
Pukul 23:40 tiga raga memasuki rumah berdominasi abu-abu. Keadaan rumah tampak sudah gelap. Ya, malam memang sudah begitu larut, tentu semua raga sudah terlelap. Sashi menggandeng Salwa menuju ke sebuah kamar sedang Aric memilih langsung menuju kamarnya.
Beberapa saat Sashi menyusul, bukannya langsung mengistirahatkan diri, ia justru sibuk memilih-milih pakaian di lemari, Aric semakin bingung dibuatnya.
"Sayang ... sini!"
"Sebentar ya, Kak!" Baru saja Sashi hendak keluar dengan membawa piyama atas bawah, Aric memanggil lagi.
"Sash, kenapa mengganti pakaiannya di luar?" Sashi duduk di tepi ranjang, menatap netra lelakinya yang dipenuhi tanya.
"Pakaian ini bukan untukku, tapi untuk kak Salwa. Ia butuh pakaian ganti, Kak!"
"Jangan biarkan orang lain menggunakan pakaianmu, Sayang!"
"Ini hanya pakaian, Kak. Kakak ingat waktu aku pakai piyama ini Kakak menertawakanku karena piyama ini kebesaran untukku. Nah, sekarang piyama ini akan bermanfaat. Tubuh kak Salwa yang tinggi akan pas menggunakannya. Aku sudah tidak pakai, jadi aku membiarkan pakaian ini dipakai orang lain. Untuk pakaian yang kusuka, tentu aku tidak akan biarkan orang lain menggunakannya." Aric menatap Sashi sesaat baru mengangguk setelahnya.
"Ucapan Sashi masuk akal! Biarkanlah apa yang ingin Sashi lakukan asal membuatnya senang. Sashi baik, tapi memang aku harus bisa menjaga hatinya," batin Aric.
...~∆∆∆~...
Pagi menjelang, seperti biasa setelah menjalankan ibadah subuh, Sashi memilih berjalan memutari rumah merehatkan otot-ototnya. Berhubung semalam Aric tidur larut, Sashi membiarkan Aric tidur lagi setelah menjalankan ibadahnya dan tidak mengganggunya untuk menemaninya berkeliling pemukiman.
Sashi masuk ke kamar setelahnya, menyetel video senam hamil melalui LCD besar di kamarnya dan mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan instruktur.
Berbagai gaya melenturkan otot-otot paha dari yang dilakukan sambil duduk, posisi memiringkan tubuh hingga terlentang diikutinya. Hingga dirasakannya pelipis itu mulai berpeluh, Sashi merehatkan tubuh. Ia menyelunjurkan kaki di sofa sambil menyesap jus alpukat yang dibuatkan Ningsih.
Jemari Sashi masih sibuk menggulirkan layar 6 in, saat Aric yang sudah terbangun ikut merebahkan diri di atas sofa di sampingnya. Jemari kekar itu sudah melingkar ke perut Sashi dan memeluk 3 raga orang tercintanya sekaligus.
"Kakak sudah bangun?"
"Hemm, maaf aku tidak menemanimu joging. Aku sangat mengantuk, Sayang," ujar Aric membenamkan wajahnya ke tubuh Sashi.
"Iya, Kak. Tidak apa-apa."
"Sebentar lagi bunda pasti memanggil untuk sarapan. Kakak mandi sana!"
"Kamu sudah mandi?" Sashi menggeleng. "Kakak saja duluan baru aku!"
"Hmm .... Bagaimana supaya lebih efisien, kita mandi bersama, yuk!" lirih Aric menaikkan tubuhnya hingga bersejajar dengan Sashi kemudian ia berbisik.
"Tidak mau! Bukan efisien yang ada justru lebih lama, Ka-k!"
"Janji hanya mandi, Sayang!"
"Ti-dak, Papa nakal!"
"Sashi Mumtaz, please!"
"Ma-af! Lain kali ya, Kak ...." Sashi menampilkan wajah memelas.
"Hmm ... ya sudah!"
Melihat Aric sudah masuk ke kamar mandi, Sashi melangkahkan kaki kini ke kamar Aira. Ya, belakangan ini Shiza memang senang tidur menemani omanya.
Kamar Aira ternyata kosong, dua raga beda usia nyatanya sedang menghabiskan waktu di Taman, Sashi berbaur. Shiza seperti biasa langsung menciumi perut Sashi.
"Semalam pulang jam berapa, Sayang?" tanya Aira.
"Setengah 12an, Bun."
"Kenapa begitu larut! Tidak kasihan dengan tubuhmu!"
"Iya, maaf, Bun." Sashi yang menoleh seketika melihat bayang Salwa, Sashi memanggil.
"Kak Salwa, sini!" Aira kaget Sashi memanggil nama seseorang.
"I-ni si-apa, Sash?" tanya Aira.
"Seorang teman, Bun. Semalam kami bertemu dan Sashi mengajaknya menginap!" Aira menatap lekat wajah putrinya baru ia memaksa tersenyum.
"Siapa namamu, Nak?
__ADS_1
"Salwa, Tante."
"Rumah Salwa di mana? Apa Salwa sakit? Kenapa seperti pucat?" Aira langsung menanyakan berbagai hal pada Salwa. Aira merasa iba.
Sambil bercengkrama, beberapa kali Salwa menutup mulutnya menahan mual. Sashi yang sangat paham Salwa sedang mengalami morning sickness segera ke dapur meminta Ningsih membuatkan teh panas untuk Salwa dan menyiapkan 1 porsi lagi potongan buah untuk Salwa.
Baru hendak ke halaman, Sashi melihat Aric keluar dari kamar. Langkahnya langsung berhenti. Sashi mengalungkan lengannya ke leher Aric dan berjinjit.
"Papa Shiza terlihat sangat tampan pagi ini! Apakah penampilan seperti i-ni disebabkan ada mantan terindah yang menginap?" bisik Sashi. Aric menarik gemas hidung Sashi.
"Istri yang nakal! Mana ada begitu! Penampilanku tentunya kutujukan untukmu, lagipula kufikir tidak ada yang beda dengan penampilanku!" Aric membungkuk mendaratkan bibirnya di pipi lembut Sashi, senang Aric menciumi istrinya, pun Sashi juga terlarut ikut memejamkan mata. Keduanya tak sadar ada Salwa yang ingin kembali ke kamar untuk membersihkan diri menonton segalanya.
"Astagfirullah Aric, Sashi!" pekik Aira yang tiba-tiba masuk dengan Shiza. Aric dan Sashi langsung saling menjauh kaget.
"Papa senang makan mami!" celoteh Shiza membuat Sashi dan Aric makin tak enak hati.
"Permisi, Sash, Arr," lirih Salwa saat melewati raga Aric dan Sashi. Sashi memaksa tersenyum sedang Aric mengangguk.
Sashi masuk ke kamar diikuti Aric setelahnya. Sashi memilih-milih pakaian dan memanggil Aric.
"Kakak!"
"I-ya?"
"Tolong berikan pakaian ini pada Salwa, ya!"
"Pakaian lagi? Sudah biarkanlah, Sash! Ini sudah pagi, dia juga akan pulang, kan?"
"Tapi dia belum pulang sekarang, Kak!" Aric membuang napasnya kasar.
"Kamu saja yang berikan!"
"Aku mau mandi, Kak!" Bibir Sashi sudah memberengut saja.
"Ya sudah sini!" Aric keluar setelahnya membawa pakaian Sashi.
TOK TOK
"Ini titipan dari Sashi!"
"Kalian sangat baik, terima kasih, Arr," ucap Salwa.
"Aku hanya mengikuti ingin istriku, jika sudah lebih baik sebaiknya kamu pulang!" ucap Aric.
"Kamu mengusirku, Arr?"
"Jangan salah paham, bagaimana pun pernah ada hubungan antara kita di masa lalu. Jadi tidak baik kita berada dalam satu atap! Sashi itu baik dan aku tidak ingin menyakitinya!" Salwa bergeming tak menyangka mendengar setiap ucapan Aric. Salwa mengangguk.
"Ma-af, Wa!"
"Kamu sangat cinta Sashi, Arr?"
"Iya. Sangat! Dia ibu anak-anakku!" Ada tatapan kepiluan di sana mendengar ucapan Aric.
"Seandainya dulu a-ku ti-dak_______
"Jangan lanjutkan, Wa!" sela Aric tak ingin ada kata pengandaian yang tidak mungkin dan hanya menciptakan angan kosong. Salwa menatap lekat wajah Aric.
"Apa aku sudah benar-benar hilang dari hatimu, Arr?"
"Sudah sangat lama itu terjadi! Ya, sejak Sashi mulai dekat denganku!" Napas kasar itu keluar dari indra Salwa.
"Sekarang aku hanya ingin bahagia bersama Sashi dan anak-anak kami, itu saja!" Netra itu berkaca, banyak penyesalan dirasa Salwa tapi semua tentu tidak bisa dibalik lagi. Ia menunduk.
"Aku akan pulang secepatnya!" Pintu kamar itu seketika ditutup.
•
•
Seluruh raga sudah berkumpul di ruang makan terkecuali Salwa. Sashi yang bingung Salwa tak jua keluar kamar akhirnya memutuskan mendatangi kamar itu. Namun, belum lagi sampai, Salwa sudah lebih dulu terlihat. Setelan jeans dan blouse semalam melekat di tubuhnya. Ia berjalan mendekati Sashi.
__ADS_1
"Mengapa Kakak menggunakan pakaian kemarin? Apa pakaianku tidak cukup di tubuh kak Salwa?" Salwa tak menjawab, ia hanya tersenyum.
Salwa menatap seksama wajah Sashi. "Terima kasih niat baikmu, Sash. Aku senang mengenalmu," lirih kata itu terucap.
"Kakak kenapa? Jangan bilang Kakak sudah ingin pergi!" Salwa mengangguk.
"Tapi kondisi Kakak belum baik!"
"Aku sudah lebih baik, terima kasih banyak!"
"Tunggu di sini, Kak!" Sashi berucap ke arah Salwa dan berjalan menuju ruang makan. Ia mendekati Aric.
"Ada apa, Sayang?" Aric terlihat bingung melihat Sashi berjalan tergopoh.
"Kak, Kak Salwa sudah mau pergi!" Aric berdiri dan mendekati Sashi, keduanya kini menuju kamar Salwa. Aira diam-diam mengikuti anak dan menantunya itu juga.
"Di-mana Salwa?"
"Tadi dia di sini, Kak!"
Keduanya mengedar pandang dan mencari-cari keberadaan Salwa. Aric menuju pintu keluar dan Sopo membenarkan bahwa teman mbak Sashi sudah pergi. Sopo juga memberikan surat titipan Salwa pada Aric. Aric masuk dan memberitahu semua pada Sashi. Sashi membuang napasnya kasar, ia tak tega sebetulnya tapi Salwa berhak memutuskan sendiri jalan hidupnya.
•
•
Tuk Sashi dan Alaric.
Kalian berdua cocok, sama-sama pribadi yang baik! Aku memutuskan pergi pagi ini, karena jika aku tetap berada di antara kalian hatiku takkan sanggup, aku akan iri dan bukan tidak mungkin aku akan menginginkan Aric kembali padaku!
Semua yang terjadi dalam hidupku adalah salahku, masalahku! Tidak berhak aku memasukkan kalian di dalamnya! Dulu aku meninggalkan Aric dan kini aku ditinggalkan. Jujur aku bingung menjalani hidupku ke depan, kak Bima bahkan tak bisa dihubungi. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku akan tetap mempertahankan janinku dan membesarkannya!
Semoga persalinan Sashi diberi kelancaran dan kalian bahagia selamanya!
Sahabat kalian,
Salwa.
_______________
Sashi dan Aric saling menatap setelah surat itu selesai dibaca.
"Kak Salwa sudah pergi!" Aric mengangguk.
"Apa Kakak sedih kak Salwa pergi?" tanya itu diucap Sashi. Aric menarik hidung istrinya itu.
"Ahh, Ka-kak sa-kit!"
"Nakal! Pertanyaan macam apa itu!" Sashi tersenyum puas.
"Tapi aku sedih kak Salwa pergi, Kak!" Aric sungguh heran mendengar penuturan Sashi.
"Kenapa sedih?"
"Aku tidak bisa meledek Kakak lagi!" ucap Sashi. Aric menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi aku lulus ujian, kan?"
"Belum!"
"Hahh! Ada ujian lagi, kah?"
"Ada! Ujian menjadi Papa dari 3 orang anak!"
"Papa, Mami, ayo ke meja makan Shiza sudah lapar! Papa, nanti setelah makan Shiza mau berenang dengan Papa!"
"Itu ujian pertama Kakak! Dua ujian yang lain masih senang berada di perutku!" bisik Sashi.
Di kejauhan Aira yang menyimak segalanya tenang tak ada masalah baru dalam kehidupan putri dan menantu pahlawannya.
...________________________________________...
__ADS_1
☕Happy reading😘