
Mansion Christoper.
Di malam itu Calvin duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Diana. Raut wajah pria itu sedang murung setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh Diana terhadap Angelina.
Jam dinding menunjukan pukul 04.00
Klek...
Suara pintu yang dibuka oleh Diana yang baru pulang.
Wanita itu ingin berjalan menuju ke anak tangga. Kemudian ia memandang kakaknya yang sedang duduk di sana.
"Kakak, kenapa masih duduk di sini?" tanya Diana yang menghentikan langkahnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, seorang wanita pulang pada pukul 04.00, apa yang kamu sibukkan?" tanya Calvin.
"Kakak masih ingat denganku?"tanya Diana dengan sengaja menyindir.
"Apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Usiamu tidak muda lagi, Kenapa masih saja kekanakan." Calvin bangkit dari sofa dan menghampiri adiknya.
"Apakah karena wanita itu kamu marah padaku? Apakah ada bukti kalau aku yang menyakitinya? Kakak, sejak kapan kamu menjadi seorang yang tidak masuk akal?"
Plak...
Tamparan yang dilakukan oleh Calvin.
"Kakak menamparku karena dia?" tanya Diana yang menyentuh wajahnya.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Kamu adalah seorang wanita yang akan menikah suatu saat nanti, Apakah kamu tidak berpikir andaikan kamu di poisisi Cecillia yang sedang menderita dan hamil besar...apa yang akan kamu lakukan," bentak Calvin.
"Ce-Cecillia?" tanya Diana yang hampir tidak percaya dengan sebutan yang keluar dari mulut kakaknya itu.
"Iya, Angelina yang kamu sakiti itu adalah adik kita yang kamu buang semasa dia masih bayi," jawab Calvin dengan nada ketus.
Diana langsung memundurkan langkahnya dan langsung tersungkur karena tidak bisa menerima bahwa adiknya kini telah kembali.
"Tidak mungkin!" ucap Diana sambil mengeleng-geleng kepalanya.
"Bayi kembar yang hampir meninggal karena ulahmu adalah keponakan kita, Tiga nyawa hampir hilang karena kamu." Calvin dengan penuh emosi melihat tingkah adiknya itu.
Diana yang selama ini mengharapkan kematian adiknya, kini harapannya telah pupus sudah.
__ADS_1
"Mulai hari ini jangan coba-coba kau mendekati Cecillia dan bayinya, Karena aku sebagai kakak akan melindungi adik dan keponakanku dari penjahat," kata Calvin dengan mengancam.
Rasa tidak percaya dengan ucapan kakaknya membuatnya semakin terluka, Diana berdiri dengan penuh kekecewaan.
"Penjahat? Apakah di hatimu aku adalah penjahat? Kenapa menuduhku melukainya? Aku tidak melakukan apa pun."
"Rekaman tersembunyi yang dipasang Zean telah merekam apa yang kamu bicarakan dengan Cecillia, Karena tekanan darimu sehingga membuatnya hampir kehilangan nyawa. Aku dan papa mendonorkan darah untuknya. Cecillia sempat meninggal karena pendarahan yang tidak berhenti. Anak-anak yang tidak berdosa itu hampir kehilangan ibunya. Apakah kamu masih tidak sadar di mana letaknya kesalahanmu," bantak Calvin dengan nada tinggi.
Diana diam seribu bahasa dan cemas karena perbuatannya yang telah terungkap.
"Ingat kataku! Mulai saat ini jangan coba-coba menyakiti Cecillia dan anak-anaknya! Karena keegoisanmu telah menghancurkan hidupnya. Dia hidup menderita di rumah orang. Sementara kamu menikmati kemewahan di rumah kita. Kamu memiliki segalanya dan bebas melakukan apa saja. Sedangkan dia harus berjuang untuk hidup dan diksiksa setiap hari. Serta hidup dalam ketakutan. Semua ini karena ulahmu," ketus Calvin.
"Diana Christoper, kalau bukan karena aku melihat kondisi kesehatan papa yang semakin menurun. aku tidak akan sungkan mengusirmu keluar dari sini," ketus Calvin yang menuju ke anak tangga.
Diana mengepal kepalan tangannya dan menahan emosi..
"Angelina, kau adalah adikku? Kenapa kau harus kembali lagi? Kali ini kau kembali membawa dua anak jahanam itu. Cecillia, kenapa kau selalu saja menghantuiku? Seharusnya kau mati saat itu. Tapi, mengapa kau malah bisa lolos dari kematian," batin Diana.
"Jangan-jangan dia...," ucap Diana yang mengingat masa lalu.
Flash Back.
Diana yang baru berusia 7 tahun sedang melarikan adiknya dari rumah sakit. Malam itu ia menuju ke jalan yang sepi tanpa siapa pun di sana. Gadis kecil itu berdiri di sana sambil mengendong adiknya yang baru lahir. Ia melihat jalan depan yang adalah komplek perumahan.
"Kalau di komplek ini, Mereka akan menemukan Cecillia, Kalau ditemukan sama saja dia akan dikembalikan kepada orang tuaku. Apa yang harus aku lakukan agar tidak ada yang tahu keberadaannya," gumam Diana.
Diana yang memperhatikan suasana jalan itu ia kemudian menuju ke arah lain.
"Cecillia, maafkan aku, di keluarga kita hanya ada aku, tidak boleh ada kamu. Aku harus meletakanmu di tempat yang sepi agar tidak ditemukan oleh siapa pun," batin Diana.
Setelah berjalan selama beberapa menit Diana menghentikan langkahnya. Ia melihat jalan yang sepi dan tidak ada rumah warga. Ia bertekad maju ke depan walau ia sendiri juga ketakutan.
Tidak lama kemudian bayi malang itu menangis dengan kuat, Ia seakan menyadari bahwa dirinya akan segera dibuang oleh kakaknya sendiri.
Woak...woak...woak...
Tangisan Cecillia semakin kuat. tubuhnya mengigil karena cuaca yang dingin.
Diana kemudian meletakan adiknya di pinggir jalan. Karena risih dengan tangisannya dan takut diketahui. ia pun menutup mulut dan hidung adiknya sehingga tidak bersuara.
"Jangan menangis lagi," ujar Diana yang melihat sekelilingnya yang sepi tanpa ada siapa pun di sana.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian,nBayi malang itu akhirnya terdiam akibat kekurangan oksigen.
"Kenapa tidak bergerak?" tanya Diana yang menepuk pipi adiknya.
"Sudah meninggal," ucap Diana yang ketakutan.
"Bagus juga, Kamu memang tidak seharusnya hidup di keluarga kami," ucap Diana.
"Kau sudah membunuhnya," suara seorang pria yang tubuhnya berlumuran darah.
Diana yang menoleh ke arah suara itu berada, ia langsung berteriak ketakutan.
"Aarrgh...."
"Adikmu sudah meninggal, Hidupmu akan dihantui olehnya," ujar pemuda itu yang sekitar usia belasan tahun.
"Aarrgh...," jeritan Diana yang langsung kabur dari sana.
Pemuda itu kemudian memeriksa nada Cecillia.
"Sudah meninggal," gumamnya.
Pemuda yang tidak tahu dari mana asal usulnya ia menekan dada bayi itu dengan perlahan dan sambil memberi nafas dari mulut ke mulut. Setelah melakukan beberapa menit bayi yang baru lahir itu akhirnya sadar dan menangis begitu kuat
"Adik, kakak akan membawamu ke tempat yang banyak orang. sisanya takdir yang menentukan nasibmu. Kalau kamu pulang ke rumahmu. tetap saja akan ada yang membunuhmu. Aku tidak bisa membawamu pergi. karena kondisiku juga sedang dalam bahaya," ucap pemuda itu yang meletakan bayi itu ke jalan yang dekat komplek sana.
"Adik, apakah ini adalah kalungmu? Tanggal lahirmu baru seminggu yang lalu," kata pemuda itu yang melihat liontin tersebut.
"Simpan baik-baik! mungkin dengan kalung ini akan mempertemukanmu dengan keluargamu lagi," ujarnya yang memasukan liontin ke dalam baju bayi itu.
Setelah memastikan suasana aman, ia kemudian pergi meninggalkan bayi malang itu. hingga saat ini tidak ada yang tahu asal usul pemuda itu.
Flash Back Off
"Pasti pria itu yang menyelamatkan dia saat itu, seharusnya aku tidak membiarkan begitu saja. andaikan aku membawanya pergi...Cecillia pasti tidak akan hidup," gumam Diana.
...****************...
Sambil menunggu up. Silakan mampir ke karya berjudul
Istri Ke Lima Untuk Pemuas( sudah tamat)
__ADS_1