Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
KEMARAHAN KALINA


__ADS_3

Dua tahun kemudian ...


Lelaki tegap tampil casual dengan kaos putih yang dipadu dengan kemeja navy yang dibiarkan tidak dikancing hingga ke bawah terlihat sedang menggandeng bocah cantik dengan dress navy kotak-kotak yang tampak imut dengan rambut ikal tergerainya. Mereka berjalan masuk ke kantin sebuah kampus ternama.


Kampus yang banyak melahirkan guru-guru hebat itu tampak ramai dari hari biasanya, namun sang lelaki tegap dengan santainya duduk menunggu wanita yang dicinta. Ia membiarkan sekumpulan gadis-gadis mulai berbisik menatap ke arahnya penasaran dengan aktivitas ia dan sang putri kecil di sana.


...▪♧♧♧▪...


Di tempat berbeda, seorang wanita muda dengan celana pensil yang sedikit longgar dan kaos putih yang dipadu cardigan coklat selutut baru saja keluar dari sebuah kelas. Ia langsung meraih ponsel dari saku celana dan mengecek ponselnya itu. Netra itu seketika berbinar menyadari pria yang dicinta sudah berada di kampusnya. Ia melangkah dengan penuh semangat menuju sang pria berada.


Sampai di sini tentu sudah dapat menebak bukan siapa dia? Ya, wanita muda itu tak lain adalah Sashi. Gadis muda yang sudah merasakan profesi istri sekaligus ibu di usianya yang terbilang belia itu sudah bangkit dari keterpurukan hidup.


Berbagai perih yang mewarnai kisah cintanya nyatanya sudah berakhir setelah sang mantan menyatakan ikhlas melepas masa lalu yang membingkai hidup keduanya. Kini Sashi hidup bahagia bersama Alaric, sang calon kakak ipar yang justru menjadi pemilik hatinya.


Badai orang ketiga itu mampu dilalui, kisah yang berbeda dari kisah orang ketiga pada umumnya itu terjadi. Cinta itu nyatanya tidak pernah terbagi. Hati itu sejak awal hingga kini hanya milik sang istri pertama, Sashi.


Mengapa Sashi memutuskan melanjutkan kuliah?


Perih kehilangan itu selalu hadir, tidak bisa hilang dan terus membayangi. Terlebih setelahnya Aric kecil yang selalu diharap tak juga terbentuk. Sashi sering menyendiri dan menangis di kamar. Hal yang membuat batin Aric ikut teriris. Pun akhirnya Aric menawarkan Sashi untuk melanjutkan cita-citanya, mengambil kuliah sesuai bidang yang ia sukai.


Sashi awalnya menolak, namun enam bulan lalu akhirnya ia menerima tawaran suaminya. Jiwanya butuh hal baru. Pun ia akhirnya memilih fakultas pendidikan sesuai dengan cita-citanya di masa lalu. Ya, Sashi yang senang anak kecil dan dunia anak-anak memilih PGTK di fakultas pendidikannya. Pun ia lebih ceria kini.


Kaki-kaki itu melangkah dengan penuh semangat, netra itu mengedar pandang saat raganya telah memasuki bangunan kantin yang berada tak jauh dari fakultasnya.


Dari kejauhan jemari lelaki tampan itu sudah melambai ke arahnya, pun Sashi mendekat. "Kakak sudah lama?" tanyanya sambil meraih jemari sang suami dan menciumnya. Ia memeluk tubuh Shiza setelahnya.


"Sayangnya Mami, gak bocen tunggu Mami cekolah, hem?" tanya Sashi sambil mencium gemas pipi chubby Shiza.


"Endak. Shiza makan es klim cama Papa, es klimnya enak," celoteh Shiza sambil memasukkan lagi sendok berisi es krim ke mulut.


"Hmm ... Mami jadi pengen, boleh Mami minta?" ucap Sashi menggoda putrinya itu. Ya, Shiza yang belum genap berusia 3 tahun itu sungguh membuat gemas siapa saja yang melihat terlebih saat mendengar ia bicara.


"Endak oleh. Mami beli cendili aja di situ!" Aric dan Sashi saling berhadapan dan tersenyum.

__ADS_1


"Hahh ... kenapa anak Mami pelit, ayo jujur! Pasti papa yang ngajarin, kan?" Sashi mulai mengelitiki Shiza.


"Haa ... belhenti Mami, aku geli! Haaa ... Haaa."


"Sayang, sudah! Jangan lupa kita bukan sedang di rumah! Ini kampus!" bisik Aric. Sashi mengedar pandang dan benar saja pandangan setiap orang di kantin itu sedang mengarah padanya dan Shiza. Pun Sashi tersenyum getir.


"Ayo Kak, kita pulang!"


"Sash ... Sashii!"


Baru saja hendak berbalik seorang pria mendekat.


"Ayah!" pekik Shiza seketika.


"Kay?" lirih Sashi.


"Hai Kak ...." Setelah Kay menyunggingkan senyum pada Aric ia menghadap Sashi. "Tadi aku bertemu Mila teman sekelasmu, ini ada bukumu yang tertinggal!" ujar Kay.


"Hai cantik Ayah!" Kay segera meraih tubuh Shiza setelahnya. "Habis makan es krim pasti, pipi Shiza bau susu."


"Iya, Ayah betul!"


"Kalian sudah ingin berangkat, kah?" tanya Kay menatap Aric dan Sashi bergantian.


"Berangkat ke-mana?" Sashi terlihat bingung.


"Oh, maaf maaf. Ahh mulutku. Oke aku masih ada kelas aku pergi dulu."


"Ayah sekolah dulu ya, Cantik." Setelah Kaysan mengalihkan pandang dari wajah Sashi kini ia bicara pada Shiza.


"Kak, nanti malam aku ke rumahmu menemani mama menjaga Shiza," bisik Kaysan setelahnya membuat Sashi bertambah bingung saja. Pun Kaysan pergi akhirnya.


Ya, Kaysan memang satu kampus dengan Sashi, ia mengambil jurusan psikologi di Universitas yang sama. Walau kekhawatiran itu tetap ada, Aric mengikis semua, mempercayai keduanya adalah pilihan. Ia alihkan fikirnya, ya ... Kaysan akan menjaga Sashi di kampus, berfikir itu saja lebih baik.

__ADS_1


"Kak, apa maksud Kay menanyakan apakah kita sudah akan berangkat?" Mereka sudah di mobil tapi Sashi masih saja menanyakan hal yang sama dan Aric lagi-lagi hanya tersenyum.


"Kakk ... ayo jawab!" ujar Sashi.


"Iya nanti setelah sampai di rumah aku beri tahu," jawab menyapu kepala istrinya itu.


"Kita cari makan dulu, ya!" Sashi mengangguk.


...▪♧♧♧▪...


Pukul 2 siang saat mobil Aric memasuki pelataran. Shiza yang kekenyangan setelah tadi ikut memakan steak yang di pesan Aric sudah terlelap. Tampak mobil Rico ada pula di pelataran rumah mereka. Ketiganya masuk. Rico sedang mengetuk-ketuk sebuah kamar tertangkap netra Sashi dan Aric, keduanya langsung saling menatap. Aric memberi isyarat agar Sashi naik ke lantai atas, sedang ia segera beranjak mendekati papanya itu.


"Arr ...." sapa Rico.


"Kita duduk, Pa!" ajak Aric, Rico mengangguk.


"Mama belum mau bertemu Papa?" tanya Aric, Rico menggeleng.


Rico menunduk setelahnya, Aric menelusuri garis-garis menua sang ayah yang tampak lebih jelas terlihat kini, bahkan kumis dan rambut-rambut halus di rahang yang tak pernah Aric lihat sebelumnya kini membingkai wajah ayahnya itu. Rico sangat tidak terurus.


Sejujurnya ada kepiluan di hati Aric tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, mamanya berhak marah. Ya, satu bulan sudah mamanya memilih tinggal bersamanya dan meninggalkan kediamannya bersama Rico.


Diawali dengan foto-foto yang tiba-tiba sampai ke tangan Kalina, foto yang memperlihatkan kebersamaan Rico bersama Aruna sungguh membuat Kalina hancur, belum lagi tulisan dibawah foto yang menyatakan Aruna memiliki anak benih Rico.


Mamanya marah besar, ia tak menyangka wanita yang pernah menjadi madu putranya sesungguhnya pernah menjadi mainan suaminya. Tak ada pilihan akhirnya Aric dan Sashi menjelaskan segala yang terjadi mengenai sosok Aruna plus alasan Aric dulu menikahi Aruna yang didasarkan asumsi bahwa Ciara adalah adiknya. Pun Aric juga menjelaskan bahwa menurut penuturan Aruna, Ciara sesungguhnya bukan anak Rico.


Kalina tak percaya, ia ingin memastikan semuanya dari bibir Aruna. Kalina didampingi Kaysan akhirnya menemui Aruna---------


__________________________________________


☕Segini dulu ya😘


☕Maaf baru up aktifitas dunia nyata lagi padat😥😥❤❤

__ADS_1


__ADS_2