Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MBAK ARUNA JANGAN SENANG DULU!


__ADS_3

"Wanita itu mengambil kesempatan dari kepanikan suamimu untuk menikahinya jelas itu salah! Menandakan hatinya tidak baik. Jaga suamimu dan tetaplah bertahan. Satu kali kamu melangkahkan kaki keluar, wanita itu akan tertawa. Ia akan puas sebab tak ada hambatan berarti lagi! Karena hambatan terbesarnya itu adalah kepercayaanmu dan rasa cinta antara kalian. Saat kamu pergi, berarti kepercayaan dan rasa cintamu telah kalah dengan kemarahanmu."


Entah mengapa setiap ucapan Mima terus mengiang dalam otak Sashi mengiringi setiap langkah yang ia pijak menuju ruang keluarga.


Kata-kata untuk tetap bertahan dan menjaga kepercayaannya pada Aric yang merupakan benteng hambatan terbesar Aruna terus memutari kepala Sashi. Sejujurnya ia heran, mengapa Mima bisa begitu yakin pada Aric. Ya, sebab tanpa sepengetahuan Sashi, Aric telah membuka kisah hubungan terlarang Rico bersama Aruna yang menghasilkan Ciara.


Beberapa saat lalu Sashi memang sesak melihat kemiripan Ciara dengan Kay dan berfikir kemungkinan Ciara adalah anak Aric memilih mengajak Aruna keluar dari kamar Ciara.


Keduanya kini duduk bersebelahan, hening tanpa kata hingga Sashi memejamkan matanya sesaat baru ia mulai bicara. "Mbak Aruna, dengan tulus aku ucapkan selamat telah berhasil menikah dengan kak Aric suamiku! Mbak pasti puas bukan memperoleh semua fasilitas ini dan tak perlu bersusah payah mengeluarkan keringat mengumpulkan rupiah lagi!" lugas ucapan itu lolos dari bibir Sashi.


Sejujurnya Sashi yang dibekali tata krama dan sopan santun oleh orang tuanya merasa kata-katanya itu kasar, tapi semua terpaksa ia lontarkan agar tak terlihat lemah di depan Aruna. Tanpa sepengetahuan Aruna, jemari itu terus memilin tepi blazer yang dikenakan. Sashi sebetulnya gelisah.


"Terima kasih, kamu benar Sash ... mas Aric memang memanjakanku dengan semua ini. Yah ... mungkin ini adalah luapan bahagianya mendapatkanku!"


"Astagfirullah mbak Aruna! Kamu fikir aku tidak tau kamu menjebak kak Aric untuk menikahimu! Mendesak di saat genting dengan mempertaruhkan nyawamu dan Ciara. Memalukan! Kalau mau mati, mati saja! Untuk apa mengancam suamiku yang baik itu untuk menikahimu, tak berperasaan!" batin Sashi.


Kata-kata Mima sungguh merasuk pada otak Sashi, membuat gadis kecil itu memiliki semangat mempertahankan dan menjaga kepercayaannya atas Aric. Yahh ... walaupun teka-teki ayah biologis Ciara masih membuatnya penasaran tapi Sashi mulai membuang praduga bahwa Ariclah orang itu.


Shiza terus menggerakkan tubuh, membuat Sashi sadar dari lamunnya dan teringat kata terakhir yang Aruna ucapkan. Tentang Aric yang memanjakan dirinya dengan berbagai fasilitas. Sashi mencengkram kuat tepi blazernya lagi, menumpahkan emosinya tapi wajah itu menampilkan kebalikannya, ia berusaha tersenyum.


"Suamiku itu memang lelaki yang baik, Mbak! Jangankan pada mbak, ada gembel saja ia sering ingin menolong. Yah setidaknya ia menganggap mbak juga begitu! Jadi kalau boleh sekedar saran ... mbak tidak perlu terlalu senang!"


Dada Sashi berdetak cepat, ia sadar telah berucap kasar. "Astagfirullah ... Astagfirullah ...," lirihnya memohon ampunan dalam hati.


Aruna geram, secara tidak langsung Sashi sudah menyamakannya dengan seorang gembel. "Hahh setidaknya mantan gembel lebih baik daripada selamanya gembel!" batinnya.


Hati Aruna teriris, ucapan Sashi mengingatkan akan posisinya, kemiskinan, penderitaan juga perjuangan hidupnya selama ini. Ia membalik badan berjalan ke tepi jendela. Tangisan itu tumpah tapi ia tak ingin Sashi melihat itu.


Sashi yang sejak mengucapkan kalimat itu muncul rasa bersalah sejujurnya, melihat reaksi Aruna yang menjauh mendadak rasa bersalah itu kembali mencuat. Ia mendekat hingga raga Aruna tepat di depannya. Sashi baru saja ingin menyapa. Wajah itu berbalik dengan rona menyebalkan. Sebelah bibir itu terangkat.

__ADS_1


"Ada apa Sashi? Setelah kamu mulai senang memasuki rumahku, apa kini kamu juga mulai senang berdekatan denganku? Kuakui aku memang seperti gembel, tapi aku gembel berkelas. Aku gembel yang bisa memuaskan! Ingin bukti? Kutanya padamu, apakah mas Aric sering pulang telat? Tentu iya, bukan? Tahukah kamu saat itu kami sedang memadu cinta?" lugas Aruna.


"Bohong! Mbak Aruna bohong! Bahkan kakak sudah mengatakan padaku bahwa tidak pernah ada hubungan badan antara kalian!"


"Gadis kecil memang mudah sekali dibohongi! Andai kamu tahu, aku dan mas Aric bahkan sedang memprogram calon anak kami!"


"Mbak Aruna bohong!"


"Kenapa harus bohong. Coba fikir, lelaki mana yang tidak tergiur kemolekan tubuhku? Tidak sepertimu, bahkan anggota tubuhmu belum sepenuhnya berkembang!" Aruna kembali melancarkan triknya memancing emosi Sashi.


"Diam! Cihh ... wanita pemimpi. Mbak Aruna sangat lihai berkhayal dan berbohong! Tunggu! Bukan hanya mbak, tapi juga Ciara! Papa? Papa apa? Kalian senang hidup dalam imajinasi. Kak Aric bukan Papa Ciara! Bahkan mas Bagas mantan suami mbak Aruna juga bukan ayah Ciara! En-tah siapa penabur benih i-tu? Menjijikan!"


"Ka-mu -----


HAP ....


Hua ... Ma ... Ma ... Maaa


"Jangan sakiti istriku!" geram Aric.


"Mass ... istri kecilmu itu sudah kelewatan! Kenapa kamu membelanya? Bahkan aku pun juga istrimu, kamu tidak adil!" Bulir itu membasahi pipi Aruna, tapi Aric fokus pada Sashi yang kaget hampir saja mendapat tamparan Aruna, pun Shiza juga turut menangis.


"Kamu kenapa di sini, hem?" Aric menyapu kepala Sashi.


"A-kuu----


"Jelaskan nanti di mobil! Kita pulang!"


"Mass .... Kamu sudah datang mengapa pergi lagi! Biarkan gadis kecil itu pulang sendiri dan kamu harus tetap di sini, Masss!" rintih Aruna. Air mata itu terus menetes melihat lelaki yang berstatus suaminya berjalan menjauh.

__ADS_1


"Cia ... Ciara ...! Papa sudah datang Cia!" pekik Aruna setelahnya. Aric berbalik.


"Tunggu di sini, oke!" lirih Aric berucap pada Sashi yang terus menggoyang-goyangkan tubuh Shiza dalam dekapannya.


"Bersikaplah dewasa Runa! Pelankan suaramu atau kamu akan membuat Ciara bingung! Aku akan kembali nanti!" ucap Aric, Runa menjatuhkan raganya ke sofa.


___________________


Waktu mendekati Magrib saat Aric meminta Ojo menghentikan mobil yang dikendarai di dekat sebuah Masjid. Aric meminta Ojo turun lebih dulu ke Masjid. Aric membuka celemek menyusui Sashi, mencium gemas bayi 7 bulan yang telah pulas tertidur setelah tadi terus terjaga di rumah Aruna.


Sashi bungkam, ia hanya melihat Aric tanpa kata. Walau bibir dan hatinya menyangkal tapi otak itu terus merekam ucapan Aruna yang mengatakan keduanya selalu memadu cinta dan saat ini sedang memprogram calon bayi.


Sashi resah, otak itu sudah berfikir begitu jauh, tentang Aric yang memiliki anak dari Aruna sehingga melupakannya dan Shiza. Ya, Sashi yang sadar Shiza bukan darah daging Aric sangat takut. Ikatan hubungannya dengan Aric nyatanya akan kalah kuat jika Aruna sampai hamil anak Aric.


Sashi masih bergeming, jiwa labil itu seketika memancarkan wajah sendu, ia menangis dengan begitu perih dan pilu. Tak siap ia ditinggalkan lelakinya. Kakak Aricnya.


Sashi menyapu kepala Aric yang masih nyaman mendaratkan wajahnya ke pipi atau mungkin ke penyegar dahaga Shiza. Aric mendangak merasakan sapuan jemari Sashi. Ia mengangkat kepala bingung melihat Sashi yang menangis.


"Ada apa, hem?"


Sashi masih terdiam seolah berfikir, baru kemudian berucap. "Aku ingin hamil anak Kakak!"


__________________________________________


☕Happy reading😘


☕Popnya nanjak tapi likenya sedikit, jangan lupa like dan kasih komen terbaik kalian di tiap babnya yaaa❤❤


☕Oh ya, Bubu mau promote karya sahabat literasi bubu. Boleh kalian tengak-tengok😌

__ADS_1



__ADS_2