
Dua raga paruh baya berjalan dengan cepat menuju kediaman Aira. Setelah mendapat berita Sashi mulai mulas, keduanya langsung datang ingin juga mendampingi menantunya dalam proses melahirkan.
"Di mana anggota keluarga ini, Bik?" tanya Kalina melihat suasana rumah yang sepi.
"Ada di kamar mbak Sashi, Bu," jawab Ningsih. Pun kedua paruh baya dengan gelisah menuju kamar Sashi.
Di dalam kamar terlihat Aira sedang mengemasi pakaian si kembar, Shiza tengah bermain dokter-dokteran dengan mainan yang kemarin dibawakan Kaysan dan Aric tampak duduk di samping Sashi terus mengusap pinggang istrinya. Aric mengangguk menangkap kehadiran kedua orang tuanya.
"Opa, Oma ...," teriak Shiza segera bangkit dari posisi duduk dan berlari menghampiri Rico dan Kalina. Raga kecil itu langsung memeluk raga tua yang dikenalnya.
"Opa, Oma kata Papa adik Shiza akan segera lahir," celoteh menggemaskan Shiza.
"Iya benar, Sayang. Shiza harus bantu papa dan mami dengan tidak rewel, oke!" Shiza mengangguk membuat Kalina gemas untuk menciumi pipi chubby itu.
"Mbak ...." Aira mendekat dan menyapa Kalina.
"Sejak kapan Sashi mulai mulas?"
"Mari kita berbincang di luar, Mbak," ucap Aira. Kalina dan Rico menurut.
"Mau minum apa, Mbak, Mas?"
"Teh hangat boleh!"
Aira segera memanggil Ningsih dan minta dibuatkan apa yang besannya inginkan.
"Aku bahkan baru tau pagi tadi kalau si kembar sudah mencari jalan lahir. Menurut Aric sejak semalam mulas itu sudah dirasa Sashi."
"Semoga Alloh SWT memudahkan kelahiran si kembar ya, Mbak," lirih Kalina berucap.
"Aamiin ... Amiinn ya Rabbal'alamiinn."
"Mari diminum, Mbak," ucap Aira setelahnya melihat Ningsih datang membawa minuman yang dipesan beberapa saat lalu.
•
•
"Ka-kak sa-kit!" ucap Sashi sambil membungkuk meletakkan kepalanya ke ranjang. Sashi terus menarik napas dan membuangnya perlahan, menetralkan sakit yang ia rasa. Aric tampak ikut duduk di lantai mengusap-usap pinggang Sashi.
"Iya, sabar Sayang, sebentar lagi kita akan melihat dua malaikat kita! Mereka sedang mencari jalan!" Sashi mengangguk dengan keringat berpeluh di wajahnya. Aric mengambil tisu dan menyapu keringat itu.
"Apa sebaiknya kita ke dokter sekarang, Bun?" tanya Aric melihat Aira masuk ke kamar mereka.
"Apa jeda mulasnya sudah lebih sering, Sayang?" tanya Aira mendekat dan mencium pipi Sashi. Sashi mengangguk.
"Baik, suruh Sopo siapkan mobil, Arr!" Setelah bicara pada Aric, Aira menghadapkan wajahnya pada Sashi dan merangkum rahang putri satu-satunya itu.
"Sashi putri Bunda yang hebat! Yakin semua akan mudah, Sayang! Jangan berhenti berdzikir dan mohon pertolongan Allah SWT!" bisik Aira. bibir Sashi kini terus begerak melantunkan dzikir nama-nama Tuhan-nya.
"Bagaimana Sashi, Arr?" Rico yang melihat Aric berjalan cepat ke arah depan menghentikan langkah putranya itu.
__ADS_1
"Menurut bunda, kita bawa Sashi ke Rumah Sakit sekarang, Pa!"
"Lalu kamu mau kemana?"
"Meminta Sopo siapkan mobil!"
"Kenapa harus Sopo, ada Papa di sini, Papa yang akan mengantar kalian ke Rumah Sakit!" lugas Rico.
"Baik, terima kasih, Pa," ucap Aric dengan wajah berbinar.
•
•
"Ka-kak, Bunda ... ini sudah mulas sekali! Sashi seperti mau buang air," lirih Sashi masih menarik napas dan membuangnya secara teratur. Jemari Sashi terus mencengkram lengan Aric mencari kekuatan dari suaminya itu. Aira terus menyapu keringat yang semakin membanjiri wajah putih Sashi.
"Pa, lebih cepat sedikit, Pa!" lontar Kalina sambil mengusap-usap wajah Shiza yang tertidur di pangkuannya. Rico semakin awas menatap jalan dan mempercepat sedikit laju mobilnya.
"Bundaa ... ba-sah, ketuban Sashi sepertinya sudah pe-cah!" lirih Sashi dengan suara merintih.
"Sabar, Sayangg ... Arr bagaimana ini? Mass ... bisa dipercepat mobilnya?"
"Iya iyaa, sabar cucu-cucu Opa!"
"Aric, keluarkan kain dari dalam tas untuk persiapan!" Aric bergegas meletakkan kain di paha Sashi.
"Ka-kk ... i-ni sepertinya ma-u ke-luar!"
"Bantu buka celana Sashi, Arr!" Aric menurut. Sashi melebarkan kakinya dan menaikkan longdres sebetis yang ia kenakan hingga ke lutut.
"Ahh ... Akhhh ...." Cengkraman jemari Sashi semakin kuat menggenggam lengan Aric dengan sebelah jemari yang lain menggenggam jemari Aira. Aric membungkukkan badan dengan telapak tangan berada diantara 2 kaki Sashi, bibir Aric terus menciumi perut Sashi sambil membisikkan Sholawat dan zikir-zikir agar kedua malaikat yang akan segera hadir diberi kesehatan dan kemudahan. Aira merangkum wajah Sashi dan membisikkan kata-kata positif juga doa-doa untuk putrinya.
"Ka-k, aku tidak tahan. A-ku akan menge-jan!" Aric mengangguk.
"Akhhhh .... Allaaahu Akbaarrrr!"
Kepala itu keluar.
"Posisikan tanganmu yang benar, Arr!" ucap Kalina. Aric mengangguk dengan bulir mulai menetes, ia panik.
"Tarik perlahan, Sayang!" ujar Aira setelahnya.
"Ta-pi, Bu-ndd?"
"Tarik Aric, Sashi tidak akan apa-apa!"
Dan ....
OEK ... OEK ....
Bayi pertama Aric dan Sashi telah keluar.
__ADS_1
"I-ni ... ba-yi A-ric Ma, Bund?" Kedua ibu mengangguk sambil terus mengucapkan rasa syukur. Aira segera meraih handuk mengelap tubuh berlendir cucunya sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Hebat! Kamu sangat hebat, Sayang! " bisik Aric meraih wajah kepayahan Sashi dan menciuminya.
Tampak mobil yang mereka naiki sudah masuk ke pelataran Rumah Sakit.
Aira mengulurkan bayi yang masih menangis itu pada Aric untuk diadzani.
"Jangan terlalu jauh Arr, tali pusarnya belum dipotong!" Aric mengangguk, ia mengadzani bayi perempuan itu, menciumi dan meletakkannya dalam dekapan Sashi di atas perut yang masih membuncit.
"Bayi pertama kita cantik seperti maminya," lirih Aric, Sashi tersenyum.
Aric menelepon dokter kandungan Sashi setelahnya. Dokter meminta mereka tetap di mobil karena tali pusar bayi pertama itu harus diputus sebelum membawa Sashi ke UGD dan melanjutkan persalinan bayi keduanya. Pun mereka menurut. Mobil berhenti di muka ruang UGD, tampak dokter Evelin dengan dua perawat sudah standby.
Pemutusan tali pusar segera dilakukan dan Sashi segera dibawa menggunakan bankar ke Ruang persalinan. Aric tampak setia di sisi Sashi, mengusap-usap perut buncit itu sambil melantunkan sholawat seperti ingin Sashi.
"Ka-kk ...."
"Iya, Sayang?"
"Mengapa bayi kedua kita belum mengajak keluar? A-pa ia ba-ik di dalam?"
"Sebentar, aku tanya dokter!"
"Bagaimana Bunda, sudah ada tanda-tanda kontraksi?"
"Belum, Dok! Ada sedikit mulas tapi sangat jauh." Dokter mengambil alat pendeteksi denyut jantung dan Sashi tenang suara detak itu terdengar jelas.
"Semua baik, sepertinya bayi kedua masih nyaman berada di perut bundanya. Kita tunggu ya, Bun." Sashi mengangguk sembari tersenyum.
"Oh iya Pak, bayi pertama bisa dibawa ke sini, sambil menunggu kontraksi bunda bisa sambil menyusui kakaknya." Aric tampak keluar dan tak berselang lama kembali bersama bayi mungil yang sudah bersih dan terlihat cantik itu. Aric meletakkan bayi mungil itu ke tubuh Sashi dan membiarkan ia mencari puncak asi maminya sendiri seperti arahan dokter.
"Bayi yang pintar, seperti saat ia tak sabar ingin melihat dunia, kini ia tampak gesit mencari ASI bundanya," ucap dokter setelah memeriksa jalan lahir itu. Aric tersenyum sambil menahan tubuh yang merayap mencari penyegar dahaganya. Tak menunggu lama bayi menggemaskan itu mendapat yang dicarinya.
Ternyata menyusui mampu merangsang kontraksi, baru sesaat Sashi menyusui bayi pertama, bayi kedua dalam perut itu merespon menyebabkan mulas dengan jarak semakin dekat.
"Ka-kk, panggil dokter, Kak! Bayi kita sudah mengajak keluar!" Sashi mulai mengatur napasnya menahan sakit.
..._______________________________________...
☕Happy reading😘
☕Menjelang end ya❤️❤️
☕Sambil nunggu up, bisa mampir ke karya bubu yang lain yang sudah end atau mampir ke karya sahabat bubu😍
☕Karya Bubu❤️❤️
☕Karya sahabat Bubu❤️❤️
__ADS_1