
"Kaki aku pegal tapi Kakak malah peluk-peluk!"
•
•
☕FLASH BACK
seorang lelaki turun dari mobil, ia berjalan ke arah taman di mana adik dan sang putri kecil bersama. Melihat putrinya terus tersenyum di kejauhan bungah ia rasa. Pun langkahnya semakin panjang dan cepat tak sabar melihat sang putri dari dekat.
"Papa!" teriakan itu langsung terdengar inderanya. Putrinya itu sudah menyadari keberadaannya. Dilihat sang putri kini berlari ke arahnya. Ia membuka sepasang lengan bersiap menangkap raga itu.
Hap ....
Tak berselang lama, tubuh berbalut dress berwarna Khaki dengan aksen pita di depan seperti gaun maminya sudah masuk dalam dekapan Aric.
"Senang sekali wajah putri Papa, senang bermain dengan Ayah, Hem?" Aric mencium pipi Shiza.
"Senang, Papa ayo ikut!" jemari kecil Shiza sudah menarik jemari Aric dengan kuat. Berusaha membawa raga sang papa menuju ke sosok yang ingin dikenalkannya. Langkah-langkah kaki itu akhirnya berhenti. Di hadapan Aric duduk Kaysan dengan gadis mungil yang merupakan adik Salwa.
"Papa, Shiza punya teman baru. Kak Lora sudah jadi teman Shiza sekarang!" celoteh Shiza. Aric tersenyum.
"Hai Lora!" sapa Aric sembari melirik Kaysan. Aric senang akhirnya melihat adiknya bersama wanita. Ya, walau terselip getir, mengapa harus Lora, adik Salwa? Tapi memang berkawan tentunya dengan siapa saja.
"Hai Kak Aric, mana kak Sashi?" tanya Lora. Kaysan tampak menyimak.
"Ia ada di mobil, letih katanya," jawab Aric. Bibir Lora membulat.
"Tapi Sashi baik-baik saja kan, Kak?" tanya Kaysan seketika.
"Iya, Sashi baik!"
"Sayang ... mami dan adik-adik di perut sudah letih, kita pulang, ya!" Aric menghadap Shiza. Shiza yang tengah memainkan rambut Lora langsung mendekati Aric.
"Shiza masih mau main dengan kak Lora, Papa!" Wajah mungil itu mendangak menatap Aric seksama.
"Tapi ini sudah malam, lihat dahi Shiza juga sudah berkeringat begini. Pulang ya," ajak Aric sambil menyugar poni Shiza ke belakang menyapu keringat dengan jemarinya.
"Papa benar ini sudah malam, Nak! Ayah juga akan pulang. Shiza senang main dengan kak Lora, besok kita atur waktu bermain-main lagi, bagaimana?" ujar Kaysan.
"Ayah janji akan ajak Shiza main dengan kak Lora lagi?"
"Janji, tapi tentunya jika kak Lora juga setuju." Kaysan menatap Lora.
"Kak Lora mau kan main dengan Shiza?" Shiza langsung mendekat ke arah Lora dan mengalungkan jemari kecilnya ke leher Lora. Lora mengangguk.
"Hubungi aku saja Kak Kay jika Shiza ingin bertemu." Kaysan mengangguk.
"Oke, bisa kita pulang sekarang?" Shiza kini yang mengangguk. Ia berlari ke arah Kaysan.
"Shiza pulang dulu, Ayah!" Peluk dan cium Shiza berikan pada pria yang memang ayah biologisnya itu. Kaysan mencium balik Shiza.
__ADS_1
"Ayah sayang Shiza, selamat beristirahat, Cantik." Shiza yang senang dipanggil cantik langsung merona pipinya. Shiza mencium pipi Lora setelahnya.
"Bye kak Lora ...."
"Bye Shizaa ....!"
Raga Aric dan Shiza semakin jauh, dan masuk ke sebuah mobil setelahnya.
Lora menatap Kaysan yang tak melepas tatapannya hingga Shiza benar-benar tak terlihat. Ia menyesap minuman kaleng di tangan setelahnya.
"Shiza pasti bahagia punya 2 ayah!"
"Hah?" Kaget Kaysan mendengar penuturan itu.
"Apakah Lora mulai curiga aku ayah Shiza?" batin Kaysan dipenuhi tanya.
"Iya, satu ayah biologisnya kak Aric dan satu om yang sudah menganggap Shiza seperti putrinya sendiri. Benarkan ucapanku?"
"Oh, iya. Tentu kamu benar," ujar Kaysan tenang.
"Aku dengar di sekitar sini ada bakulan nasi kucing yang sering dipadati muda-mudi," ucap Lora.
"Iya ada. Hmm ... kamu mau ke-sana?" ajakan itu terkesan ragu.
"Jika Kakak yang mengajak mana bisa aku menolak!" ucap Lora. Kaysan tersenyum. Pun Lora juga ikut tersenyum.
"Lokasinya tidak begitu jauh, kalau berjalan kaki apa kamu keberatan?"
"Tante Siska protectif, pasti untuk kebaikanmu!"
"Bukan Mama yang begitu, tapi kak Salwa! Kakak yang selalu mengoceh memintaku menjaga diri dengan baik agar jangan seperti dia, uppss." Jelas sekali Lora keceplosan berucap apa yang seharusnya tidak terucap. Ia menutup mulutnya saat ini.
"Kamu baik-baik saja?" Kaysan berpura tak mendengar tapi sayangnya kata-kata itu sudah terekam sempurnaku otaknya. Lora mengangguk dan berpura tersenyum.
"Apa maksud kak Salwa bilang jangan seperti dia?" monolog Kaysan. Ia yang tidak mau Lora merasa tak enak hati memilih mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa kamu yakin tidak apa-apa berjalan begini?" tanya itu terlontar, Kaysan khawatir Lora merasa baik nyatanya ia merasa pegal berjalan terus.
"Tidak apa-apa, Kak!" santai Lora masih terus menyamakan langkah keduanya menuju bakulan nasi kucing yang dimaksud.
"Jadi ini nasi kucing, Kak?" Lora memperhatikan seksama Nasi dalam bungkusan kecil kertas nasi dengan beberapa lauk di hadapannya. Seperti nasi biasa tenyata, hanya ukurannya yang mini."
"Ya, memang seperti nasi biasa, tapi dimakan di pinggir jalan lesehan begini ada sensasi berbeda, nyaman. Terlebih sambil merasakan sejuknya suasana malam. Lora mengangguk
"Kamu ke luar dari acara kakakmu seperti ini apa tidak masalah?"
"Tidak lah, Kak. Semua sudah ada orang kak Bima yang urus. Kami santai-santai saja." Bibir Kaysan membulat. Pun keduanya mulai menyantap makanan di hadapan mereka. Kaysan berkali-kali menambah tusukan telur puyuh dan ati ampela. Walau mereka termasuk orang berada, keduanya tampak tidak malu makan dengan santai di pinggir jalan dan berbaur bersama masyarakat bawah. Keduanya mengiringi acara makan sambil terus bercerita tentang aktifitas dan berbagai hal tentang diri mereka. Hingga jam menunjukkan pukul 11 malam. Kaysan memutuskan mengantar Lora pulang.
...~∆∆∆~...
Dua raga saling memiringkan tubuh dan berhadapan dengan guling menjadi sekat keduanya. Aric terus menatap pancaran ayu Sashi. Pun Sashi juga tak melepas tatapannya pada pria tampan yang telah memiliki jiwa dan raganya itu.
__ADS_1
Sashi menatap tanpa kata, menyadari mendampingi pria di hadapannya itu nyatanya begitu sulit, ujian silih berganti selalu datang membuat ia kadang ingin berhenti tapi manis kasih sayang yang Aric beri selalu menahan langkahnya.
Pun Aric menyadari begitu sering ia menyakiti wanita muda di hadapannya. Ia masih menatap pancaran polos dengan mata bulat yang selalu membuatnya rindu. Wanita manja yang bisa bersikap dewasa di saat yang tepat. Ia bisa memahami, mengalah, menyingkirkan perihnya dan entah berapa kali ia selalu memaafkan khilaf Aric. Kebaikan hati yang justru menyakiti orang-orang tercintanya. Aric merasa sedih Sashi memberi jarak tubuhnya kini. Aric paham wanitanya masih berusaha memahami lagi dirinya. Aric yang melihat Sashi lagi-lagi memilih menatapnya tanpa kata merasa perlu memulai pembicaraan.
"Sash ...."
Sashi menarik sedikit alis ke atas sebagai respon untuk panggilan Aric.
"Terima kasih!"
Sashi menarik sedikit sudut bibirnya ke atas.
"Terima kasih masih membiarkanku menatapmu!"
Sashi masih menatap Aric tanpa memberi isyarat responnya.
"Walau marah mau masih memikirkan kebutuhanku, makanku, tidurku. Tapi jujur aku lebih senang melihatmu marah dengan meledak-ledak mengeluarkan rasamu ketimbang diam seperti ini!" Sashi menunduk sesaat baru menatap Aric lagi.
"Maaf untuk malam ini, Sayang! Aku memang bukan laki-laki sempurna dan tanpa cela! Aku nakal, iya benar. Tapi aku bisa mengontrol semuanya, aku tau batasan kelakuanku." Sashi bergeming mendengar setiap kata Aric.
"Sash ... Aku izinkan kamu bertanya apa pun yang ingin kamu ketahui dan aku akan menjawabnya." Mata Aric terlihat sangat tulus dan sungguh-sungguh.
Sashi merespon. Ia mengeluarkan jemarinya dari dalam selimut dan meletakkannya di wajah Aric.
"Yakin aku boleh bertanya apa-pun?" tanya Sashi mengusap pipi Aric. Aric mengangguk
"Aku bahkan takut bertanya dan mendapat jawaban yang mungkin aku tidak suka!" lugas Sashi.
"Tanyakan saja dari pada kamu berasumsi sendiri!"
"Selain menggunakan ini, apa Kakak melakukan hal lain yang lebih ekstrim dengan Salwa?" Sashi menunjuk bibir Aric. Aric memejamkan mata sambil menelan kasar salivanya baru berucap.
"Tidak ada! Hanya itu! Tidak ada tindakan lain yang melebihi i-tu!"
"Ju-jur?" Sashi mengusap-usap bibir Aric.
"Sungguh Sash, berani melakukan itu juga setelah kami kuliah!"
"Dan setelahnya sering?"
"Sash, kita tidak akan maju dengan menoleh ke masa lalu. Cukup kita lihat ke depan. Bicara tentang aku dan kamu. I-tu saja!"
..._______________________________________...
☕Happy reading😘😘
☕ Aktifitas real life padat, semoga lancar kehaluan Bubu,❤️❤️
☕Ini ada karya kakak literasi Bubu, ceritanya keren. Monggo mampir dan tinggalkan jejak kalian ya🤗🤗
__ADS_1