Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MAAF


__ADS_3

"Sayang maaf, aku tadi tidak peka pada perasaanmu! Aku juga tidak bermaksud berucap keras padamu. Kata-kata yang keluar spontan terucap, please lihat aku, Hem!" Aric duduk bersimpuh di bawah lutut Sashi. Aric siap melakukan apapun untuk memperoleh maaf Sashi. Ya, perpisahan kemarin sudah cukup untuknya berharap tidak ada lagi jarak antara keduanya.


"Semua pasti karena Kakak sedang terhipnotis dengan kecantikan Salwa! Ayo, jawab yang jujur!" gusar Sashi.


"Duh Sash, Salwa mana punya ilmu menghipnotis orang!"


"Tuh kan membela dia lagi! Sana Kakak minggir aku tidak mau bicara dengan Kakak!" Sashi mendorong bahu Aric tapi yang didorong tak bergerak sedikit pun.


"Siapa yang membela, Sash? Tolong jangan seperti ini, Sash. Apa sayang dan cintaku selama ini tak cukup meyakinkanmu kalau tidak mungkin aku memasukkan wanita lain lagi ke dalam sini!" Aric menunjuk dadanya.


"Gombal!"


"Serius, Sayang!"


"Tapi perilaku Kakak berubah tadi saat ada Salwa yang perfect itu. Kakak bahkan enggan kuajak pulang! Kakak rindu dia dan ingin berlama-lama dengan dia 'kan?" Sashi mencecar tanya lagi.


"Bukan tidak mau pulang, tapi memang aku ingin tahu kondisinya 6 tahun belakangan ini. Ingat! Aku hanya ingin tahu, tidak lebih! Jangan salah paham lagi, oke!" Aric menatap lekat wajah Sashi.


"Lalu kenapa Kakak memberikan nomer ponsel Kakak?"


"Kamu dengar tadi 'kan, dia meminta nomer ponsel itu hanya untuk memberitahu lokasi pertunangannya. Bukan untuk hal macam-macam, Sash!" jelas Aric.


"Kakak kan bisa memberikan nomer ponselku, tidak perlu nomer Kakak jika sekedar memberitahu alamat!" imbuh Sashi lagi.


"Aku tidak terfikir itu! Jangan permasahkan ini, oke!" Jemari Aric sudah mendarat di bahu Sashi dan mengusap-usapnya lembut.


"Tidak usah pakai sentuh-sentuh!"


"Sash ... kamu kan istriku, atau kamu suka aku mengusap bahu wanita lain, hem?" Alis Aric terangkat. Ya, dalam keadaan Sashi emosi Aric masih sempat menggoda istrinya itu.


"Tuh kan Kakak terfikir seperti itu! Jahat! Jahat!" Sashi mendorong-dorong tubuh Sashi hingga membentur pintu. Aric meraih kedua bahu Sashi dan membalik posisi, kini Sashi yang terbentur pintu dan berada di kungkungan lengan Aric.


"Maaf jika perilakuku tadi di Mall menyakitimu!" Jemari Aric sudah mengusap-usap kepala Sashi, tubuh itu sudah menunduk hingga bibirnya bersapa kening Sashi.


"Jangan cium-cium aku! Aku belum bilang memaafkan Kakak!"


Aric melonggarkan tubuhnya dan mengangkat dagu Sashi. "Apa penjelasanku sebelumnya masih belum cukup, hem? Tidak ada yang lain di-sini dan di-sini!" Aric menyentuh dada untuk hati dan kepala untuk otak. Wajah Sashi seketika berbinar.


"Sudah memaafkan aku, kan?" Aric menahan tengkuk Sashi dan mencium singkat bibir itu.


"Ja-wab!" lirih Aric.

__ADS_1


"Sebelum kujawab, jawab dulu tanyaku!"


"Katakan!"


"Kenapa Kakak sayang aku? Sayang saja Salwa itu yang cantik, tinggi semampai, bodinya aduhai, dewasa juga tidak seperti aku yang kekanakan!" tukas Sashi.


"Tidak butuh alasan untuk mencintai. Pun kamu juga akan menjadi ibu anak-anakku!"


"Hanya itu alasan Kakak? Itu tidak menjawab semua tanyaku!" Sashi mengerucutkan bibir sambil membuang pandang.


"Oh ya, maaf atas ucapanku yang mengatakanmu kekanakan, kata itu tiba-tiba saja lolos dari bibirku. Jujur justru sifat kekanakanmu itu yang membuat aku selalu rindu, Sashi Mumtaz!" bisik Aric.


Mendengar nama panjangnya di sebut wajah Sashi semakin berbinar, tapi ia berusaha masih jual mahal dan menutupi bias wajah itu.


"Tapi aku tidak mau Kakak berucap meninggi seperti tadi, hatiku langsung sakit. Bahkan anak-anak Kakak di perutku langsung saling menendang tidak terima Papanya kasar pada Maminya."


"Benarkah begitu?" Aric berlutut mengarahkan wajahnya ke perut Sashi.


"Hai Sayang-sayang Papa, maaf Papa tadi khilaf membuat mami kalian sedih. Papa akan berusaha lebih menjaga perasaan mami lagi. Kalian mau kan memaafkan Papa?" lirih Aric sambil terus menciumi perut buncit Sashi. Berhubung dress yang dikenakan Sashi saat ini berbahan rayon. Sashi terus menggerakkan tubuh kegelian.


"Kakak sudah! Ayo bangun, aku geli!"


"Ka-kak ...! Iya, iya ... aku memaafkan Kakak, tapi aku punya syarat!" Aric berdiri.


"Hah? Ada syaratnya pu-la, kah? oke katakan Papa harus apa agar Mami tersenyum lepas lagi!"


"Jangan sampai ada pertemuan dengan Salwa di belakangku!" bisik Sashi.


"Tentu saja. Itu syarat yang mudah! Untuk apa pula aku bertemu Salwa!"


"Sungguhkah i-tu mu-dah?" Aric mengangguk.


"Oke aku pegang ucapan, Kakak! Tapi kalau Kakak melanggar, aku akan sangat marah! Pun Bayi-bayi Kakak di perutku juga dapat dipastikan enggan melihat Kakak saat menatap dunia!" ucap Sashi lagi.


"Oh Sayang ... kenapa bayi-bayi kita selalu kamu bawa dalam pembicaraan kita?"


"Biar! Mereka itu satu hati denganku! Kalau Kakak menyakitiku berarti Kakak sedang menyakiti mereka!" lugas Sashi dengan wajah serius.


"Hmm ... baiklah, aku terima persyaratanmu." Aric tersenyum.


"Kakak jangan senang dulu! Masih ada syarat kedua!"

__ADS_1


"Syarat lagi?" Sashi mengangguk.


"Oke katakan!"


"Aku tidak mau kita datang ke pertunangan Salwa!" lugas kata itu terucap.


"Hahh! Kenapa?"


"Kakak kaget, pasti Kakak kecewa bukan tidak bisa melihat sang mantan lagi?" Sashi menatap wajah Aric, wajah berbinar sebelumnya mendadak hilang melihat raut kaget yang terlihat di wajah suaminya itu.


"Jangan tampilkan wajah muram ini lagi! Masalahnya bukan suka atau tidak, tapi kita memang wajib menghadiri undangan bukan?"


"Kakak mencari pembenaran!"


"Kenapa kamu enggan datang? Bukankah kamu akan datang bersamaku, apa yang dirisaukan?" Aric mengusap-usap pipi Sashi.


"Aku akan membuat malu Kakak!"


"Ma-lu kenapa?" Aric menaikkan dagu Sashi hingga wajah itu terangkat. Mata keduanya saling mengunci.


"Pasti kebanyakan yang hadir adalah model-model dengan tubuh semampai yang cantik seperti kak Salwa. Aku pendek, perutku buncit dan tubuhku berisi seperti bola. Aku dan kakak seperti angka 10! Sangat tidak cocok! Aku tidak mau datang! Pasti akan membuat malu Kakak!" Bola mata Sashi mengarah ke bawah, Sashi berhenti menatap Aric. Sangat nyata Sashi kehilangan kepercayaan dirinya.


Dikecup singkat berkali-kali bibir kecil Sashi. Aric memeluk bahu itu. "Sashi Mumtaz yang paling cocok mendampingi Alaric! Biarkan yang lain bicara apapun, untukku kamu justru seksi saat sedang hamil begini!"


"Kakak bohong lagi! Gombal!"


"Aku serius, Sayang! Kamu paling cantik dari perempuan mana pun! Sashi Mumtaz wanita tercinta Aric tak peduli banyak bidadari lain mendekat!"


"Aku tidak percaya! Tadi saja saat bertemu kak Salwa Kakak sudah seperti terhipnotis lupa padaku!"


"Kami lama tak bertemu, Sash. Wajar aku surprize dengan keberadaanya. Sudah kukatakan maaf tadi, bukan! Tolong jangan ungkit lagi!" Aric serius dengan ucapannya.


"Kakak sungguh tidak malu membawaku ke pesta itu?" lirih tanya itu kembali terucap. Aric mendekatkan bibirnya ke pelipis Sashi.


"Aku tidak malu! Aku justru bangga memiliki istri yang sangat menggemaskan dan akan memberiku 2 bayi sekaligus! Kamu harus percaya aku!" Sapuan di bahu Sashi sudah berpindah ke tengkuk. Aric mendekatkan kecupan di kedua pipi Sashi bergantian. Kecupan itu beralih ke bibir dengan pewarna nude yang lembut. Kecupan lembut yang membangkitkan gairah keduanya seakan enggan mengakhirinya.


"Aric ... Sashi, ini sudah jam 5 Sayang! Kalian sudah melakukan ibadah Ashar atau belum?"


...__________________________________________...


☕Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2