
"Kenapa Mas menolongku?" Tanya itu keluar sesaat setelah dokter keluar dari kamar.
"Kenapa kamu melakukan tindakan bodoh itu?" Bukan jawaban, Aric justru mencecar tanya pada Aruna. Aruna terdiam.
"Anakmu baru saja di operasi, ia membutuhkan support ibunya tapi ibunya justru menyerah dalam hidup!" Aruna masih terdiam. Satu persatu bulir menetes dari pelupuknya.
"A-ku bu-kan ibu yang baik!"
"Siapa yang melakukannya!" Aric mengingat tanda-tanda itu lecet, jelas Aruna tidak menyukainya. Otak itu berfikir apa yang sebenarnya terjadi. Ada rasa iba di hati Aric. Walau ia jijik, tapi ia ingin memastikan. Pun Aric bertanya.
"Seseorang melecehkanku! A-ku ... a-ku tidak sadar dan terbangun sudah dalam keadaan sangat buruk!" Aruna tak bisa berkilah, Aric sudah melihat semuanya. Ia terus menangis saat ini.
"Siapa orangnya?"
"Ba-gas, Mas! Aku benci Bagas! Ia kerap melecehkanku! Aku bahkan istrimu saat i-ni, tapi ia lagi-lagi menjadikanku pemuas naf-su-nya! Maaf aku tidak bisa menjaga di-riku,Ma-ss ...!"
"Pulihkan dirimu! Setelah aku kembali kita akan langsung ke rumah sakit!"
"Mas ... kamu mau ke mana, Mass?" Tanya itu tidak ditanggapi. Ada rasa kesal di hati itu.
...▪♧♧♧▪...
"Kurang ajar!!"
BUG ... BUG ....
Aric yang tau tempat mangkal Bagas langsung mencari Bagas ke sana. Ya, sebelumnya mereka memang pernah bertemu di tempat itu saat Aric mencari tau siapa ayah Ciara.
"Ahh ... apa ini Pak Aric!"
"Bina-tang! Masih bertanya pula alasanku seperti ini!"
BUG ... BUG ....
"Maaf Pak Aric, aku paling tak suka ada orang yang memukulku!"
BUG ... BUG ....
keduanya saling baku hantam, hingga beberapa orang yang sedang memainkan kartu-kartu melerai.
Beberapa saat setelahnya keduanya duduk berhadapan.
"Aku akan melaporkan perbuatanmu pada kepolisian!"
"Aku fikir pak Aric tidak memiliki rasa pada wanita murahan itu, tapi sepertinya saya salah!"
"Jaga ucapanmu! Secara kemanusiaan tindakanmu tak bermoral! Wanita itu makhluk berharga bukan untuk dilecehkan!" gusar Aric.
__ADS_1
Bagas tertawa.
"Kau juga tidak menganggap dia berharga bukan, apa bedanya denganku!"
"Diam! Aku tidak sama sepertimu! Aku menjaga diriku karena aku hanya mencintai Sashi!" lugas Aric menatap lekat netra Bagas.
"Sashi. Ibu muda yang polos dan manis. Yah ... memang tidak sebanding wajah dan tubuhnya dengan Aruna, Haaa!" Bagas bicara asal apa yang terbesit di otaknya. Memang ucapannya tidak salah tapi itu mengusik Aric.
"Kau sedang menghina istriku!" Tangan itu sudah mengepal ke arah Bagas.
"Sabar! sabar, Pak! Atau orang-orang akan berdatangan lagi!"
"Sekali lagi kukatakan jangan lagi dekati anggota keluargaku!"
"Wahh ... wanita murahan itu pasti akan senang jika ia mendengar ucapan Bapak barusan. Anggota keluarga, kata yang manis!"
"Ia masih berstatus istriku!"
"Wahh kau juga menganggapnya istri? Akan besar kepala dia!"
"Kami akan segera bercerai!"
"Sungguh?" Bagas berpura-pura tidak tahu, padahal ia selalu mencari tahu yang terjadi pada Aruna. Ya, Bagas selalu merasa Aruna miliknya. Aric mengangguk.
"Tapi sayang sekali pak Aric kalau kau membiarkan ia begitu saja. Tidak maukah kau icip-icip dulu sebelum kalian bercerai? Bukankah kalian halal? Atau mau aku wakilkan?"
"Aku jadi berfikir bagaimana jika Sashi tau kalau suaminya sengaja datang menemuiku hanya untuk membela wanita murahan madunya!"
Aric tak bisa menahan emosinya lagi. Ia menarik kerah baju Bagas. "Jangan pernah ganggu Sashi dan semua orang yang dekat denganku! Atau aku tidak segan-segan melemparmu ke penjara! Kau lupa aku menyimpan bukti pemerasanmu padaku. Akan sangat mudah bagiku menjebloskanmu ke tempat itu!"
"Oke ... oke, Santai pak Aric!"
...▪♧♧♧▪...
Di sebuah kamar dominasi hitam putih seorang pemuda gusar. Kata-kata yang tidak sengaja didengar kemarin terus mengusiknya. Nama wanita itu telah terekam di otak, sayangnya tak ada gambaran sedikitpun tentangnya. Ingatan tentang wanita itu seakan musnah. Semakin keras ia berusaha mengingat, kepalanya semakin pusing. Enggan berkolaborasi dengan baik.
Baru saja ia ingin merebahkan tubuh, sebuah ketukan mengagetkannya. Seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik masuk. Ia langsung menyapu kepala putranya. "Apa tubuhmu baik, Nak?" tanyanya.
"Baik, Ma!"
Dokter memang sudah memperbolehkan Kay pulang, tapi setiap saat ia akan menghubungi dan memastikan kondisi Kay. Ya, setelah koma panjang yang dialami, dokter merasa perlu melakukan itu, mengetahui kondisi Kay. Apakah ada hal yang berbeda setelah pengambilan sum-sum itu atau tidak. Pun Kalina juga diminta dokter memantau dengan baik, makanan dan setiap aktivitas Kay. Kalina menurut. Maklumlah dokter yang menangani masih memiliki hubungan kekeluargaan jadi ia lebih protected.
"Ma ... ada yang ingin Kay tanyakan!"
"Tentu tanyakan lah!"
"Ma, apa sebelum kecelakaan aku pria yang brengsek, tidak baik dan suka bermain-main dengan wanita?" Tanya itu terlontar bukan tanpa alasan. Kaysan mendengar wanita dalan ruang perawatannya kemarin berbicara bahwa ia sempat akan menikah dengan seorang wanita sebab sang wanita tengah hamil anaknya.
__ADS_1
"Mana ada seperti itu, kamu putraku yang baik, sangat sopan dan rajin belajar," utar Kalina. Tentu Kalina tidak bohong semua memang seperti itu. Ya, kalau bukan karena jebakan memang Sashi tidak akan hamil. Pun baik Sashi atau Kaysan adalah 2 anak yang baik tapi takdir mereka tidak baik.
Mendengar jawaban Kalina, semakin bingung saja Kaysan dibuatnya. "Jika aku anak baik, mengapa aku menghamili anak orang? Dan siapa Sashi itu? Jika aku memiliki tanggung jawab padanya, mengapa mama tidak membeberkannya saat aku sadar, seolah semua biasa saja. Apa wanita itu yang bohong?"
"Ma, apa ada gadis bernama Sashi dalam hidupku?"
"Oh, a-pa yang ka-mu tanyakan, Sayang! Kamu le-tih, bukan? Istirahat lah, Nak!" Wajah Kalina mendadak pucat. Ia heran bagaimana Kaysan bisa ingat nama Sashi.
"Maa, please jawab tanyaku, siapa Sashi? Apa aku menghamilinya? Dan siapa istri Kakak? Apa gadis yang kudonorkan sebetulnya anak Kakak?"
"Ka-yy, darimana kamu dapat cerita i-tu? Tidak ada seperti itu. Anak yang kamu donorkan hanya anak yang menganggap kakakmu sebagai ayahnya!"
"Dan Sashi? Apa aku menghamilinya? Di mana dia?"
"Kay ... Kay ... ahh, kepala Mama pusing, Sayang! Mama akan istirahat di kamar!"
"Ma, tunggu Ma!"
"Ah Mama ...," decak Kaysan saat bayang Kalina dengan cepat menghilang.
"Mama bisa menjawab lugas prihal anak yang kudonorkan tapi ia mendadak pusing saat aku menanyakan perihal gadis bernama Sas-hi. Apa yang tidak beres!"
•
•
"Ar ... kamu di mana?" Panggilan video itu berlangsung. Sesaat sampai di kamar kalina langsung meraih gawainya.
"Di rumah sakit, Ma!"
"Dengar Sayang, Kay mulai menanyakan Sashi. Apa yang harus Mama katakan?" ucap Kalina dengan raut wajah panik.
"Kay, bagaimana mungkin ia ingat secepat itu?"
"Itu pun!"
"Ada lagi yang ia katakan?"
"Ia menanyakan apa ia menghamili Sashi!"
"Hah?"
"Satu lagi Arr, dia juga menanyakan apa anak yang didonorkan adalah anakmu! Apa kamu bicara pada Kay perihal pernikahanmu dan Aruna di Rumah Sakit?"
Aric menggeleng tapi otaknya mulai menerka. "Apa mungkin saat itu Kay mendengar pembicaraanku dan A-runa?"
__________________________________________
__ADS_1
☕Happy reading😘