Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
ADA ARIC KECIL LAGI DI SINI!


__ADS_3

Tak terasa sebulan sudah dari aktivitas bulan madu yang dilakukan Aric dan Sashi. Pagi itu semua tampak normal, sebelum berangkat ke kampus Sashi tampak menyuapi Shiza dahulu baru membawa Shiza ke rumah Kalina. 


Ya, Kalina akhirnya memutuskan memberi kesempatan pada Rico. Ia kembali ke rumah mereka dan berusaha menjalani hidupnya kembali dengan normal. Sebagaimana kayu yang telah tertancap paku, walaupun paku itu telah ditarik bekasnya akan tetap ada dan itu yang terjadi pada kalina. Bekas perih penghianatan itu nyatanya masih ada tapi sebisa mungkin ia redam.


Sashi memutuskan menitipkan Shiza selama kuliah pada Kalina. Aric sebetulnya menyarankan mencari pengasuh untuk Shiza agar tidak membebani Kalina, tetapi melihat kesungguhan Kalina ingin merawat Shiza, akhirnya rencana itu dibatalkan. Pun Kalina sangat senang dekat dengan cucunya itu.


Bisnis Aric semakin berkembang, kini Ia memiliki beberapa klien dari luar negeri yang selalu minta diekspor furniture dari Perusahaannya. Seperti hari biasanya, Aric menjalani hari itu dengan penuh semangat. Bayangan kehangatan dan sifat manja Sashi, juga kelincahan Shiza adalah sumber semangat untuknya.


Aric sedang bertemu seorang Klien saat tiba-tiba ponselnya terus berdering, ia melihat nama dalam ponsel itu ternyata terdapat panggilan dari Kaysan. Aric segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, iya Kay?" ucap Aric menghentikan sejenak meetingnya.


"Waalaikumsalam. Kak, cepatlah datang ke rumah sakit Sashi tadi pingsan di kantin!" jawab Kaysan dengan nada panik.


"Sashi pingsan? Bagaimana bisa seperti itu?"


"Cepat datang dulu Kak, saat ini Sashi sedang dicek oleh Dokter!" ujar Kaysan lagi. Kaysan yang di masa lalu pernah tidak sengaja bertindak gegabah yang membuat kesakitan Sashi agaknya takut. Ya, ia takut terjadi hal buruk lagi pada wanita yang pernah ia cintai itu.


"Oke, tetap di sana dampingi kakakmu, aku akan segera datang!" lugas Aric.


"Tentu, Kak."


Setelah mendengar berita tentang Sashi, Aric sungguh tak tenang. Ia segera menghentikan meeting dan bergegas menuju rumah sakit yang ditunjukkan Kaysan.


Dipacu dengan kecepatan cepat mobilnya, hingga akhirnya ia sampai pada bangunan Rumah Sakit berdominasi putih. Kaki-kaki itu segera melangkah dengan gesit ke ruang UGD di mana Sashi tengah berada.


Sungguh dada Aric benar-benar sesak, sudah banyak hal yang dialami oleh istrinya itu, ia seperti halnya Kaysan sangat takut ada hal buruk lagi yang menimpa wanitanya.


"Sash .... Kamu kenapa Sa-yang? Tadi di rumah kamu terlihat baik-baik saja, mengapa bisa pingsan? Ada apa? Tolong lindungi istri hamba, ya Robb ... semoga tidak ada hal buruk terjadi padanya, hamba sangat mencintai istri hamba," monolog Aric selama dalam perjalanan menuju UGD.


Aric berusaha keras menetralkan emosinya, ia terus menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aric berusaha memenuhi otak dengan pikiran positif, hingga akhirnya sampailah ia di ruang yang dituju. Kaysan yang sedang berdiri di muka ruang UGD langsung menghampiri Aric.


"Apa dokter sudah keluar? Bagaimana kondisi Sashi?" tanya Aric seketika.


"Sudah Kak," jawab kaisan sambil tersenyum membuat Aric merasa aneh saja.

__ADS_1


"Kenapa kamu ini, hem?" ucap Aric bingung melihat sikap adiknya.


"Cepat masuk saja kak, nanti Sashi yang akan menceritakan!"


"Begitukah? Oke!" Tak lama Raga itu sudah tak terlihat. Aric dengan cepat membuka ruang UGD, pancaran wajah polos dan menggemaskan istrinya itu langsung tertangkap mata Aric. Hati itu tenang sebab wajah Sashi tampak merona. Aric mendekat dan langsung mencium kening istrinya.


"Sa-yang ...ada a-pa? Kenapa berbaring di sini, Hem?


Kalau ada yang kamu rasa, kenapa tidak bilang? Harusnya kalau sakit tadi tidak perlu berangkat ke kampus!" lirih kata itu terucap, kekawatiran terlihat jelas berbanding terbalik dengan meronanya wajah Sashi, ia yang dikhawatirkan justru tengah tersenyum-senyum.


"Ka,-kak!"


"Iya aku di sini. Katakan apa yang dikatakan dokter padamu, Sash? Kamu baik-baik sa-ja ka-n?" Wajah merona Sashi seketika berubah jadi pancaran haru, netra Shashi berkaca. Aric bertambah bingung saja dibuatnya.


"Sa-yang ... apa yang dikatakan Dokter! Jangan bersedih!"


"Ka-kak ...!" Lagi lagi hanya sapaan yang mampu keluar dari bibir Sashi.


"Sayang, jangan begini! Jangan buat aku bingung." Jemari Aric terus mengusap kepala Sashi dengan lembut.


"Iya?"


"Ka-k, aku punya kabar bahagia, kita telah diberi hadiah kembali oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala!"


"Mak-sudnya?"


Belum menjawab, tapi bulir itu sudah keluar saja dari pelupuk mata Sashi.


"Sa-yang ... katakan saja! Aku ingin menerka, tapi aku takut salah!" lirih Aric.


"Terkalah, Kak!"


"Mung-kin-kah ... hadiah i-tu, a-da-lah kehadiran a-ric kecil la-gi di-rahim-mu?" tanya itu tampak terbata. Aric takut asumsinya salah dan hanya membuat Sashi bersedih. Sashi menatap wajah suaminya, ia bergeming sambil terus menyapu wajah Aric.


"Kakak ... asumsimu benar! Berita ini akan membuatmu bahagia dan aku akan bahagia pula, sangat! Tapi aku senang melihatmu bertambah penasaran," batin Sashi.

__ADS_1


"Sayang ...." Sungguh Aric tak sabar mendengar kebenaran asumsinya.


Sashi menarik wajah itu mendekat ke wajahnya. "Ka-kak ... kamu benar! Aku ha-mil, a-da Aric kecil lagi di rahimku. Aku dipercaya lagi, Ka-k. Akhirnya setelah du-a ta-hun kita menanti," lirih Sashi. Mata Aric membulat, tentu saja ia bahagia. Ia terus menciumi wajah istrinya dengan pancaran haru.


"Terima kasih ya Robb ... terima kasih, Sayang ... terima kasih ... terima kasih ... terima kasih!" ucap Aric berulang-ulang tanpa henti sambil terus menciumi Sashi. Pun Sashi pasrah saja atas perilaku Aric.


"Sayang, apa tubuhmu begitu lemah? Apa perlu menginap di Rumah Sakit?" tanya Aric setelahnya.


Lagi-lagi Sashi menarik wajah Aric mendekat. "Kakak, aku tidak selemah itu, aku mau pulang! Aku hanya ingin dipeluk Kakak saja, bersama Kakak selalu!" Aric tersenyum, ia melirik sekitar, jelas ranjang itu tertutup gorden rapat. Aric seketika mendekatkan bibirnya, mencium bibir Sashi, ia sangat bahagia dan ingin meluapkannya. Keduanya saling membalas kecupan itu, terbuai dan terlarut. Keduanya begitu bahagia. Namun tiba-tiba satu sisi gorden itu terbuka.


"Astaghfirullah, Kak!" Aric dengan cepat melepaskan pagutannya.


"E-hh, Ka-y?"


"Maaf aku tidak tau. Ma-af mengganggu aktifitas kalian!" lirih Kaysan langsung berbalik.


"Hey Kay. Tidak, kamu tidak mengganggu! Kemarilah! Maaf kami berdua sangat bahagia. Kay, kamu akan mendapat keponakan. Alhamdulillah Sashi ha-mil, Kay!" lontar Aric dengan wajah semringah.


"Iya, aku tahu, Kak! Aku ikut bahagia. Tadi dokter juga sudah bicara."


"Oh ya?" Aric tersenyum ... terus tersenyum, senyuman seakan tak ingin berhenti menghias wajahnya. Aric sangat bahagia.


"Oh ya Kay, Sashi sudah bersamaku kamu boleh melanjutkan aktifitasmu, terima kasih sudah menjaga istriku."


Kaysan mengangguk, ia terus menatap wajah Sashi. Kaysan senang wajah itu terlihat begitu bahagia, juga wajah kakaknya. Perlahan ia membalik raganya dan menjauh. Ada desiran di hati itu, antara kebahagiaan dan kepiluan agaknya samar. Ya, membuang rasa cinta sepenuhnya tentu tidak mudah. Tapi ia sadar harus ikhlas untuk kebaikan semua.


...__________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Hai kalian yang mau lanjut jangan lupa komen yaa❤️❤️ Senin manis jangan lupa votenya juga😍😍


☕Terima kasih sudah mengikuti Sashi sampai sejauh ini😘😘


☕Besok kita cari jodoh untuk Kaysan😃😃

__ADS_1


__ADS_2