
Semilir angin malam terus saja menggoda raga, berbisik lirih dan mengajak bercengkrama melalui sentuhannya. Sashi masih saja mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Aric, tak terganggu walau sapuan angin semakin membuat bergidik kulit, tapi ia sangat menikmati kebersamaan itu.
Ya, Sashi dan Aric sedang di mobil saat ini, Sashi terus merengek minta diajak berkeliling menikmati semilir angin malam. Pun Aric tak bisa menolak ingin istrinya itu, terlebih melihat bibir Sashi terus memberengut dengan mata yang terus mengalihkan tatapan dari wajahnya. Aric bisa apa, dijauhi Sashi adalah hal terburuk untuknya, sebisa mungkin ia tak ingin itu terjadi.
"Sayang, sudah! Pasti galery ponselmu sudah dipenuhi fotoku!"
"Aku senang melihat wajah Kakak, tampan! Kalau anak kita lahir, aku akan bandingkan ia mirip denganku atau mirip Kakak!"
"Tentu mirip kita berdua!" Sashi mengangguk.
"Oh ya, Kak. Kakak belum cerita tadi kenapa begitu lama menebus vitaminku?" tanya itu terlontar. Aric Memang belum sempat menceritakan perihal Salwa pada Sashi. Shiza yang terus berada di tengah mereka, membuat Aric tak bisa menceritakan yang terjadi pada Salwa.
Aric mengedar pandang, melihat jalan yang mulai senggang, Aric menepikan mobilnya. Ia menatap lekat wajah penuh tanya Sashi.
"Tadi aku bertemu Salwa di Rumah Sakit."
"Oh, lalu?"
Mendengar kata Oh itu terdengar malas dan datar, ada kekhawatiran kalau Sashi marah. Aric meraih jemari istrinya. "Sebelumnya tolong jangan salah paham, Sash!"
"Kakak aneh, salah paham apa? Aku biasa saja kok, toh Kakak bisa bertemu siapa saja," ucap Sashi.
"Sungguh?" Sashi mengangguk.
"Kamu tidak cemburu?" Sashi menatap netra Aric.
"Sebentar lagi aku akan melahirkan anak-anak Kakak, aku percaya Kakak! Bukankah Kakak yang bilang kita harus saling percaya!" Aric tersenyum getir, ia menciumi jemari Sashi. Aric merasa malu, kekhawatirannya nyatanya tidak beralasan, bahkan Sashi bisa lebih lapang dada darinya yang selama ini sering cemburu pada Kaysan.
"Terima kasih, Sayang. Begini ... aku tidak sengaja bertemu Salwa, ia seperti sakit tapi menyangkalnya. Hingga tiba-tiba tubuhnya ambruk ke lantai."
"Kak Sal-wa ping-san di Rumah Sakit, kah?"
"Iya," lirih Aric.
"Dan Kakak menolongnya." Aric mengangguk. "Kamu pasti tidak suka?"
"Suka! Aku bangga suamiku senang membantu orang, asal jangan sampai menikahinya saja seperti yang sudah-sudah!" lugas kata itu terucap. Sashi tampak menekan-nekan layar ponselnya.
"Sayang ... jangan menyindirku seperti itu!"
Sashi mengangkat wajahnya. "Ma-af, aku spontan Kak. Aku tahu Kakak tidak akan gegabah sok pahlawan seperti dulu dan mengorbankanku! Ups ... hampir lupa, bukan hanya aku, tapi juga si-kem-bar dan Shiza!" Aric menciumi jemari itu.
"Terima kasih kepercayaanmu, aku tidak akan bertindak bodoh seperti dulu," lirih kata itu terucap. Sashi tersenyum. Ia mengarahkan jemari Aric ke perutnya.
"Rasakan si kembar sedang bergerak, Kak!"
"Iya, aku merasakannya!" Aric meletakkan kepalanya kini ke atas perut Sashi. Tonjolan-tonjolan itu terasa begitu nyata seakan sedang meninju pipinya, Aric terus tersenyum. Ia memeluk perut Sashi setelahnya.
"Lanjutkan cerita Kakak mengenai kak Salwa, aku mau dengar!" Aric mengangkat badan dan kembali menatap Sashi.
"Kamu pasti kaget dengan hal yang akan aku sampaikan!"
"Apa?"
"Salwa tengah hamil!"
"Ha-mil? Anak tunangannya i-tu, ka-h?"
"Aku tidak tau persis, tapi siapa lagi yang mungkin melakukannya!"
"Hah, apa mungkin pertunangan itu terjadi sebab kak Salwa su-dah hamil lebih dulu?"
"Aku tidak ingin menerka-nerka. Tapi itu urusan dia, bukan urusan kita!" Sashi menatap intens wajah Aric.
"Aku suka ucapan Kakak barusan! Urusan kak Salwa bukan urusan kita!" Aric mengangguk.
"Apa Kakak mengantar dia pulang dulu tadi?"
__ADS_1
"Tentu tidak. Salwa butuh perawatan dan harus menginap di Rumah Sakit."
"Kakak pasti cemas!" Sashi mengusap pipi Aric.
"Aku hanya mencemaskanmu!" Wajah Sashi lagi-lagi dibuat tersenyum.
"Terima kasih, Kak. Ucapan Kakak membuatku tenang!" Sashi mendekatkan wajahnya dan mencium singkat pipi Aric. Aric merasa senang.
"Semoga kak Salwa cepat pulih dan Bima suaminya itu bisa menjaganya dengan baik!"
"Amiinn," jawab Aric sembari mengangguk.
"Kita lanjutkan cari anginnya, ya?"
"Iya. Oh ya, Kak, kalau ada penjual bubur kacang hijau, aku mau, kak!"
"Duuu ... si kembar Papa, sudah lapar lagi rupanya, Hem?"
"Iya, Papa," lirih Sashi. Keduanya sama-sama tersenyum kini. Aric kembali meraih kemudi dan melajukan kendaraannya lagi. Baru beberapa saat berjalan, ponsel Aric terus berbunyi.
"Kak, angkat dulu mungkin ada yang penting!"
"Coba lihat Sayang dari siapa!" Sashi mengambil ponsel di laci mobil dan memperhatikan panggilan itu.
"Dari Kay, Ka-k. Tumben sih! Ada apa Kay menelepon Kakak malam-malam?”
"Angkat, Sayang! Tadi aku meminta Kay menjaga Salwa sembari menunggu Lora dan keluarganya datang."
"Oh!" Sashi akhirnya menurut, ia mengangkat panggilan itu.
📞 Assalamu'alaikum, Kak ...
📲 Wa'alaikumsalam, ini Sashi, Kay.
📞Kamu Sash? Kak Aric mana?
📞Oh, kalian sedang di luar?
📲Iya.
📞Tolong dekatkan polsel ke telinga kakak, bisa Sash!
📲Bisa.
"Kak, ini Kay mau bicara dengan Kakak!" Sashi bicara pada Aric.
"Loud speaker saja, Sayang!"
"Tapi Kay bilang ingin bicara dengan Kakak!" ucap Sashi lagi.
"Kamu berhak tau apapun. Bukankah tidak boleh ada rahasia antara kita?" Sashi mengangguk setelahnya dan menekan tombol Loud speaker.
📲Katakan ada apa, Kay!
📞 Kak Salwa pergi dari Rumah Sakit Ia kabur! Aku dan Lora sedang mencarinya saat ini.
📲A-pa?
"Kenapa kak Salwa begitu emosional? Kenapa harus kabur?" tanya Sashi yang langsung di dengar Kaysan.
📞Jadi Sashi mendengar semuanya, Kak?
📲Iya, tidak apa-apa.
📞Oh. Baiklah aku hanyamengabari itu saja. Bye Kak, assalamu'alaikum.
📲 Wa'alaikumsalam.
__ADS_1
Panggilan setelahnya terputus. Sashi terus menatap wajah suaminya itu, memastikan yang terjadi pada Salwa tidak mempengaruhi Aric. Pun ia berkata setelahnya.
"Kakak pasti khawatir pada kak Salwa saat ini?" lugas Sashi. Bukan menjawab Aric justru tersenyum.
"Apa yang sebetulnya ingin kamu ketahui, Hem?'
"Apa hilangnya kak Salwa mempengaruhi Kakak? Apa Kakak ingin mencari kak Salwa saat ini?"
"Bohong kalau aku tidak khawatir. Tapi aku punya kamu, biarkan Salwa dengan hidupnya! Ia sudah dewasa tentunya sudah memikirkan setiap keputusan yang ia ambil!"
"Tapi aneh ya, Kak. Kenapa ia harus pergi? Jika dokter menyarankan untuk menetap di Rumah Sakit pasti itu terbaik untuknya dan calon anaknya!"
"Bahkan istriku lebih pintar, aku bangga!"
"Ahh, Kakak. Karena Kakak sudah jadi suamiku saja, jadi memujiku!"
"Benar Sayang, pemikiranmu selalu logis!" Sashi terlihat tersenyum. Ya, wanita mana yang tidak suka dipuji.
"Apa Bima tunangan kak Salwa juga tengah mencari kak Salwa saat ini?" tanya Sashi lagi.
"Aku tidak tau, Sayang!" Aric mengusap kepala tertutup jilbab itu.
"Atau mungkin kak Salwa sesungguhnya belum siap memiliki anak, Kak?" Sashi kembali menerka-nerka membuat Aric kembali tersenyum.
"Sayang ... sudahi berasumsi oke! Kita tunggu saja beritanya, toh Kaysan juga sedang mencari Salwa. Bagaimana jika kita membicarakan tentang calon anak-anak kita saja!" Nerta Sashi langsung berbinar. Ia mengangguk.
"Oh ya, Kak. Bagaimana pilihan nama yang kupilih untuk si-kembar kemarin? Apa Kakak suka?"
"Suka! Hmm .... Apa itu kemarin?"
"Ah Kakak, bilang suka tapi Kakak lupa! Arsyilla dan Agniyya, Kak!"
"Bagus! Kalau laki-laki apa kamu pilih kemarin?"
"Athayya dan Almeer!"
"Bagus semua aku suka! Kenapa harus berawalan A?"
"Supaya seperti nama Papanya!" Aric tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih." Aric mengusap pipi itu.
"Oh ya, Sayang. Kalau kamu melihat penjual bubur kacang hijau katakan dan aku akan berhenti, matamu kan lebih awas!"
"Iya, Kak." Sashi mulai mengedar pandang ke kanan dan kiri.
"Tutup jendelanya, Sayang! Udara semakin dingin!"
"Tapi aku suka angin malam, Kak!"
"Sisakan saja sedikit, nanti kamu bisa masuk angin!" Sashi mengangguk.
Kuda besi itu terus membelah jalan tapi penjual makanan yang dicari tidak terlihat, ada beberapa sudah menutup lapaknya.
Aric masih melajukan mobilnya, hingga Sashi seketika berteriak.
"Kakak stop!"
"Sayang, ada apa?
"I-tu, Kak! Coba Kakak perhatikan wanita yang duduk di Taman dalam gelap itu, bukankah dari belakang seperti kak Sal-wa?
..._______________________________________...
☕Happy reading😘
☕Ditunggu selalu komen kalian❤️❤️
__ADS_1