
Langit menghitam, lampu-lampu jalan mulai membingkai kota Tangerang. Sorot lampu seolah saling beradu memancarkan pesona, sangat indah dipandang. Sebuah sedan keluaran terbaru berwarna putih mulai membelah hiruk-pikuk kemacetan jalan.
Aric masih merangkul Sashi yang tertidur bersandar di bahu, sedang shiza tampak pulas dan nyaman berada dalam gendongan Sashi.
Aric menatap lekat wajah gadisnya, gadis ayu yang beberapa saat lalu meminta anak darinya seperti meminta permen saja. Wajah polos itu masih terbayang di otak Aric, sangat menggemaskan.
Aric mencium puncak kepala Sashi. Ia yang sebetulnya juga mengharap anak dari Sashi dan diam-diam menabur benih dengan apik ke dalam rahim itu agar gadisnya cepat mengandung kini merasa senang. Tak perlu diam-diam lagi mulai detik itu.
Aric kembali mencium puncak kepala Sashi. Entah sudah yang keberapa kecupan itu di daratkan, Aric tak bosan-bosan. Setiap bagian tubuh Sashi sangat senang ia cium, aroma khas minyak telon telah menjadi candu untuknya.
Sedan itu berhenti, Ojo menghentikan sedan lebih tepatnya. Bangunan bertingkat bercat cream berada di hadapan sedan itu. Dengan lembut Aric berusaha membangunkan Sashi.
"Sayang ... Sayangg ... bangun, kita sudah sampai," lirih Aric sambil menyapu pipi halus Sashi. Sashi mengeliat, perlahan kelopak mata itu mulai terbuka.
"Ka-kakk ... apa kita sudah sampai?" tanyanya sambil membuka dan menutup mata memusatkan kesadarannya.
"Iya, sudah. Ayo kita turun!"
Mata itu mulai terbuka sempurna. Sashi kaget dengan pemandangan di hadapannya. "Kak ... kenapa ke sini? Ini ru-mah-----
"Mama tadi menelepon, ia meminta kita menginap. Rindu dengan Shiza katanya."
"Ohh ... tapi aku tidak bawa ganti," ucap Sashi sambil mencium Shiza yang sudah berada dalam dekapan Aric.
"Aku sudah bawa! Tadi kuminta Sumi memasukkan beberapa pakaian kita ke tas."
"Ohh," gumam Sashi.
Tak menunggu lama keduanya turun. Kalina yang sedang di dalam tergopoh menuju pintu utama menghampiri anak dan cucunya yang baru saja tiba.
"Sayangku Sashii ...." Kalina langsung memeluk tubuh mungil menantunya. Sashi membalas pelukan itu dan mencium tangan Kalina.
Kalina memeluk Aric dan langsung meraih Shiza yang masih terlelap dalam gendongannya. Mereka masuk.
"Mama, Shiza mau di bawa ke mana?" tanya Sashi bingung saat Kalina menyuruh dirinya dan Aric bersih-bersih tapi membawa raga Shiza menuju kamar di tepi.
"Mama tidak akan mengganggu tidur Shiza, mama hanya rindu, ingin mencium dan menatap cucu Mama. Kalian beristirahat saja dulu! Kita makan malam menunggu papa pulang!" ucap Mama tak berselang lama raganya sudah tak terlihat.
Aric dan Sashi tak ada pilihan selain mempercayakan Shiza pada Kalina. Wanita itu sangat rindu pada cucunya. Keduanya menaiki satu-persatu anak tangga menuju lantai 2 kamar Aric berada.
Pintu terbuka, tampilan dominasi navy dan hitam langsung tertangkap netra Sashi. Suasana tenang dan damai langsung terasa. Aric dengan cepat merebahkan tubuhnya di ranjang. Berbaring di ranjang itu membuat jiwanya tenang. Kamar itu adalah dirinya, jiwanya. Ia besar dan tumbuh dalam kamar itu. Berbagai pernik dan furniture seolah sahabat karib yang selalu menyambutnya saat pulang. Aric merasakan kenyamanan di kamar itu.
"Sayang, sini!" ucap Aric membuyarkan lamun Sashi yang masih mengedarkan pandang pada isi kamar itu. Sashi menurut. Ia mendekat dan ikut merebahkan diri di samping Aric.
"Bukan di situ tapi di sini!" Aric menyentuh dadanya.
"Ka-kak?" Bibir itu mengerucut. Gadisnya sedang malu.
"Sa-yang, si-ni!" Aric kembali meminta. Sashi tentu tak bisa menolak keinginan suaminya. Perlahan ia mendekat dan merangkak ke atas dada Aric. Ia memeluk tubuh itu setelahnya.
"Hahhh ... sangat nyaman, terima kasih!" Sashi mengangguk. Jemari Aric terus menyapu-sapu tubuh mungil di atasnya. Ia sangat bahagia, hilang segala penat berada dekat dan merasa memiliki Sashi. Tak dipungkiri rasa khawatir ditinggalkan itu ada, tapi ia sedang ingin menyingkirkannya saat ini. Pun demikian bayang Kaysan. Hanya Sashi dan cintanya hal yang sedang ingin ia fikirkan.
"Bagaimana kalau sekarang saja kita buat adik Shiza?" Ucapan itu terdengar sangat lembut dan lirih.
"Ka-kakk ...." Sashi dengan gaya malunya langsung menenggelamkan wajah ke dada Aric. Aric tersenyum. Ia memundurkan tubuh hingga kepalanya bersandar head board. Sashi bak koala masih memeluk mengikuti gerak tubuh itu. Disapu lembut kepala yang masih terbalut hijab.
"Kenapa? Bukankah tadi kamu yang bilang ingin hamil anakku, hem?"
Sashi mengangkat wajahnya. "Tapi ini rumah mama, Kak!"
__ADS_1
"Ini rumahku juga, sama saja!" Aric sudah mulai membuka peniti di dagu Sashi dan membuka perlahan penutup kepala itu. Ia menarik lagi kepala Sashi ke dadanya.
"Kalau Shiza tiba-tiba bangun?"
"Kita lakukan cepat, jadi sebelum Shiza bangun sudah selesai, bagaimana?"
Sashi mengangkat tubuhnya, merangkak ke atas hingga wajahnya berada sangat dekat ke wajah Aric. "Tapi aku tidak suka yang cepat!" bisik Sashi.
Aric terkekeh, ia menarik gemas hidung Sashi.
"Kakakk!"
"Maaf habis kamu lucu! Takut Shiza bangun tapi tidak mau cepat!" Jemari kekar itu sudah mulai melepas blazer Sashi dan membuka perlahan inner dengan resleting busui model samping itu.
"Kakak tunggu dulu!"
"Apa lagi, hem?"
"Aku belum mandi!"
"Mandi nanti saja!"
"Tapi mama menyuruh kita mandi dan bersih-bersih tadi!"
"Iya, nanti kita mandi!"
"Bagaimana jika mama tiba-tiba datang membawa Shiza?"
"Sayangg .... Bisa berhenti bicara!"
•
•
"Katakan apa saja yang tadi kalian bicarakan hingga tiba-tiba kamu ingin hamil anakku?"
"I-tu, hmm ... bukan apa-apa sih, Kak! Aku hanya berfikir sudah saatnya shiza punya adik!" kilah Sashi.
"Bukankah kamu pernah bilang takut melahirkan lagi?"
"Tidak lagi, karena aku tau Kakak akan ada mendampingiku!"
"Tapi kamu nanti akan repot!"
"Kata Kakak zaman sekarang kan mudah, kita akan mempekerjakan baby sister untuk membantuku!" Aric tersenyum, lagi-lagi ia mengecup puncak kepala itu. Ia senang sebab Sashi benar-benar serius dan terlihat siap memiliki anak lagi.
"Kak ... bisa berjanji padaku!"
"Janji apa?"
"Kakak harus bisa menjaga diri Kakak dengan baik!" Aric kembali tersenyum, tak menyangka dengan ucapan yang dilontarkan Sashi.
"Kakak jangan tersenyum, aku serius!"
"Aku bukan anak-anak yang harus kamu ingatkan hal itu, Sayang!"
"Tapi aku takut mbak Aruna akan terus menggoda Kakak!"
"Aku hanya akan tergoda padamu!" Aric sudah mengangkat dagu Sashi dan mendaratkan kecupan singkat di bibir itu.
__ADS_1
"Ka-kak tapi aku tetap saja khawatir! Lihat saja pakaiannya, seperti kurang bahan saja!"
"Aku ke sana hanya untuk memperhatikan Ciara, bukan memperhatikan wanita itu."
"Tapi tetap saja bertemu, kan? Kak, pokoknya Kakak tidak boleh minum atau makan apa pun saat di rumah itu, titik!"
"Ada apa ini? Bagaimana jika aku haus?"
"Aku akan membawakan Kakak botol minum dari rumah. Kakak tau kenapa aku begini? Karena aku takut mbak Aruna memasukkan obat macam-macam yang membuat Kakak akhirnya tidak sadar dan ia akan mengambil kesempatan itu untuk memperkosa Kakak!" Aric kini tertawa. Imajinasi istrinya sungguh jauh. Ia mencium kembali puncak kepala Sashi.
"Tidak akan ada hal semacam itu!" lugas Aric.
"Tapi Kakak harus tetap berhati-hati!"
"Siap, Sayang!"
"Satu lagi!"
"Ada lagi? Apa itu?"
"Kalau Kakak ke rumah mbak Aruna, aku harus ikut! Kakak harus menjemput aku dulu baru kita sama2 ke sana!"
"Haruskah begitu? Kasihan Shiza akan lelah, Sash ...!"
"Aku khawatir dengan Kakak! Mbak Aruna pasti akan melakukan berbagai cara untuk meluluhkan kakak!"
"Sayang ... jangan berlebihan!"
"Ta-pi, ------
"Arrr .... Sashiii, kalian sudah selesai bersih-bersihnya? Shiza mulai haus ini!"
Keduanya seketika bingung mendengar suara Kalina. Dengan gerak cepat Sashi segera menutup tubuhnya dengan selimut, sedang Aric segera memakai boxer dan kaos oblongnya.
Pintu dibuka Aric.
"Mana Sashi?"
"I-tu, I-a sedang mandi, Maa!"
Kalina tak sengaja melirik pintu kamar yang terbuka sedikit. Ia menggelengkan kepala melihat telapak kaki yang keluar dari selimut. Aric ikut menoleh, ia tersenyum getir. Kalina langsung menarik hidung bangir putranya.
"Nakal! Disuruh membersihkan diri malah menganggu Sashi!"
"Hee .... Ma-af, Ma!"
"Ya sudah cepat kalian bersihkan diri. Shiza biar Mama alihkan hal lain dulu! Papamu sudah di jalan dan sudah dekat soalnya!"
"Makasih, Ma," lirih Aric sebelum menutup pintu yang membatasi raganya itu.
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Ditunggu selalu jejak kalian❤❤
☕Sambil menunggu up bisa mampir ke karya sobat literasi Bubu ya😍
__ADS_1