Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
AKU AKAN SEGERA MENJEMPUT


__ADS_3

Raut wajah itu bingung. Ya, Sashi berkali menatap wajah Aric yang terus menatapnya dengan raut tak tertebak. Aric bungkam sedari ia menjemput Sashi dan Aira di atas. Aric tampak berkali membenahi posisi Shiza di pangkuannya, mencium puncak kepala Shiza entah sudah berapa kali Aric lakukan. Shiza juga terlihat tenang duduk dalam dekapan sang ayah, sesekali ia berceloteh sambil menggigit mainannya yang berbahan karet itu.


Lutfi memperhatikan wajah Sashi. Putrinya itu memang sejak dilahirkan sudah terpancar aura cantiknya. Putri yang dituntut dewasa di atas usianya. Ia bangga dengan putrinya itu, Sashi jarang merengek berlebihan jika meminta sesuatu, ia anak penurut, tak suka macam-macam, ia bahkan bisa membesarkan Shiza dengan sangat baik. Ya, putri kecilnya memang cepat belajar sesuatu. Andai tragedi dulu itu tidak terjadi pasti Sashi sudah mengeyam pendidikan menjadi seorang guru. Menjadi guru adalah cita-cita Sashi.


Hati lutfi berat, ia sadar kata-katanya nanti akan menghancurkan hati putrinya itu. Tapi semua harus terjadi, keputusan telah diambil. Aric harus bisa berupaya lebih keras untuk membawa Sashi kembali ke rumahnya, itu pun jika ia benar-benar mencintai Sashi, fikir Lutfi.


"Sayang ... Ayah sudah mendengar penjelasan Aric!" Akhirnya kata itu terucap. Sashi menyimak tanpa bersuara.


"Segera rapihkan pakaianmu dan Shiza! Sementara kalian akan tinggal bersama Ayah!" ucap Lutfi datar.


"Kenapa tinggal dengan Ayah. Rumah Sashi kan di sini, Yah? Sashi tidak mau!" ucap Sashi segera berdiri dan berpindah duduk di samping Aric.


"Kakak, aku mau tinggal dengan Kakak. Jangan izinkan ayah membawaku, Kak!" Netra Sashi yang berkaca terus menatap Aric. Aric menyapu kepala itu dalam kebungkaman. Hati itu juga sedih.


"Ayah tidak perlu mendapat izin Aric untuk membawamu! Kamu putri ayah, dan ayah tidak terima dengan perilaku Aric yang telah memadumu!"


"Tapi kak Aric tidak mencintai mbak Aruna! Kak Aric hanya cinta Sashi. Iya kan, Kak?" Aric mengangguk.


"Tapi ia telah menikahi wanita itu. Pernikahan bukan hal main-main, Sayang. Aric harus mempertanggung jawabkan perilakunya. Biarkan ia berupaya menceraikan wanita itu, baru Ayah akan izinkan ia membawamu!" lugas Lutfi.


"Tapi kak Aric tidak pernah berbuat macam-macam dengan mbak Aruna. Sashi tidak masalah dimadu, Ayah," lirih Sashi lagi, ia mulai gelisah. Tak ingin dipisahkan.


"Menurutlah, Sayang! Aric sudah salah membuat pernikahan bak permainan. Sebelum dosa itu semakin menumpuk, ia harus bercerai dari Aruna!"


"Kakak pasti akan menceraikan mbak Aruna! Pokoknya Sashi tidak mau keluar dari rumah ini, titik!"


"Jangan membantah, Sashi! Ia akan merasa santai jika kamu masih bersamanya. Tapi jika kalian berjauhan ia akan lebih serius untuk berupaya berpisah dari Aruna!" Lutfi sungguh tak ingin disanggah. Keputusannya sudah bulat.


"Tapi pernikahan itu hanya untuk Ciara dan Sashi menerimanya, Yah! Sashi tidak apa-apa di-madu!" lirih kata itu terucap, Sashi mengiba.


"Tidak ada pernikahan seperti itu, Sashi! Tetap hak dan kewajiban itu harus dipenuhi! Aric sudah bersumpah di depan Pencipta untuk mendampingi Aruna. Itu artinya kedua belah pihak telah terikat, seperti halnya dirimu dan Aric. Dan mereka memiliki hak dan kewajiban yang harus dilakukan atau Aric akan berdosa sebab lalai pada Aruna!" lugas Lutfi terpaksa membeberkan segalanya.


"Jangan bilang Ayah meminta kak Aric untuk berhubungan intim dengan mbak Aruna?" Lutfi diam. Sashi menghadap Aric.


"Kakak please jangan lakukan! Ingat Kakak sudah berjanji padaku!" lirih Sashi dengan wajah memberengut. Aric mengangguk. Ia tahu kekhawatiran Sashi. Pun ia juga tak ingin menyentuh Aruna, biarkan dosa itu ia tanggung, tapi sungguh tak ada sedikut pun keinginan melakukan hal intim bersama Aruna. Terlebih Aric juga tau mengenai ayah Ciara.


Aric menyapu pipi itu. "Aku tidak akan menyentuh Aruna!"


"Kakak mau berjanji?"

__ADS_1


"Janji." lugas Aric. Sashi menenggelamkan wajahnya di bahu Aric. Ia menangis.


"Kakak harus janji lagi akan sering menemuiku di rumah ayah!"


"Aric akan datang satu pekan sekali!" seloroh Lutfi.


"Ayah! Kenapa satu pekan sekali! Ayah jahat!"


"Kalau setiap hari bertemu sama saja bohong! Tidak ada artinya kami membawamu!"


"Kalau begitu tidak usah membawaku!" kilah Sashi.


Lutfi berdiri. Ia yang sejak tadi memberi kesempatan dua insan itu bicara tak bisa menahan lagi. Ia mendekati Sashi dan menarik raga putrinya itu.


"Ayahhh ...!"


"Sudahi drama ini! Cepat naik ke kamar dan rapihkan pakaianmu dan Shiza!"


"Tapi, Yah?"


"Tidak ada tapi-tapian! Bund, bantu Sashi mengemasi pakaiannya!"


Aira berdiri, diulurkan tangan itu ke hadapan Sashi. "Ayo, Sayang!"


"Dengarkan ayahmu, Nak! Yakinlah Aric akan secepatnya menjemputmu," lirih Aira. Sashi menatap lekat wajah Aric, ingin mendengar jawaban dari pernyataan Aira.


"Aku akan segera datang menjemputmu!"


"Nah ... sudah dengar kan ucapan Aric. Sekarang ayo kita rapihkan barangmu!"


"Jika diizinkan biar Aric yang membantu Sashi berkemas!" ucap Aric menatap wajah Aira, baru kemudian menatap Lutfi. Lutfi melihat kedua anaknya itu tanpa kata.


"Pergilah Nak, bantu lah Sashi bersiap!" Aira berujar. Lutfi membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia berdiri dan berjalan ke muka jendela setelahnya. Lutfi bergeming menatap pemandangan luar tanpa titik pasti.


"Aric titip Shiza sebentar bisa, Bun!"


"Tentu!" Raga Shiza sudah berpindah ke pelukan Aira. Aric menuntun Sashi berdiri.


Keduanya naik ke lantai atas dalam keheningan, kaitan jemari yang semakin kuat dilakukan keduanya. Eratan itu seolah mengambarkan pilu hati yang tak mampu diluapkan melalui bahasa verbal.

__ADS_1


Pintu terbuka. Sashi langsung duduk di tepi ranjang, meraih bantal dan memeluknya, ia menangis. Aric mendekat, ditarik raga Sashi masuk dalam dekapannya. Tangis Sashi semakin kencang saja.


"Ka-kak ...."


"Sabar! Kita lalui semua ini. Aku akan datang menjemput. Segera! Hem!"


Sashi mendongakkan wajahnya. "Tapi mencari donor sum sum itu tidak mudah," lirih Sashi.


"Aku akan lakukan apa pun untuk membuat Ciara sembuh dan berpisah dari Aruna!" Aric menghapus bulir di pipi Sashi, menahan kepala dan merapihkan anak-anak rambut itu ke belakang. Dicium kening Sashi berkali-kali.


"Kakak harus jaga diri!" lirih kembali kata itu terucap.


"Pasti!" Aric menciumi wajah halus Sashi.


"Kakak tidak boleh sampai tergoda, bawa makan dan minuman dari rumah kalau menemui Ciara! Ingat, tidak boleh sampai lupa!"


"Siap, Sa-yang!" Dicium singkat sepasang indra kenyal itu.


"Ka-kak----


"Apa lagi?"


Sashi melingkarkan lengan ke leher Aric dan menarik wajah itu kedekat wajahnya. "Aku mau Kakak menciumku lama, untuk bekal kalau aku rindu!" bisik Sashi, Aric tersenyum getir mendengar permintaan istrinya itu.




"Sudah siap, tidak ada yang tertinggal?" lugas Lutfi ketika pijakan anak tangga terakhir lolos dari kaki-kaki anak dan menantunya itu. Sashi mengangguk.


"Sudah, Yah!" jawab Aric. Lutfi tenang wajah pilu di wajah Sashi sudah tak terlihat. Sashi tampak sudah menerima walau bibir itu bungkam, putrinya memilih tak banyak bicara.


Aric meletakkan koper di tepi dan meraih tubuh Shiza setelahnya. Diciumi wajah mungil menggemaskan yang seketika menangis ketika tubuhnya masuk dalam rengkuhan lengan Aric. Shiza seakan tau saja mereka akan berpisah. Tangisan Shiza tak digubris Aric, ia tak berhenti mencium buah hati Sashi dan adiknya itu. Sashi terharu, netra itu mulai berkaca. Pun begitu dengan Aira, dilihatnya menantunya itu benar-benar menyayangi Shiza walaupun bukan benihnya.


"Sudah, ayo kita berangkat!" lugas Lutfi tak ingin drama air mata terjadi lagi. Ia menutup rasa itu. Dalam hati itu menyakini bahwa menantunya memang pria baik.


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Jangan lupa jejak komen, like, vote dan gift untuk karya ini😍


☕Suwun sanget kakak-kakakku, mbak-mbakku, teteh-tetehku, bund-bundku. Lope full untuk kalian❤❤


__ADS_2