
"Kalau butuh bantuan hubungi saja aku!"
"Paman masih bisa mengatasinya, Hanya urusan kesal. Sekarang tujuan utamaku adalah ingin mendapatkan orang yang telah melapor dan menyebabkan Gigs harus ditahan," kata Gigz.
"Kalau paman Izinkan, Maka... aku pasti akan turun tangan," ujar Aaron.
"Tidak perlu! Paman memiliki banyak kenalan dan pasti bisa mengungkap siapa yang menjebloskan adikmu ke dalam penjara," jawab Anthony.
"Kalau butuh bantuanku, Jangan sungkan memberitahuku," kata Aaron.
"Candy, ambilkan minuman untuk Pamanku!" perintah Aaron.
"Baik, Tuan!" jawab Candy dengan sopan.
Candy menuangkan minuman ke gelas Anthony. tentu saja minuman yang dituangkan Candy bukanlah hanya sekadar minuman anggur biasa.
"Tuan, silakan diminum!" ucap Candy.
"Terima kasih," ucap Anthony.
"Angelina, Ayo...kita makan bersama!" perintah Aaron
"Ha?" tanya Angelina.
"Kamu adalah calon istriku, Tentu harus makan bersamaku," kata Aaron.
"Iya," jawab Angelina yang duduk di samping majikannya.
"Tidak tahu apakah gadis ini sudah mencampur racun itu ke dalam makanan bocah ini atau tidak," batin Anthony yang sedang memerhatikan Angelina.
"Angelina, apakah bisa tolong memasakkan bubur ayam untukku? belakangan ini pencernaanku mulai tidak begitu sehat. Jadi, aku hanya bisa makan makanan yang mudah dicerna," pinta Anthony dengan sengaja.
"Ini...,"jawab Angelina yang melihat ke arah Aaron yang di sampingnya.
"Paman, Kalau ingin makan bubur ayam, Aku akan menyuruh Candy untuk memasaknya," kata Aaron dengan tatapan tajam.
"Kalau begitu sangat merepotkan saja, paman ingin mencoba mencicipi masakan asistenmu ini, oleh karena itu aku ingin dia yang memasaknya," ujar Anthony.
"Paman, Angelina adalah asistenku, Jadi, dia hanya bisa masak untukku saja. kalau paman ingin mencicipi masakannya. di meja ini semua lauk adalah masakan Angelina," jelas Aaron dengan senyum.
__ADS_1
"Baiklah! kelihatannya kamu sangat menyayangi asistenmu ini," jawab Anthony dengan tertawa kecil sambil meneguk minumannya.
"Ini adalah undangan untuk paman, Jangan lupa datang di hari pernikahan kami," ucap Aaron yang memberikan undangan kepada Anthony.
"Kalian ingin menikah?" tanya Anthony hampir tidak percaya.
"Iya, Angelina adalah calon istriku," jawab Aaron.
"Baguslah kalau begitu, Kelihatannya kalian sangat berjodoh. paman ucapkan selamat untukmu," ucap Anthony yang bersikap tenang.
"Paman, ini hadiah kecil yang kamu berikan padaku, sekarang aku kembalikan padamu," kata Anthony yang mengembalikan botol kecil yang Anthony berikan pada Angelina sebelumnya.
"Ini bukankah racun yang ku berikan kepada gadis itu," batin Anthony dengan membulatkan mata besarnya.
"Kenapa? apakah paman sudah lupa kalau ini adalah hadiah yang kau berikan kepada calon istriku?" tanya Aaron dengan senyum tipis.
"Aku yakin kamu pasti sudah salah, aku tidak pernah memberikan apapun kepada gadis ini," jelas Anthony dengan mengelak.
"Benarkah? apa mungkin Angelina membohongiku?" tanya Angelina dengan menatap tajam ke arah pamannya.
"Louis," seru Aaron.
Louis mengeluarkan amplop dan memberikan kepada atasannya itu.
"Anthony Davidson, ini adalah milikmu, Lain kali jangan pernah memberi uang kepada orang lain apalagi menyuruhnya melakukan perbuatan jahat!" kata Aaron yang melemparkan amplop itu ke arah Anthony.
"Tuan, uang ini yang anda berikan kepada Angelina untuk pembayaran awal. Kalau keinginanmu dilakukan olehnya," ujar Louis dengan tatapan serius.
"Aku tidak mengerti maksudmu, dia hanya sembarangan. Mana mungkin aku memberi dia sejumlah uang dan botol kecil ini," jelas Anthony dengan menyangkal.
"Paman, tidak perlu menyangkal lagi! kau mengunakan uang untuk mengodanya agar Angelina meracuniku. Tapi, kamu tidak menyangka kalau tawaranmu sama sekali tidak bisa menarik perhatiannya," ujar Aaron.
"Aaron, jangan menuduhku hanya karena ucapan dia, dia hanya ingin memprovokasi kita saja, usir saja dia!" jelas Anthony.
"Jangan menghindar dari kesalahan dan melemparkan ke orang lain! Angelina adalah calon istriku. aku sangat memahami sifatnya, dan aku juga memahami sifatmu, Anthony Davidson," ketus Aaron.
"Kau memilih percaya dengan orang lain dan tidak percaya dengan paman sendiri," ujar Aaron.
"Paman, Aku sudah tahu niat jahatmu dari dulu, Selama ini dirimu dan putramu selalu saja berulang kali mencari masalah denganku. Akan tetapi aku hanya diam saja. Tapi, kali ini kalian sudah keterlaluan sehingga aku telah hilang kesabaran," kata Aaron.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Anthony.
"Putramu itu selalu datang tanpa diundang, Terakhir kali dia mengutuskan sejumlah anggota menyerang kawasanku. Apakah kamu ingin tahu ke mana mereka menghilang?" tanya Aaron sambil menyantap makanannya.
"Mereka harus menjadi santapan binatang buas,"ujar Aaron.
"Apakah Gigs di penjara adalah ulahmu?" tanya Anthony.
"Benar! Aku hanya ingin membalas apa yang dia lakukan," jawab Aaron.
"Dia adalah adikmu," ketus Anthony.
"Paman, dari sejak dia masih kecil kamu sudah sering memanjakan dia sehingga dewasa dia hanya tahu hidup foya-foya. Aku tahu apa niat kalian sebenarnya. Kalian menginginkan mansionku dan semua asetku," ucap Aaron.
"Ini hanya tuduhanmu," jawab Anthony.
"Masih ingin menyangkal, Di depanku kau tidak bisa melakukan apapun. Apa lagi memasuki kawasanku dan ingin membunuhku dengan obat ini. Kalau saja aku tewas kepalamu juga tidak akan bersatu lagi dengan tubuhmu," kata Aaron.
"Aaron, Kau sangat keterlaluan, Aku masih hidup kau sudah berani melawan anakku," ketus Anthony.
"Kalau kalian tidak menantangku, Maka semua ini tidak akan terjadi," jawab Aaron.
"Aarggh...," jeritan Anthony yang kesakitan pada bagian perutnya.
"Apa yang kamu campur ke dalam minumanku?" tanya Anthony yang menahan sakit.
"Sejenis racun yang membuatmu menderita," jawab Aaron.
"Aku adalah pamanmu," ujar Anthony.
"Dari sejak kau berniat meracuniku, Kau bukan pamanku lagi!" kata Aaron.
"Aargh...."
"Tuan! Tuan!" seru Steve yang baru melangkah masuk ke ruang makan.
"Tuan!" serunya lagi.
"Bawa dia pergi!" perintah Aaron pada Louis.
__ADS_1
"Keluarkan dia dari sini!" perintah Louis pada anggotanya yang berjaga di luar.