
"Ka-kk bangun!" lirih Sashi berucap sambil terus mengusap wajah lelakinya yang masih terpejam.
"Ka-kk, Kakak pura-pura tidur kan? Ini sudah siang, aku mau bangun!" Sashi berusaha menyingkirkan lengan kekar yang mengunci tubuhnya tapi sangat sulit, Sashi tidak bisa bergerak.
"Kak, aku belum mandi nanti kalau si kembar bangun bagaimana? please lepaskan aku, Kak!" Sashi berusaha menaikkan tubuhnya tapi eratkan lengan Aric justru semakin kuat.
"Kakak nakal! Jelas Kakak barusan mempererat dekapannya, tapi matanya masih juga terpejam. Kakak harus diberi pelajaran," gumam Sashi.
Sashi menjulurkan lengannya kini ke arah hidung bangir Aric, ia menarik hidung suaminya itu dengan cukup kuat.
"Ahh Sa-yang, ampun ... ampun Mami!" pekik Aric masih bisa menggoda Sashi.
"Tuh kan Kakak benar pura-pura tidur!" Sashi mengerucutkan bibir.
"Memang mau kemana sih, hem? Si kembar juga belum bangun, mumpung kakak Shiza sedang menginap di rumah mama tidak apa kan berlama-lama memelukmu!"
"Aku mau mandi, sudah lengket!"
"Ya sudah sana ke kamar mandi!" Aric melepaskan dekapannya.
"Nah, begitu dong!" Baru saja Sashi duduk hendak melilit selimut ke tubuhnya selimut itu tampak di tahan Aric.
"Sepertinya aku tidak bilang boleh membawa selimut ke kamar mandi?" bisik Aric lagi-lagi ia senang menggoda istrinya.
"Kak, jangan main-main, bagaimana aku ke kamar mandi!"
"Kalau bingung, temani aku sebentar lagi dan aku akan membiarkanmu membawa selimut ini!"
"Ah Kakak, mo-dus!" Aric terkekeh.
Sashi tak hilang akal ia mengambil dress-nya di sisi ranjang yang untungnya tidak jauh dari raganya.
"Yeaa ... aku dapat pakaianku!" Sashi segera menggunakan dress selutut itu dan beranjak. Aric terus tersenyum dibuatnya. Ia bahagia, sangat bahagia dengan segala polah menggemaskan Sashi, Shiza juga kini ditambah si kembar yang melengkapi keluarga kecil mereka. Aric masih menatap istrinya yang hampir sampai ke kamar mandi namun ia menghentikan langkah itu.
"Sayangg!" pekik Aric seketika.
__ADS_1
"I-ya, Kak?" Sashi menoleh.
"Itu dressmu tembus pandang!" Sashi dengan cepat menutup beberapa bagian inti tubuhnya dengan telapak tangan dan segera berlari ke kamar mandi.
"Haa ... Sashi, Sashi ... kamu masih malu saja, Sayang!" gumam Aric.
...~∆∆∆~...
Adzan maghrib berkumandang, setelah dua raga bergantian menjalankan ibadah kini masing-masing dari mereka meraih si kembar dan menggantikan outfitnya. Ya, Aric memang tidak sungkan membantu apa pun yang ia bisa lakukan baik kepada si kembar mau pun pada Shiza.
Dua raga kecil tampak sudah cantik dan tampan. Aric mengajak keduanya bermain sembari menunggu Sashi bersiap.
Dua bulan memang sudah berlalu sejak Siska akhirnya saling memaafkan dengan Rico dan Kalina. Kaysan yang semakin melihat perubahan dalam Lora merasa mantap menjalin hubungannya ke arah yang serius. Pun malam itu akhirnya Kaysan memutuskan bertunangan dengan Lora, mengikat Lora adalah tujuannya. Masalah kapan pernikahannya, baik Kaysan atau Lora masih belum bisa memastikan, keduanya santai menjalani namun titik tuju itu pasti.
"Ka-kak ... minggir! Aku menyusui Shilla dulu," ucap Sashi yang merasa harus mengenyangkan si kembar sebelum keduanya berangkat ke lokasi acara.
"Hmm ... harum sekali sih!" Aric memang senang menggoda Sashi, di saat terburu-buru seperti saat ini bisa-bisanya ia malah mengunci tubuh Sashi dari belakang dan menempelkan wajah ke tengkuk Sashi.
"Kakk, itu lihat Tayya sedang apa!"
"Kakk, jangan macam-macam deh! Lebih baik Kakak lihat Shiza, tadi katanya ambil jeruk ke dapur tapi kok belum datang juga!"
"Shiza sudah besar sebentar juga datang! Coba lihat ke sini!" Sashi menoleh, jemari Aric langsung menahan kepala itu dan menyatukan bibir keduanya. Aric mencium bibir itu singkat namun lagi dan lagi.
"Su-dah, Kak!"
"Kamu semakin cantik!"
"Gombal!"
"Sungguh!" Sashi mengerucutkan bibir. Aric menangkap kaki-kaki kecil berisi yang sejak tadi menendang-nendang ke arahnya. Ya, Shilla yang melihat aktivitas Papanya tak nyaman.
"Putri cantik Papa kenapa?" Aric mengarahkan wajahnya kini ke wajah Shilla.
"Shilla mau Papa cium juga, Hem?" Shilla melepas puncak asi itu. "Pa-pa-pa," celotehnya memanggil Aric. Aric tersenyum dan menciumi wajah Shilla, Shilla tertawa dan bergerak-gerak kegelian.
__ADS_1
"Ya sudah Shilla sekarang ikut Papa dulu! Mami mau susui Tayya!" Sashi mengarahkan tubuh Shilla dan Aric meraihnya, Aric mengajak Shilla ke luar dan Sashi kini meraih tubuh menggemaskan putra kecilnya.
"Hai gantengnya Mami, nanti kita mau ke rumah tante Lora, jangan rewel ya, Sayang! Sekarang Tayya mik dulu yang banyak." Tidak seperti Shilla Tayya hanya memain-mainkan puncak ASI Sashi dan melepasnya.
"Tayya tidak haus?"
"Ndak," celotehnya sambil terus menggeleng.
"Ya sudah kalau tidak haus, kita bersiap ke rumah tantee ...!"
Pun mereka akhirnya segera bergegas.
...~∆∆∆~...
Seluruh raga duduk melingkar di sofa ruang keluarga kediaman Lora. Setiap mata memandang hikmat setiap prosesi yang terjadi. Dari saling mengutarakan maksud hingga penematkan cincin di jari keduanya. Seluruh raga dalam ruang keluarga itu mengambil hidangan dan membawanya kembali ke ruang keluarga sembari terus mengobrol.
Shiza tampak semakin akrab dengan Lora, ia terus minta disuapi wanita yang kelak akan menjadi bundanya. Kaysan di sampingnya sesekali memberi suapan pada Lora, Lora tersenyum dan bahagia.
Di sisi sofa yang lain Kalina, Aira dan Siska terlihat sedang mengobrol sesama wanita, bicarakan tentang cucu dan aktivitas mereka. Kalina senang hubungannya dengan Siska membaik bahkan Siska kini sering meneleponnya, berbagi cerita apa pun bahkan beberapa kali mereka juga berbelanja Dan di akhiri makan malam bersama Rico juga Hans yang menjadi suami Siska saat ini.
Berbeda dengan aktivitas yang lain, Sashi sembari menggendong Shilla tampak berkeliling sebab sang suami dan putra kecil mereka tampak tak terlihat sejak tadi. Ya, tadi Tayya ternyata pup dan Sashi yang sedang makan meminta Aric mengurus putra kecilnya itu.
Sashi masih berkeliling hingga di sebuah taman wajahnya berbinar. Di Taman dengan penerangan lampu-lampu yang indah dengan sebuah papan seluncur suaminya itu ternyata berada. Aric sedang menurunkan Tayya ke papan seluncur dan Tayya dengan senyum mengembang terlihat sangat bahagia saat tubuhnya ditahan Aric melewati papan seluncur itu.
Sashi baru saja hendak mendekat namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Tak jauh dari papan seluncur, seorang wanita semampai tampak anggun dengan gaun malam duduk di sebuah ayunan sambil memangku putri kecil berusia tujuh bulan terus tertawa melihat aktivitas Aric bersama Athayya.
"Kak Salwa, haruskah aku berbaur bersama mereka?"
...________________________________________...
☕Nanti sore 1 lagi yaa😃😃
☕Happy reading😘
☕Jangan lupa like, vote dan komennya yaa❤️❤️
__ADS_1