
Ternyata menyusui mampu merangsang kontraksi, baru sesaat Sashi menyusui bayi pertama, bayi kedua dalam perut itu merespon menyebabkan mulas dengan jarak semakin dekat.
"Ka-kk, panggil dokter, Kak! Bayi kita sudah mengajak keluar!" Sashi mulai mengatur napasnya menahan sakit yang muncul.
Tak berselang lama dokter dan dua perawat tiba. Seorang perawat memindahkan bayi pertama ke ruangan bayi, sedang dokter dan satu perawat yang lain melakukan tindakan. Dilebarkan kaki Sashi dan dirangsang perut itu dengan memberi beberapa tekanan agar bayi di dalam semakin semangat mencari jalan. Dan benar saja, jarak mulas semakin rapat membuat Sashi merasa sakit yang luar biasa.
Aric mengusap keringat di dahi Sashi. Menahan bibirnya tetap berada di pipi Sashi dan terus melantunkan sholawat serta dzikir agar Sashi rilex. Aric sesekali juga menjulurkan lengannya menyentuh perut Sashi yang tampak kencang. Jelas bayi kedua sedang bekerja keras menerobos jalan yang sudah lebih dahulu dilalui kakak kembarnya.
Cengkraman jemari Sashi semakin kuat saat Sashi mulai mengejan membantu bayinya menuju pintu keluar menuju dunia yang baru. Hingga beberapa saat setelahnya.
OEK ... OEK ....
Bayi kedua mereka lahir bertepatan dengan adzan Zuhur berkumandang. Bayi laki-laki yang tampan setampan sang ayah tampak masih terus menangis saat perawat membersihkannya. Bayi itu langsung diletakkan di tubuh Sashi untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini, membiarkan ia mencari puncak ASI sendiri. Aktivitas yang dipercaya mampu merilex-kan baik ibu maupun sang bayi juga membantu kelancaran proses menyusui di 2 tahun ke depan.
Sentuhan kulit langsung (skin-to-skin contact) selama inisiasi menyusui dini juga dapat menjadi momen ‘perkenalan’ untuk memperkuat ikatan batin ibu dengan si kecil. Bayi pun bisa merasa semakin nyaman dekat dengan ibunya, karena ia bisa terus didekap dan mendengar detak jantung Ibu sewaktu menyusui.
Seperti sebelumnya Aric mengucapkan rasa terima kasih kepada istrinya yang telah berjuang demi memberi anak untuknya. Tak henti dicium wajah yang kini terus berseri melihat dua malaikatnya tengah berada dalam dekapnya. Seakan hilang semua rasa sakit yang belum lama ia rasa sampai proses penjahitan di jalan lahir itu.
...~∆∆∆~...
Pukul 2 siang saat ini, satu bayi masih senang menyusu dalam dekap Sashi, sedang bayi lainnya berada dalam dekapan Kalina. Kalina dan Rico terlihat begitu antusias melihat bayi laki-laki tampan yang tengah tertidur begitu mirip putranya saat bayi. Shiza entah sudah berapa kali berlari menuju si kembar bergantian dan menciuminya, sedang Aira sejak tadi sibuk meminta karyawan catering membuat nasi box untuk dibagikan pada masyarakat sekitar sebagai tanda rasa syukurnya.
Aric masih disisi wanitanya. Mengusap-usap jemari wanita yang sudah lebih fresh setelah membersihkan diri beberapa waktu lalu. Aric tak henti menatap istrinya yang sedang asik menatap bayi kecil yang sangat semangat menyusu itu.
"Sash ...." panggil Aric.
"Iya, Kak. Ups Pa-pa." Suara itu terdengar sangat lirih. Sashi senang menggoda Aric. Aric tersenyum dibuatnya.
"Apa benar sudah tidak sakit lagi, hem?" Kembali dicium jemari Sashi.
"Aku baik-baik saja, Papa!" Sashi kembali tersenyum-senyum menggunakan panggilan itu.
"Sash ... aku serius! Kamu benar baik, 'kan? Di bawah i-tu tidak sakit lagi?"
"Ada sakit sedikit tapi tidak masalah. Aku baik Ka-k!" Aric mendaratkan bibirnya di pipi Sashi dan menahannya.
"Sayang ... terima kasih banyak, maaf membuatmu kesakitan demi memberi keturunan untukku. Kamu sangat hebat tadi, aku bangga!" Aric mengangkat wajahnya dan memperhatikan wajah Sashi.
"Jujur aku sangat takut tadi, takut kehilanganmu!"
"Ka-kak, aku baik. Aku yang bangga Kakak menjelma jadi bidan, Kakak hebat!"
"Jangan diingatkan saat itu! Ahh Sayang, apa dulu saat Shiza juga bidan menarik bayi itu keluar."
__ADS_1
"Sepertinya begitulah cara mereka."
"Pasti sakit! Sungguh menakjubkan yang Allah tetapkan, ia mengeluarkan bayi dari sana dan membuatnya kembali setelahnya."
"Elastis ya, Kak. Kakak tenang saja, sudah dijahit rapat lagi," lirih Sashi dengan senyum menyeringai.
Aric menarik gemas hidung Sashi. "Kamu itu, padahal aku sedang serius!" Sashi tersenyum.
"Kamu tau Sash, setelah melihat proses persalinanmu. Aku fikir cukup 3 anak yang kita miliki, nanti langsung KB saja!"
"Lho kenapa?"
"Aku tidak mau melihat kamu kesakitan lagi, aku takut kehilanganmu!" Aric mendaratkan kecupannya di kepala Sashi.
"Semua wanita berjuang seperti itu, Kak. Dan kami bahagia bisa melewatinya, memberi suami kami dan keluarganya keturunan dan anggota baru dalam keluarga!" ucap Sashi sambil memasukan kantung ASI-nya. Ya, bayi mungilnya sudah melepaskan puncak ASI itu.
"Tapi aku tetap saja takut!" Aric merangkum wajah Sashi dan menciuminya.
"Ma-af permisi Pak!"
Seorang suster masuk mendorong meja berisi makan siang untuk Sashi, Aric meraihnya.
"Terima kasih, Sus!" ucap Aric. Aric meletakkan makanan itu di atas nacash dan memindahkan bayi perempuan yang sudah pulas tertidur ke ranjang bergambar dolpin di sisi ranjang Sashi. Aric menciumi Bayi itu sebelum akhirnya mendaratkan tubuh mungil itu di ranjangnya. Ia menyuapi Sashi setelahnya. Aira masuk dan langsung mencium putrinya.
"Bunda bangga pada Sashi! Almarhum ayah juga pasti sangat bangga melihat Sashi." Sashi tersenyum getir, Sashi merasa sedih, ia ingat ayahnya.
"Aric yang bangga pada Sashi, Bund!"
"Kakak sejak tadi memuji Sashi terus, Bun!" sela Sashi.
"Karena Aric baru tahu bagaimana perjuangan wanita melahirkan!" Kalina ikut mendekat kini ingin meletakkan bayi laki-laki itu ke ranjangnya.
"Ma-ma." Aric meraih jemari Kalina dan menciumnya.
"Terima kasih Mama sudah berjuang melahirkan Aric ke dunia!" Kalina tersenyum dan mencium kening Aric.
"Makanya istri itu harus disayangi, jika ingin menyakitinya ingat bagaimana ia berjuang melahirkan anak-anak kalian!" lugas Kalina. Aric mengangguk. Kalina mengacak rambut putranya sebelum ia berbalik.
"Oh ya, Sayang. Papa dan Mama ke kantin bawah dulu, ya! Sashi dan Aric mau titip makan apa, Nak?" Sashi menggeleng.
"Aric apa saja, Ma!"
"Oh, ya sudah. Shiza ikut Oma dan Opa yuk, Sayang!"
__ADS_1
"Tidak mau, Shiza mau jaga adik!" Kalina dan Rico terus tersenyum sebelum akhirnya mereka keluar.
"Sayang, Bunda juga mau menengok catering sebentar nanti segera kembali. Kalian tidak apa-apa kan berdua saja?"
"Tidak apa, Bun!"
"Jika butuh apa-apa segera tekan tombol panggilan suster!" Aric dan Sashi mengangguk.
Sashi sudah menghabiskan makanannya, tampak ia mulai menguap. "Kalau mengantuk tidurlah, Sayang!"
"Bangunkan jika si kembar menangis ya, Kak!"
"Tentu."
Aric dan Shiza sama-sama berdiri di muka ranjang si kembar, Shiza antusias dan terlihat bahagia. Ia terus mengusap pipi adiknya itu bergantian.
"Kulit adik halus!"
"Iya, seperti kakak Shiza!" Shiza tersenyum.
"Oh ya Papa, siapa nama adik Shiza?"
"Hmm_________
...______________________________________...
☕Bantu komen siapa nama yang cocok untuk baby twins Aric Sashi😃
Apakah ....
❤️Arshilla_Athayya
❤️Arshilla_Almeer
❤️Agniyya_Athayya
❤️Agniyya_Almeer
☕Happy reading😘
☕Mampir juga yuk ke karya sahabat Bubu ini😍
__ADS_1