Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MENGHADIRI PESTA


__ADS_3

Pukul 19:15 saat ini, 2 raga sudah selesai menjalankan ibadah isyanya. Aric segera meraih celana, vest dan jas berwarna senada. Coklat adalah pilihan warna dress code Aric, tak lupa ia menyematkan dasi, ikat pinggang dan sepatu pantofel hitam senada pula. Hitam menjadi pilihan Aric. Aric tampak sudah rapi, ia yang melihat Sashi sibuk memberi warna wajahnya muncul ide jahil menggoda istrinya itu.



"Haii cantik, boleh kenalan?" Aric melingkarkan jemarinya dari belakang ke perut Sashi sambil berbisik lirih. Ia menciumi tengkuk Sashi setelahnya.


"Kakak bisa diam tidak! Aku sedang pakai eye liner nanti berantakan!"


"Jangan cantik-cantik, Sayang!" Aric meletakkan dagunya di bahu Sashi dan menatap pancaran keduanya di cermin.


"Jika berdandan kamu seperti wanita berbeda!"


"Minggir Papa tukang gombal!" ucap Sashi dengan senyum menyeringai.


"Tidak gombal! Serius! Kamu cantik, Sash!"


"Tunggu! Kenapa Kakak begitu keren, jangan sampai orang-orang menyangka Kakak adalah mempelai prianya, calon tunangan Salwa!" Wajah Sashi menoleh ke samping menatap penampilan keseluruhan Aric.


"Sungguhkah begitu, kalau begitu aku akan tarik kamu ke depan dan kita duduk di panggung bersama!"


"Tapi tidak ada mempelai wanita yang hamil besar! Tidak pantas!"


"Kata siapa tidak pantas? Ini hanya perutmu saja yang membuncit, selebihnya kamu cantik. Tidak gemuk menurutku!" Aric berkali-kali menciumi pipi Sashi.


"Kakak pintar berucap manis! Sudah berhenti, Kak! Nanti Kakak merusak make up-ku!"


"Kalau berhias jadi melarangku mencium, tidak perlu berhias, tampil natural saja!" ucap Aric sambil mengusap-usap perut buncit Sashi yang sedang menonjol ke arah kanan itu. Wajah Sashi memberengut.


"Anak-anak Papa sedang apa sih? Sayang-sayang, ini kenapa membuat perut Mami menonjol ke samping begini?" Aric sudah berpindah bersimpuh di hadapan Sashi mengusap dan menekan beberapa bagian perut Sashi menimbulkan tonjolan-tonjolan berubah posisi. Agaknya bayi-bayi itu merespon perilaku Aric.


"Sakit tidak?" tanya Aric mendangak kepala masih mengusap-usap perut Sashi.


"Tidak! Kakak berdiri, nanti celana Kakak kusut!"


"Hmm ... kamu benar! Oke aku akan ke depan melihat Shiza, apa kakak kecil itu sudah siap atau belum." Aric berdiri di hadapan Sashi, menarik dagu itu ke atas dan mengecup singkat bibir Sashi.


"Nanti warna di sini jangan terlalu terang, warna soft saja," ucap Aric. Sashi mengangguk. Tak berselang lama raga itu sudah menghilang melewati pintu.


"Oke selesai, sekarang tinggal memakai dress pestanya." Sashi melenggang menuju lemari dan mengambil sebuah dress model baby doll berwarna Khaki.

__ADS_1



Sashi berkali-kali mematut dirinya di depan cermin. "Lucu, kakak benar aku cantik, aku juga tidak begitu gemuk kok. Yah memang tubuhku pendek. Coba aku tinggi, aku rasa Salwa itu akan kalah dariku!"


Kata-kata Aric menumbuhkan kepercayaan diri Sashi. Sashi terus tersenyum kini, hingga Aric dan Shiza seketika masuk. Kakak kecil itu seperti biasa langsung memeluk perut buncit Sashi.


"Mami cantik!" ucapnya. Aric terus tersenyum.


"Kalau sudah siap semua, ayo kita berangkat!" ujar Aric. Aric menjulurkan jemarinya ke arah Sashi. "Mari Tuan puteri!" Lagi-lagi Aric senang menggoda Sashi. Wajah Sashi berbinar namun bibirnya memberengut manja.


"Eh tunggu!" Aric menahan tubuhnya.


"Ada apa, Kak?"


"Jilbabnya jangan diikat ke belakang seperti ini!"


"Ke-na-pa, Kak?"


"Tonjolan-tonjolan di depan ini jangan jadi konsumsi publik!" Aric menarik sepasang alisnya ke atas. Sashi menatap lekat wajah suaminya. Ya, dulu saat Sashi kecil ia pernah dengar ayahnya mengingatkan bunda hal yang sama. Sashi jadi flashback ke masa itu, ia mengangguk dan tersenyum.


Sashi menuju meja rias, mengambil bros dan memasangkan ke dada menahan hijabnya. Ia mendekat ke arah Aric.


"Sayang ...." Aric menarik napasnya panjang ke udara dan membuangnya, ia mengangkat dagu Sashi dan mencium bibir itu lembut. Sashi menahan tubuh Aric meminta Aric menyudahi aktivitasnya.


"Ada Shiza, Kak!"


"Biar Shiza tau papanya cinta maminya!" Dicium lagi bibir itu oleh Aric. Shiza yang sejak tadi bermain-main dengan kotak make up Sashi mendekat melihat aktivitas papanya.


"Papa sedang apa! Jangan makan mami!" celoteh Shiza mendorong tubuh Aric. Aric melepaskan pagutannya. Sashi yang bingung menjawab celoteh putrinya memilih menghindar, ia menuju meja rias menematkan lagi pewarna bibir yang dihilangkan Aric.


"Ahh Sayang, mana mungkin Papa memakan mami!" Aric mengangkat tubuh kecil itu ke atas.


"Tadi Shiza lihat!"


"Itu karena papa sedang sayangi mami!" Wajah Shiza masih bingung.


"Sudah ... sudah ... jangan bicara lagi! Ayo kita berangkat. Shiza lupakan yang tadi Shiza lihat ya, Sayang!" Sashi memilih mengalihkannya, tak ingin Aric menjawab macam-macam yang membuat Shiza semakin bingung.


Ketiganya keluar kamar, tampak Kaysan yang sedang berbincang dengan Lutfi dan Aira berdiri. "Sudah siap semua, Kak?" Lelaki itu masih saja sempat melirik Sashi dan segera membuang pandangnya dan Aric lagi-lagi menangkap perilaku adiknya. Aric segera meraih bahu Sashi.

__ADS_1


"Iya, ayo kita berangkat. Kamu bawa mobil sendiri, bukan?"


"Bawa, Kak!"


"Aric jangan ngebut! Keselamatan yang utama!" ujar Lutfi. Aric mengangguk.


"Juga jangan pulang terlalu larut, ingat Sashi membawa beban berat!" tambah Aira.


"Iya, Bunda!" jawab Aric.


Kaysan kini mendekati Shiza. "Cantik Ayah, ikut di mobil Ayah saja, yuk!" Shiza menatap Aric. Arik mengangguk mengizinkan. Bukan menjawab Shiza masih tampak terdiam. Ia kini melihat Sashi. Sashi melirik ke arah Aric bingung.


"Shiza mau ikut mobil Papa saja!"


"Kenapa? papa saja sudah izinkan Shiza ikut Ayah!" utar Kaysan.


"Nanti Papa makan mami lagi! Shiza mau jaga mami!"


"Makan mami?" ulang Lutfi bingung.


Aric dan Sashi kompak sama-sama menyentuh dahi, bingung menjelaskan. Kaysan memilih membuang wajah seolah tidak mendengar sedang Aira yang paham segera turun tangan.


"Ya sudah kalau Shiza mau ikut mobil Papa. Ayo kalian berangkat sana sudah malam!" ucap Aira mendorong tubuh Aric. Pun mereka semua menuju pelataran setelahnya. Sebelum masuk mobil, Aira menahan lengan Sashi. "Ini bawa! Di bibir Aric masih ada bekas lipstikmu!" Sashi tersenyum getir, ia meraih 1 pack tisu basah yang disodorkan Aira.


...~∆∆∆~...


Ballroom hotel berbintang itu mendadak riuh. Banyak wanita dan pria-pria semampai tampak memadati. Ya, Salwa yang besar di dunia model dan banyak memiliki rekan baik dari dalam dan luar negeri tak ingin menyiakan acara ini. Ia menjadikan even itu sebagai ajang reuni pula. Tak hanya berisi para model, kolega mamanya yang juga seorang designer dan papanya tirinya seorang pebisnis, juga teman-teman Salwa sekolah dan kuliah yang masih berinteraksi dengannya menyemarakan acara tersebut pula.


Aric tak melepas sejenak pun eratan jarinya dan jari Sashi, sedang Shiza bergandeng dengan Kaysan di belakang keduanya. Baru memasuki ruangan, sepasang paruh baya langsung menyambut mereka.


"Akhirnya keluarga Perwira bisa hadir. Hai Arr, apa kabarmu?" Belum lagi tanya itu dijawab, wanita paruh baya yang masih tampil cantik berbalut gaun brokat dengan bahu terbuka dan belahan gaun memperlihatkan paha mulus itu langsung berusaha menyatukan sebelah pipinya ke pipi Aric. Aric memundurkan wajah tapi tautan pipi itu mendarat juga. Aric melirik Sashi yang berpura abai.


"Sayang sekali, Arr. Jujur dibanding kekasih Salwa yang sekarang Tante lebih menyukaimu! Hah ... sudahlah!"


...________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Komen yang banyak biar Bubu tambah semangat❤️❤️

__ADS_1


☕Maaf kalau ada typo yang buat gagal keren😁😁😥


__ADS_2