Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
TIDAK BISA TIDUR


__ADS_3

Pun akhirnya Aric mulai menaikkan gaun itu perlahan. Saat masih berusaha menaikkan gaun dengan memiringkan tubuh Sashi perlahan ke kanan dan kiri, tiba-tiba mata yang sebelumnya terlelap itu terbuka.


"Ka-kak sedang a-pa?"


"Eh, Sash. I-ni ga-un ...." Walau niat itu baik tetap saja perilaku diam-diam seperti itu membuat Aric seperti pencuri yang kepergok polisi. Aric bingung menjawab apa, hingga kata yang keluar singkat dan terbata.


Sashi mengangkat tubuhnya hingga bersandar di head board. Ia mencengkram bagian depan gaun yang terbuka. "Kakak menggangu tidurku!"


Jika ada yang bilang tidur dapat meredakan amarah, pun Sashi gadis belia dengan budi pekerti baik itu merasakan hal demikian. Setelah ia merehatkan otak dengan memejamkan mata beberapa waktu, segala penatnya seolah berkurang. Pun kata-kata manis yang diucap Aric sebelum ia terlelap juga terekam dalam memorinya.


Sashi masih menatap Aric yang terlihat bingung, hingga akhirnya Aric bicara. "Ma-af Sa-yang! A-ku ha-nya tak ingin kamu tidak nyaman ti-dur menggunakan dress ra-pat be-gitu!" Tatapan itu seolah mengiba, Aric takut Sashi salah paham lagi. Sashi diam tapi paham niat baik Aric.


"Apa i-tu pakaian ti-durku?"


"I-ya!"


Sashi bangkit, menarik dress kutung rayon sedengkul yang terlipat di atas kasur dan masuk ke dalam toilet. Beberapa saat setelahnya Sashi sudah berganti pakaian, ia mengambil hanger dan menggantung dress yang belum lama tadi ia pakai.


Setelahnya Sashi beranjak ke dapur. Aric yang bingung mengikuti. Dilihatnya Sashi mengambil piring dan mengisinya dengan nasi juga opor yang masih panas. Ya, memang belum lama opor itu dihangatkan Ningsih. Seketika Aric teringat mereka memang belum makan, karena sibuk dengan aktivitas saling cemburu, mereka sampai tak napsu makan di acara tadi. Aric seketika duduk di samping Sashi, menatap terus wajah ayu yang sedang makan dengan tenang.


"Kenapa Kakak terus melihatku?"


Aric spontan tersenyum, ia fikir Sashi masih mendiamkannya tapi nyatanya Sashi kini bicara.


"Karena sepertinya e-nak!" ucap Aric. Sashi langsung menatap wajah di hadapannya. Ia ingat suaminya itu juga belum makan.


"Kakak mau? Biar aku ambilkan makan Kakak," ucap Sashi. Aric menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa tidak mau, Kakak pasti lapar juga!"


Aric mendekatkan piring Sashi ke arahnya. "Aku mau makan bersama a-nak-a-nak. Bo-leh?" kalimat yang keluar dari bibir Aric lagi-lagi terbata. Ya, rasa takut Sashi masih marah padanya itu ada. Aric sungguh tak ingin Sashi marah lagi. Sashi diam beberapa saat baru kemudian mengangguk.


"A ...," lirih Aric mengarahkan sendok ke bibir kecil itu. Sashi membuka mulut. Pandangan tanpa ekspresi itu terus membingkai wajah ayu Sashi. Sashi terdiam tak melepas tatapannya pada wajah Aric.


Aric yang menangkap segalanya merasa bersalah. Ia meraih jemari Sashi. "Sash! Tolong jangan menatapku seperti itu! Ma-afkan a-ku ...!" ucap Aric bersungguh-sungguh. Sashi masih bergeming.


"Masalah yang kulakukan dengan Salwa semua hanya masa lalu, Sash! Tolong jangan marah. Di masa kini aku hanya cinta kamu saja, bukan yang lain!"


"Aku tidak mau membahas ini saat makan! Aku ingin makan dengan tenang!" lugas Sashi menatap Aric lagi-lagi tanpa ekspresi.


"O-ke, ma-af ... maaf, Sayang!" Sashi mengangguk. Ia membuka mulut meminta Aric kembali menyuapinya.


"Kakak juga makan! Jangan aku saja!" lontar Sashi. Aric senang, walau sedang marah istrinya itu masih memperhatikannya. Aric mengangguk dan mulai menyuap untuk dirinya juga. Aktivitas itu terus berlanjut hingga terlihat piring itu kosong.


" Kak ...."


"Aku mau nambah, belum kenyang!" ucap Sashi. Pun Aric mengambil nasi dengan opor lagi ke piring itu baru menyuapi Sashi. Aric senang istrinya itu makan Banyak. Ya, bagaimana pun dalam perut Sashi ada 2 jiwa. Jadi makanan yang Sashi makan memang untuk 3 orang.


Aric terus menyuapi Sashi dengan sabar hingga suapan terakhir di mulut Sashi akhirnya selesai di telan.


"Aku akan langsung ke kamar, aku ngantuk, Ka-k!"


"Iya, Sayang. Tentu saja," ucap Aric. Pun keduanya masuk ke kamar beriringan.


Sashi langsung naik ke ranjang. Ia menyusun guling di sisi raganya. "Maaf Kak, aku sedang tidak ingin dekat-dekat dengan Kakak! Kakak jangan lewati batasan i-ni!" terang Sashi. Aric mengangguk.

__ADS_1


Sebetulnya Aric ingin bicara menyelesaikan permasalahan yang terjadi, tapi melihat kondisi Sashi yang letih, semua ia urungkan. Ya, menjaga mood Sashi sangat penting untuknya. Kalau Sashi sampai marah, bisa-bisa ia tidur di sofa ruang tamu seperti tadi siang. Sekarang Sashi memang mengizinkan ia tidur di ranjang dan ia bersyukur, tapi untuk hari esok, siapa yang tahu. Aric membuang napas kasar sebelum ia ikut naik dan merebahkan diri di samping istrinya itu.


Aric melirik Sashi sudah mulai memejamkan mata, pun Aric melakukan hal yang sama. Sepuluh menit berlalu, sungguh tidur tidak memeluk Sashi adalah hal tersulit untuk Aric, matanya seakan sulit perpejam. Selain itu gerakan tubuh Sashi yang sebentar miring ke kanan dan kiri juga meresahkan Aric. Jelas wanitanya itu juga tidak bisa tidur.


Aric mengangkat badan dan duduk di sandaran head board. " Ada apa dengan Sashi? Ia tidak bisa tidur," batin Aric.


Aric tidak peduli jika Sashi marah, ia terus mengusap kepala itu lembut yang membuat Sashi akhirnya membuka mata. "Ada apa?" tanya Aric.


"Tidak bisa ti-dur, Kak. Kaki aku pegal!" jawaban itu terdengar. Aric langsung berdiri mengambil minyak hangat dan mendekat ke kaki Sashi. Aric memijat bergantian kedua kaki itu.


"Pegal sejak tadi?" Sashi mengangguk, bibirnya sudah memberengut ingin menangis. Sejak tadi ia bingung mata sangat mengantuk tapi linu kakinya tak membiarkan ia terpejam. Ingin bangunkan Aric tapi ia sudah membatasi dirinya.


"Lain kali bilang, aku tidak tau kalau kamu diam saja!"


Aric jadi ikut sedih, ia yang membuat Sashi hamil, mengajak Sashi ke pesta membawa beban bayinya yang tentu tidak ringan. Sashi mengangguk, air mata sudah keluar saja dari pelupuknya.


"Terima kasih, tapi aku masih kesal dengan Kakak!"


Aric yang melihat air mata Sashi semakin deras mendekati raga istrinya itu. Tanpa aba-aba Aric langsung memeluk tubuh itu. "Maaf sering membuatmu sedih, tapi jangan kesal padaku! Jangan menjauhiku! Cerita apa pun yang kamu rasa!" Sashi mendorong tubuh Aric.


"Sash!"


"Kaki aku pegal tapi Kakak malah peluk-peluk!"


..._______________________________________...


☕Happy reading😘😘

__ADS_1


☕Maaf aku ketiduran. Bab ini sudah aku edit jadi 1000 kata🙏🙏


☕Yang menyempatkan baca ulang, terima kasih❤️❤️


__ADS_2