lirih pria di dalam mobil itu.
Di arahkan setir itu kini ke arah kanan masuk ke sebuah pelataran masjid. Ya, belum lama tadi adzan isya telah berkumandang. Seperti hari-hari biasanya, ia akan sholat isya di sana sebelum akhirnya ia ke rumah gadis kecil yang selalu menantikannya setiap malam, Ciara.
Aric memanggil seorang pedagang asongan yang baru selesai melaksanakan sholat isya. Aric mengambil 2 botol minum dan membayarnya. Pedagang asongan itu pergi.
Aric menatap botol minum itu, spontan bibirnya tersenyum. Apalagi yang terjadi kalau bukan Aric mengingat Sashi. Sashi yang begitu antusias menyiapkan botol minum untuknya setiap kali hendak ke rumah Aruna. Ia rindu momen itu, momen kepanikan Sashi yang takut ia terpedaya Aruna.
Tak berselang lama senyum itu berubah jadi kepiluan. Aric sadar raganya tak bisa lagi memeluk istrinya itu. Empat hari! Sudah empat hari Aric menghabiskan malamnya sendiri. Ya, setelah pulang dari rumah Aruna tentunya.
Lima menit berlalu setelah Aric mengemudikan mobilnya lagi dari pelataran masjid. Bangunan dominasi orange dan abu berada di hadapannya. Aric menarik napas panjang sebelum ia membuka pintu dan membawa raganya masuk ke rumah itu.
"Mass ... kamu sudah datang?" Aruna tiba-tiba sudah ada di hadapan Aric dengan pakaian kurang bahannya.
"Sedang apa Ciara?" datar Aric.
"Masih bermain. Kita makan malam dulu ya, Mas. Kamu pasti lapar kan, setelah seharian bekerja?" ucap Aruna melingkarkan tangan di leher Aric.
"Lepaskan tanganmu! Aku sudah makan di kantor tadi!"
"Mass ... tapi aku belum makan, aku menunggumu datang dan ingin makan bersamamu, please!"
Tak jua melepaskan tangannya, Aric menarik lengan itu hingga eratannya terlepas. "Jangan lupa batasanmu dan tak perlu bertingkah seolah kamu benar-benar menjadi istriku, istriku hanya satu ... Sashi!" Aric melangkah pergi.
"Mas ... tunggu Mas! Tapi aku memang istrimu! Aku berhak kamu cintai juga, Mas!" Aruna melangkah dengan cepat dan berhenti di depan Aric. "Mass ... please belajarlah mencintaiku! Aku juga bisa jadi istri penurut seperti istri pertamamu yang masih bocah itu!"
"Jangan menyinggung istriku dan berhenti meminta ini dan itu padaku!" Aric membentur bahu itu dan melewatinya. Ia masuk ke kamar Ciara.
"Kamu baru saja menyentuhku, Mas! Ya, walau hanya sebuah benturan di bahu tapi ini awal yang baik. Kamu suamiku, Mas. Tidak berdosa kamu menyentuhku, aku milikmu!" lirih Aruna bicara pada dirinya sendiri.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22:30. Aric senang melihat Ciara mulai terus menguap saat mendengar cerita yang ia bacakan.
Diam-diam Aruna mengintip, ia terus memperhatikan setiap perilaku Aric pada Ciara. Ia mengerjapkan matanya tanpa sepengetahuan Aric ke arah Ciara. Ciara yang melihat kerjapan Aruna membalas kedipan di matanya.
"Papa, Cia sudah mengantuk!"
"Iya tidurlah, Sayang!" ucap Aric terus mengusap-usap rambut Ciara.
"Tapi boneka Marsya Cia tidak ada. Papa kan tau Cia tidak bisa tidur kalau tidak peluk Marsya, bisa Papa ambilkan boneka Cia?" Manik mata itu menatap Aric penuh pengharapan dan Aric mana bisa menolaknya.
__ADS_1
"Tentu saja, katakan di mana boneka Marsya Cia berada, hem?"
"Di kamar bunda. Tadi siang Cia main di kamar Bunda."
"Di sana rupanya. Bagaimana ini? Tapi aku tak bisa menolak keinginan Cia. Ia sakit! Pun aku juga tak ingin ke kamar wanita itu! Aku harus sebisa mungkin menjauh dari Aruna!" bisik batin Aric.
"Tapi bagaimana perasaan Cia jika aku menolak inginnya! Ia hanya ingin boneka Marsyanya. Aku akan mengambil boneka itu dan segera ke luar. Mengapa juga aku harus takut pada Aruna? Ia hanya seorang wanita!" bisik batin Aric lagi.
"Papa ... kenapa Papa diam? Papa mau ambilkan boneka Cia, kan?"
Aric terdiam sesaat, hingga seketika kepala itu spontan mengangguk. Aric tak bisa menolak pinta Ciara, ia mengiyakannya.
"Makasih Papa."
Aric ke luar kamar setelahnya, berjalan ragu ke kamar Aruna. Aric mengetuk kamar itu namun tak jua ada tanggapan.
"Apa Aruna sedang ke luar? Kalau aku kembali tanpa membawa boneka Ciara, ia pasti sedih. Atau aku masuk saja. Segera ambil boneka itu dan keluar. Ya, begitu saja," batin Aric.
Pun Aric akhirnya memutuskan untuk ke kamar itu, ia tak tahu di dalam Aruna sudah merencanakan sesuatu. Aruna sangat yakin Aric akan memenuhi ingin Ciara, ia kini bersembunyi di balik pintu menunggu Aric masuk.
Tak menunggu lama sang mangsa tiba. Aric dengan tenang masuk ke kamar itu, membukanya perlahan dan menuju ranjang di mana boneka Marsya tampak jelas terlihat. Aric berbalik arah setelahnya menuju pintu keluar, namun ia terperanjat Aruna sudah berdiri menahan pintu dan memainkan sebuah kunci di jemarinya. Aric menggelengkan kepala dan berdecih.
"Permainan apa ini?"
Aruna tersenyum. "Kamu tahu saja, Mas. Aku memang ingin bermain-main denganmu!" Aruna mendekati raga tegap yang membuang wajah darinya itu.
"Apa maumu sebetulnya? Berikan kuncinya!"
"Hebat! Bahkan kamu tahu istriku sedang tidak di rumah. Mengapa aku jadi berfikir bahwa kamulah orang yang memberitahu ayah Lutfi tentang pernikahan keduaku!"
"Ya, memang aku yang melakukannya! Aku tidak suka gadis kecil itu terus membuntutimu!" lugas kalimat itu terucap. Aric menggelengkan kepala dan lagi-lagi berdecih menaikkan sebelah sudut bibirnya. Tapi Aric sungguh tak ingin memperpanjang itu toh semua sudah terbuka, namun ia jadi tahu bagaimana sesungguhnya kepribadian Aruna.
"Jangan paksa aku menyakitimu! Berikan kuncinya!" ujar Aric.
"Tapi aku menunggu saat kamu menyakitiku! Boleh! Kamu boleh menyakitiku! Tubuhku ini milikmu. Aku istrimu, Mas!" Aruna yang berdiri di hadapan Aric seketika membuka tali piyama yang dikenakan dan menjatuhkan piyama itu ke lantai. Aruna sudah tak memperdulikan harga diri. Toh ia sedang bersama lelaki yang sudah menjadi suaminya.
Aric menunduk. Berusaha keras tak melihat tubuh yang hanya berbalut penutup aset kembar dan kain segitiga itu.
"Kenapa menunduk, Mas! Aku itu istrimu! Tidak dosa melihat tubuhku! Menyentuhnya pun boleh!" Aruna merangkulkan jemarinya di leher aric.
Aric membuang napasnya kasar. Perilaku Aruna sudah di luar batas. Bukannya ia suka, justru ia muak. Kelakuan Aruna bak wanita murahan saja, fikir Aric.
"Mass ... ayo cium aku! Atau kamu lebih senang kalau aku yang menciummu lebih dulu?" bisik Aruna mendekatkan bibirnya ke wajah Aric.
"Mundur Aruna!"
"Tidak ... tidak akan, Mas! Aku istrimu, istri sahmu juga, aku berhak mendapatkan hakku! Aku ingin bersamamu malam ini Mas, please! Aku janji hanya malam i-ni!"
Aruna baru akan memeluk tubuh tegap Aric, namun jemari Aric lebih dulu mencengkram kedua bahu Aruna. Aric menahan tubuh itu.
"Ingat batasanmu! Kamu sepertinya lupa kalau kita tidak akan menuntut hak satu sama lain!"
__ADS_1
"Aku benci perjanjian itu! Aku ingin jadi istrimu seutuhnya, Mas!" Aruna mengiba.
"Oke kalau kamu ingin melanggar perjanjian kita, pun berarti aku juga bisa menceraikanmu tanpa menunggu Ciara sembuh!"
"Tidak Mas! Jangan ... jangan lakukan itu! Jangan ceraikan aku! Oke ... aku tidak akan memaksamu menyentuhku!" Bayangan hidup susah seketika terlintas di benak Aruna. Aruna tak ingin hidup kepayahan lagi.
"Oke, sekarang katakan di mana kunci itu!"
"Kamu harus mencarinya sendiri di sekitar tubuhku ini!"
"Berhenti bermain-main Aruna!" Cengkraman di bahu itu semakin kencang.
"Ahh ... sakit, Mas!"
"Kau yang membuat aku melakukan ini! Sekarang katakan di mana kuncinya!" lugas Aric, kemarahan jelas sekali di wajah itu.
"I-ni di-sini!" Aruna melirik pakaian dalam bagian atasnya. Ya, saat Aric lengah Aruna memasukkan kunci ke dalam penutup asetnya.
"Cepat ambil!"
"I-ya, tapi lepaskan du-lu, ahh ... sakit, Ma-ss!" Aric melepaskan cengkraman tangannya dan membuang wajah saat Aruna mengambil kunci itu. Ia menyerahkan pada Aric setelahnya.
"Dengar! Jangan pernah memperdayaku seperti ini lagi, terlebih menggunakan Ciara! Jadilah seperti wanita terhormat, jangan sembarangan mempertontonkan tubuhmu pada setiap lelaki, tidak semua lelaki menyukainya!" Aric mendorong tubuh itu ke ranjang setelahnya.
Sebelum membuka pintu, Aric menoleh lagi. "Dengar Runa! Aku masih mempertahankan pernikahan ini hanya karna Ciara. Aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu, tubuh Sashi sudah cukup untukku!"
BRAK
Pintu tertutup.
Tak berselang lama bunyi benda yang terlempar kuat membentur cermin terdengar. Berserakan lah serpihan cermin itu.
"Alaric! Pria yang sombong! Aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu malam ini!Laki-laki munafik! Lihat saja, aku akan buat kamu menjadi milikku, sebab hatiku sudah terpaut lama padamu! Alaric harus menjadi milik Aruna! Dan sashi ... aku benci gadis sok polos itu, ia selalu mendapat apa yang ia mau!"
Setelah baru saja mengeluarkan kemarahan, Aruna kini terisak. "Mengapa Tuhan tak adil memberi takdir padaku ...!"
•
•
Di luar kamar seorang pria terus berguman sambil kakinya terus melangkah menuju pintu ke luar.
"Maaf Sayang aku telah menyentuh Aruna, aku terpaksa menyentuh bahu itu. Aku juga telah menodai mataku.
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Komen, like dan vote selalu Bubu tunggu❤❤
☕Thanks for support😉
__ADS_1