
"Assalamu'alaikum, Mimaaa ...."
Sashi bimbang, keinginan menghubungi Lutfi diurungkan, ia khawatir kondisi ayahnya kumat karenanya. Tapi ia sedang membutuhkan support, berkali ia menghubungi Aira tapi di jam itu Aira sedang di pasar berbelanja. Telfon itu tak mendapat respon. Sashi akhirnya menghubungi wanita yang selalu menyamankannya, Mima.
"Wa'alaikumsalam, Sayang."
"Mimaaa .... Kak Aric sudah jujur, pernikahan itu benar adanya. Kak Aric sudah menikah lagi di belakangku. Asumsiku selama ini benar! Apa yang harus kuperbuat kini, Mima! Sebetulnya Aku ingin menghubungi ayah untuk menjemputku dan Shiza, tapi kak Aric menahanku, ayah memang punya penyakit jantung, Kakak benar bisa terjadi hal buruk jika ia kaget. Tapi bagaimana ini, Mima. Aku benci Kakak!"
"Aric sudah menjelaskan alasan ia menikah lagi, kah?" tanya Mima tenang.
"Sudah sih, tapi alasannya tidak masuk akal! Katanya ia terpaksa menikahi mbak Aruna karena terdesak, apa ada pernikahan terdesak? Bukankah yang namanya pernikahan tetap pernikahan. Kak Aric juga bilang tidak pernah menyentuh mbak Aruna. Siapa yang akan percaya itu? Secara mbak Aruna sangat menarik. Kak Aric pasti sedang mengelabuhiku. Oh ya, satu lagi Mima, anak itu ... Ciara. Kata kak Aric salah satu alasan menikahi itu juga sebab Ciara sakit. Apa itu masuk akal? Mengapa juga kak Aric yang kebingungan dengan sakit yang diderita Ciara. Mas Bagas saja yang ayah kandungnya tidak mengurusi. Semua aneh dan tidak masuk akal. Aku benci lelaki yang suka bohong. Aku benci kak Aric! Aku mau cerai saja, Mima! Kali ini Mima setujukan jika aku dan kak Aric bercerai?"
Seperti itulah Sashi. Sashi mulai bicara tak berjeda. Ia menemukan orang yang menyamankan hingga setiap kata terus mengalir keluar.
"Sa-yang ...."
"Iya Mima?"
"Maaf Sayang, untuk kali ini Mima mendukung suamimu!" lirih Mima.
"Hahh? Aku tidak salah dengar, Mima? Kenapa, Mima? Jadi menurut Mima aku harus menerima pernikahan kedua kak Aric? Aku harus bersedia di-ma-du, kah?"
"Percayakan semua pada suamimu. Ia mencintaimu dan memiliki alasan dari setiap tindakannya. Nasihat Mima masih sama seperti sebelumnya, pertahankan apa yang menjadi milikmu! Jangan keluar dari rumahmu! Wanita itu mengambil kesempatan dari kepanikan suamimu untuk menikahinya jelas itu salah! Menandakan hatinya tidak baik. Jaga suamimu dan tetaplah bertahan. Satu kali kamu melangkahkan kaki keluar, wanita itu akan tertawa. Ia akan puas sebab tak ada hambatan berarti lagi! Karena hambatan terbesarnya itu adalah kepercayaanmu dan rasa cinta antara kalian. Saat kamu pergi, berarti kepercayaan dan rasa cintamu telah kalah dengan kemarahanmu. Itu saja yang bisa Mima ucapkan, Sayang!"
__ADS_1
Sashi terdiam mencerna segalanya. Ia memang marah dan kesal, tapi membayangkan Aruna akan memiliki Aric seutuhnya hati itu tak siap.
"Bagaimana ini ... Mima benar, mbak Aruna akan merasa menang jika aku pergi. Tak dipungkiri, pun kak Aric telah memberi banyak bahagia untukku dan Shiza, kak Aric menerima Shiza walau bukan anak biologisnya. Cinta kak Aric tulus untuk Shiza menandakan ia pria baik, yah walau di awal hubungan kami ia kurang perhatian tapi kak Aric bersedia menikahiku yang tengah hamil anak lelaki lain itu adalah hal luar biasa yang ia lakukan. Apa aku harus mengikuti ucapan Mima dan mempertahankan kak Aric? Tapi aku tidak mau memiliki saingan! Aku mau jadi satu-satunya! Apa yang harus aku lakukan?"
"Sash ... Sashi ...."
"I-ya, Mima?"
"Fikirkan dengan kepala dingin dan jangan terburu-buru memutuskan sesuatu. Kamu beruntung Sayang, ada laki-laki yang mencintai dan menerima dirimu apa adanya. Fikirkan itu! Mima pamit. Mima baru saja minum obat dan sangat mengantuk saat ini."
"Ba-ik, Mima. Mima harus selalu sehat! Maaf Sashi belum sempat menjenguk Mima!"
"Tidak apa-apa. Doamu sudah cukup. Assalamu'alaikum, Sayang!"
__________________
Aric seketika berdiri dari posisi duduknya sambil menggendong Shiza yang telah bangun. Sashi menatap pancaran wajah tampan suaminya, lelaki itu telah masuk dalam hidupnya, memberi banyak warna padanya. Netra itu berkaca, Sashi seketika bersedih melihat Aric berkali mencium Shiza dalam pelukannya. Lelakinya tampak jelas mencintai putrinya. Putri anak lelaki lain, anak adiknya.
Hati Sashi seketika tersentuh, lelakinya itu memang lelaki baik, lepas dari kenyataan yang baru saja ia ketahui. Ia semakin bimbang, kata-kata Mima memenuhi otaknya. Ya, tentang Aric yang pasti memiliki alasan yang tak logis menurutnya itu pasti sudah mempertimbangkan apa yang dilakukannya. Sashi masih terdiam saat kaki-kakinya spontan mendekati raga tegap itu. Ia belum bisa menatap dari dekat wajah Aric, ia memilih membuang wajahnya ke sembarang arah. Dalam diam ia meraih tubuh Shiza.
"Sash ...," lembut suara itu terdengar memanggil. Aric penasaran apa yang ada di otak istri kecilnya itu. Istri yang sebelumnya menampilkan emosi yang meluap-luap seketika berubah jadi sosok pendiam. Aric juga melihat pancaran wajah berbeda Sashi. Pancaran kesedihan.
"Aku akan memandikan Shiza, Kakak ke bawah saja lebih dulu nanti aku dan Shiza menyusul!" lirih Sashi.
__ADS_1
"Ada apa sebetulnya? Apa yang mima ucapkan pada Sashi? Kenapa Sashi jadi berubah seperti ini, ucapan itu tanpa emosi. Apa Sashi sudah memaafkanku? Mima ... bagaimana ia bisa dengan cepat mengubah Sashi?" batin Aric.
Ya, Aric memang mendengar Sashi menyebut nama mima saat di balkon. Hal yang membuat Aric senang karena yang dihubungi adalah orang yang sesuai perkiraannya.
FLASHBACK
Aric melihat Sashi menaiki ranjang, istrinya itu langsung menyusui Shiza dan tak menunggu lama Sashi telah ikut tertidur. Istrinya itu lelah, lelah raga dan otaknya. Aric mendekat menyapu puncak kepala itu. Ada kesedihan ia rasa melihat mata bengkak istrinya, istrinya sangat sedih dan terpukul. Kenyataan diduakan tentu tak ingin dialami wanita mana pun, terlebih istrinya itu masih berusia belia.
Aric masih menatap 2 wanita pengisi hatinya itu. Sashi dan Shiza. Sashi menyusui sambil tertidur sudah menjadi pemandangan yang melekat untuk Aric. Pemandangan yang mencerminkan pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, dia yang selalu terganggu dengan keinginan anaknya untuk menyusu kapan pun bayinya mau selalu dilakukan Sashi tanpa mengeluh. Gadis belia itu menjadi ibu di usia muda. Ia merelakan waktu bersenang-senang dengan teman sebaya dan membaktikan diri menjadi ibu dan istri. Hati Aric tersentuh, perilakunya menduakan Sashi sangat buruk. Tapi ia termakan dengan janji yang seketika terlontar dan harus ia tanggung, terlebih kenyataan Ciara adalah anak yang diterlantarkan Ayahnya sendiri sungguh prilaku biadap menurutnya. Tidak bertanggung jawab, tapi ia bersedia menanggungnya.
Aric terus berfikir bagaimana membuat Sashi tetap di sisinya. Pun ia terpikir Mima, Sashi cepat atau lambat pasti akan menghubungi orang yang menyamankannya untuk diajak bicara, ialah Mima.
Aric keluar kamar dan menghubungi wanita paruh baya yang telah mengurus istrinya sejak kecil itu. Tak menunggu lama Mima menjawab panggilannya Mima kaget tak biasa Aric menelepon. Aric langsung menceritakan setiap hal yang terjadi dalam pernikahannya bersama Sashi, termasuk telah memasukkan Aruna di tengah keduanya. Semua alasan terjadinya pernikahan Aric ceritakan dengan gamblang, bahkan tentang Ciara ia kupas pula seutuhnya. Hal yang tak bisa ia buka di depan Sashi sebab sama saja membuka aib orang tuanya, entah mengapa ia bisa keluarkan pada mima. Mima kaget tapi memahami situasi yang dialami Aric.
Di kesempatan itu pula Aric melontarkan ketulusan cintanya pada Sashi dan Shiza. Bagaimana kehadiran keduanya sangat penting untuk Aric. Ia meminta bantuan mima untuk mendukungnya, entah mengapa ia yakin kata-kata mima akan didengar Sashi.
_________________________________________
☕Maaf bab-bab ini mode lambat dulu ya😘
☕Happy reading😍
☕Jangan lupa like dan komen sebagai support atas karya ini❤❤
__ADS_1