
Dua anggota yang berjaga di luar menarik Steve keluar dari sana.
"Lepaskan tanganmu!" teriak Steve yang berusaha melawan.
"Ini adalah urusan kami, Kalau kau masih sayang dengan nyawa sendiri. Maka, silakan pergi," ketus Louis.
"Tuan! Tuan!" seru Steve yang ditarik keluar. Sementara Anthony sedang kesakitan dan berkeringat dingin di sekujur tubuhnya.
"Aaron, Melawan orang tua kau akan menerima karma," ucap Anthony yang menahan sakit.
"Dari sejak dulu aku tidak pernah melawan orang tua, Justru dirimu yang suka mencari masalah denganku. dan sekarang kamu dan putramu harus menanggung karma sendiri," kata Aaron.
"Racun apa yang kamu berikan padaku?" tanya Anthony yang kesakitan.
"Sejenis racun untuk mempertemukanmu dengan putramu satu-satunya," jawab Aaron.
"Apa maksudmu?"
"Apakah kamu ingin tahu di mana putramu?" tanya Aaron.
"Apa yang kamu katakan?" teriak Anthony.
"Dia telah dibuang ke laut," jawab Aaron.
"Tidak! tidak! Kau tidak perlu bercanda denganku," ketus Anthony.
"Bukan bercanda, Tapi, itulah kenyataannya!"jawab Aaron.
"Apa yang kamu lakukan pada putraku?" tanya Anthony yang histeris. Pria itu berdiri sambil memegang perutnya.
"Hanya beri pelajaran! Putramu bersifat serakah oleh sebab itu aku menjebloskan dia ke dalam penjara. Karena aku tidak puas. Maka aku menyuruh anggotaku memberinya pelajaran saat di dalam penjara," jawab Aaron.
"Tidak mungkin! Kau hanya berbohong saja. Di dalam penjara kamu tidak memiliki wewenang sama sekali. Sekarang Gigs masih dalam kondisi baik-baik. Baru beberapa hari yang lalu aku melihatnya. Jadi, apa yang kamu katakan semuanya tidak benar," bentak Anthony yang tidak percaya.
"Apakah kamu mengira kepala petugas penjara memindahkan putramu ke ruangan yang lebih bagus hanya karena bayaranmu?" tanya Aaron.
"Apa?"
"Dan saat kamu ingin bertemu apakah putramu keluar dan bertemu denganmu?" lanjut Aaron.
Anthony semakin ketakutan saat mendengar ucapan keponakannya itu. Bagaimanapun dia tidak akan bisa menerima kematian putra semata wayangnya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Anthony dengan emosi dan ingin menghampiri Aaron akan tetapi ia dihentikan oleh Louis.
"Beritahu dia!" perintah Aaron pada Louis.
"Dengar baik-baik! Putramu dihajar oleh puluhan tahanan. Dia dipukul sehingga kaki tangannya juga dipatahkan. Setelah itu dia dibunuh dan dibuang ke laut," ungkap Louis.
__ADS_1
Anthony membulatkan mata besarnya memandang Louis karena tidak bisa menerima kenyataan dan sangat terpukul. Pria tua itu mengeleng-geleng kepalanya karena memilih tidak percaya.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku yakin dia masih di dalam sana! Aku pergi melihatnya saat itu. Kepala petugas penjara yang memberitahuku," teriak Anthony.
"Dia telah menerima uangku yang jumlahnya sepuluh kali lipat darimu, Oleh sebab itu ia hanya berbohong padamu. Di malam itu saat kamu menuju ke penjara saat itulah putramu ditenggelam di dasar lautan," ujar Aaron yang bersikap tenang dan sambil menyantap makanan.
"Aaron, Katakan padaku apa yang kamu katakan hanyalah bercanda. Anakku masih hidup,kan? aku yakin dia masih hidup," ucap Anthony.
"Dia dibuang dalam kondisi yang mengenaskan, Tahanan yang menghajarnya memberitahuku. Bahwa putramu berteriak dan menangis saat disiksa oleh puluhan orang itu. Tentu saja selain giginya tanggal...kaki dan tangannya juga dipatahkan begitu saja. Ia sangat menderita sebelum meninggal" ujar Louis yang membuat Anthony semakin histeris.
"Kau hanya bohong padaku, Karena ingin membalas dendam kalian merekayasa cerita bodoh ini untuk membuatku gila," teriak Anthony yang menarik kerah kemeja Asisten Aaron.
"Untuk apa kami harus merekayasa cerita untuk membohongimu, hanya membuang waktu saja. Putramu itu memang sudah seharusnya menerima pembalasan dariku. Aku cukup sabar selama ini hanya karena pesanan papaku yang harus mengalah padamu. Tapi, ketika kesabaranku sudah habis maka aku tidak akan berdiam lagi dan membiarkan kalian bertindak sesuka hati," kata Aaron.
"Aku tidak percaya kalau kamu akan melakukan ini pada adikmu sendiri. Gigs masih hidup, kan? dia tidak mati dan masih hidup. Aku yakin sekarang dia masih di dalam penjara," ucap Anthony yang tidak bisa menerima kenyataan.
"Kau bisa saja mengkhayal, Karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya," ucap Aaron.
"Kau tidak akan melakukan itu pada kami, aku adalah pamanmu," teriak Anthony yang menahan sakit dan berkeringat di sekujur tubuhnya.
"Kamu ingin meracuniku, Kemudian ingin merebut semua milikku. Apakah di saat itu kamu menganggapku sebagai keponakanmu," ujar Aaron.
"Anthony Davidson, semuanya telah berakhir. Jangan salahkan aku bersikap kejam padamu," ketus Aaron.
"Bawa dia pergi!" perintah Aaron.
"Kau tidak percaya dengan kami? Lihat saja rekaman ini, setelah itu kau akan tahu apa yang kami katakan adalah benar atau tidak," kata Louis yang menunjukan rekaman yang di handphonenya.
Anthony semakin terpukul saat melihat rekaman itu. Putra semata wayangnya harus menerima siksaan yang sadis dari puluhan tahanan.teriakan dan tangisan terdengar begitu jelas dan sangat menyakitkan hati Anthony sebagai ayahnya.
"Aaargghh...," teriakan Anthony yang histeris. pria itu menangis karena melihat kejadian yang menimpa putranya.
Tidak lama kemudian ia tumbang tergeletak tidak berdaya dan menahan sakit yang luar biasa. Anthony berteriak tanpa berhenti sambil menepuk dadanya dengan keras.
"Gigs...kenapa kau bisa bernasib seperti ini? tidak seharusnya kamu disiksa dan dibuang begitu saja. Kamu adalah putraku. Papa salah karena tidak bisa melindungimu. Papa salah karena gagal melindungi," tangisannya yang histeris.
"Aaron, Dia adalah adikmu. Kenapa kau bisa begitu tega padanya. Kau membunuhnya dan membuangnya seperti seekor binatang," teriak Anthony.
"Bagiku dia memang binatang, Dia bukan adikku lagi setelah dia berencana ingin membunuhku. Begitu juga dirimu yang bukan pamanku lagi. Semua yang terjadi pada kalian adalah akibat dari perbuatan dari kalian sendiri. Aku hanya membalas semua perbuatan yang kalian lakukan padaku," ketus Aaron.
Angelina yang telah mendengar semuanya ia beranjak dari kursi dan kembali ke kamarnya. Gadis itu merasakan aura kekejaman dari calon suaminya itu.
"Bawa dia pergi! aku tidak ingin melihatnya lagi!" perintah Aaron.
"Baik, Bos!" jawab Louis.
"Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!" teriak Anthony yang histeris dan ditarik keluar oleh Louis.
__ADS_1
"Kembalikan anakku...," teriakannya.
Aaron menarik nafas panjang dan kemudian menghabiskan segelas air putih.
Sementara Angelina berada di kamar dan berdiri di dekat jendela.
"Apakah dia adalah mafia atau pembunuh? Kenapa dia bisa begitu kejam terhadap seseorang? Kalau saja mereka jahat kenapa tidak serahkan kepada polisi saja? Bagaimana kehidupanku selanjutnya kalau menikah dengan pria seperti ini," gumam Angelina.
"Kawasan sini tidak ada yang bisa lolos, Aku tidak mungkin lagi bisa kabur dari dia. dan hanya bisa menikah dan patuh padanya. Kenapa malang sekali nasibku," gumam Angelina.
Klek ..
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Aaron yang baru melangkah masuk.
"Sudah kenyang," jawab Angelina.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Aaron yang menghampiri gadis itu.
"Tidak ada! Aku hanya kenyang," jawab Angelina tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Kamu sama sekali tidak makan, ada apa?"
"Sudah ku katakan aku masih kenyang, Kalau aku lapar aku akan makan nanti," jawab Angelina.
"Apakah ada masalah?"
"Tidak ada!" jawabnya yang kemudian duduk di ujung kasur.
Aaron mendekati gadis itu dan mencubit dagunya dengan perlahan.
"Sisa beberapa hari lagi, Siapkan dirimu menjadi istriku," kata Aaron.
"Pernikahan yang tidak ada arti," jawab Angelina yang menepis tangan pria itu.
"Suka atau tidak kamu tidak ada pilihan lain."
"Silakan keluar dari kamarku, Aku ingin istirahat," kata Angelina.
"Selamat malam!" ucap Aaron yang kemudian meninggalkan kamar itu.
Sementara Anthony dibawa ke pelabuhan yang di mana jasad Gigs dilempar ke laut sana.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" teriak Anthony yang ditarik keluar dari mobil.
"Buka matamu dan lihat tempat ini! Di sini adalah tempat pembuangan jasad putramu. Apakah kau ingin menyusul?" bentak Louis yang mendorong Anthony hingga tersungkur.
"Gigs! Gigs!" teriak Anthony yang merangkak mendekati air itu. pria itu berteriak dan menangis.
__ADS_1