Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
PIL PEMBERIAN BUNDA


__ADS_3

"Sashh .. lo kok muntah-muntah sih? Lo lagi hamil ya?"


"Hahh ... ha-mil?" Hal yang tidak terfikirkan oleh Sashi tiba-tiba terucap Rena. Ya, Sashi terlalu sibuk menunggu waktu berlalu dan memikirkan kerinduannya pada Aric sampai tak peka pada tubuhnya. Sashi berdiri mematung mencerna hal yang baru saja ia dengar. Ia mulai mengingat-ingat gejala yang ia alami beberapa hari ke belakang.


"Benar ... dulu saat hamil Shiza aku juga seperti ini, sering mual, tidak masuk makanan, juga sering menggigil terkena air. Benarkah? Benarkah sudah ada calon anak kak Aric di sini?" Sashi membatin sambil terus mengelus perutnya.


"Sash ... lo baik-baik aja?"


"Ehh ...." Kesadaran itu kembali, Sashi langsung mendekati raga Rena. "Renn, lo keren lo bisa nebak hal yang gak gue sangka. Lo bener. Mungkin aja gue hamil! Iya, gue inget-inget gue emang blm dapet tamu bulan ini!" Wajah Sashi semringah.


"Yeaaa ... sohib gue hamil lagi. Yea ... Yeaa ...," pekik Rena sambil mengayun-ayun jemari Sashi. Pun Sashi tak kalah antusias. Ia jelas bahagia, senyum itu terus mengembang. Ia ikut berputar-putar mengikuti gerakan tangan Rena sampai tak menyadari Ningsih sejak tadi berdiri mematung di muka pintu.


"Sash ... Sashhh." Rena menarik alisnya ke arah Ningsih. Keduanya pun berhenti. Sashi langsung mendekat ke arah ART-nya itu.


"Bik ... Bibik denger semua?" Ningsih mengangguk.


"Bik ... Sashi hamil Bik ...." Sashi spontan memeluk wanita paruh baya yang juga sudah lama bekerja di rumah itu. Ningsih sahabat Mima. Sashi juga dekat dengan Ningsih walau hubungannya tak sedekat Mima. Sebab Mima memang fokus mengurus Sashi.


"Bibik ikut seneng, Mbak." Terbawa aura bahagia Sashi, Ningsih ikut tersenyum pula.


"Sash, tapi lebih pasti mending lo cek dulu kali, daripada udah seneng-seneng nggak taunya masuk angin doang." Saran Rena didengar Sashi. Sashi langsung meminta Ningsih ke Apotik membeli beberapa tespack.


10 menit berlalu, Ningsih kembali dengan 5 tespack sekaligus berbagai merek. Sashi segera masuk kamar mandi dan mengecek. Pun Sashi keluar setelahnya.


"Gimana Sash?" Rasa ingin tahu memenuhi wajah Rena.


"Bener hamil, Mbak?" Ningsih tak kalah penasaran. Matanya membulat menatap Sashi sambil mengayunkan Shiza yang mulai tertidur.


Sashi memberengut penuh kekecewaan beberapa saat dan tersenyum lebar setelahnya.


"Aku hamil!" Pekik kegembiraan terdengar memenuhi ruangan itu. Shiza yang baru ingin tidur sampai terbangun lagi. Semua senang.


"Mbak, ibu sama bapak pasti seneng mau nambah cucu!" Antusias Ningsih.


"Kak Aric juga pasti seneng tuh nambah anak, benihnya dia pula lagi!" Berbinar wajah Rena.


"Iyaa, eh tapi kalian jangan ada yang kasih tau berita ini dulu, ya!" Sashi menghadap Ningsih. "Bik, janji jangan kasih tau ayah dan bunda aku, ya! Aku sendiri yang mau kasih tau bareng kak Aric nanti!" Ningsih mengangguk.

__ADS_1


"Dan elo Ren, jangan keceplosan bilang ke kak Aric, yaa!"


"Siipp."


...▪♧♧♧▪...


Hari yang ditunggu tiba, setelah menjalankan ibadah Sashi langsung mandi dan bersiap untuk kedatangan Aric. Wajah yang biasanya kusut kini cerah merona terlebih setelah bibir itu diberi pewarna tak seperti biasanya. Sashi memang tak tau jam berapa Aric akan datang, tapi ia bersiap-siap saja.


Sashi melangkahkan kaki ke dapur mau mengisi teko yang habis di kamarnya. Di dapur ternyata ada Aira yang sedang menyiapkan sarapan. Aira memang senang memasak. Walaupun ia berbisnis, ia akan menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya baru ia akan pergi.


Aira menoleh saat Sashi menuang air ke dalam teko. "Tumben kamu nggak tidur lagi?" tanya Aira.


"Nggak Bund."


"Oh ya, hari ini Aric akan datang ya? Bunda sampai lupa, pantas kamu pagi-pagi sudah rapi!" ucap Bunda menatap wajah Sashi sekilas baru melajutkan memasak.


Sashi tersenyum. "I-ya, Bund."


"Sashh ...!" Baru saja Sashi melangkahkan kaki hendak ke kamar, Aira memaggil dan Sashi seketika berbalik. "Ada apa, Bun?"


"Bunda ingin bicara denganmu! Segera kembali ke dapur setelah meletakkan teko, oke!"


Tak menunggu lama Sashi sudah berada di dapur lagi, Aira meminta Ningsih melanjutkan aktivitasnya. Aira segera meminta Sashi duduk di meja makan dan ia duduk pula di hadapan Sashi. Aira menangkap wajah semringah Sashi, dalam hatinya senang. Setelah sepekan putrinya itu terus memberengut kini ia terlihat bahagia. Ya, Aira paham, dipisahkan dengan orang yang dicinta tentu tidak mengenakkan.


"Bunda senang melihatmu terus tersenyum seperti ini!" Aira memulai kata. Sashi tersenyum.


"Pasti Sashi senang Aric akan datang, hem?"


"I-ya, Bunda," jawab Sashi malu-malu.


Aira menatap lekat wajah ayu putrinya itu. Ia menarik napas panjang baru melanjutkan obrolannya.


"Sash, bunda punya sesuatu untukmu!"


"Apa itu, Bunda?"


Aira melenggang masuk ke dalam kamarnya dan tak lama keluar lagi dengan menggenggam sesuatu. Ia meletakkan barang yang dibawanya ke atas meja.

__ADS_1


"Obat? Obat apa ini, Bunda? Siapa yang sakit?" tanya Sashi kaget Aira meletakkan satu strip obat berbentuk butiran-butiran kecil di hadapannya.


"Ini sebuah penjagaan. Shiza masih terlalu kecil, rumah tanggamu juga sedang ditimpa ujian. Minumlah pil ini sebelum Aric datang!"


"Penjagaan dari apa, Bunda?" tanya Sashi kembali. Ia yang memang baru pertama melihat pil semacam itu tidak paham maksud Aira. Di kejauhan Ningsih terus menggeleng-geleng melihat perilaku majikannya. Ia yang mengetahui kehamilan Sashi merasa sedih.


"Ibu Aira sangat kelewatan, secara tidak langsung ia tak ingin mbak Sashi hamil! Andai ia tahu, bahkan yang ia takutkan sudah terbentuk di dalam rahim itu!" batin Ningsih.


"Penjagaan dari kehamilan, Sayang."


"Hahh?"


Sashi seketika bergeming, ia sangat kaget dengan ucapan Aira. "Penjagaan kehamilan? Apa bunda tidak suka kalau aku hamil? Tapi aku sudah hamil?" monolog Sashi.


"Duhh sudah jam 7. Bunda harus mengantar bahan masakan ke ruko. Ratri yang biasa mengambil ke rumah sedang cuti. Sashi tidak apa kan Bunda tinggal? Sebentar lagi pasti Aric datang, kan?"


"Sash, ada apa, Nak?" Aira melakukan panggilan ulang karena Sashi terus bergeming.


"Heh, i-ya Bun-da!"


"Suamimu mau datang mengapa banyak termenung, hem?"


"Ti-dak apa-apa, Bun-da!" terbata kalimat itu terucap. Aira begitu sibuk sampai abai bahasa ekspresi Sashi.


"Okelah, Bunda harus berangkat. Jangan lupa minum pil ini 2 butir oke! Jangan sampai tidak dan jangan ditunda! Pa-ham?" ucap Aira sambil mencium puncak kepala Sashi. Sashi menatap wajah Aira. Ada rasa perih di sudut hatinya, mengapa bundanya tidak memahaminya. Ia menarik napas panjang baru mengangguk setelahnya.


Sashi masih duduk di ruang makan itu, ia termenung. Dilihatnya Punggung wanita yang melahirkannya semakin menjauh, wanita itu menoleh sesaat, melambaikan tangan sambil tersenyum dan sesaat kemudian terdengar deru mobil yang menandakan bundanya itu telah pergi.


Sashi menjatuhkan kepalanya ke atas meja, ia terisak. Ningsih mendekat dan menyapu rambut panjang itu, Sashi mengangkat wajahnya. "Apa aku harus meminum pil ini, Bik?"


"Tentu saja jangan! Bahaya untuk janin mbak Sashi!"


"Tapi aku sudah mengangguk tadi!" Ningsih mengambil 2 butir pil itu dan membuangnya ke tong sampah.


"Nahh ... sekarang minum air ini! Pilnya sudah mbak Sashi makan barusan!"


__________________________________________

__ADS_1


☕Happy reading😘


☕Like, komen, votenya jangan lupa yaa❤❤


__ADS_2