
Ciitttt ....
Rem itu seketika diinjak Aric. Ia yang hendak bertemu klien menghentikan laju kendaraan tiba-tiba. Baru saja Kaysan menelepon memastikan bahwa Lutfi sedang berada di Medan saat ini. Pun Aric membenarkan dan disampaikanlah setelahnya berita yang sedang meluas di media sosial mengenai seorang ustad dan manajernya yang meninggal tertimpa batu besar yang longsor di jalan lintas Medan-berastagi.
Tubuh Aric seketika lemas, ponsel itu terjatuh. Masih terdengar suara Kaysan yang terus memanggil namanya, namun ia abaikan. Aric menarik napasnya panjang berusaha menetralkan sesak yang seketika memenuhi dada. Pun ingatannya kembali pada peristiwa pagi tadi saat Lutfi mengajaknya bicara berdua.
•
•
"Duduk Aric!" Aric menurut.
"Sepertinya baru kemarin aku menikahkanmu dengan Sashi." Aric menyimak dan tersenyum.
"Pasti putriku itu sering menyulitkanmu, bukan?"
"Sama sekali tidak, Yah!" lugas Aric menatap wajah paruh baya yang tampak agak pucat dengan wajah sendu tak seperti biasanya. Mendengar jawaban Aric, Lutfi tersenyum.
"Putriku itu ibarat buah yang dipaksa matang sebelum waktunya. Ia terlihat sama seperti buah lain, tapi sesungguhnya jiwanya tak siap. Aku selaku ayah mohon maaf jika putriku masih sering kekanakan! Aku bahkan belum memberi pemahaman rumah tangga sebelumnya, tapi ia sudah jadi istri saja. Aku kecolongan! Putriku hamil di usia muda aku bisa apa!" Netra Lutfi berkaca. Aric yang tahu segalanya mampu merasakan kesedihan itu. Ya, walau Kaysan adalah ayah biologis Shiza, tetap saja Kaysan tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka dijebak!
"Justru sebaliknya Ayah, walau Sashi sering manja, tapi Sashi cukup dewasa dalam bersikap dan Aric bangga. Aric berterima kasih, sebab semua tak lepas dari didikan Ayah dan bunda. Justru Ariclah yang sering menyakiti Sashi," lirih Aric. Lutfi tersenyum ada kelegaan dirasanya, ia senang jika Aric senang memiliki Sashi. Terlepas seringnya Aric menyakiti putrinya itu, Lutfi sudah ikhlaskan semua dan yakin semua yang terjadi pasti cara Pencipta ingin mendewasakan putrinya dan mengokohkan pondasi pernikahan mereka.
"Syukurlah jika kamu sadar sering menyakiti putriku!" Aric menunduk.
__ADS_1
"Tapi setiap orang tentu pernah salah dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyukai orang yang berbenah jika ia salah, jangan lagi ulangi! Terutama pada kesalahan yang sama!" Lugas Lutfi, Aric mengangguk.
"Arr, sesungguhnya menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama! Karena dengan menikah kamu sejatinya sedang menyempurnakan setengah agama dan perjalanan kehidupanmu." Aric menyimak seksama setiap kata itu.
"Dan kamu sebagai suami tentunya imam yang memiliki kewajiban seperti dalam Qur'an Surat An-Nisa ayat 34 : الرجال قوّامون على النساء بمافضل الله بعضهم على بعض : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). Bahwa lelaki dalam segala hal lebih unggul dari pada wanita!" Aric mengangguk memahami yang dimaksud Lutfi.
"Jujur Ayah sering merasa bersalah, dulu perekonomian Ayah tidak seperti saat ini, hingga akhirnya Bunda turut mengambil peran membuka catering untuk menutupi kekurangan Ayah. Membuat ia disibukkan dengan aktivitas, hingga perannya di rumah di nomor duakan. Ayah ikhlas, toh niat bunda baik. Tapi keadaan itu berlanjut walau nyatanya Ayah sudah bisa menutupi kekurangan itu. Bisnis catering bunda berkembang pesat, membuat ia berat meninggalkannya. Kami berdua sibuk, hingga Sashi kami alihkan pada Khatijah atau yang biasa kalian panggil mima. Syukurlah kami menemukan sosok shalihah dan penyanyang untuk merawat Sashi. Sashi tumbuh dalam didikan mima yang lebih banyak berinteraksi dengan Sashi ketimbang kami orang tuanya." Netra Lutfi berkaca.
"Ahh ... itulah sepenggal noda dalam kehidupan mertuamu ini, Nak! Hal yang seringkali Ayah sesalkan! Mengapa kami begitu sibuk! Tapi Ayah bangga padamu dan Sashi. Kamu lebih senang Sashi tetap di rumah bersama anak-anak ketimbang membiarkan Sashi berkarir. Pun Sashi juga menikmati perannya itu!"
"Jujur memang Sashi yang menginginkan itu, Yah. Ia ingin memberi kasih sayang penuh untuk Shiza, memberi kasih sayang yang kurang ia dapati selama ini!" lirih Aric yang membuat netra berkaca itu seketika mengeluarkan bulir. Ya, Lutfi yang selama ini tak pernah mendengar Sashi berkomentar tentang kesibukannya dan Aira, justru bisa terbuka dan menyampaikan rasanya pada Aric.
"Ma-af, Yah. Aric tidak bermaksud menyinggung." Lutfi mengangguk.
"Tidak apa-apa, justru Ayah berterima kasih kamu telah mengisi Sashi, Nak! Tetaplah berperilaku baik sebab wanita sesungguhnya merupakan tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk lainnya. Seandainya kamu paksa luruskan, kamu bisa mematahkannya. Namun seandainya kamu biarkan, maka selamanya ia akan bengkok dan itulah tugasmu untuk menasehatinya dengan lembut dan baik. Karena hati mereka sesungguhnya sangat lembut dan jiwa mereka lemah." (HR Imam al-Bukhari dan Muslim) Aric mengangguk.
"Ayah ... tentu saja Aric akan menjaga Sashi dan bunda selama Ayah ke Medan!" Lutfi mengangguk.
"Tapi satu Arr!"
"Iya, Yah?"
"Sifat baikmu yang sok pahlawan itu sebaiknya kamu kurangi terlebih untuk orang asing! maksud Ayah adalah kamu harus lebih berhati-hati dan berfikir sebelum bertindak. Jangan sampai hal lalu terulang, kebaikanmu justru menjadi jurang untuk keluargamu sendiri. Ingat prioritasmu yang utama adalah kebahagiaan Sashi dan anak-anak! Jadi tolong jaga dan bimbing Sashi dengan baik. Juga pada Aira, anggaplah ia seperti ibu kandungmu sendiri!" Aric mengangguk.
__ADS_1
"Itu saja yang ingin Ayah sampaikan! In Syaa Allah persalinan Sashi akan mudah. Tetap dampingi putri Ayah! Sayangi dan jangan pernah tinggalkan!" Lutfi merangkul bahu tegap Aric. Mereka menahan rangkulan itu cukup lama.
...~∆∆∆~...
DUG ... DUG ....
Suara ketukan dari arah luar mengaburkan angan Aric. Lelaki yang sedang tercekam pilu itu seketika membuka jendela dimana terdapat seorang pria tegap dengan kostum polisi berdiri.
"Maaf Mas! Jangan parkir di sembarang tempat!" lugas pria itu.
Aric yang hatinya tak tenang seperti orang linglung saja, ia mengangguk tanpa ekspresi. "Apa Mas baik-baik saja?" Tanya itu spontan menyadarkan bahwa Aric harus baik-baik saja. Ia harus segera pulang dan mengabarkan yang terjadi. Ada istri dan bundanya yang saat ini harus ia kuatkan.
"Sa-ya baik, Pak!"
"Oke kali ini saya hanya beri teguran, tapi lain kali saya akan bertindak tegas!"
"Te-rima ka-sih, Pak!" Aric menutup jendela dan segera melajukan mobil. Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Seseorang yang memiliki jaringan luas dan pandai melacak sesuatu.
"Han, cari tau mengenai longsor yang terjadi di daerah Berastagi hari ini! Semua korban atau berita apapun yang kamu dapat segera kabari padaku."
Aric ingin memastikan lagi semua sebelum ia mengabari pada anggota keluarganya. Aric menarik napas panjang.
"Semoga itu bukan A-yah, tapi jika itu memang Ayah ... berarti ucapannya adalah pesan terakhirnya untukku!"
__ADS_1
...________________________________________...
☕Happy reading😘