Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
END=SELESAI


__ADS_3

"Kak Salwa, haruskah aku berbaur bersama mereka?"


Sashi masih bergeming saat sebuah suara terdengar sangat dekat.


"Haii ...!"


Sashi seketika menoleh. Raga tegap yang tampak dewasa berdiri di sisinya sambil membawa 3 gelas minuman, Sashi tak asing, ia memaksa tersenyum.


"You're Aric's wife who was pregnant at that time right? Let's join!" ujarnya.


"Oh," lirih Sashi sembari mengangguk. Lelaki itu menggiring Sashi hingga berdiri kini di Taman pula. Aric menangkap kehadiran Sashi segera mendekat.


"Sayang, kamu di sini?" Sashi tersenyum getir.


"Your wife's standing there, i invite her," ucap lelaki tegap yang merupakan Bima. Ya, karena Bima lama tinggal di USA ia lebih senang menggunakan bahasa Inggris walau ia paham ucapan Indonesia. Aric mengangguk.


"Setelah aku membersihkan pup Tayya, aku melihat Salwa dan Bima di Taman, aku menyapa keduanya dan ternyata putra kecilmu ini sangat senang bermain seluncuran hingga tak ingin berhenti," jelas Aric meraih bahu Sashi hingga mendekat padanya.


"Astagfirullah aku berprasangka buruk pada Kakak," batin itu merasa sangat bersalah.


"Iya Kak, tadi Shilla terus menanyakan Papanya." Sashi berucap dengan manja, ia menyunggingkan senyum yang sangat lepas setelahnya. Aric turut tersenyum.


"Lihat Sash, Bima dan Salwa juga sudah punya bayi sekarang!" Mata Sashi beranjak ke arah Salwa, ia tersenyum.


"Haii cantik, siapa namamu?" ucap Sashi mengusap pipi gadis kecil dalam dekapan Salwa.


"Sherin nama putriku. Yang tampan ini bernama Athayya, siapa yang cantik ini?"


"Aku Arshilla, Anti. Haii adik Sherin, salam kenal," ucap Sashi menjadi dubber Shilla dan mengarahkan jemari Shilla hingga menyentuh lengan Sherin. Salwa terus tersenyum, ia menatap Tayya dan Shila bergantian.


"Beb, they're so cute, i want twins too!"


"Yup, tonight we will make twins!" seloroh Bima sambil tersenyum ke arah Salwa, Salwa memukul lembut dada Bima, malu Bima bicara seperti itu di depan Aric dan Sashi. Sebaliknya Aric dan Sashi justru tersenyum melihatnya.


"Kak, i-ni sudah malam, kita pulang?"


"Kenapa terburu-buru Sashi? Kita berbincang sebentar, oke!" ucap Salwa menggenggam jemari Sashi.


"Terlalu malam, Kak. Sudah hampir jam sepuluh, kasihan anak-anak," lirih Sashi. Salwa memberengut, ia tampak kecewa.


"Besok kita bertemu di AEON Mall bagaimana? Please Sashi, lusa kami sudah kembali ke USA, aku juga ingin menghabiskan waktu bersama dan saling bercerita sebelum kembali pada rutinitasku di USA." Salwa terlihat bersungguh-sungguh dan penuh harap. Sashi menatap Aric dan Aric mengangkat bahunya menyerahkan jawaban pada Sashi. Setelah berfikir beberapa saat Sashi akhirnya mengangguk.


"Yeaa, thanks Sash! Aku akan ajak Lora dan Kaysan juga besok. Kita triple date, oke!"


"No date, darling. Don't forget we will come with the kids," ucap Bima.

__ADS_1


"Let's leave Sherin with mama, Hem?" ucap Salwa sembari tersenyum.


"Tapi kami tidak bisa pergi tanpa si kembar, mereka membutuhkan ASI maminya," ucap Aric. Sashi mengangguk.


"Ups Sorry, Arr! Oke kami akan datang dengan Sherin juga." Salwa merevisi ucapannya. Bima mengangguk.


...~∆∆∆~...


Udara siang menjelang sore itu tampak sejuk, matahari terus bersembunyi di balik sekumpulan awan yang membuat biasnya begitu lembut menyapa kulit.


Sashi dan Aric terus bercerita sepanjang perjalanan, Sashi senang menceritakan teman-temannya, juga Aric yang tampak antusias mendapatkan klien baru yang memberi proyek apartemen untuknya. Ya, klien tersebut membutuhkan beberapa furniture di setiap kamar sebagai accecories tetap kamar itu sebelum akhirnya di lempar ke konsumen.


Tak berselang lama bangunan Mall yang menjadi tujuan mereka sudah di depan mata. Keduanya kini turun. Sashi tampak menggandeng Tayya, sedang Aric menggendong Shilla yang sedang manja pada papanya, di tangan lainnya Aric menggandeng Shiza.


Raga-raga tersebut langsung menuju lantai 3 tempat wahana bermain anak. Tampak di kejauhan Lora dan Kaysan sudah sampai lebih dulu. Keduanya duduk di sebuah cafe dengan minuman bersoda di hadapan. Shiza seketika berlari saat melihat wajah sang ayah, ia langsung bercengkrama apa saja mengenai aktifitasnya di rumah bersama si kembar.


Lima menit setelahnya Salwa dan Bima tiba, Salwa membawa Sherin yang sedang tertidur dalam gendongan depan. Keduanya langsung mendekat di mana Aric, Sashi, Kaysan dan Lora duduk.


Aric mengikuti si kembar yang berlari ke arah seluncuran dengan banyak bola-bola kecil. Pun Shiza ikut mengejar kedua adiknya sambil tak melepas genggaman tangan Kaysan. Bima yang merasa lelaki sendiri diantara 3 wanita akhirnya memilih menggantikan Salwa menggendong Sherin dan mengikuti langkah Aric dan Kaysan. Bima yang hamble cepat berbaur dan bercerita apa saja yang memancing Kaysan dan Aric turut bercerita aktivitas mereka pula.


Pun para wanita juga demikian, ketiganya berbincang. Salwa berbincang, Sashi dan Lora tampak menyimak tepatnya. Salwa memang sosok yang senang bercerita dan Sashi senang setidaknya Salwa mencairkan hubungan keduanya. Salwa terlihat bahagia, wajah pilu dulu sudah hilang.


Ya, Salwa bercerita bagaimana Bima berubah setelah ia melahirkan bayinya. Bima sangat antusias melihat bayi kecil bak fotocopy dirinya dalam versi wanita. Salwa tak menutup bahwa ia bukan wanita pertama untuk Bima, tapi diantara wanita lain yang lebih memilih tidak mengandung dan melahirkan untuk menjaga Karir dan tubuhnya, Salwa berbeda. Salwa melewati batas itu, ia mengenyampingkan karir dan memilih menghadirkan Sherin ke dunia. Hal yang membuat Bima sadar, siapa wanita yang siap menjalani masa depan dengannya dan bukan hanya bermain-main. Pun usia Bima juga sudah waktunya berumah tangga.


Bima berubah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sherin saat tidak ada job, ia tak lagi senang ke Club dan menghabiskan waktu bersama model-model yang dengan sukarela melayaninya. Bima yang sekarang lebih senang di rumah, hanya Salwa wanitanya saat ini, tidak ada yang lain. Itu membuat Salwa sangat bahagia.


Acara makan berlangsung menyenangkan. Aric dan Sashi kompak makan sambil menggendong bayi mereka menggunakan gendongan depan sebab kedua bayi menggemaskan dengan wajah serupa sudah lelah dan tertidur. Aric makan sambil menyuapi Shiza, Kaysan sesekali juga mengarahkan sendoknya pada Shiza, Shiza menyayangi 2 ayahnya, ia senang memiliki banyak cinta, dua ibu dan dua ayah, Shiza tampak terus tersenyum.


Acara makan berakhir dan raga-raga itu saling berpamitan. Kaysan sebetulnya ingin membawa Shiza, tapi mengingat besok ia harus bekerja dan berangkat pagi akhirnya niat itu ia urungkan.


Tiga pasang manusia berpisah di basemen. Salwa mengutarakan rasa senangnya menghabiskan waktu bersama dan berharap bisa berkumpul di waktu lain. Pun Sashi dan Lora juga mengiyakan. Ketiga wanita saling berpeluk sebelum akhirnya mengikuti pasangan mereka ke mobil masing-masing.


Di mobil Aric terus tersenyum membayangkan kebersamaan Salwa dan Sashi beberapa saat lalu. Ia senang akhirnya masa lalu dan masa kini bisa duduk dan tertawa bersama jauh dari permusuhan atau kecemburuan diantara keduanya, Sashi tepatnya.


Aric menatap spion memastikan tiga buah hatinya pulas terlelap. Ya, di basemen tadi Aric meletakkan si kembar di kasur angin di jok tengah mobilnya bersama Shiza yang terus menguap. Baru setelahnya ia menyatukan jemarinya dan jemari Sashi, menciumnya berulang kali hingga membuat Sashi menggelengkan kepala.


"Apa Papa Shiza baik-baik saja? Fokus menyetir, Kak!"


"Terima kasih, Sayang!" ujar Aric.


"Untuk?"


"Menjalin hubungan baik dengan Salwa," lirih kata itu terucap. Sashi mengangguk.


"Aku senang semua berjalan baik, kita, Kay dan Lora, juga Salwa dan Bima. Kita bahagia dengan takdir masing-masing. Tidak menutup masa lalu, tidak berlebihan, namun tidak juga menjauh. Kita telah buktikan bisa saling mengikis ego untuk kebahagiaan bersama!"

__ADS_1


"Dan kita harus menjaga kepercayaan itu!" tambah Sashi.


"Itu tentu! Hidupku sudah lengkap, kamu, Shiza dan si kembar. Apa yang mau aku cari lagi. Tinggal kita hidup dengan baik, saling mencintai dan menjaga. Semua sangat sempurna."


Sashi tersenyum ia senang dan membenarkan kata-kata suaminya itu. Sashi kini yang menarik jemari Aric dan menciumnya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Kak!"


"Aku pun. Terima kasih kamu sudah hadir!"


"Rencana Pencipta. Semua karena rencana-Nya, Kak!"


"Benar. Tidak ada yang kebetulan di dunia, semua sudah diatur sebaik-baiknya."


Aric tiba-tiba menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti, Kak?"


"Kemari sebentar, ada sesuatu di pipimu!"


"A-da a-pa, Kak?" Sashi mendekat. Aric dengan cepat menahan kepala istrinya itu, mendaratkan bibirnya ke pipi Sashi, menahan kecupan itu beberapa saat.


"Alaric cinta Sashi Mumtaz, sangat cinta," bisik Aric.


"Aku juga!" Sashi dengan cepat mencium pipi Aric dan segera beranjak, Sashi malu.


"Sayang, katakan yang jelas! aku juga apa?" Aric menarik kepala Sashi lagi hingga wajah keduanya kembali berhadapan.


"A-ku ju-ga cinta Ka-kak! Sa-ngat!" lirih Sashi. Ia sangat malu. Aric tersenyum.


"Kenapa mengutarakan cinta begitu sulit, hem?" Aric mengusap pipi Sashi hingga wajah itu semakin merona. Aric semakin mendekatkan wajah mereka dan menyatukan bibir keduanya. Kecupan yang dilakukan Aric sangat lembut dan manis, tanpa emosi berlebih dan begitu hati-hati tak ingin menyakiti Sashi. Rasa sayang itu tergambar jelas, Sashi mampu merasakannya.


"Ka-k, su-dah ya! I-ni jalan raya, kita lanjutkan di rumah!" lirih Sashi dengan malu. Aric tersenyum. Pun Aric kembali melajukan mobilnya. Baru beberapa saat berjalan lalu lintas tampak riuh, mobil-mobil tampak berhenti ke tepi dan pengemudinya keluar. Aric yang bingung ikut berhenti. Dibuka kaca mobil itu dan Aric memanggil seseorang untuk mencari tahu yang terjadi.


"Pak, Pak ... mengapa banyak mobil berhenti, Pak?" tanya Aric.


"I-tu, Pak! Di-sana! Di-lintasan rel a-da wanita yang mau bunuh diri dengan anaknya, Pak! Ma-af saya buru-buru!" Lelaki itu beranjak. Aric masih bergeming hingga dirasakan sebuah jemari menggenggam jemarinya. Aric menoleh ke arah Sashi. Dilihatnya istrinya itu terus menggeleng!


...___________________END________________...


☕Terima kasih sudah mengikuti karya Bubu ini❤️❤️


☕Love you all😘😘


☕Setelah ini lanjut ke bab menjelang end mas Dimas dan mbak Shofi yaa😍

__ADS_1


☕Yang belum baca yuk cus merapat😃🤭



__ADS_2