Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
DATANGLAH KE RUMAH SAKIT!


__ADS_3

Seorang pria di dalam mobil tampak semringah, bibirnya sejak pagi tak bisa mengatup. Ia ingin terus menampilkan gigi putihnya. Ya, lelaki itu sedang bahagai, sangat bahagia! Seminggu sudah kerinduan itu tertahan, hati itu hampa, tapi tidak untuk hari ini. Bayangan akan bertemu wanita tercinta sekaan membuatnya gila. Seperti orang gila.


Entah berapa banyak kemeja yang ia coba dan akhirnya kembali masuk ke lemari karena ia ingin memberi penampilan terbaik pada wanitanya. Berapa banyak minyak wangi ia semprot ke tubuh, agar wanitanya tak menghirup aroma lain selain harum tubuhnya, dan entah sudah berapa kali ia patutkan wajahnya ke cermin memastikan tak ada sisa bulu di wajah yang akan membuat sashi memberengut. Ya, Sashi suka wajahnya yang bersih.


Kaca spion bak mata-mata. Ia yang paling tau bagaimana groginya Aric saat ini, entah berapa kali ia memastikan kesempurnaan penampilannya melalui spion itu. Untungnya spion itu bukan Aruna atau wanita lain yang tentunya akan merona terus di tatap oleh wajah rupawan Aric.


07:20 terlihat pantulan angka di mesin analog kotak di lengannya. Sebenarnya ia ingin datang setelah sholat subuh, tapi tentunya akan mengganggu kenyamanan penghuni rumah Sashi, pun ia bersusah payah menunggu hingga jam 7 tadi ia putuskan untuk berangkat.


Mobil sedan putih keluaran terbaru itu sudah memasuki gerbang perumahan, hingga tiba-tiba ponsel Aric terus bergetar. Wajah Kalina muncul di sana.


"Mama? Tumben menelepon di minggu pagi seperti ini?" gumam Aric.


"Assalamu'alaikum, Sayang ...."


"Wa'alaikumsalam, Ma."


"Arr ... lekas datang ke rumah sakit! Kay sadar! Adikmu sadar, Sayang!"


"Arr ... Arr ... kau dengar Mama, kan? Mama sudah di rumah sakit, Papa sedang di luar kota. Lekas datang Mama tunggu, Nak!" Jantung itu mulai bekerja tak teratur, suara panik Kalina membuat Aric sesak! Bukan ... bukan tentang suara Kalina. Tapi tentang berita yang diucap oleh Kalina. Aric seketika menghentikan mobilnya ke tepi, di dengarnya suara Kalina terus memanggil namanya.


"Aric segera datang!" Tombol pemutus itu di tekan Aric. Aric bergeming. Bangunan bercat abu-abu itu bahkan sudah terlihat. Desiran kerinduan baru saja ingin ia salurkan tapi ia justru bergeming kini. Khayal indah itu seakan musnah dalam sekejap. Tak bisa maju dan mendekat rumah itu, sebab Kalina menunggunya ... Kaysan menunggunya.


Aric memutar kembali arah lajunya, jantung itu masih berdetak cepat di dalam sana. Belum lagi masalahnya dengan Sashi selesai, Kaysan sudah sadar. Ia sungguh tak ingin kehilangan Sashi, tapi tak juga bisa menghindar dari Kaysan. Setelah beberapa saat otak itu seakan berputar-putar tanpa titik temu. Akhirnya Aric menyerah. Ditarik napasnya panjang.


"Aku pasrah dengan yang terjadi, akan kuhadapi Kaysan dan kupertahankan Sashi. Sashi adalah milikku. Saat ini dan selamanya akan tetap begitu!"

__ADS_1


...▪♧♧♧▪...


Sedan itu terparkir sempurna. Raga tegap seketika masuk ke bangunan berdominasi putih dan menuju lantai 3 kamar isolasi sang adik berada.


Pintu lift terbuka. Punggung wanita yang dicintai langsung tertangkap netranya, ia sedang berdiri di muka kamar bersedekap dada. Aric mendekat dan langsung merangkul Kalina dari samping. Kalina berbalik, pancaran ketenangan itu langsung terlihat. Ya, Kalina tenang tak sendiri lagi menghadapi situasi itu.


"Arr .... Adikmu sudah membuka matanya. Ia sudah siuman dari tidur panjangnya. Ternyata ia bisa melewati segalanya. Ia sadar tanpa bantuan Sashi maupun Shiza. Putraku telah kembali, Kaysanku kembali. Terima kasih ya Robb," lirih Kalina. Aric memaksakan tersenyum.


"Kalau Kay sudah sadar, mengapa Mama justru di luar?" tanya Aric.


"Dokter sedang memeriksa adikmu. Sudah 5 menit mereka di dalam. Entah apa saja yang mereka cek hingga begitu lama. Tidak taukah mereka kalau Mama sudah tak sabar ingin bercengkrama dengan Kay!"


"Sabar Ma, ini prosedur kedokteran. Percayakan para dokter itu. Oh ya, Pa-pa sudah Mama hubungi, kah?" Setelah terus menarik napasnya panjang, Aric melontar kata.


"Belum, Sayang. Papamu baru saja berangkat ke Surabaya pagi tadi. Ada pertemuan para pengusaha besar di sana. Jika Mama hubungi sekarang, Mama khawatir menggangu acaranya."


"Oh ya Ma, kondisi Kay--- Humm, bagaimana kon-disi Kay saat sadar tadi? Apa ma-tanya sungguh telah terbuka?" tanya Aric dengan sangat hati-hati.


"Bukan hanya matanya yang terbuka, adikmu itu tadi langsung memanggil Mama, ia tidak lupa! Sangat jelas ia tadi memanggil Mama. Juga jemarinya ... Jemarinya Kay kau tahu, Sayang! Jemari Kay menarik tepi pakaian Mama saat hendak keluar tadi. Hah, Kaysanku," ujar Kalina dengan wajah semringah menceritakan segalanya.


"Keluarga pasien Kaysan!" Seorang perawat berteriak. Kalina dan Aric serempak mendekat.


"Kalian sudah bisa masuk," ucap sang perawat. Kalina bersama Aric langsung mengikuti perawat melangkahkan kaki ke dalam. Mereka berpapasan dengan beberapa dokter yang berjalan keluar.


"Maa," lirih panggilan itu terucap dari sosok pria yang terbaring di ranjang. Dada Aric sesak, entah mengapa Aric sungkan berhadapan dengan Kaysan. Ada rasa bersalah di hati itu, rasa bersalah yang menyeruak kuat. Kalina mendekati ranjang dan Kay langsung menggenggam kuat jemari wanita itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, raga rupawan yang tengah terbaring menyadari ada sosok lain di sana. Wajahnya merona, Aric adalah kakak yang begitu ia banggakan. Pun ia memanggil Aric.


"Ka-k." Aric berjalan perlahan mendekati ranjang Kay. Dalam otaknya mulai mengira-ira kata apa yang akan Adiknya ucap. "Apa Kay akan menanyakan Sashi?"


Aric memeluk Kay. Senang adiknya itu sadar. Ia memaksa keras tersenyum, Kay membalas senyuman itu. Kay tampak mengedarkan mata, ia mencari-cari seseorang. Dada Aric mulai sesak, tak lama Kay berkata lirih. "Pa-pa ... ma-na Papa, Ma, Ka-k?"


Aric membuah napas, ia tenang nyatanya bukan Sashi yang dicari Kaysan melainkan Rico, papa mereka.


Kalina mendekatkan wajahnya ke wajah Kay. "Papa ada keperluan, tapi ia akan segera datang," ujar Kalina yang masih tak bisa berhenti tersenyum karena bahagia.


"Ma, mengapa aku bisa terbaring di-sini? Bukankah aku harus sekolah? Tolong kabari Miss Eva aku tak bisa masuk sekolah, Ma?" Kalina dan Aric saling menoleh dan memandang. Mereka bingung dengan kata yang diucap Kaysan.


"Mi-ss E-va?"


"Iya. Apa Mama lupa? Dia wali kelasku."


"Miss Eva adalah wali kelas Kay di bangku kelas 10. Apa ini artinya sebagian ingatan Kay hi-lang?" batin Aric.


Belum lagi tanya itu terjawab seorang perawat masuk. "Permisi, satu dari pihak keluarga tolong ke ruangan Dr. Syarif!" Perawat itu langsung pergi lagi tanpa mengucap kata lain.


"Arr ... pergilah menemui dokter, biar Mama menemani Kay!"


_________________________________________


☕Happy rading😘

__ADS_1


☕Bubu mengucapkan terima kasih banyak atas supportnya selalu untuk Sashi. Ditunggu selalu komen kalian. BigLove❤❤


☕Bab selanjutnya di set jam 7:30 jangan lupa komen dan like di tiap bab😉


__ADS_2