
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20:30 saat ini. Rembulan semakin merangkak naik, hembusan angin semakin menyergap kulit, tapi gerangan yang ditunggu tak jua terlihat. Entah sudah berapa kali Aric menelepon Kaysan tapi tak ada jawaban. Aric terus mondar mandir kini antara pelataran dan ruang tamu karena khawatir terjadi sesuatu pada adik dan putrinya di jalan.
"Arr ... berhenti! Melihatmu Mama bertambah pusing saja!" pekik Mama yang merasa hatinya tak tenang. Perilaku Aric juga justru membuatnya bertambah gelisah.
"Duduklah, Arr!" tambah Rico. Aric menurut. Ia menuju Sofa di mana Sashi yang letih berbaring memiringkan tubuh. Aric duduk, menyingkirkan bantal yang Sashi pakai dan menaikkan kepala Sashi ke pahanya.
"Tidak bisa tidur?" lirih Aric berucap pada Sashi. Sashi mengangguk.
"Mau tidur di kamar dulu?"
Sashi menggeleng. Ia menarik sebelah tangan Aric dan meletakkan di perutnya. Sashi ingin Aric mengusap perutnya dan Aric melakukannya.
Sebelah tangan Aric yang lain meraih ponsel di saku, baru mulai menggulirkan kontak, Sashi berucap.
"Kay pasti sedang di jalan, jangan di telfon terus, nanti dia malah panik!" lirih Sashi.
"Begitu menurutmu?" Sashi mengangguk.
"Aku percaya Kay akan membawa Shiza pulang dengan baik, Kak!" Aric mengangguk lirih. Istrinya bahkan lebih memahami adiknya ketimbang dirinya yang hanya fokus dengan keterlambatan Kay.
Tak berselang lama, deru mobil memasuki pelataran terdengar. Kalina dan Rico langsung beranjak ke depan. Aric membantu Sashi bangkit dari posisi berbaringnya dan ikut beranjak ke arah depan.
"Ma-af, lalu lintas sangat macet, Kak, Ma, Pa!" ucap Kaysan yang baru turun melihat 3 raga dengan wajah khawatir.
"Berikan pada Mama Shiza." Kaysan mengulurkan tubuh Shiza dan Kalina meraihnya. Kalina diikuti Rico masuk ke dalam.
"Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" cecar Aric.
"Baterai ponselku habis, Kak!" ucap Kaysan sembari melangkah masuk.
"Sash, maaf. Aku terjebak macet tadi!" lirih Kaysan menangkap kehadiran Sashi. Sashi mengangguk. Kaysan ikut duduk kini di sofa.
"Den Kay, mau minum apa?" tanya Marni sang ART melihat tuannya tiba.
"Teh hangat boleh. Buatkan juga untuk Sashi, Bik! Itu gelasnya sudah kosong!" Aric melirik ke arah Kaysan. Marni dengan cepat menuju dapur.
"Tadi kalian kontrol, apa ada masalah dengan kandungan Sashi?" ucap Kaysan sambil menyugar rambutnya.
"Kontraksi palsu, tapi semua sudah baik-baik saja." Setelah menjawab tanya Kaysan, Aric menghadapkan wajah ke arah Sashi. "Iya kan, Sayang?" Sashi mengangguk.
"Apa dulu saat kehamilan Shiza juga sering merasa seperti itu, Sash?" Tatapan Kaysan mengarah pada Sashi.
"Tidak pernah, Kay."
"Atau mungkin Sashi keletihan, Kak?"
__ADS_1
"Apa maksudmu, Kay? Kamu fikir aku memberi Sashi pekerjaan berat, kah?" Aric berbalik tanya dengan nada meninggi.
"Aku hanya bertanya kenapa Kakak menanggapi dengan emosi?"
"Ucapanmu yang menyangsikan aku menjaga Sashi dengan baik!"
"Tapi aku tidak bermaksud demikian!"
"Ka-k, sudah!" lirih Sashi.
"Diam semua! Kalian berdua ikut Papa!" geram Rico.
Kondisi Aric memang tampak kurang baik. Ya, semenjak Sashi terlihat lebih memahami Kaysan, jiwanya Aric mulai resah. Ditambah Kaysan yang meminta Marni membuatkan teh Sashi, juga Kaysan terus menanyakan perihal Sashi menggambarkan dengan jelas perhatiannya, Aric semakin tidak tenang. Setiap kata dari mulut Kaysan seolah sedang merendahkan dirinya dan mengambil simpati Sashi. Itu pandangan Aric. Keduanya tampak mengikuti Rico ke ruang kerja.
"Ayo lanjutkan perdebatan kalian yang tadi! Papa mau dengar!" Aric dan Kaysan sama-sama menunduk.
"Kenapa diam? Atau kalian butuh alat? Tunggu di sini!" Rico keluar ruangan dan tak lama ia embawa 2 tongkat golf.
"Senjatanya sudah ada! Ayo berkelahi!" Dua bersaudara menunduk lebih dalam.
"Memalukan! Apa yang ingin kalian tunjukkan di depan menantuku yang sedang kepayahan karena hamil besar? Ini tanda cintamu pada istrimu, Arr? Dan Kay! Begini sikapmu di depan kakak iparmu?"
"Ma-af, Pa!"
"Maaf, Pa!
"Kamu itu ayah, Arr! Kamu juga Kay! Di tempat tadi ada cucu Papa yang sedang tertidur, juga calon cucu Papa yang masih berada dalam perut Sashi! Belum lagi lahir, ia sudah harus mendengar Papanya tidak akur dengan omnya. Seperti ini nilai yang akan kalian ajarkan pada anak-anak kalian?" Keduanya menggeleng.
"Sekarang jika ada yang ingin kalian sampaikan satu sama lain, ucapkanlah!"
Aric mengangkat wajah. "Aric tidak suka Kay seolah begitu perhatian pada Sashi! Sashi istri Aric!"
"Siapa yang tidak tahu Sashi sekarang istrimu, Kak? Lagipula perhatianku hanya sebatas adik pada kakak iparnya, di mana salahku?"
"Yakin kamu hanya menganggap Sashi kakak iparmu? Jangan fikir selama ini aku tidak tahu kamu sering mencuri pandang pada Sashi! Itu yang disebut perilaku sopan seorang adik?" Aric benar-benar mengeluarkan kegundahannya selama ini. Ia tak peduli, yang ia tahu sikap Kaysan salah! Sashi adalah miliknya bukan milik Kaysan lagi.
Kaysan yang melihat nada bicara Aric meninggi tersulut emosi pula. "Apa salahnya menatap, Kak? Aku punya mata yang bisa melihat apapun! Satu yang pasti, aku tahu posisiku! Aku tahu Sashi milikmu dan tak pernah berusaha masuk dalam urusan rumah tanggamu! Katakan jika aku berbohong!" Aric bergeming.
"Tapi perilakumu membuatku cemburu!" ucap Aric setelahnya.
"Salahkan hati dan otakmu kalau begitu yang tidak bisa mempercayai istri dan adikmu, Kak! Jika ingin mengungkit masa lalu, sekarang tanya pada dirimu! Siapa yang lebih banyak merasakan sakit, Kakak atau justru Sashi. Jangan lupa dulu Kakak menyakiti Sashi dengan bersikap sok pahlawan menikahi Aruna!"
"Sudah-sudah! Jangan bahas lagi masa lalu!" Mendengar nama Aruna disebut terasa tersentil Rico, merasa dirinya berperan dalam segala tindakan Aric. Pun ia memilih menghentikan ucapan Kaysan.
"Tunggu Pa, aku belum selesai!"
__ADS_1
"Aku beritahu saja padamu, Kak! Ada yang tidak beres dari pertunangan Salwa. Dan kalau sampai Kakak bersikap sok pahlawan lagi______
Kaysan menghentikan kalimatnya sejenak baru berucap lagi setelahnya. "Aku tidak akan ragu mengambil Sashi darimu!"
PLAK
"ARIC!" teriak Rico.
"Ucapan anak Papa itu kurang ajar!"
"Tenang Pa, sakit ini tidak seberapa," lugas Kaysan.
"Aku sungguh serius dengan kata-kataku, Kak! Kakak bisa menjadi papa untuk Shiza, berarti aku juga bisa menjadi ayah si kembar, bukan?"
Baru saja Aric mengangkat lengannya lagi, Rico menahan. "Tahan, arr!"
"Jaga ucapanmu pada kakakmu, Kay!"
"Anak Papa itu sekarang begitu sentimentil, mudah terpancing emosi! Hanya fokus pada ucapanku yang ingin mengambil istrinya!" Setelah menyelesaikan kalimatnya pada Rico, Kaysan menghadap Aric.
"Dengar Kak, fokuslah menjadi suami terbaik untuk istrimu! Jangan sakiti Sashi! Sashi bahagia, maka aku akan diam di tempat! Paham!"
"Kamu menggertakku, Kay?"
"Terserah apa namanya, tapi aku tidak suka Sashi sedih!"
"Jangan harap kamu bisa mengambil Sashi dan anak-anakku!"
"Sudah-sudah! Ucapan kalian semakin tidak masuk akal!" Rico mengacungkan jari pada kedua putranya bergantian.
"Kay, Papa mau dalam sebulan ini kamu harus membawa gadis ke rumah ini dan berfikir untuk menjalin hubungan yang serius!"
"Gadis?" Kay menggeleng-gelengkan kepala.
"Dan kamu Arr! Buktikan kamu tidak akan menyakiti Sashi dan bisa menjaga keutuhan rumah tanggamu!" Aric mengangguk.
"Tentu saja, Pa!" ucap Aric setelahnya sambil melirik Kaysan.
"Sekarang kamu pulanglah! Sashi dan putri kalian sudah sangat letih!"
"Iya, Pa!"
"Jaga ucapanmu, Kak!" teriak Kay.
..._________________________________________...
__ADS_1
☕Happy reading😘
☕Makasih untuk kalian yang selalu komen❤️❤️