
"Papa sangat tampan ingin bertemu mantan!" Jemari itu mengusap dada kekasihnya, menatap dengan pancaran sayang dan cinta. Walau hubungan keduanya pernah ternoda tapi wanita paruh baya yang masih tampak cantik diusianya yang tak lagi muda itu memilih ikhlas menerima segala khilaf sang suami.
"Mama itu bicara apa? Atau Papa sebaiknya mengganti outfit Papa dengan tampilan rumah, kaos oblong dan celana pendek begitu?" tanya itu lolos. Ia yang sudah bartaubat dari kesalahannya di masa lalu berusaha menjaga perasaan wanitanya.
"Mama bercanda. Tentu saja tampilan ini yang paling cocok! Jangan dirubah," bisik Kalina. Ya, wanita itu adalah Kalina, ibunda Aric dan Kaysan. Wanita yang pernah dikhianati Rico tapi memilih memaafkan.
Rico menarik pinggang itu sampai menyentuh tubuh tegapnya, ia menyatukan pipi keduanya. Merasakan harum wanitanya selalu Rico sukai. Ia yang pernah khilaf sadar segalanya sebuah kesalahan. Tak seharusnya ikatan suci hancur sebab godaan wanita ketiga penghangat ranjang sesaat. Dicium lembut pipi wanita yang telah mendampingi raganya hampir 32 tahun itu. Waktu yang cukup lama untuk saling memahami dan terus memulihkan cinta yang mereka miliki. Ya, cinta itu sejatinya tak ubah baterai ponsel yang setiap saat perlu di charge untuk memulihkan kestabilan daya dalam menjalani fungsinya.
Kalina bergidik saat ciuman di pipi itu sudah turun ke rahangnya. "Pa-pa, hentikan! Ingat umur!" bisikan Kalina yang justru membuat Rico semakin gencar mengabsen leher wanitanya yang terlapisi kain penutup, membuktikan ia masih seperti dulu, hasrat itu sejatinya tak berubah.
"Sudah, Pa! Kay sudah menunggu kita!" Dengan malu Kalina berbalik namun dengan cepat Rico menahannya. Mata Kalina membulat.
"Yakin Mama mau ikut?" Kalina mengangguk.
"Aku mau lihat seperti apa mantan kekasih Papa yang sampai depresi ditinggalkan Papa," lirih Kalina. Rico tersenyum getir.
"Jujur, Pa! Kalian tidak melakukan hal terlarang dulu, kan?" Kalina mengusap pipi itu.
"Tidak, Papa tau batasan yang tidak boleh dilakukan!" Kalina mengangguk.
Ya, mereka memang ingin menemui Siska, ibunda Salwa dan Lora. Duduk dan menyelesaikan masalah masa lalu. Bagaimana pun setahun sudah berjalan hubungan Kaysan dan Lora. Keduanya ingin mengarah pada hal serius, tapi mereka masih punya PR mengikis kesedihan masa lalu Siska. Pun hari itu Kaysan dan Lora berencana mempertemukan kedua orang tua mereka. Ketiga raga sudah memasuki mobil milik Kaysan hingga 20 menit kemudian, bangunan berdominasi ungu berada di hadapan mereka.
Senyum Lora mengembang mendapati mobil kekasihnya berhenti di pelataran. Ia mendekat.
"Kakak, Tante, Om ...," sapa Lora saat melihat 3 raga sudah keluar dari mobil, ia mencium satu-satu punggung tangan mereka bergantian. Kalina tampak memberi ciuman di pipi gadis yang sudah masuk ke hati putranya itu.
"Mama sedang apa?" tanya Kaysan pada Lora. Ya, setelah setahun Lora menyembunyikan hubungannya dan Kaysan, Kaysan senang hari itu statusnya akan jelas di mata Siska.
"Mood Mama sedang baik, ia sedang membaca majalah di ruang keluarga, ayo kita ke sana!" ajak Lora.
•
•
"Permisi, Ma," ucap Lora saat raganya masuk ke ruang keluarga, Siska tersenyum.
"Ada apa, Sayang?"
"Ma, ada yang ingin Lora ke-nalkan pada Ma-ma!" ucapan itu agak terbata, Lora masih khawatir akan reaksi Siska.
"Si-apa? Apa ia di-sini?" Lora mengangguk. Tak berselang lama Lora, membawa masuk Kaysan beserta Rico dan Kalina.
"Ka-mu?"
"Hai Sis," ucap Rico menatap wanita yang tampak anggun dengan dress panjang duduk santai di sofa, Siska terlihat terus menarik napasnya dan Lora menggenggam jemari Mamanya itu.
"Ri-co?"
Rico mengangguk.
"Sa-yang ada apa i-ni?" bingung Siska menatap pancaran ayu Lora.
"Mama sering bertanya siapa lelaki yang sedang dekat dengan Lora, kan? Ia adalah Kaysan, putra om Ri-co!"
__ADS_1
Siska menatap wajah pria muda yang pernah ia lihat di pesta Salwa. Wajah itu menampilkan pancaran ketulusan dan penuh harap pada Siska. Siska mengalihkan tatapan setelahnya ke wajah Rico. Ia bergeming, seketika keluar bulir dari mata itu.
Rico menggenggam jemari Kalina baru setelahnya ia mendekat ke arah Siska.
"Kamu masih marah padaku, Sis?"
"Kamu meninggalkanku, Ric! Kamu jahat!"
"Salah, bahkan kamu yang telah berpaling dariku lebih dulu!"
"Tapi aku tidak serius dengan Rudi!"
"Tapi foto-foto itu sudah memberi bukti kamu bermalam dengan Rudi malam itu!"
"Tapi aku tidak cinta Rudi. Dia menjebakku!"
"Apa pun itu, tetap kamu yang sudah memberi celah Rudi melakukanya!"
"Aku menyesal Ric! Aku mau kamu, tapi kamu justru menikahi wanita lain!"
"Karena aku tidak suka menunggu seseorang yang hatinya tidak penuh untukku!"
"Ric, jangan membenciku!"
"Tidak ada yang membencimu!" Netra itu menatap Rico. "Sungguh?" Rico mengangguk.
"Tapi kamu pergi sangat jauh!"
"Karena aku sedang meraih mimpi baru bersama keluarga kecilku! Bersama Ka-lina, ia istriku!" Kalina mengangguk di kejauhan saat netra Siska menatap ke arahnya.
"Ri-co ...."
"Semua sudah sangat lama Sis, kita sudah menjalani hidup kita masing-masing. Kita harus ikhlas atas ketetapan Pencipta. Ki-ni saatnya kita memikirkan anak-anak bukan tentang kita lagi!" Siska masih menatap netra itu dan menangis lagi.
"Kenapa menangis? Menangisi apa? Kamu punya Salwa dan Lora! Fikirkan mereka saja! Kita sudah sama-sama tua. Tidak ada manfaatnya terus menyimpan kesedihan!" Siska masih terus menangis sambil memandangi wajah Rico.
"Aku tidak pernah membencimu, sedikit pun! Setiap yang terjadi adalah takdir yang suka tidak suka harus kita terima, bahwa kita memang bukan jodoh! Kini Lora dan Kaysan sama-sama saling mencintai, kita harus dukung keduanya, jangan sampai mengalami perpisahan seperti kita! Hem?"
Seketika Siska meraih tubuh tegap i-tu. Ia ingin meluapkan rasa yang tertinggal sebelum akhirnya menghempaskan segala rasa itu.
"Sis?"
"Aku benci Rudi! Kami menikah karena a-ku ha-mil Salwa. Aku tidak mau bersama Rudi!"
"Sadar Sis!" Rico mendorong tubuh itu menjauh.
"Fikirkan hal membahagiakanmu! Semua sudah lama berlalu! Jangan terlarut dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa berubah! Jalani hidupmu hari ini hingga akhir usia dengan bahagia. Kamu telah memiliki cucu dari Salwa, bukan?"
"Cucu yang tak diinginkan ayahnya sendiri!"
"Tapi setidaknya Bima sudah menikahi Salwa!" Ya setelah diancam Salwa akan diumumkan ke publik Bima akhirnya menikahi Salwa, keduanya kini tinggal di Amerika.
Siska mengangguk.
__ADS_1
"Salwa mengalami nasib sepertiku!"
"Tapi Salwa mencintai Bima! Sudah hentikan berfikir macam-macam! Setelah menjadi keluarga kita bersama akan memantau perilaku Bima. Lora akan jadi seperti anakku, begitu pun Salwa!" Siska menatap netra itu dan menangis lagi.
"Terima ka-sih!"
Rico meminta Kalina mendekat. Mengenalkan Kalina pada Siska. Rico senang setelahnya Siska dan Kalina saling berpelukan.
"Ada apa i-ni?" Pria bertubuh tegap mendekat. Dialah Hariz yang juga diminta Lora untuk datang baru saja tiba.
"Duduklah Riz, kita juga perlu bicara!"
"Aku tidak suka bicara padamu, adikku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak! Tidak tahukah kamu bahwa adikku hampir bunuh diri saat tahu kamu menikahi wanita itu?" Telunjuk itu mengarah pada Kalina. Kalina bergeming menatap Hariz.
"Di mana salahku Riz? Adikmu menduakanku dan aku berpaling, apa itu salahku?"
"Aku tidak mau tahu itu! Yang aku tahu kamu telah menyakiti Siska!" lugas Hariz.
"Sudah Om, jangan memperkeruh ini lagi! Mama sudah saling memaafkan dengan om Rico," lirih Lora berucap.
"Kamu tidak tahu apa-apa Lora! Mamamu itu mengalami banyak kepiluan semenjak ditinggalkan Rico. Menikah dengan Rudi yang hanya menyakiti dan menceraikan setelah Salwa lahir, menikah dengan ayahmu Imran setelahnya yang juga tak kalah bajingannya dari Rudi, ia meninggalkanmu saat kamu 3 tahun dan setelahnya mamamu hidup tertatih membesarkan kalian seorang diri. Dan semua karena apa? Karena Rico meninggalkannya, andai Rico cukup gentle menerima Siska walau hamil anak orang lain semua tidak akan begini!" Mata Rico terbelalak, ia menggeleng-geleng kepala.
"Sudah Om! Ucapan Om hanya akan membuat Mama membuka lukanya lagi! Yang terpenting Mama sekarang sudah hidup bahagia dengan om Hans! Aku di sini hanya ingin membuat kesalahpahaman mama dan om Rico selesai bukan membahas hal lain!" gusar Lora pada Omya itu.
"Tetap aku tidak terima!"
"Kelewatan kamu Riz! Kenapa kamu seolah begitu membenciku? Bahkan kamu juga membuat rumah tangga putraku hampir berantakan! Dan kamu menjadikan masa laluku dan Siska tak pernah selesai. Kamu selalu memupuk dan menjadikan kesedihan Siska sebagai alasan!" Rico maju dan melontar apa yang ada di otaknya.
Kalina yang sejak tadi terdiam buka suara.
"Stop Mas! Sudahi semua i-ni!" Rico menoleh ke arah Kalina, memastikan sosok yang dipanggil mas oleh istrinya itu.
"Pa, ada hal yang perlu Papa tahu! Di-a. Ha-riz kakak mbak Siska, adalah mantan ke-kasihku! Ia datang menemuiku dan tak suka aku dijodohkan! Ia mengatakan akan membuat hi-dupku tak te-nang!"
"Kurang ajar! Jadi kamu ternyata sumber masalah sebenarnya!" Rico menarik kerah baju Hariz.
"Jahat kamu menggunakan adikmu karena cintamu yang kandas pada Kalina! Aku baru sadar sekarang mengapa kamu menjebakku bersama Aruna saat itu. Ja-hat!" Rico tak terkendali memukuli Hariz.
"Pa, sudah Pa!" Kaysan melerai.
"STOP SEMUA! PERGI KAMU MAS! AKU TIDAK MAU MELIHAT MAS HARIZ LAGI!" gusar Siska.
"AKU JUGA BENCI KAMU, MAS! SANGAT BENCI DENGAN PERILAKUMU! AKU BERSYUKUR PENCIPTA MENYELAMATKANKU DENGAN TIDAK MENYATUKAN KITA!"
Ucapan Kalina bak tombak yang langsung menghujam hati itu menjadi dua bagian. Hati itu hancur berkeping. Hariz jatuh bersimpuh ke lantai.
..._________________________________________...
☕clear-in masalah dua keluarga dulu ya, belum end🤭
☕Happy reading😘😘
☕Ini ada karya sahabat literasi Bubu yang sudah end, Monggo mampir😍
__ADS_1