Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
HARUS FOKUS MEYAKINKAN KAY


__ADS_3

Sashi bertambah gelisah melihat raut kemarahan Aric. Hal yang ditakutkan terjadi, Aric marah. Aric merasa Aira terlalu mencampuri rumah tangganya. Sashi tak ingin suami dan keluarganya bersitegang. Ia ingin semua baik dan rukun. Ia sadar keduanya menyanyanginya walau memang ucapan Aric tak salah. Pun Aira ... ya, Aira juga punya alasan untuk khawatir Sashi hamil lagi. Aira benar Shiza masih terlalu kecil, Aric juga belum tegas menceraikan Aruna. Tapi hati kecil Sashi merasa siap jika memiliki anak lagi, bahkan dimadu Sashi tak keberatan.


"Ka-kak ... tolong jangan marah dengan ayah bundaku!" lirih kata itu terucap.


Aric menatap wajah gelisah Sashi. Sashi menangkap kemarahannya. Aric berusaha menetralkan otaknya. Aric sadar emosi Sashi harus dijaga. Ia sedang hamil harus selalu bahagia. Pun Aric segera menangkup wajah itu.


"Apa aku terlihat sedang marah?"


"Hu um."


"Siapa bilang? Aku biasa saja. Yah, tadi sedikit kaget saja dengan pemikiran bundamu. Tapi aku tidak marah, bukankah mereka orang tuaku juga? Aku akan bicara baik-baik pada mereka mengenai kehamilanmu, oke?" Sashi mengangguk. Ia tenang. Setidaknya Aric akan bicara baik-baik. Ya, walau ia tahu sebetulnya Aric sedang marah.


"Oh ya Sayang, obat yang bundamu beri i-tu, tidak kamu makan, kan?"


"Tidak, Kak."


"Bagus, terima kasih. Baik sekarang kita lakukan ibadah zuhur dan menemui ayahmu setelahnya!" Sashi mengangguk.


...▪♧♧♧▪...


Matahari menyinar dengan terik, hawa panasnya bahkan menembus kaca-kaca di rumah dominasi abu itu. Aric dan Sashi keluar kamar dengan fresh setelah ibadah mereka tunaikan. Aric menuju ruang keluarga, sedang Sashi menuju kamar sang ayah.


Pintu diketuk, tak lama raga pria paruh baya dengan janggut rapi itu keluar. "Hai Sayang Ayah, ada apa ke kamar Ayah, apa cinta dari suamimu masih kurang cukup, hem?" ucap Lutfi sambil menyapu puncak kepala Sashi. Wajah itu tampak menggoda sang putri, Sashi pun terlihat malu.


"A-yahh." Suara itu mengalun manja. Ya ... Sashi yang manja itu masih malu saja walau sudah menikah 1 tahun lebih, agaknya ia masih serasa anak kecil kemarin sore jika berhadapan dengan sang ayah.


Lutfi tersenyum. "Maaf Ayah menggodamu. Sekarang katakan, ada apa kamu ke kamar Ayah? Jika ingin mengambil Shiza, ia masih pulas tertidur," ujar Lutfi.


"Bukan Shiza. Tapi Kakak!"


"Kenapa Aric?"


"Kakak ingin bicara dengan Ayah!" Kalimat itu akhirnya terucap. Lutfi terlihat bingung.

__ADS_1


"Aric ingin bicara denganku? Mau bicara apa anak itu? Mungkinkah ia telah menemukan donor untuk anak wanita itu?" batin Lutfi.


"Baik, di mana Aric sekarang?" Tanya itu terlontar ke arah Sashi.


"Di ruang keluarga!"


"Oke, ayo kita ke sana!" Lutfi merangkul bahu Sashi setelahnya, ia membiarkan pintu kamar sedikit terbuka agar jika Shiza terbangun suaranya bisa terdengar.




Pria tegap dengan kemeja navy polos dan celana jeans hitam tampak duduk tenang. Netranya langsung menangkap hadir Lutfi sang mertua yang merangkul bahu istri yang walau sedang terdiam itu tampak menggemaskan untuknya.


Dua raga yang baru tiba itu duduk, Sashi masih duduk dalam rangkulan tangan Lutfi sedang Aric duduk sendiri di hadapan keduanya. Sashi sebetulnya ingin pindah di samping sang suami tapi merasakan jemari Lutfi yang tak berhenti mengusap-usap bahunya agaknya ia tak enak hati. Ayahnya seakan menahan dan nyaman dekat dengan putrinya itu.


"Ayah ... pasti Sashi sudah memberitahu bahwa ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Ayah," lugas aric menatap Lutfi sembari beberapa kali melirik Sashi.


"Ayah, jujur aku baru mengetahui hal yang akan kusampaikan ini dan aku sangat bahagia mendengarnya----


Aric menghentikan kalimat itu, ia yang melihat Sashi tersenyum menatapnya membalas senyuman itu dahulu baru melanjutkan kembali apa yang ia katakan. Ya, Sashi memang tersenyum, ia senang mendengar lontaran kebahagiaan Aric atas kehamilannya.


-----Semua ini tentang Sashi. Bahwa Sashi saat i-ni sedang mengandung anakku!"


Lutfi langsung menoleh ke arah Sashi. Sashi yang belum lama tersenyum pada Aric tampak gelisah. Ada rasa takut Ayahnya tak suka dengan berita yang baru saja didengar. Lutfi tidak melontar kata, ia terdiam namun manik matanya berkaca, ia mengusap kepala Sashi.


"Benar itu, Sayang?" tanya Lutfi.


"I-ya, A-yah." Lutfi langsung memeluk raga putrinya itu. Ada bahagia bercampur sedih. Ia bahagia sebab putrinya dipercaya Sang Pencipta menjadi ibu lagi, sedang sedihnya ia merasa Sashi masih cukup muda untuk memiliki 2 anak, pun Shiza masih kecil. Tapi semua yang terjadi tak dapat disesali, ia menerima ketetapan itu.


"Apa Ayah senang aku hamil?" Sashi langsung melontar tanya saat dekapan sang ayah terlepas. Lutfi menatap pancaran khawatir itu. Ia mengangguk setelahnya. Menenangkan sang putri dan berisyarat bahwa ia bahagia. Pun Sashi tersenyum akhirnya.


"Terima kasih Ayah, aku fikir Ayah akan seperti bunda tidak mau aku hamil!"

__ADS_1


"Kamu bilanga apa? Bun-da tidak suka Sashi ha-mil?" Sashi mengangguk. Lutfi langsung meraih ponselnya.


"Yah, sebentar Yah, urusan bunda kita bicarakan nanti. Maksud Aric bicara adalah Aric ingin meminta izin memastikan kehamilan Sashi ke dokter! Dan jika Sashi memang tengah hamil, Aric akan bawa Sashi pulang ke rumah kami!"


"Hahh, apa ini Aric? Kamu lupa Sashi tidak akan keluar dari rumah ini sebelum kamu menceraikan wanita itu? Donor sum-sum! Apa kamu sudah dapat donor sum sum untuk anak kecil itu?"


"Sudah!"


Baik Lutfi maupun Sashi kaget. Keduanya langsung menatap wajah Aric. Aric terdesak. Kata itu spontan terucap teringat Kaysan yang telah sadar. Ya, Aric berharap bisa meyakinkan Kaysan untuk mendonorkan sum sumnya untuk Ciara. Pun Lutfi tak membuang waktu langsung menanyakan kebenaran itu.


"Apa benar yang kamu ucap ini? Jadi kapan pembedahan itu dilakukan?"


"Se-ge-ra, Yah! Tapi tolong izinkah Sashi kubawa pulang!"


"Maaf, tidak Aric! Tidak sebelum kamu menceraikan wanita itu!" Lugas kata itu terucap oleh Lutfi.


"Tapi Sashi tanggung jawabku, Yah. Ayah pasti lebih paham menyangkut ini!"


"Tapi kamu telah menyakiti hati anakku! Aku sebagai Ayah tak terima. Ceraikan wanita itu, baru bawa putriku!" Jemari yang sebelumnya mengusap bahu Sashi kini merangkul bahu itu erat seolah tak membiarkan siapapun mengambilnya.


"Ahh ... Sashi sedang hamil tapi ayah masih bersikukuh menahan Sashi. Donor, donor sumsum adalah penyelesaian semua ini. Kay ... aku harus bisa menyakinkan Kay. Apa ini memang yang terbaik untukku dan Sashi saat ini? Aku bisa fokus meyakinkan Kay dan harus mempercayakan Sashi pada keluarganya?" monolog Aric.


"Baik Yah, aku akan fokus pada penyembuhan Ciara. Tapi tolong, saat ini izinkan aku membawa Sashi ke dokter, aku butuh memastikan kondisi calon anakku!" Lutfi melihat tampilan keseriusan Aric tapi ia tak ingin lengah, bukan tak mungkin ini akalan Aric untuk membawa Sashi, begitu fikir buruk melintas di otak Lutfi.


"Kalian boleh pergi tapi bersama Sopo sopirku!"


"Walau pergi bertiga Sashi dan Shiza gagal, tapi setidaknya kami bisa bertemu dokter. Pun Sashi bisa melihat udara luar, pemandangan dan mencari makanan yang disukai. Ya, pergi diantar Sopo pun tidak masalah," batin Aric.


"Baik, Yah. Aric setuju!"


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2