
Tiga Detektif itu langsung terdiam saat melihat sejumlah pria bersenjata sedang mengepung mereka.
"Kalian...adalah mafia?" tanya Sam.
"Aku bukan mafia, Aku hanya seorang pebisnis biasa, Sayangnya kalian datang menganggu hidupku. Tentu saja aku tidak suka," jawab Aaron.
"Aaron Andres Davidson, apa yang ingin kamu lakukan? Membunuh kami?" tanya Lui yang mulai cemas.
"Tembak saja aku, Bukankah tujuan kalian adalah memeras uangku," ujar Aaron.
"Tiga polisi yang terkenal serakah dan sering saja menangkap orang yang tidak bersalah. Kalian sering menuduh mereka melakukan sesuatu yang mereka tidak lakukan. Dengan cara ini kalian meminta uang pada mereka yang menerima tuduhanmu. mereka yang takut di penjara hanya bisa pasrah membayar uangnya. Setiap bulan rekening kalian pasti ada yang transfer uang. Hebat sekali, kini rekening kalian sudah gemuk," ucap Louis yang melempar lembaran kertas kepada mereka.
Sam dan rekannya terbelalak kaget saat melihat isi kertas putih itu.
Louis memberi perintah dengan menyentik jari pada anggotanya. Mereka langsung merebut pistol milik polisi itu.
"Kenapa kalian bisa mengetahui akun rekening kami?" tanya Gordon yang ditahan oleh anggota Aaron.
"Tidak sulit bagi kami untuk menyelidiki saldo rekening seseorang," jawab Louis.
"Mungkin kalian sudah bosan hidup sshingga datang menantang bos kami," lanjut Louis.
"Kalian siapa sebenarnya?" tanya Lui.
"Untuk apa kau ingin tahu, datang ke tempat kami, sama saja kalian sedang mencari masalah," jawab Louis.
"Tahan mereka!" perintah Aaron yang bangkit dari sofa.
Anggotanya menahan tangan para detektif itu di atas meja.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gordon yang ditekan kepalanya di meja. Dua anggota Aaron membuat polisi itu tidak berkutik sama sekali.
"Aaron, lepaskan kami! Kalau kau menyakiti kami, Kau juga tidak akan bisa lolos," teriak Sam yang ketakutan.
Aaron mengutip serpihan botol kaca yang berserakan di lantai dan menghampiri Sam yang ditekan oleh anggotanya itu.
"Bukankah tadi kalian sedang memerasku dan mengancamku? Kenapa sekarang malah ketakutan? Aku tidak suka diancam dan diganggu. Tapi, kalian sudah melakukannya," ujar Aaron.
"Tolong lepaskan kami, Kami adalah warga San Fransisco, Kami bisa menemukan istrimu," ujar Sam.
"Aku tidak butuh bantuanmu, Aku memiliki banyak anak buah. Jadi, kalian sama sekali tidak berguna bagiku," kata Aaron yang langsung menikam telapak tangan Sam.
"Aarrghh...," jeritan Sam yang kesakitan. Serpihan kaca menancap tangannya sehingga mengeluarkan banyak darah.
"Aarrgh...."
__ADS_1
Aaron menikam telapak tangan tiga polisi itu sehingga mereka tidak berdaya dan mengerang kesakitan.
"Aarrghh...."
"Ini adalah akibatnya kalian datang mengancamku, Aku adalah Aaron Andres Davidson tidak suka ditantang. Tapi, kalian adalah sampah masyarakat yang berani mengancamku. Sepertinya kalian sudah bosan hidup," kata Aaron.
"Kami akan menuntutmu, Kamu telah menyerang polisi," teriak Sam.
"Lempar mereka ke depan departemen kepolisian!" perintah Aaron yang kembali duduk di sofa sambil mengelap bekas darah yang di tangannya. Pria itu sama sekali tidak takut pada pihak kepolisian dan dengan santainya ia sengaja mengembalikan anggota polisi itu.
"Baik, Bos," jawab Louis.
"Sampaikan pada atasan kalian, Jangan sampai aku mendatanginya, Kalau tidak, bukan hanya kehilangan posisinya dia juga akan kehilangan segalanya," kecan Aaron.
Tiga polisi tersebut dibawa pergi dalam kondisi luka di tangan mereka masing-masing .
"Bos, kenapa mengembalikan mereka?" tanya Louis.
"Hanya sampah tidak berguna, Untuk apa kita membuang waktu. Sebarkan rekaman! Aku ingin semua warga San Fransisco dan juga pihak kepolisian melihatnya!"perintah Aaron.
Louis kemudian melepaskan rekaman yang di ruang tamu itu, Semua kejadian dan pembicaraan Aaron dan tiga polisi telah terekam.
Di sisi lain Sam dan dua rekannya dilempar dari mobil begitu saja oleh anggota Aaron. Mereka sama sekali tidak ragu menghentikan mobilnya tepat di depan Departemen.
Bruk...
Tidak lama kemudian rekan mereka keluar dan menghampiri mereka.
"Sam, Lui, Gordon, ada apa dengan kalian?" teriak rekannya yang cemas melihat kondisi mereka yang terluka.
"Cepat antar kami ke rumah sakit!" pinta Sam yang kesakitan.
"Baiklah!" jawab rekannya itu.
Jam dinding menunjukan pukul 23.00.
Angelina sedang memasukan pakaiannya di tas miliknya. Ia akan segera berangkat menuju Shanghai bersama Zean. Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak gembira dan lebih sering terlihat murung.
"Besok aku akan pergi, Kita tidak akan bisa berjumpa lagi. Aaron, walau kamu sudah menyakitiku. Aku tetap akan melahirkan anak ini. Karena anak ini adalah satu-satunya harta yang penting bagiku. Selama hidupku tidak pernah bertemu dengan hal yang baik. dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah merasakan bahagia. Aku berharap setelah pergi ke Shanghai aku bisa memulai hidup baru. aku ingin melupakan bayang-bayang masa lalu. dan hidup demi anak ini," batin Angelina.
"Anakku, Maafkan mama, karena kamu harus kehilangan papa. Mama tidak tahu harus bagaimana. Kita hanya bisa hidup di negara orang. Mama tidak ingin kembali ke papamu. karena mama takut setelah melahirkanmu mama akan diusir dan berpisah denganmu. Papa sama sekali tidak mencintai mama. Hubungan ini harus diakhiri dan tidak boleh dilanjutkan lagi," ucap Angelina sambil menyentuh bagian perutnya.
Keesokan harinya.
Berita pencarian Angelina masih berlanjut, Hari itu para masyarakat dihebohkan dengan tawaran hadiah yang awalnya 1 Milliyar Dollar kini menjadi 2 Milliyar Dollar. Foto Angelina masih tersebar di berita hingga koran dan internet.
__ADS_1
Sementara Angelina yang melihat berita tersebut ia semakin cemas atas ulah suaminya itu.
"Dia sangat gila, 2 Milliyar Dollar hanya untuk mencari seorang wanita yang dia sakiti, Apakah nilaiku setinggi itu? Apakah begitu penting diriku sehingga tawarannya selangit. Andaikan aku ditemukan...apa yang akan kamu lakukan padaku?" gumam Angelina.
"Angelina," suara Zean yang dari luar kamar.
"Iya," sahut Angelina yang membuka pintu kamarnya.
"Kamu sudah siap?" tanya Zean.
"Aku sudah siap kemas, Apakah kamu ingin membawa sesuatu? Aku bisa membantu ambilkan."
"Tidak ada! Aku hanya membawa beberapa set pakaian saja, di sana pakaianku sudah ada," jawab Zean.
"Zean, aku takut," ucap Angelina.
"Takut apa?"
"Foto-fotoku sudah tampil di berita, internet dan di setiap jalan. Karena ulahnya aku menjadi buronan," jawab Angelina yang khawatir.
"Tidak ada yang bisa mengenalmu, Jangan takut. Lihatlah aku sudah ada persiapan untukmu. Kaca mata hitam, Masker, Topi. Setelah kamu mengenakannya. tidak ada yang bisa mengenalmu lagi," kata Zean sambil memberikan topi dan lainnya kepada Angelina.
"Apakah kamu yakin di jalan dan bandara tidak ada anak buahnya?"
"Bandara hanya khusus untuk pesawat pribadiku. Jadi, jangan takut ada orang lain. percayalah padaku kita akan berhasil," ujar Zean.
"Apakah kamu akan kembali ke sini?"
"Iya, aku harus pulang pergi, Tapi, kamu jangan takut. di rumahku itu masih ada pembantu lain. karena kamu akan tinggal di sana. Jadi, mereka akan menemanimu di sana," jawab Zean.
"Baiklah."
Perjalanan.
Mobil Zean menuju ke bandara.
Sepanjang jalan Angelina melihat poster besar yang tempel di setiap depan toko di pinggir jalan pusat kota. wajahnya telah tersebar ke mana-mana sehingga ia harus menutupi dirinya saat keluar.
"Aku menjadi buronannya, Mudah-mudahan kami bisa lolos ke bandara," gumam Angelina.
Angelina yang memandang ke luar jendela matanya fokus pada seorang pria yang baru turun dari mobilnya.
Mobil yang ditumpang Angelina dan Zean melewati restoran itu.
"Aaron," batin Angelina. mata wanita itu berkaca-kaca saat melihat suaminya. Ia sangat merindukan pria itu. akan tetapi karena tersakiti sehingga ia membuat keputusan untuk pergi dari hidup suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu terlihat baik-baik saja, Tapi, kenapa masih saja tidak melepaskan aku." Angelina masih memandang ke arah suaminya yang melangkah masuk ke dalam restoran. walau mobilnya sudah semakin jauh dari posisi restoran itu.