Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
SITUASI SULIT


__ADS_3

"Kakk, tumben gerimis hari ini, awet lagi!"


"Iya, musim peralihan, kita nikmati saja."


"Kakak tidak masalah datang siang ke kantor?"


"Aku sudah menghubungi anak buahku, mereka orang-orang yang ahli dibidangnya jadi aku bisa mempercayai mereka." Sashi mengangguk-angguk.


"Sayang ... jangan gerak-gerak kepalanya!" Aric yang sedang fokus mengeringkan rambut Sashi merasa terganggu.


"Sudah, Kak! Biar, nanti juga kering sendiri!" Sashi mendangak saat ini.


"Kamu kan berjilbab, rambut jangan sampai lembab," ucap Aric.


"Tapi aku kan kalau di rumah tidak pakai jilbab!" kilah Sashi.


"Tapi hari ini kamu harus pakai jilbab keluar kamar! Atau ... i-ni ... dan i-ni! Akan jadi konsumsi bunda dan Bik Ningsih!" Aric menunjuk 2 tanda merah di leher Sashi.


"Ah, Kakak sih nakal! Sudah aku bilang selama di rumah bunda jangan buat tanda di tempat yang terlihat!" Aric tertawa.


"Semua spontan, Sayang." Aric menaikkan dagu Sashi mencium kening istrinya itu.


"Ka-kk ...."


"Hem?"


"Jangan pernah bosan padaku! Kalau Kakak mulai bosan, Kakak harus ingat kalau aku adalah ibu anak-anak Kakak! Kakak jangan sampai mencari wanita lain!" Aric seketika menjauh menarik kursi belajar Shiza dan duduk tepat di hadapan Sashi. Ia menciumi perut buncit Sashi baru setelahnya bicara.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah bosan! Paham?"


"Aku bukan bicara tentang hari ini, tapi 5, 10,15 tahun ke depan. Saat keriput dan bercak noda di wajahku mulai muncul, tubuhku semakin gendut atau kulitku tak lagi halus, tubuhku mulai letih mengurus anak-anak, aku semakin jelek dan kakak akhirnya bosan." Sashi menatap lekat lelaki di hadapannya, menunggu jawab lelakinya itu.


"Itu kodrat manusia, lahir, muda, tua dan tiada. Semua manusia akan merasakan fase itu. Jika fisikmu berubah, pun aku juga akan berubah, bahkan aku akan lebih tua darimu. Kita hanya perlu saling percaya dan selalu merefresh rasa yang kita miliki, saling menarik jika salah satu dari kita mulai lupa arah, hem?" Sashi bergeming.


"Kenapa diam? Ayo bicara lagi!"


"Kakak pintar! Kata-kata Kakak selalu bisa menyenangkanku," lirih Sashi.


"Hanya kata-kataku saja yang bisa menyenangkanmu? Tidak ada yang lain la-gi, kah?" Wajah Sashi merona, ia paling tidak bisa di goda Aric.


"Aduh aku sampai lupa, Kak. Tadi Shiza minta susu. Kutaruh di mana botol Shiza tadi?" Jelas Sashi menghindari Aric. Aric terus tersenyum dibuatnya.


"Cari yang benar, Sayang! Jangan sampai putriku kehausan!" pekik Aric.


...~∆∆∆~...


Awan hitam seketika mendominasi langit kota Medan. Agaknya hujan lebat akan segera turun. Aryo tampak serius melajukan kendaraan, hingga Lutfi tiba-tiba memintanya memberhentikan mobil mereka sejenak. Melihat sebuah toko kaset, teringat Lutfi akan janjinya yang akan memberi Aric menantunya kaset sholawat Nabi Muhammad Shallallohu 'Alaihi Wasallam. Pun ia memasuki toko kaset dan menelusuri rak demi rak mencari Sholawat yang biasa ia dendangkan pada Sashi sejak kecil.


Setelah beberapa saat, akhirnya Lutfi menemukan kaset DVD yang ia cari dan 2 kaset lain yang ia ingin beli. Entah mengapa melihat cover-cover kaset itu kesedihan langsung menyeruak teringat putrinya yang kini telah berumah tangga, menjadi ibu, juga sebentar lagi akan ditambah amanah 2 buah hati lagi. Ia merasa belum sukses mendidik Sashi. Netranya mulai berkaca.


Lutfi seketika terbayang kejadian 5 tahun silam itu. Dimulai saat mima sang asisten rumah tangga yang telah lama bekerja dengannya terpogoh menghampiri saat ia baru kembali mengisi acara santunan anak yatim di daerah Bogor. Wajah Mima dipenuhi rasa takut. Ia berkali ingin mengucap kata tapi selalu tidak dituntaskan. Setelah dibujuk, mima akhirnya bicara mengenai Sashi yang saat ini tengah hamil.


Sakit di hati itu. Satu-satunya buah hati telah melakukan perbuatan yang amat dibenci Robbnya. Pun ia segera menghampiri Sashi, mempertanyakan segala kebenaran yang ia dengar. Bercucur tangis dalam sekejap wajah polos gadis yang sangat ia cintai. Sashi membenarkan semua. Lutfi terbakar emosi. Ia berteriak sekencangnya memanggil nama sang istri. Aira datang dengan perasaan bingung, rasa takut ia rasa melihat tatapan tajam bak hendak mererkam dilakukan Lutfi atasnya. Lutfi berteriak, bertanya mengenai tanggung jawab yang Aira lalaikan hingga sampai kecolongan dan Sashi hamil.


Sashi terus menangis. Ia tak ingin Lutfi memarahi Aira. Sashi menyalahkan dirinya, tapi Sashi bahkan tidak tahu perbuatan yang ia lakukan sehingga membuat janin berkembang di rahimnya. Akhirnya, Sashi menceritakan segala yang terjadi pada Lutfi, tentang ia dan seorang pemuda yang tiba-tiba bangun dalam keadaan sangat memalukan. Sashi menjelaskan segalanya, namun Lutfi tidak percaya. Yang ada di benak Lutfi adalah kemarahannya pada sosok pemuda yang telah mengambil hal berharga yang dimiliki Sashi.

__ADS_1


Petir menggelegar, mengaburkan angan yang membuat dada itu kian sesak. Satu demi satu kejadian yang terjadi setelahnya kepada sang putri kembali terputar di otak. Putrinya itu masih terlalu muda untuk mengalami berbagai pelik hidup, didiamkan, diduakan, dikecewakan, dibohongi dan yang belum lama terjadi adalah kehilangan janinnya.


Setiap saat hati itu sakit, merasakan telah gagal mengemban amanah Robbnya. Ia bisa memberi banyak motivasi jamaahnya, namun ia merasa gagal. Ia dan Aira nyatanya terlalu sibuk sampai mengabaikan permata yang ia miliki. Lutfi menarik napas panjang menetralkan emosinya, ia berjalan menuju kasir sambil terus menatap kaset yang ia ingin hadiahkan untuk anak dan menantunya di rumah.


Baru ingin keluar, ia mengamati langit semakin menghitam, hujan semakin deras disertai petir yang saling bersahutan. Dilantunkannya dzikir-dzikir nama Robbnya. Menyaksikan fenomena alam yang hanya bisa diciptakan Sang Maha Esa itu, merasa takut dan rendah diri itu seketika.


"Ustad, sepertinya kita belum bisa melanjutkan perjalanan," ucap Aryo yang baru saja ikut masuk ke bangunan toko.


"Tidak apa-apa, kita di sini dulu! Jangan lupa hubungi pihak penyelenggara dan kabarkan keberadaan kita." Aryo mengangguk.


"Oh ya satu lagi, tolong simpankan kaset ini dengan baik. Kaset ini harus sampai pada anak dan menantuku. Paham!"


"In Syaa Allah, Ustad."


Tak berselang lama hujan mereda. Pun Aryo meminta Lutfi kembali ke mobil dan keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan hujan kembali deras, namun Lutfi meminta Aryo tetap melajukan kendaraannya perlahan. Berhubung Lutfi tidak mendapati Masjid di sekitar lokasi yang mereka lewati, pun Lutfi akhirnya menjalankan ibadah di mobil.


Lutfi begitu khusyuk beribadah saat pekikan guntur terus bergelora dengan dahsyat, hujan yang lebat membuat jalanan di tengah tebing-tebing tinggi itu merayap. Aryo berkali memperhatikan Lutfi dari spion, Lutfi begitu khusyuk. Hingga tiba-tiba kondisi jalan seketika riuh. Aryo yang kaget membuka jendela memastikan yang terjadi, ia kaget melihat banyak orang berhamburan keluar mobil. Aryo bingung dan takut saat tanah-tanah mulai berjatuhan dari atas tebing, tak hanya itu ... beberapa batu besar pun mulai berjatuhan di depannya.


Aryo terus memanggil Lutfi, namun Lutfi tak merespon seakan terlarut dalam lantunan ayat yang ia bisikkan pada Robbnya. Aryo bingung, tak bisa ia membiarkan ustad yang begitu ia kagumi dan banyak membantu hidupnya itu seorang diri. Pun ia melantunkan dzikir terus menerus berharap raga mereka dijauhi dari bencana apapun. Setiap orang yang masih melihat Aryo berada di dalam mobil menghampiri meminta Aryo keluar tapi Aryo bertekad tetap bersama Lutfi.


Hingga tiba-tiba.


BUG ....


...______________________________________...


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Dilema guys 2 hari ini diselingi bantu masak tetangga hajatan plus Minggu diminta jaga prasmanan. Kayaknya crazy up gak bisa bubu lanjut🤧🤧


☕Semoga kalian semangat menunggu kelanjutan kisah ini yaa❤️❤️


__ADS_2