
"Sashi … Sashi adalah calon istriku, ia kekasihku … ia hamil anakku. Tapi mengapa Sam mengatakan aku akan bertemu Sashi di-sini? Mengapa Sashi ada di rumah ka-kakku?"
Suara tangisan bayi itu telah berhenti, lelaki yang merupakan Kaysan sang adik memberanikan diri mendekati kamar yang terbuka di hadapannya. Ia mendekat dan semakin dekat hingga ia sudah berada di muka kamar kini.
Raga tegap sang kakak tampak sedang duduk di atas kursi meja rias yang telah berpindah di dekat ranjang. Lengan kekar sang kakak terlihat memeluk tubuh seseorang. Berkali-kali wajah kakaknya itu menunduk seperti mencium kepala dalam rangkulan lengannya.
Kaysan memiringkan kepala berusaha melihat sosok yang bersama kakaknya. Ia kesulitan melihat wajah itu karena tertutup raga tegap sang kakak. Pun ia juga mengedar pandang ke sekeliling, mencari bocah yang terus menangis beberapa saat lalu.
"Apa kakak sedang bersama kakak iparku dan bocah tadi adalah anak mereka? Tapi mengapa tangis bocah itu sangat tak asing untukku, seolah ia adalah bocah yang sama yang sering masuk dalam mimpiku. Ada apa ini? Dan Sashi ... di mana Sashi?"
Kaysan membalik tubuh. Ia mengedar pandang kini ke area luar kamar, ruang keluarga dan beberapa kamar lain di samping kamar yang terbuka. Semuanya tampak sepi, tidak ada sosok lain selain sang kakak dan wanita yang masih tak terlihat wajahnya. Ia kembali melihat ke dalam kamar. Raga kakaknya sudah tak ada. Tampak seorang wanita tengah menyusui bayi.
"Bayi yang menangis tadi pasti bayi itu, apa itu anak kakak? Dan wanita itu adalah istri kakak?"
Kaysan masih fokus pada wanita di hadapannya, tubuhnya yang mungil dan garis-garis wajah yang seakan ia kenal. Ia ingin melihat wajah itu dengan jelas tapi sulit, wanita itu duduk menyamping. Bagain wajah hanya tamoak dari samping dan sebagian saja.
Kaysan masih fokus mengintai setiap aktivitas di kamar itu, hingga sang wanita tampak menoleh. "Ka-kak jangan jauh-jauh aku takut!"
Dada itu sesak. Kaysan melihat dengan jelas wajah itu. Wajah yang sama dengan bayang-bayang yang beberapa saat lalu muncul di otaknya. "Sashi ... itu Sashiku! Mengapa i-a ada di-kamar i-ni?"
Tak berselang lama raga Aric terlihat mendekat dengan segelas air di tangan. Sashi terlihat minum setelahnya dan Aric terus mengusap kepala itu.
"Ka-kak dan Sas-hi dalam satu kamar? Kakak juga tadi mencium Sashi. Bagaimana ini terjadi?"
"Kakak!" pekik suara terdengar. Aric dan Sashi menoleh bersamaan ke arah pintu tempat datangnya suara.
"Kay."
"Ka-yy?"
"Sash ... Sashi ... sadar, Sayang!"
...▪♧♧♧▪...
☕FLASHBACK
Eaaa .... Eaaa .... Ma .... Ma .... Eaaaa ....
__ADS_1
"Kakak! Kakak ...! Kakaak .... Tolong Kaakkkkk!"
Suara tangisan dan teriakan yang berasal dari lantai atas memenuhi sentero rumah. Aric yang sadar itu adalah suara anak dan istrinya langsung panik.
Kaki-kaki itu dengan cepat langsung sampai di lantai atas. Dilihatnya Sashi menggendong Shiza, keduanya sama-sama sedang menangis.
"Kakak i-ni!" Melihat kedatangan Aric, dengan cepat Sashi menjulurkan tubuh Shiza pada suaminya itu sambil terus menangis. Sashi duduk di tepi ranjang setelahnya.
"Sayang ada apa?" lontar Aric sambil menggoyang-goyangkan tubuh Shiza yang masih menangis, berusaha meredakan tangis putrinya itu.
"Kakak aku bukan ibu yang baik, tapi sungguh aku tidak sengaja, Kakak! Aku baru saja sesaat ke kamar mandi untuk buang air tapi Shiza jatuh. Anak kita jatuh dari ranjang Kakak. Aku takut terjadi apa-apa pada Shiza. Kakak, coba cek tubuh Shiza, apa ada yang terluka atau memar atau tidak. Aku tidak berani menatap Shiza, ia sangat sedih ... pasti ia kesakitan. Ma-af, Ka-kak!"
Aric membuang napasnya kasar. "Tenang, tenang ... Sayang!"
Cup .... Cup .... Cupp ....
Aric menenangkan Sashi sambil menenangkan Shiza pula. Aric memberi Shiza minum tapi Shiza terus menolak, ia terus menangis. Ia menarik kursi meja rias dan duduk di hadapan Sashi.
"Sayang tenang! Kamu tidak boleh panik! Kamu ibu yang hebat, semua bukan salahmu! Sekarang susui Shiza dulu, oke!"
"Tidak Kakak, aku tidak bisa melihat Shiza! Aku tidak tega! Ia kesakitan karena aku," lirih kata itu terucap masih sambil terisak.
"Aku akan susui Shiza setelah Kakak memastikan di tubuhnya tidak ada luka," ucap Sashi.
"Sayang, tentu kita akan cek, tapi setelah tangisnya mereda, hem! Ayo Sayang, susui Shiza, oke!" pinta Aric lagi. Sashi memberanikan menatap Shiza.
"Shiza kasihan, Kakak!"
"Iya, dan lebih kasihan lagi saat mamimya tidak mau menyusuinya!"
"Ka-kak?"
"Ayo!"
"Tapi Kakak tetap di sampingku!"
"Tentu saja!"
__ADS_1
Sashi mulai meraih tubuh Shiza. Ia memberikan hal ASI putrinya itu dan benar saja tangis Shiza langsung berhenti. Aric mengambil tisu mengusap bulir dari wajah Sashi yang kini terus menciumi Shiza di pangkuannya. Pun Aric menyapu air mata Shiza pula setelahnya.
"Aku ibu yang buruk!" Sashi kembali menangis.
"Jangan menangis lagi. Lihat Shiza sedang menatapmu!"
"Sayang ... maafkan Mami ya! Mami tidak sengaja. Mami lupa memberi bantal di sekitar ranjang tadi. Maafkan Mami ya, Nakk!!" Diciumi lagi wajah putri dengan mata yang membengkak itu. Shiza melepas puncak ASI Sashi dan mulai memberengut, ia menangis lagi.
"Sa-yang, ayo mik lagi susu Mami, hem!" Aric mendekatkan wajah Shiza ke arah puncak ASI Sashi dan ia mulai menyusu lagi.
"Lihat kan? Shiza akan ikut sedih lagi melihat Maminya sedih. Tegar! Harus tegar! Jangan tunjukkan kelemahan di hadapan Shiza. Katakan semua akan baik dan Shiza tidak apa-apa!"
"Tapi tadi ia jatuh, Kak!"
"Ia nanti kita cek tubuh Shiza setelah Shiza tenang dan konsultasi pada bunda apa yang harus kita lakukan, oke!" Sashi akhirnya mengangguk. Ia tampak lebih tenang. Tangisannya pun sudah berhenti. Aric masih duduk di hadapan Sashi, memeluk wanita yang dicintainya itu sambil mencium berkali-kali puncak kepala itu.
Aric yang fokus akan keadaan Sashi dan Shiza abai pada sekitar. Ia tak menyadari Kaysan berdiri di muka kamar memperhatikan setiap aktivitas yang terjadi. Aric berdiri setelahnya mengambil air untuk minum Sashi.
"Ka-kak jangan jauh-jauh aku takut!" teriak Sashi.
"I-ya, Sayang!" Aric datang setelahnya memberi minum untuk Sashi. Jemarinya tak berhenti menyamankan wanitanya, Aric terus mengusap kepala Sashi hingga tiba-tiba sebuah pekikan terdengar.
"Kakak!"
Aric dan Sashi menoleh bersamaan, netra keduanya membulat melihat sosok Kaysan berdiri mematung di sana.
"Kay," lirih Aric. Sashi mencengkram jemari Aric dengan kuat.
"Ka-y?" Kaget Sashi. Seketika tubuh itu hilang keseimbangan.
"Sash ... Sashi ... sadar, Sayang!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca hingga bab ini🙏
__ADS_1
☕Jangan lupa like dan komen di tiap babnya yaa❤❤