Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
AKU SAJA YANG CENGENG


__ADS_3

Mata bulat itu perlahan terbuka, dilihatnya raga tegap menggendong bayi menghadap jendela. Sashi yang masih syok atas apa yang dilihatnya beberapa saat lalu merasa perlu memastikan semua.


"Ka-kak," panggil Sashi. Raga tegap seketika menoleh, bukan berbinar wajah Sashi melainkan ia kaget bukan kepalang. Sosok yang beberapa saat lalu membuatnya tak sadar kini ia berdiri tepat di hadapannya.


"Siapa kamu? Berikan putriku!" Sashi seketika duduk bersandar head board.


"Sash? Ini aku Kay, kamu tidak mengenalku?"


"Tapi Kay sudah tidak ada!" lugas Sashi


"Aku selamat Sash, aku masih hidup!"


"Ti-dak! Itu tidak mungkin! Ka-k ... Kakakk!" Sashi terus berteriak memanggil Aric suaminya.


"Kenapa panggil Kakak? Ini aku, Kay! Kekasihmu! Ayah putri kita!" Kay menciumi Shiza dalam gendongannya.


Sashi resah seperti orang bingung. "Ja-di ka-mu be-lum meninggal? Kenapa hari itu mereka bilang kamu meninggal?"


"Aku tidak tahu itu. Aku baru sadar dari koma panjang. Di hari nahas itu kita akan menikah kan, Sash? Ayo kita lanjutkan! Menikahlah denganku, Sash!"


Mata Sashi terbelalak. "Tidak bi-sa. A-ku istri Ka-kak!"


"Kak Aric hanya suami pengganti! Kamu milikku Sash! Aku sudah kembali dan kakak pasti akan mengembalikanmu padaku lagi!"


"Hahh? Benar kah be-gitu?"




Di luar kamar ....


"Ma, kenapa Kay yang masuk ke dalam? Aric yang harusnya ada di sisi Sashi saat ini!"


"Beri waktu adikmu, Arr! lama tidak bertemu Sashi, biarkan mereka bicara! Lihat kan hari ini, baru mendengar tangisan Shiza, Kay langsung bisa berjalan dan ingatannya kembali. Itu artinya ikatan antara Kay dan Shiza kuat. Biarkan sejenak ia merefresh otaknya. Toh Sashi ibu anaknya, kan?" lugas Rico.

__ADS_1


"Ma, katakan Papa salah! Sashi milik Aric, jadi Aric yang memiliki hak atas Sashi bukan Kaysan. Ya, sekalipun mereka memiliki Shiza. Tapi Mama harus ingat bahwa Sashi juga tengah mengandung bayi Aric!"


Bukan Kalina yang menjawab, justru Rico kembali menyela ucapan Aric. "Kau bahkan sadar Sashi milikmu, lalu apa yang kamu takutkan! Kalau kamu yakin cinta Sashi hanya untukmu, tidak masalah bukan mereka bicara berdua? Toh Kay adik iparnya!" kilah Rico.


Aric menggeleng-geleng, sejak dulu papanya itu memang selalu mengutamakan Kaysan dari dirinya. Aric terus menarik napas dan membuangnya, dada itu sesak. Ia merasa Rico tak adil padanya.


"Sabar Sayang! Yakinlah Sashi tak akan berpaling, Mama tau ia mencintaimu!" ucap Kalina.


"Aric tau Ma, tapi tetap saja mereka pernah menjalin hubungan. Apa salah jika Aric khawatir rasa itu hadir lagi terlebih Sashi saat ini pasti marah pada Aric telah membohongi keadaan Kay!"


"Kita sejak awal memang salah, Pa! Panggil mas Lutfi kita harus buka semua ini sekarang juga, Pa!" lirih Kalina.


"Panggil! Panggil lah!" lugas Rico.


Aric terus menggelengkan kepala. Baru satu masalah tuntas, ia di hadapkan lagi pada masalah baru yang tentu tidak akan mudah membawa mertuanya itu. Ia yang sangat takut dipisahkan dari Sashi merasa harus bicara pada Sashi sebelum Lutfi dan Aira datang.


Aric dengan cepat melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Arr ... Arrr ...!" Kalina ingin menahan tapi Aric tak bisa digoyahkan. Ia sejujurnya sadar Aric lebih berhak pada Sashi tapi ia yang tak ingin kedua saudara bertengkar memilih meminta Aric memberi waktu Kaysan memastikan rasa Sashi padanya. Berharap Kaysan mendengar penolakan dari Sashi dan ia akan mundur, tidak mengganggu rumah tangga kakaknya.


Pintu kamar terbuka.


"Kakak," panggil Sashi seketika. Aric mendekat.


"Sayang, ma-af!" Diraih kepala tanpa pembungkus itu dan diciumnya. Kaysan membuang wajah.


"Kakak jahat membiarkan laki-laki lain masuk ke kamar kita! Bahkan Kakak tidak menjaga aku! Ambilkan jilbabku di lemari, Kak!" Aric sadar perilakunya salah. Ia juga membiarkan Kaysan melihat apa yang tidak harus ia lihat. Diambilnya satu jilbab berwarna pink dan dengan cepat Sashi memakainya.


"Sekarang Kakak harus jelaskan padaku mengapa Kakak dan semua bohong mengatakan Kay sudah meninggal!"


"Aku akan jelaskan!" lirih Aric menghadap Sashi.


"Kay please keluarlah,aku harus bicara berdua dengan Sashi!" Aric mendorong perlahan raga Kay.


"Kak?" lirih Kay.

__ADS_1


"Tolong! Tunggulah di luar dulu!"


"Kak, ingat Sashi milikku!" Aric bergeming. Ia menutup pintu saat raga Kay keluar dan mendekati Sashi setelahnya.


Aric duduk di tepi ranjang langsung meraih tubuh istrinya itu. "Ma-aff!" bisiknya.


"Sejak kapan Kakak membohongiku!" kepalan jemari Sashi mendarat di dada Aric bertubi-tubi.


"Ma-af! Setelah aku mengucap ijab qobul kamu ingatkan aku sekeluarga langsung menuju Rumah Sakit?" Sashi mengangguk.


"Di rumah sakit ternyata kondisi Kay bisa diselamatkan! Kami semua bingung antara senang dan sedih. Nyatanya aku sudah menikahi kamu, calon istri adikku. Kami sekeluarga berfikir, koma yang dialami Kay tidak bisa dipastikan sedang perutmu akan semakin membesar. Akhirnya papa dan mama memutuskan merahasiakan keadaan Kay agar kamu fokus dengan kehamilanmu dan tidak terganggu dengan keadaan Kay!" Sashi masih bergeming mencerna segalanya.


"Kamu tentu ingat kan, Sashh, bagaimana perilakuku dulu padamu? Semua kulakukan karena aku merasa hanya sebagai pengganti, aku hanya menjaga sesuatu yang bukan milikku. Tapi waktu mengubah segalanya, kamu mengetuk hatiku, berusaha keras aku abaikan tapi kondisimu terus memburuk. Sejak saat itu aku sadar. Aku suami. Tidak ada ungkapan suami pengganti, aku berdosa melalaikanmu! Bahkan aku tidak tahu kapan Kaysan akan sadar. Tidak adil rasanya padamu, kamu harusnya mendapat banyak cinta dan perhatian di masa kehamilanmu saat itu."


Sashi menatap lekat netra suaminya. "Tunggu, Kak! Tadi Kay bilang Kakak akan mengembalikanku padanya, apa i-tu be-nar?"


Aric menggeleng. "Mana mungkin begitu! Kamu istriku, calon ibu anakku! Aku akan mempertahankan-mu!"


Sashi mulai menangis, ia menengelamkan wajah ya ke dada Aric. "Kakak jangan bohong! Aku bukan barang yang bisa dipindahkan seenaknya. Aku punya hati dan aku hanya akan menjadi istri Alaric! Terhadap Kaysan aku tidak memiliki rasa apa pun lagi!"


Aric menarik dagu itu ke atas, bibir itu masih memberengut, tangisan masih keluar dari pelupuknya. Aric sedih, netranya ikut basah. Ia merasa jahat lagi-lagi membuat istrinya yang sedang mengandung itu menangis.


"Kakak kenapa menangis?"


"Karena aku bukan suami baik, aku selalu membuatmu menangis!"


Sashi menghapus bulir di wajah Aric. "Kakak jangan jadi Papa yang cengeng! Cukup anak-anak kita memiliki Mami yang cengeng tapi Papanya harus tegar dan pemberani!" Aric tersenyum mendengar penuturan Sashi. Tak menyangka dengan setiap kata yang bisa muncul dari bibir istrinya itu. Aric mengangguk. Memberi kecupan singkat di bibir Sashi. Keduanya sama-sama tersenyum hingga tiba-tiba pintu terbuka.


CEKLEK ....


"A-yah?"


"Aric, keluar!"


__________________________________________

__ADS_1


☕Happy reading❤❤


__ADS_2