Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
SIAPA AYAH CIARA?


__ADS_3

Adzan Magrib baru saja terdengar saat Aric melangkahkan kaki turun dari mobilnya. Ia langsung menuju mushola yang terdapat di belakang rumah sakit untuk menjalankan ibadah. Aric menuju kamar Ciara setelahnya.


Dilihatnya Aruna baru saja membuka mukena saat Aric membuka pintu. Aruna memang mulai rajin beribadah. Agaknya perubahannya tidak main-main, Aric senang. Aric menuju ranjang Ciara, mengelus kepala dan mencium keningnya. Aruna menghela napas melihat pandangan itu.


"Bagaimana kondisi Cia kata dokter?" tanya Aric melihat Aruna menghampirinya.


"Pemulihan Ciara di luar dugaan sangat cepat. Sumsum yang diberi Kaysan sangat cepat menyatu dengan tubuh Ciara. Komposisi darah merah mulai tercukupi. Lusa Ciara sudah boleh pulang, tapi setiap dua minggu sekali harus dilakukan kontrol." Ucap Aruna.


"Alhandulillah, aku sangat senang," utar Aric.


"Mas, bisa kita bicara berdua di luar?"


"Oh, tentu." Aric yang sejak datang sudah berniat bicara pada Aruna merasa dipermudah.


Keduanya melangkahkan kaki ke luar kamar dan berdiri di sisi jendela. Mata mereka awas memperhatikan Ciara yang sangat tenang tertidur.


"Kita duduk di sana!" ajak Aric. Aruna mengangguk, ia mengikuti langkah Aric menuju kursi tunggu pasien yang tampak kosong.


"Katakan yang ingin kamu sampaikan!" lugas Aric mempersilahkan Aruna lebih dulu mengucap isi otaknya.


Aruna menatap Aric sekilas namun segera membuangnya. Ia berkata, "Mas ... talaklah aku sekarang! Aku siap!" Aric menatap netra itu. Mencari kesungguhan dari pinta Aruna.


Ya, Aric tak menyangka dengan yang baru saja ia dengar. Aruna jelas-jelas mempermudahnya. Ya, Aruna sudah tau momen ini pasti akan terjadi.


"Dari pada aku mendengar lebih dulu semua dari bibirmu, Mas. Aku memilih yang memintanya. Ya, setidaknya aku berpisah dengan terhormat bukan ditinggalkan," batin Aruna.


Aric menutup mata, ada kelegaan di sana. "Terima Kasih," lirihnya.


"Ucapkanlah, Mas! Sambil doakan kehidupanku ke depan bersama Ciara. Do'akan langkah kami selalu dibimbing oleh Pencipta, bisa bersabar menjalani Hidup dan tetap menjaga harga diri dan tidak kalah lagi dengan keadaan!" lirih kata itu terucap, Aric mengangguk.


"Aruna Syafitri, mulai detik ini aku haramkan jiwa dan ragamu untuk kusentuh. Aku menceraikanmu! Kudoakan semoga kamu selalu bahagia, dimudahkan jalan hidupmu dan bisa bermanfaat untuk sesama. Mulai detik ini, kamu bukanlah istriku dan sebaliknya. Mohon maaf jika aku bukan sosok suami baik untukmu!" lugas Aric.


Seketika bulir menetes dari pelupuk mata Aruna setelah mendengar doa yang diucap Aric. Hati itu tersentuh, lelaki yang ia kagumi berdoa baik untuk hidupnya. Aruna mengangguk.


"Terima kasih, Mas."


"Tunggulah di sini!" Aric masuk ke kamar dan beberapa saat ia keluar lagi membawa sebuah map.


"Ini untukmu dan Ciara! Harus diterima!"


Aruna menatap wajah Aric dan perlahan membuka map tersebut. "A-pa ini, Ma-s?" Wajah itu terlihat bingung.


"Aku mengasuransikan pendidikan untuk Ciara, bisa diambil setelah 5 tahun. Yang di dalam map coklat itu kartu ATM dan buku tabungan, gunakan untuk keperluanmu dan Ciara!"


"Mas?" Netra Aruna menatap lekat Aric, bingung mengapa Aric begitu baik padanya.

__ADS_1


"Jangan menolak! Setidaknya agar aku tenang!"


"Oh ya satu lagi! Jangan jual rumah yang kamu tempati sekarang, itu atas nama Ciara, jadi biarkan itu kelak menjadi miliknya!"


"Ciara tidak punya ikatan apapun denganmu, tidak perlu terlalu baik, Mas!" ujar Aruna.


"Bagaimana aku mengatakan ini, Cia memiliki ikatan denganku. Aku anak Rico perwira, pria berengsek yang telah menghamilimu. Itu berarti Ciara adalah adikku. Mana bisa aku biarkan adikku hidup susah sedang aku hidup berkecukupan," batin Aric.


"Mas ...."


"Eh, i-ya?"


"Setelah Ciara keluar rumah sakit aku akan pergi ke Surabaya," lirih Aruna.


"Surabaya? Ada family kah di sana?" Aruna mengangguk.


"Ibu dan adikku tinggal di sana. Sudah waktunya aku pulang dan memohon maaf pada me-reka."


"Itu bagus. Jaga hidayahmu, jangan kembali lagi pada keburukan!"


"Aamiin."


"Jika Ciara ingin bertemu aku, datang saja!"


"Ti-dak? maksudnya?"


"Lebih baik bagi kami tidak masuk dalam hidup Mas lagi! Aku harus menjaga perasaan Sashi. Oh iya, ngomong-ngomong ... selamat atas kehamilannya, walau masih muda ia gadis yang pintar, kalian sangat serasi! Semoga kalian bahagia selalu."


Aric tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih!"


"Kita kembali ke kamar, Mas!"


"Tentu."


"Oh ya, Mas, setelah hari ini tidak perlu menjenguk Ciara lagi! Jemputlah Sashi dan fokuslah menjaganya. Memiliki bayi dan hamil pasti membuatnya letih. Juga terima kasih atas semua pemberianmu, semoga Allah memberi ganti yang lebih banyak untukmu!"


"Aamiin. Tapi bagaimana jika Ciara menanyakanku?


"Aku sudah memberi pengertian padanya!" lugas Aruna.


"Oh."


Dua raga masuk dalam kamar isolasi, mata bulat itu telah terbuka.


"Bunda dari mana saja? Hai Om Aric!"

__ADS_1


Aric menoleh ke arah Aruna. Ia kaget Ciara sudah mengganti panggilannya. "Ini yang seharusnya," lirih Aruna.


"Hai cantik, kamu sudah bangun?" tanya Aric mendekat.


"Sudah, Pa, eh Om!" Ciara meletakkan jemari di depan mulutnya.


"Ciara masih boleh panggil Papa, kok," ucap Aric.


"Tidak, Om! Bunda tadi cerita. Om Aric itu Papa Shiza bukan Papa Cia. Papa Cia sangat baik dan tampan, tapi ia sudah di syurga!"


"Oh." Aric menoleh pada Aruna. Aruna menunduk.


"Sudah jangan banyak bicara dulu, Sayang. Oh iya karena Cia tidur ini makan malamnya belum di makan. Kita makan dulu ya, Nak! Nanti kalau Cia pulih, bunda akan daftarkan Cia sekolah."


"Yeaa ... Cia akan sekolah .... A bunda." Ciara langsung membuka mulutnya lebar.


Beberapa saat setelahnya, Cia tampak sibuk bermain dengan boneka marsya kesukaannya. Aric yang mendengar penuturan Cia beberapa saat lalu mengenai ayah kandungnya, ingin memastikan semua.


"Runa, duduklah ada yang ingin aku tanyakan!" Aruna menurut.


"Maaf aku tanya ini, siapa ayah Ciara sebenarnya? Yang jelas kutau dia bukan Bagas, tapi siapa?" Aruna diam sesaat baru berucap lagi.


"Siapa ayah Ciara tidak penting, Mas!"


"Tapi aku ingin tahu!" Aruna bergeming diam seribu bahasa.


"Apa ia Rico Perwira pengusaha mebel ternama itu?" Aruna menoleh dengan cepat.


"Jadi benar dia?" Aruna masih terdiam dengan wajah dipenuhi tanya.


"Kenapa Mas Aric bisa terfikir tentang pria itu?" batin Aruna.


"Aku tidak kenal dengan nama yang Mas sebutkan itu!"


Aric membuka ponsel dan menunjukkan foto Rico. "Lihat foto ini, apa dia ayah Ciara? Mungkin kamu lupa namanya, tapi kamu tidak akan pernah lupa wajahnya, bukan?" Aruna menarik napas panjang. Ia menatap lekat netra Aric.


"Kenapa foto lelaki itu ada di ponselmu, Mas? Siapa kamu sebenarnya?" lugas Aruna.


"Kamu pasti akan kaget. Ia Papaku!"


"Hahh?"


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2