Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
TUTUP SEGALA CERITA TENTANG SASHI


__ADS_3

"Apa hubungan anda dan pasien Kaysan?" tanya Dokter ketika melihat Aric masuk ke ruangannya.


"Saya kakaknya, Dok!"


"Owh. Oke langsung saja. Kondisi pasien Kaysan cukup baik, kami memeriksa beberapa fungsi organ dalam semua normal. Hanya saja, karena ia koma cukup lama. Maka fungsi organ geraknya harus dilatih kembali. Terapi harus dilakukan untuk menormalkan fungsi geraknya sekaligus memastikan luka patah tulang di kaki dan tangan yang pernah ia alami sudah benar-benar pulih."


Aric mengangguk.


"Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?"


"Kapan adik saya bisa pulang, Dok?"


"Disarankan selama menjadi terapi, sebaiknya pasien tidak keluar dari rumah sakit agar memudahkan mobilisasi pasien!"


Aric lagi-lagi mengangguk. "Satu lagi, Dok!"


"Oke silahkan!"


"Tadi adik saya berucap mengenai wali kelasnya saat duduk di kelas 10. Tapi terakhir kecelakaan bahkan adik saya sudah duduk di bangku kuliah. Mengapa bisa terjadi begitu, Dok?" Raut wajah heran mewarnai wajah Aric.


"Itu poin yang akan saya bicarakan selanjutnya. Tadi kami juga menanyakan nama, usia dan berbagai hal pada pasien. Memastikan pasien tidak lupa jati dirinya. Kami terhenyak saat pasien mengatakan usianya 16 tahun. Padahal sesuai data, pasien sudah menginjak 20 tahun." Belum lagi dokter kembali bicara, Aric menyela.


"Apa itu artinya sebagian ingatan Kay hi-lang, Do-k?"


"Begitu sepertinya."


Aric spontan tersenyum. Ada kelegaan ia rasa. Dokter yang menangkap raut tenang itu berubah, merasa bingung tapi ia tak ingin tahu.


"Dok, kapan ingatan itu akan kembali?"

__ADS_1


"Itu tak bisa dipastikan. Semua tergantung kemampuan otak pasien mencerna yang terjadi. Tapi kami menyarankan jangan memaksa pasien mengingat semuanya bersamaan. Keluarga harus saling bekerja sama memulihkan ingatan itu perlahan!"


"Tentu ... tentu saja, Dok!" jawab Aric dengan cepat.


"Oke jika sudah cukup tidak ada yang ditanyakan Bapak bisa meninggalkan ruangan saya!" Aric mengangguk.


"Terima kasih, Dok. Permisi!"




Kaki-kaki yang sebelumnya gontai kini melangkah dengan penuh semangat. Ia bahagia. Ia pernah berharap ini pada Sang Esa dan ternyata pintanya dikabulkan. Ia ingin bersujud meluapkan bahagianya. Ia menuju masjid dan melakukan hajatnya. Ia sholat 2 rakaat dan bersimpuh penuh kekhusyuan melontar syukur sedalamnya pada yang terjadi.


Aric berjalan ke ruang isolasi setelahnya, tiba-tiba otaknya terbesit satu hal, ia menepi. "Ingatan Kay, berhenti saat usianya 16 tahun, itu artinya menginjak kelas 1 SMA. Tunggu! Apa di saat itu Kay sudah mengenal Sashi. Bagaimana jika ia nyatanya masih mengingat Sashi? Tidak ... aku tidak perlu menghawatirkan ini. Setidaknya Kay tidak ingat ia telah menghamili Sashi dan hampir menikah dengan Sashi. Ya ... itu saja yang harus kufikirkan, jangan fikirkan yang lain Aric!" bisik batin itu.


Pintu isolasi terbuka Kay dan Kalina menoleh bersamaan. "Kita bicara nanti, Ma!" bisik Aric. Kalina mengangguk.


"Oh ya Kak, aku lupa .... Apa kau sudah menikah?" tanya Kaysan lagi yang membuat Aric dan Kalina menoleh bersamaan bingung bagaimana Kaysan bisa menanyakan hal itu.


"Aku sudah menikah!" lugas Aric. Mata Kalina membulat. Jawaban itu spontan saja terucap. Aric bahkan tak tahu imbas apa yang akan terjadi setelah Kay mendengar ucapannya. Tapi sejujurnya ada yang aneh memenuhi otak Aric.


"Mengapa Kaysan tiba-tiba menanyakan perihal pernikahan?" batin Aric.


"Oh ya, siapa wanita beruntung yang berhasil menaklukkan hati Kakakku, hem? Ayo ceritakan padaku, Kak!" pinta Kaysan membuyarkan lamun Aric.


"Kamu baru saja pulih. Jangan banyak bicara dulu, Kay!" ujar Aric. Kaysan bergeming.


"Tadi dokter yang mengatakan itu, kamu harus banyak beristirahat. Masih ada terapi yang harus kamu lalui untuk menormalkan kerja organ gerakmu! Jadi kamu harus tetap semangat, Kay!" ujar Aric lagi.

__ADS_1


"Masalah semangat, tentu aku semangat, Kak! Hahh ... bahkan bulan depan aku ada olimpiade basket se-kota Tangerang. Aku harus segera pulih! Aku tak ingin tertinggal lomba itu!"


Sejak SMP Kaysan memang menggeluti bidang olah raga itu. Ya, Kay sangat suka basket. Entah Kay mengingat olimpiade yang mana? Ingatan itu berhenti sampai di mana hanya Kaysan sendiri yang tau. Aric masih bergeming.


"Oh ya Ma, sebenarnya aku kecelakaan apa, kapan dan di mana? Aku sungguh tak ingat apa pun. Mengapa pula dokter kaget saat aku mengatakan usiaku 16 tahun. Aku juga mendengar lirih perawat itu berucap, katanya usiaku sebetulnya 20 tahun. Ada apa ini, Ma, Kak .... Berapa usiaku sebetulnya? Apa sebagian ingatanku hilang?"


Itulah Kaysan, ia akan susah dilarang. Jika otaknya sedang terpusat pada satu hal, ia akan terus bicara dan bertanya hal itu hingga semua yang ia fikirkan terjawab dan otaknya merasa puas. Aric terfikir suatu hal, pun ia berucap.


"Kamu kecelakaan saat kuliah, Kay. Perawat itu benar, usiamu menjelang 20 tahun saat ini!" lugas Aric.


"Jadi aku bukan siswa kelas 1 SMA? Lalu bagaimana diriku dalam 3 tahun yang hilang itu. Apa aku lelaki baik Ma, Kak? Aku kuliah di mana? Ambil jurusan apa? Dan ceritakan pula perihal kecelakaanku!" ucap kaysan lagi.


Belum lagi dijawab seorang perawat masuk. "Tolong jangan banyak bicara dulu ya, Mas! Ini obat yang harus diminum, sementara obat pasien melalui cairan infus akan kami hentikan. Berhubung kondisi pasien setelah di cek semua baik. Jadi, Pemberian infus juga sudah tidak perlu dilakukan!" Kalina dan Aric mengangguk. Kay bergeming, otaknya dipenuhi banyak hal yang belum terjawab.


Perawat memberi Kaysan obat dan tak lama Kaysan tertidur, sepertinya Kaysan memang belum boleh berfikir terlalu berat.


Aric mengajak Kalina keluar. Ia menceritakan seluruh yang disampaikan dokter mengenai kondisi Kay dan berbagai terapi yang harus Kay lakukan. Kalina setuju, toh ia juga ingin putranya itu segera hidup normal. Aric lak lupa berucap mengenai pihak keluarga yang tidak boleh terlalu memaksa Kay untuk mengingat semua ingatan yang hilang. Semua harus dilakukan perlahan dan membiarkan otak Kay mencari kebenaran dirinya.


Dalam perbincangan itu, Aric juga meminta Kalina untuk menutup tentang hubungan Kay dan Sashi. Aric sangat memohon itu, pun Kalina paham. Ia mengiyakan ingin Aric. Tapi meminta Aric harus siap jika Kay nyatanya mengingat sendiri perihal Sashi. Aric mengangguk.


"Setidaknya aku masih punya waktu untuk menjelaskan pada Sashi yang terjadi. Ya, sudah tak ada alasan bagiku menutupi Kaysan. Kaysan sudah sadar, cepat atau lambat ia akan tahu keberadaan Sashi sebagai istriku. Walau aku berharap Kaysan tetap lupa pernah memiliki hubungan dengan sashi, bahkan telah memiliki anak pula bersama Sashi. Hahh ... Aamiin, kuharap seperti itu yang terjadi. Oh ya, jam berapa ini? Hari ini waktuku bersama Sashi!"


Aric masih berdiri mematung sedang Kalina kembali ke kamar Kaysan. Ia tak menyadari di kejauhan seorang wanita gusar melihat pemandangan di hadapannya.


"Aku sudah membangunkan lelaki itu dari koma berharap ia akan menjauhkan Sashi dari mas Aric. Tapi apa ini ... lelaki itu ternyata hilang ingatan. Sial!"


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Jangan lupa komen dan like di tiap bab ya, sebagai apresiasi untuk Bubu❤❤


__ADS_2