
Dua minggu sudah terapi Kay, tapi ia masih belum bisa berdiri tanpa bantuan alat. Kursi roda menjadi alat bantu mobilitas Kay. Kay yang pembawaannya keras, geram. Ia sering kesal dan tak terima dengan takdirnya. Ia bak lelaki lumpuh saat ini. Ia rindu hobinya, basketnya. Namun mimpi itu seakan tak tergapai. Bahkan berdiri saja ia tak bisa.
Kalina bingung cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk memulihkan Kay. Sudah beberapa rumah sakit ia kunjungi untuk membantu pemulihan Kay lebih cepat namun nyatanya sama saja. Prosedur tiap rumah sakit tak jauh beda, lagi-lagi terapi harus dilakukan.
Setiap dokter rumah sakit bahkan menyatakan hal yang serupa bahwa otot yang tidak digunakan dalam jangka waktu lama, meski hanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, maka ototnya akan mengecil hingga sampai pada taraf tidak bisa secara langsung melakukan aktivitas sehari-hari. Ia akan butuh waktu untuk bisa kembali berjalan seperti biasa. Tubuhnya perlu menyesuaikan diri, ototnya perlu bekerja lagi, dan pusat keseimbangannya pun perlu berupaya lebih keras. Pasien bukannya lupa bagaimana caranya berjalan, tapi tubuhnya yang butuh untuk beradaptasi kembali. (Sumber:Google)
Tiga hari sudah, 3 hari digunakan Kalina membawa Kaysan ke sebuah hipnoterapi untuk penyembuhan. Berbagai sugesti positif diberi untuk memperbaiki semangat hidup Kay. Kalina senang 3 hari itu sudah begitu membekas untuk Kay. Kay yang sudah pulang ke rumah begitu gencar melakukan latihan berjalan dengan besi penyangga.
Aric yang teringat janji pada Lutfi banyak menghabiskan waktu kini di rumah Rico. Menemani Kaysan terapi salah satu aktifitas Aric.
"Kakak ... ceritakan bagaimana sosok istri Kakak, mengapa aku tak pernah melihat ia datang ke rumah?" tanya Kaysan sambil menghirup capuchino panas.
"Ahh, pelankan sedikit pijatanmu, Kak!" Belum lagi tanyanya dijawab Kaysan sudah berucap lagi Kaysan tampak meringis. Ya, Aric memang tengah memijat sepasang kaki itu.
"Ia baik, sedang menginap di tempat orang tuanya," datar Aric.
"Ohh, Kak, ada yang ingin aku tanyakan,"
"Katakanlah!"
"Aku sering bermimpi mengenai seorang anak perempuan. Ia terus merangkak menghampiri dan mamanggilku Ayah. Menurutmu, apa maksud mimpi itu?" Wajah yang sebelumnya tenang terlihat panik. Aric tak menyangka dengan pertanyaan itu. Ia menghentikan aktivitas memijatnya.
"Mimpi itu ha-nya bunga tidur. Lupakan!"
"Kak, satu lagi. Apakah ada wanita yang pernah dekat denganku bernama Sa-----" Kay terus mencengkram kepalanya.
"Ahh ... aku bahkan lupa. Entah mengapa malam di hari aku sadar aku seakan mendengar bisikan. Bahwa aku seorang lelaki tak bertanggung jawab. Apa? Mengapa? Hahh ... mengapa ingatanku harus hilang, Ya Tuhan!"
"Ada apa? Sa apa? Tampak sekali terapi itu membuatmu letih! Jangn fikirkan banyak hal. Fokuslah dengan kesembuhanmu dulu!" ucap Aric dengan mimik setenang mungkin padahal tanya Kaysan sungguh mengusiknya.
"Sashi ... apakah Kay mulai sedikit demi sedikit mengingat Sashi?"
__ADS_1
"Kamu benar, Kak. Pasti aku sangat letih." Baru saja kaysan hendak merebahkan diri Aric memanggil.
"Kay ...."
"Iya, Kak?"
"Jika aku membutuhkan bantuanmu, apa kamu akan membantu?" tanya itu terlontar.
Dua minggu sudah cukup buat Aric, tak bisa ia menahan rindunya yang hanya bisa tersalurkan setiap pekan itu. Bahkan Sashi menghadapi kehamilannya seorang diri. Hati itu pilu. Kaysan harus mendonorkan sum sumnya. Itu yang ada di otak Aric saat ini. Hal yang memuluskannya untuk bisa menceraikan Aruna.
"Pertanyaan apa ini Kak? Tentu saja aku akan membantumu! Katakan apa yang bisa lelaki lumpuh ini bantu?"
"Jangan sebut dirimu begitu. Kamu akan lekas berjalan lagi! Begini, putri seorang teman mengidap leukimia dan ia membutuhkan donor sum sum. Kita tentunya memiliki tanggung jawab pada sesama. Aku sudah mengecek sum sumku hasilnya tak cocok. Mungkin kamu ingin membantunya?"
"Boleh. Tentu saja. Aku bersedia. Cek saja sum sumku! Oh ya, ta-pi ... dengan kondisiku seperti ini, apa tidak masalah aku membantunya?"
"Tidak, tidak masalah. Aku pernah menanyakannya pada dokter yang menanganimu," lugas kata itu terucap. Aric sangat bersemangat melontar tiap kalimatnya tak sadar kalimatnya itu membuat Kay heran.
"I-ya, saat itu aku spontan menanyakannya. Berharap kamu sadar dan pasti jiwa sosialmu akan tergerak menolongnya dan itu benar," kilah Aric.
"Kaysan tersenyum. "Kamu Kakakku yang hebat! Bahkan kamu selalu berharap kesembuhanku saat koma, Kak. Terima kasih. Besok aku tidak ada jadwal terapi, kita bisa ke rumah sakit mengecek sum sumku!"
"Maaf! Maaf Kay, bahkan saat kamu koma aku pernah berharap kamu tetap seperti itu ...."
...▪♧♧♧▪...
Di tempat berbeda, wanita paruh baya dengan rambut ikal meminta sopir menghentikan laju kendaraan di rumah dominasi abu-abu di hadapannya. Ialah Kalina yang baru bisa menjenguk menantu yang dikabarkan tengah hamil ke rumahnya.
Hari-hari belakangan yang padat akan rutinitas terapi Kay membuat Kalina memang tak memiliki jeda untuk beristirahat, bahkan untuk menjenguk Sashi sekali pun. Hingga ia putuskan hari ini untuk menemui menantunya itu. Ya ... berhubung pula Kaysan tidak ada terapi hari ini.
Tombol itu ditekan. Tak menunggu lama Sopo mempersilahkan Kalina masuk. Rumah itu tampak kosong. Ningsih segera mengarahkan Kalina menuju kamar Sashi.
__ADS_1
Tok ... Tok ....
"Mbak ... Mbak Sashi!"
Pintu terbuka, bungah dirasa Sashi melihat kedatangan ibu dari suaminya itu. Pun Kalina juga senang melihat wajah ayu menantunya yang lagi-lagi tengah mengandung benih putranya.
"Mama ayo masuk!" ucap Sashi melihat Kalina hanya mematung menatap wajahnya.
Keduanya masuk. Shiza yang sudah mulai merangkak perlahan itu tampak mendekat. "Haii cucu Oma ...." Seketika tubuh Shiza langsung masuk dekapan Kalina.
"Sa-yanggg ... sudah tambah besar cucu Oma! Cantik sekali seperti Mami dan-----
Sashi tampak menyimak ucapan Kalina yang tiba-tiba berhenti itu, ia pun spontan berucap. "Dan Papanya, Ma!" tambah Sashi. Kalina tersenyum getir. "Iya betul, mirip mami dan papanya."
Keduanya duduk di sofa, tak beselang lama Ningsih datang dengan 2 cangkir teh panas dan beranjak kembali.
"Kamu lebih kurus, Sash? Masih susah makan?" Sashi mengangguk dengan netra yang tiba-tiba berkaca, ada kesedihan ia rasa mengingat tak bisa selalu dekat dengan Aric. Sashi memang sedang sensitif di awal kehamilannya itu. Ya, seperti dulu saja saat kehamilan Shiza. Nyatanya ia harus merasakan hal sama di dua kehamilannya, kesepian!
"Sashi ingat Aric?"
Sashi mengangguk.
"Sashi cinta Aric?"
Sashi menganguk lagi.
"Terima kasih, Sayang. Walau Aric sudah menyakiti Sashi. Sashi masih mau menerima Aric! Sabar! sabar sebentar lagi! Aric pasti menepati janjinya. Mama tau Aric lelaki seperti apa."
Kata itu tulus terucap walau kegetiran membingkainya. Sashi nyatanya belum tahu Kaysan masih hidup. Kalina menghidup napas panjang sambil terus memanjatkan do'a. Ya, Kalina berharap semua akan baik-baik saja jika kebenaran terbuka dan kebohongan keluarganya terbongkar.
__________________________________________
__ADS_1
☕Happy reading😘