
Keduanya sama-sama tersenyum hingga tiba-tiba pintu terbuka.
CEKLEK
"A-yah?"
"Aric, keluar lah, kita bicara!
Aric berdiri dan dengan cepat pula Sashi bangkit dan merangkul lengan suaminya. "Kakak, aku ikut!"
"Sashi tetap di kamar, ada yang perlu ayah bincangkan dengan keluarga penuh drama ini!" Baru saja Lutfi berbalik Sashi berteriak.
"Ayah!" Lutfi menatap wajah putrinya.
"Jangan pisahkan lagi Sashi dengan kakak!"
"Apa ayah bicara akan memisahkan kalian?" Sashi menunduk.
"Ayo Aric!"
"Aku segera kembali, hem," lirih Aric menyapu kepala Sashi dan beranjak. Sashi menarik napasnya panjang berharap semua baik-baik saja.
•
•
Aric mengikuti gerakan kaki Lutfi di hadapannya hingga keluar kamar. Rico, Kalina dan Kaysan berdiri berjejer mematung. Tak jauh dari raga mereka Aira berdiri. Aira segera mendekat pada Lutfi saat wajah suaminya itu tertangkap netranya.
"Papa, Mama, Ayah , Bunda, Kay, kita duduk dulu!" Aric yang merasa tuan rumah di sana mempersilahkan semuanya duduk. Semuanya pun duduk.
"Tidak usah bertele-tele langsung saja ada apa ini? Bagaimana putra kalian yang kecelakaan nyatanya masih hidup?" lugas Lutfi. Aira yang melihat Shiza mulai tak tenang berada dalam gendongan Kaysan mendekat. "Biar Shiza bersama maminya di kamar!" lirih Aira. Kaysan awalnya menahan tubuh Shiza namun akhirnya mengangguk menatap pancaran teduh Aira.
"Kami mengetahui Kay nyatanya masih hidup saat di rumah sakit, semua setelah Aric menggantikan Kay menikahi Sashi," tenang Rico.
"Tapi setelahnya bisa kan kalian membicarakan pada kami yang terjadi dan tidak membuat semua berkepanjangan seperti ini!" kilah Lutfi.
"Begini, Mas ... kami memberi keputusan merahasiakan semua dari Sashi juga tidak lain untuk kebaikan Sashi. Kami tidak mau Sashi menjadi ibu tunggal! Saat itu sebetulnya Aric berkeras membatalkan pernikahanannya. Tapi bagaimana nanti nasib Sashi sedang Kaysan saat itu koma tidak tau kapan akan sadar," jelas Kalina. Aric mengangguk menatap Kalina, membenarkan ucapan wanita itu.
"Lagipula kau kan ustad apa mau dicemooh putrinya hamil tanpa ayah!" timpal Rico.
Lutfi menggeleng-geleng menatap lelaki yang pernah menjadi sahabatnya di masa lalu itu. "Bagaimana pun tidak dibenarkan berbohong berdalih kebaikan. Membatalkan pernikahan yang kamu mau Arr? Astagfirulloh kamu fikir anakku mainan dan apa aku akan mengizinkannya! Kalian benar-benar keluarga penuh rahasia. Aric sudah menjadi suami Sashi dan akan tetap begitu, masalah Kaysan yang sedang koma, bisa kita bicarakan bersama perlahan, aku tahu Sashi, walau sering kekanakan ia mudah memahami sesuatu!"
__ADS_1
"Ma-af, Yah!" lirih Aric. Lutfi menggeleng-meleng.
"Maaf atas semua kebohongan kami, Mas," lirih Kalina.
"Sudah tidak apa-apa, Mbak, yang penting semua sekarang sudah jelas. Kita sama-sama tau hubungan Aric dan Sashi baru membaik. Semoga masalah ini tidak menjadi beban untuk Sashi lagi. Ingat, Sashi sedang mengandung calon cucu kedua kita," ucap Aira.
"Sashi se-dang ha-mil?" ucap Kaysan.
"Benar, Nak. Sashi kakak iparmu itu sedang mengandung bayi mereka!" lirih Kalina.
"Lalu bagaimana dengan Kay? Sashi calon istri Kay, Ma, Pa!" gusar Kay.
"Kay, ini kenyataan yang harus kamu terima! Sashi kini istriku! Tidak ada yang bisa mengubah itu! Hubunganmu dan Sashi sudah terkubur seiring kenyataan kepergianmu saat itu! Tolong ikhlas lah Kay, agar semuanya berjalan normal. Biarkan kami hidup tenang!" ujar Aric berbicara penuh harap pada adiknya itu.
"Tidak, Kak! Aku tidak terima semua ini! Untuk apa aku sadar jika aku harus kehilangan wanita yang kucintai! Bahkan anakku juga kau ambil pula! Tidak! Ini tidak adil!" Dengan cepat Kaysan berlari ke kamar Sashi.
"Sash ... Sashhi ...! Berhubung pintu tidak dikunci Kaysan dengan cepat sudah berada di kamar itu. Ia menarik lengan Sashi sekuatnya. Aric langsung berlari turut masuk.
"Kita pergi Sash! Ayo kita pergi! Kamu milikku Sash, selalu milikku!"
"Kay, kamu mau apa? Aku istri kakakmu! Lepas! Kamu menyakitiku, Kay!" Sashi berusaha melepas cengkraman jemari Kaysan yang dengan kuat mengunci lengannya.
"Ikut aku! Kita pergi bertiga dengan Shiza yang jauh!"
"Apa Kak, Sashi milikku!" Melihat jemari Sashi yang melambai ke arahnya, Aric dengan cepat meraih jemari itu.
"Tapi Sashi istriku!" Jemari Aric dan Sashi yang saling mengait tertangkap netra Kaysan. Ia yang semakin gusar menarik jemari Sashi hingga terlepas dari jemari Aric, ia melepas lengan Sashi setelahnya hingga Sashi terjatuh cukup keras dalam posisi duduk.
"Akhh," decak Sashi.
"Sayang ...." Aric langsung mendekat memeluk raga itu.
"Ka-kak ...."
"Apa maumu sebetulnya, Kay! Sashi sedang hamil bagaimana jika-----
"Aric! I-tu ...!" Para orang tua yang sejak tadi hanya menjadi penonton tampak kaget melihat darah segar menetes di kaki mulai histeris.
"Sashi!" pekik Lutfi.
"Sa-yang, cepat bawa Sashi ke dok-ter!" Aira menciumi wajah putrinya.
__ADS_1
"I-yaa," ucap Aric langsung menggendong tubuh mungil Sashi.
"Ka-kak, perutku sa-kit! Apa yang terjadi pa-daku, Ka-k? Apa aku akan kehilangan ba-yi ki-ta? Kakak, ma-af!" Sashi terus bicara dengan air mata tak henti mengalir.
"Jangan menangis dan jangan berfikir buruk! Bayi kita anak yang kuat! Pa-ham!"
"Ka-kak ...."
"Jangan banyak bicara! Daripada menangis, lantunkan dzikir, Sayang. Minta semuanya agar baik-baik saja!" Sashi mengangguk, terus mengangguk hingga lama kelamaan kesadarannya berkurang, ia pingsan.
"Sashh ... bangun Sashh!"
...▪♧♧♧▪...
"Ka-kak ...."
"Aric ... Aric ... Sashi sudah sadar, Nak!" Aira yang berada di dalam ruang perawatan bersama Lutfi seketika berdiri menuju pintu keluar memanggil menantu yang tampak sedang serius bicara pada adiknya.
Terpogoh Aric masuk, Aira dan Lutfi keluar memberi waktu keduanya untuk bicara. Aric menatap mata bulat itu, mata polos sang istri yang tampak bingung dan penuh tanya.
Aric berdiri di sisi ranjang menahan keras air mata itu tak tumpah namun satu persatu bulir tetap lolos juga. Ia menciumi kening istrinya.
"Ka-kak mengapa menangis?" Aric menggeleng tanpa kata.
"Ka-k, aku tahu ada yang tidak baik! Katakan Ka-k!"
Aric berusaha keras tersenyum, ia menatap terus wajah istrinya itu. Dibelai sayang kepala Sashi masih tanpa kata. Sashi bingung, ia sungguh bingung melihat perilaku Aric yang jadi pendiam.
"Ka-kak, ingat tidak ada yang boleh ditutupi dariku! Atau aku akan ma-rah!" lugas kata itu terucap. Sesaat Aric masih bungkam tapi kelamaan ia mulai bicara.
"Sa-yang ... Dia Alloh Robb kita sunguh sayang pada Aric ke-cil hingga tak membiarkan kita menjaganya. I-a ingin sendiri-lah yang menjaga Aric kecil ki-ta."
"Ka-kakk, apa i-tu artinya Aric kecil ki-ta su-dah----" Aric menutup bibir Sashi dengan telunjuknya. Ia bahkan tak sanggup mendengar kata itu terucap. Aric terus mengangguk setelahnya dengan air mata yang seakan tak ingin berhenti.
__________________________________________
☕Haii ... Kalau Sashi dan Aric mau Bubu tamatin bagaimana pendapat kalian? Kalau terlalu panjang khawatir kalian bosan??
☕Happy reading❤❤
☕Sambil menunggu bisa mampie ke karya berbagi cinta yang lain karya Bubu. Sudah END YAA😘
__ADS_1