Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
KAKAK SERING BEGITU DULU DENGAN SALWA?


__ADS_3

"Sayang sekali, Arr. Jujur dibanding kekasih Salwa yang sekarang Tante lebih menyukaimu! Hah ... sudahlah!"


Aric memaksakan diri untuk tersenyum. Ia melepaskan jemari Sashi yang telah melepaskan kaitan jemarinya sejak tadi. Aric memindahkan jemarinya ke bahu Sashi dan menariknya hingga bahu keduanya merapat.


"Aric, siapa wanita yang tengah hamil ini?" tanya sang wanita paruh baya.


"Ini istri Aric, Tante! Kenalkan namanya Sashi." Sashi menatap sang wanita sambil mengangguk. Sedang sang wanita tampak memperhatikan Sashi dengan seksama.


"Cantik dan imut, namun rupanya seleramu kini sudah berubah, Arr!" Aric lagi-lagi tersenyum getir. Maksud hati mengenalkan Sashi agar Sashi merasa dianggap, namun kata yang tidak mengenakkan justru terdengar Sashi. Aric terus mengusap bahu istrinya itu, tak ingin Sashi marah dan memasukkan dalam hati kata yang didengarnya. Sashi menoleh ke arah Aric dan Aric menyunggingkan senyum pada wanitanya itu.


"Oh ya dan i-ni-----


"Ini Kaysan adik Aric, Tan."


"Oh, yang dulu masih kecil itu, ya?"


"Benar!"


"Putra-putra keluarga Perwira memang tampan. Kalian mirip Papa kalian!" Baik Aric maupun Kaysan mengangguk.


"Hai Kaysan, kenalkan Tante mamanya Salwa." Kaysan meraih uluran tangan di hadapannya. Baru saja sang wanita paruh baya hendak mendekatkan pipinya. Kaysan beranjak.


"Shiza mau ice-cream, kan? Ayo kita ke sana, Sayang," ucap Kaysan tiba-tiba.


"Maaf Kay permisi, Tante," ucap Kaysan. Sang wanita mengangguk lirih agak kesal salam perkenalannya seolah tak dihargai. Raga Kaysan dan Shiza menjauh.


"Maaf Tante, Aric juga permisi! Aric tidak bisa lama jadi langsung menemui Salwa saja."


"Oh, begitu kah? Jangan cepat-cepat pulang! Nikmatilah dulu pestanya, Nak!" Aric mengangguk. Pun Aric mulai melangkah membawa Sashi masuk.


"Nyonya Siska, ada kiriman rangkaian bunga ucapan selamat sebaiknya diletakkan di mana, ya?" Seorang pria tegap bertopi menghampiri.


"Taruh di sudut itu saja menghadap para tamu," jawab pria paruh baya yang sejak tadi menggenggam lengan mama Salwa. Ia kini mengajak mama Salwa masuk.


"Kak, apa mamanya kak Salwa itu sudah sehat?" Melihat Aric dan Sashi sudah masuk dan tengah mengedar pandang, Kaysan mendekat bersama Shiza yang membawa semangkuk es krim.


"Sepertinya sudah," jawab Aric.


"Tante itu memang sakit apa, Kak?" Sashi yang sejak tadi menyimak melontar tanya.

__ADS_1


"Aku juga kurang paham, Sayang. Seperti depresi mungkin. Aku ingat dulu saat mengantar Salwa, tante Siska sering terlihat sedang menangis di teras." Bibir Sashi membulat.


"Tapi ingatannya cukup bagus, Kak. Ia masih mengingat Kakak dan Kay."


"Iya, jika sedang baik ia memang normal, Sayang. Dulu bahkan kami sering mengobrol. Tapi ada kondisi tertentu yang sering membuatnya tiba-tiba menangis."


"Kasihan! Tapi kufikir ia sudah sehat, Kak. Bukankah sepasang wanita dan pria di muka hotel tadi menyebutkan mama kak Salwa seorang designer?"


"Betul. Kamu betul. Iya pasti sudah sehat." Ya, saat turun dari mobil memang ada sepasang muda mudi yang mencari lokasi pertunangan Salwa dan menanyakan perihal Salwa sang putri designer.


"Oh ya, maaf Sayang. Tadi aku sudah berusaha menghindari pipi tante Siska, tapi aku kalah cepat. Jangan marah padaku, oke!" Aric membungkukkan tubuh berbisik pada Sashi.


"Aku memaafkan karena ia sudah tua! Tapi memang lebih baik Kakak tidak melakukan hal seperti itu lagi! Tetap saja kalian bukan muhrim!" lirih Sashi, Aric mengecup puncak kepala itu.


"Terima kasih!" ucap Aric setelahnya.


"Kak, lihat itu mantan pacar Kakak sudah naik ke panggung!" Pun Aric, Sashi dan Kaysan yang berada tak jauh dari keduanya menatap bersama-sama ke arah depan di mana Salwa bersama seorang pria tampak berbicara di podium.


"Mantan pacar Kakak sangat cantik! Lihat bahunya yang putih dan kakinya yang panjang. Cantik!" bisik Sashi.


"Please Sash!" Aric berbisik balik.


"Jangan bicara macam-macam! Lihat pria yang sedang bersama anak kita itu. Adikku juga begitu tampan! Ia senang melirik kakak iparnya!"


"Kakak? Tega Kakak bicara seperti itu perihal Kaysan!"


"Tidak suka kan aku membahas masa lalu? Begitu pun aku! Jadi malam ini kita cukup datang dan mengucapkan selamat! Jangan membicarakan hal lain!" ucap Aric. Aric memanggil pelayan yang membawa minuman. Ia mengambil satu gelas minuman bersoda untuknya dan orange jus untuk Sashi.


"Aku tidak haus!"


"Oh." Pun Aric memberikan lagi orange jus Sashi pada pelayan baru Aric meneguk minumannya.


Sashi bergeming merekam setiap yang Aric ucapkan. Ia menatap wajah pria masa lalunya itu. Tak disangka di sana Kaysan juga tengah menatap ke arahnya, Kaysan membuang pandang menyadari Sashi memergoki dirinya. Sashi menoleh dan terlihat Aric menarik alis ke atas menatapnya.


"Sudah lihat kan kalau adikku selalu memperhatikanmu?" Sashi bergeming. Ia meraih lengan Aric dan merangkulnya erat. Sashi sungguh ingin Kaysan melihatnya sudah bahagia. Kaysan harus bisa melupakan dirinya.


Aric senang atas sikap Sashi, ia berkali-kali memiringkan wajah mencium puncak kepala Sashi. Keduanya kini menatap Salwa dan tunangannya mengucapkan terima kasih dan mengumumkan pertunangannya. Tampak setelahnya MC menuntun setiap prosesi hingga penyematan cincin oleh keduanya. Suasana tiba-tiba riuh dan semarak saat Salwa dan sang pria yang memang sudah lama tinggal di luar negeri itu saling menyatukan bibir di muka umum. Aric dan Sashi menoleh ke arah Kaysan yang sedang bersama Shiza. Keduanya tenang Kaysan menjaga putri mereka dengan baik. Terlihat Shiza sedang sibuk memakan aneka cake dalam piring kertas di tangannya tak menghiraukan riuhnya kondisi depan.


"Salwa sepertinya sudah lihai melakukan itu!"

__ADS_1


"Kamu juga pintar!"


"Dulu Kakak------


"Jangan bicara apapun!" Sanggah Aric seketika, ia meneguk minumannya lagi. Sashi langsung menatap Aric.


"Kakak pasti sering melakukan itu dulu!"


"Sudah kubilang jangan bicara apapun!"


"Tidak salah lagi! Walau tidak jawab aku sudah tau jawabannya!"


"Kamu juga dengan Kay, kan?" Sashi menatap Aric dengan tatapan marah.


"Aku dan Kay tidak pernah begitu!"


"Siapa yang percaya! Kalian bahkan punya Shiza!" datar Aric. Sebetulnya Aric sendiri tidak suka mengucapkan hal semacam itu tapi kata-kata itu terucap begitu saja, seolah sedang menyelamatkan diri.


"Itu karena kami dijebak dan Kakak sudah tau cerita itu. Untuk sebelum hari itu Kaysan selalu menjagaku, tidak pernah cium dan lain-lain!" Netra Sashi sudah berkaca.


Melihat raut kesedihan Sashi, Aric merasa bersalah. "Ada apa aku ini, mengapa bisa berasumsi seperti itu pada Sashi dan Kaysan! Tidak, mereka berdua tidak mungkin melakukan itu! Shiza hadir karena jebakan. Kalaupun keduanya melakukan, pasti tidak sadar! Dan mereka pasti tidak ingat itu! Hahh ... aku sungguh suami buruk! Menyamakan hubunganku yang sudah terjalin lama dengan Salwa dengan cinta monyet Sashi dan Kay! Maaf, Sayang!"


Aric sudah tak peduli pandangan sekitar, ia terus memeluk Sashi saat ini. "Ma-af Sayang, Ma-af! Aku berasumsi buruk! Aku jahat!"


"Kami tidak seperti Kakak!"


"Iya, sudah!"


"Aku mau pulang!"


"Kita temui Salwa sebentar!"


"Kakak saja yang bertemu Salwa, aku tidak mau. Moodku sudah buruk!"


"Sayang ... yakin membiarkan aku bertemu Salwa sendiri?"


"Jangan!"


...________________________________________...

__ADS_1


☕Happy reading😘


__ADS_2