
"Kay, kami sudah di sisi taman. Di mana posisimu?" Aric mengedar pandang ke area taman di depan hotel. Aric dan Sashi yang ingin pulang bingung mencari keberadaan putri mereka. Pun Aric menghubungi kaysan dan menuju taman setelahnya.
"Aku sudah lihat mobil Kakak, coba Kakak menoleh ke belakang. Ada wahana bermain di sini. Aku dan Shiza sedang bermain ayunan."
"Oke aku ke sana. Assalamu'alaikum, Kay!"
Pun Aric segera menoleh ke belakang dan mendapati wahana yang dimaksud Kaysan. Wajahnya seketika berbinar menatap wajah Shiza di kejauhan.
"Sayang, Shiza di sana. Kamu mau ikut turun?" Sashi menggeleng asik dengan ponsel di tangan tak menghiraukan Aric. Aric menatap wajah itu, Sashi tampak pendiam setelah ke luar dari hotel. Ada kekhawatiran di rasa Aric jika istrinya itu diam-diam sedang kesal padanya. Aric sadar banyak hal yang terjadi di dalam tadi yang berpotensi menjadi sebab diamnya Sashi.
Tanpa kata lagi, Aric mendekatkan wajahnya ke wajah Sashi. Ditahan kepala itu dan didaratkan kecupan kening Sashi. Aric menahannya cukup lama berharap Sashi merespon entah marah atau apapun, tapi Sashi hanya bergeming. Jelas kini istrinya itu sedang marah. Diusap kepala Sashi setelahnya, istrinya itu menggerakkan kepala menghindari sapuan itu.
Otak Aric semakin pusing. Ia telah menyakiti Sashi, tapi ia ingin Sashi memahaminya. Bagaimana pun yang terjadi dengannya dan Salwa adalah cerita lalu yang tak boleh mempengaruhi masa kininya. Aric sudah memantapkan diri menjadikan Sashi rumahnya, tempat ternyamannya. Ia tak ingin yang lain. Kalaupun ia memperhatikan Salwa tadi, semua hanya tatapan biasa. Hanya sekedar perasan tak percaya waktu telah membawa mereka jauh dari masa lalu. Setelah perpisahan yang menyakitkan, pertemuan terjadi dalam keadaan baru. Ya, keduanya telah mengalami banyak hal dalam kesendirian itu dan kini mereka sudah saling menemukan pengganti.
Jemari Aric masih senang berada di kepala Sashi. Walau Sashi berusaha menghindar Aric tak peduli. Tangan yang mengusap kepala Sashi kini menahan kepala itu, Aric mendekatkan bibirnya ke pipi Sashi.
"Alaric hanya sayang dan cinta pada Sashi Mumtaz! Hanya Sashi Mumtaz yang akan menjadi ibu dari anak-anak Alaric. Sashi Mumtaz tidak boleh sedikit pun meragukan Alaric. Pa-ham!" bisik Aric dengan sangat lirih.
Sashi lagi-lagi menggerakkan wajah, ia bergeming menghadapkan wajah ke jendela. Entah apa yang Sashi lihat agaknya samar. Ia hanya ingin menghindarkan wajahnya dari wajah itu, bibir itu dan semua Indra yang dimiliki suaminya yang pernah juga merasakan Indra wanita lain. Sashi memang kesal. Ia sedang tak ingin bicara, masih ingin diam melarutkan diri pada fikir otaknya saja. Merasa Aric salah telah menyakitinya dan ialah yang benar. Ya, Sashi sudah merasa banyak memaklumi kesalahan suaminya.
Sungguh sebetulnya mendengar setiap kata yang diucap Aric membuat Sashi ingin menangis. Suaminya itu seakan begitu sungguh-sungguh mencintainya, menganggap ia adalah rumah untuknya. Sashi senang dengan kata-kata itu. Kata-kata manis Aric yang sering melambungkannya ke angkasa namun tak ayal di waktu berbeda menghempaskan bahagianya ke dasar terdalam.
__ADS_1
Sashi masih ingin bergeming, kini ia menatap hamparan rerumputan di balik jendela dan merasakan hembusan angin yang dengan lembut menyapa kulitnya. Sashi memejamkan matanya, berkali ia hirup napas panjang dan membuangnya. Ia ingin menormalkan emosinya, emosi yang akan tidak baik untuk 2 malaikat kecil yang dipercayakan Tuhan dalam rahimnya. Sashi semakin dalam mengosongkan pelik yang memenuhi otaknya, ia terlarut dalam gelap yang ia ciptakan. Ya, Sashi memang sedang menutup kelopak matanya. Hingga kelamaan ia merasa tenang dan terlelap akhirnya.
"Kenapa Mami tidak bergerak, Papa?" Gadis kecil tampak berada di pangkuan sang ayah. Melihat Sashi sangat pulas setelah ia tinggal tadi menjemput Shiza, mana tega Aric membangunkannya. Pun Aric juga tak tega meminta Shiza duduk di jok belakang dan membiarkan putri kecilnya itu sendiri. Akhirnya ia memilih menyetir sambil memangku Shiza.
"Sayang sebentar, ya!" Aric meletakkan Shiza di sudut jendela, membungkukkan tubuh ke arah Sashi dan menutup jendela yang masih terbuka di samping tubuh istrinya. Aric mulai mengemudi setelahnya.
Aric sungguh terhibur dengan setiap celoteh yang Shiza ucapkan. Dari mulai membahas es krim di pesta, aneka cake yang enak, diajak menikmati Sepoi angin dan bermain wahana di taman oleh Kaysan, juga Shiza bahagia sebab memiliki teman baru. Kak Lora, itulah nama yang terus menerus di bicarakan Shiza pada Aric. Hingga di tengah perjalanan suara manja itu semakin tak terdengar. Kepala dengan sebagian rambut yang dikuncir ke atas itu sudah jatuh ke dada Aric. Aric menghentikan mobil dan membalik tubuh Shiza menghadapnya. Shiza tampak nyaman setelahnya tidur sambil memeluk tubuh tegap Aric.
Berhubung jalanan tampak merayap di akhir pekan, Aric membutuhkan waktu 30 menit hingga akhirnya bangunan berdominasi abu-abu berada di hadapannya. Pukul 21:55 terlihat dalam analog yang terpasang di lengan Aric. Aric melihat sedan Lutfi sudah terparkir cantik. Aric menghentikan mobilnya kini di samping kuda besi ayah mertuanya itu.
Aric turun dengan menggendong Shiza dan meninggalkan Sashi sejenak di mobil. Ya, Aric berfikir untuk meletakkan Shiza dulu baru kemudian membawa Sashi masuk. Aric sungguh tak tega membangunkan istrinya itu.
"Sashi tertidur di mobil, Bund." Aric berhenti sejenak menjawab tanya Aira.
"Biar Bunda bangunkan Sashi!"
"Tidak! Jangan! Jangan, Bund! Jangan dibangunkan! Biar nanti Aric yang bawa Sashi ke kamar!"
"Oh ... oke! Kalau begitu Bunda lanjut istirahat, ya!"
"Silahkan, Bund!" Aric menuju ke kamar dan menidurkan Shiza di ranjang berbentuk tenda bermotif kuda poni di sudut kamar, baru kemudian beranjak ke pelataran lagi. Aric membuka pintu yang membatasi dirinya dan Sashi dan mengangkat tubuh mungil yang tampak lebih berisi dengan perut yang sudah sangat menonjol itu. Pun Aric menidurkan Sashi dengan hati-hati ke atas ranjang.
__ADS_1
Aric mengganti outfit-nya dan duduk di sisi ranjang. Ia membuka kain penutup di kepala Sashi plus ikat rambut Sashi. Aric tak ingin istrinya merasa pusing tidur terganjal gulungan rambut. Ditatap wajah ayu istrinya kini. Walau usia Sashi semakin bertambah, wajah polos itu masih sama seperti saat pertama kali ia melihatnya. Aric yang menyadari akan tak nyaman istrinya tidur dengan gaun satin tebal membungkus seluruh tubuhnya. Pun ia berjalan menuju lemari mencari baju tidur Sashi.
Aric membuka alas kaki Sashi dan berlanjut membuka ikatan di bagian depan gaun dengan sangat perlahan. Aric membuka satu persatu kancing di bagian depan setelahnya. Semua pergerakan itu ia lakukan sangat lembut dan hati-hati tak ingin Sashi terganggu. Hingga seluruh kancing sampai ke potongan pinggang sudah terlepas. Awalnya Aric fikir semua akan mudah, tapi kondisi perut Sashi yang membuncit sungguh membuat Aric berfikir keras bagaimana meloloskan gaun itu ke atas.
"Ini sudah setengah jalan, tidak mungkin aku membiarkan Sashi tidur seperti ini!" gumam Aric.
Pun akhirnya Aric mulai menaikkan gaun itu perlahan. Saat masih berusaha menaikkan gaun dengan memiringkan tubuh Sashi perlahan ke kanan dan kiri, tiba-tiba mata yang sebelumnya terlelap itu terbuka.
"Ka-kak sedang a-pa?"
...____________________________________________...
☕Happy reading😘😘
☕Yang belum kasih vote bintang, bantu kasih bintang 5 ke Sashi yaa❤️❤️
☕Terima kasih supportnya selalu 🤗🤗
__ADS_1