
Zean kemudian datang menemui Angelina bersama keluarga Calvin.
"Angelina, Aku kenalkan, ini adalah Calvin, Mungkin kamu masih ingat. Kalian pernah bertemu sebelumnya," ujar Zean.
"Iya, saya masih ingat," jawab Angelina.
"Apa kabar Tuan," sapa Angelina.
"Panggil saja namaku, Aku dan Zean sudah seperti satu keluarga," kata Calvin.
"Baiklah, Karena usiaku lebih muda, Aku akan memanggilmu sebagai kakak," jawab Angelina dengan ramah.
"Angelina, papa dan mama datang menjengukmu," kata Calvin yang sambil menarik tangan ibunya masuk ke dalam kamar dengan perlahan.
Nella dan Ronald kemudian memasuki kamar itu dan terdiam saat melihat Angelina.
"Cecillia?" seru Nella yang merindukan putrinya.
"Cecillia?" tanya Angelina dengan heran.
Zean memandang mereka berdua dan kemudian memandang ke arah Angelina. Ia juga merasakan kemiripan Angelina dengan ibu sahabatnya.
"Pa, Ma, ini adalah Angelina bukan Cecillia," kata Calvin yang menyadarkan kedua orang tuanya.
"Ma-maaf, Mata bibi sedikit rabun sehingga salah mengenal orang," ucap Nella yang menghampiri ranjang.
"Paman, Bibi, terima kasih sudah datang melihatku," ucap Angelina dengan senyum.
"Angelina, apakah ini adalah anak pertama?" tanya Ronald.
"Iya, Paman," jawab Angelina.
"Pasti tidak mudah bagimu, Karena harus menjalaninya sendirian, Tapi, bibi doakan persalinanmu lancar. serta anak-anakmu dalam keadaan sehat," ucap Nella.
"Bibi, terima kasih!" balas ucapan Angelina.
"Angelina, Apakah kamu sudah diperiksa dokter? Apakah kata dokter?" tanya Ronald.
"Dokter mengatakan kondisi bayiku baik-baik saja," jawab Angelina.
"Baguslah kalau begitu, kami keluar dulu, lain kali kami akan datang menjengukmu lagi," ucap Nella yang tergesa-gesa.
"Baik, Paman, Bibi. Sampai jumpa," balas Angelina dengan ramah.
Sesaat kemudian Ronald dan Nella meninggalkan kamar Angelina. Saat menuju ke pintu mata Nella masih memandang wanita itu.
Klek...
"Apa kamu melihatnya tadi?" tanya Nella yang kakinya lemas dan hampir terduduk.
__ADS_1
"Nella, aku melihatnya, ini hanya kebetulan saja," jawab Ronald yang memapah istrinya dan duduk di kursi sana.
"Saat melihatnya seperti melihat putri sendiri, Ronald, cepat minta Calvin untuk menyelidikinya!" pinta Nella yang mengeluarkan air mata.
"Nella, aku akan menyuruh Calvin melakukannnya, Tapi, kamu harus siap kalau dia bukan putri kita!"
"Iya, asalkan ada harapan aku tetap akan mencobanya, Walau belakangan dia bukan orang yang kita cari. Setidaknya kita sudah berusaha," jawab Nella.
"Pa, Ma, kenapa kalian ada di sini?" tanya Diana yang baru tiba.
"Cepat bawa mamamu ke kamar!" titah Ronald.
"Iya," jawab Diana yang memapah ibunya.
Nella kembali ke kamarnya dan diam seribu bahasa.
"Ma, apa Mama lapar atau butuh sssuatu?" tanya Diana.
"Aku tidak lapar," jawab Nella dengan sedih.
"Kenapa Mama menangis lagi? Apakah karena merindukan Cecillia?"
"Dia anak yang kukandung selama sembilan bulan, Mana mungkin aku tidak merindukan dia," jawab Nella.
"Ma, Jangan sedih lagi, Jaga kesehatanmu!"
"Mama, masih ada aku dan kakak di sampingmu, Mungkin saja sudah ada keluarga yang mengadopsinya," kata Diana yang berusaha membujuk ibunya itu.
"Siapa pun keluarga itu aku rela membayarnya dengan uang atau hartaku. Asalkan aku bisa mendapatkan Cecillia kembali," ujar Nella
Diana terdiam saat mendengar ucapan ibunya itu, di lubuk hatinya yang dalam ia bukan hanya merasa bersalah, Akan tetapi, ia juga berharap adiknya tidak akan kembali lagi.
"Ma, Mama masih memiliki aku, Jangan bersedih lagi. Biarlah adik hidup tenang dengan keluarganya. Mungkin keluarga kita tidak berjodoh dengannya," ujar Diana.
"Diana, Apa kamu sadar apa yang kamu katakan? Adikmu bukan tidak berjodoh dengan kita. Tapi, kamu yang membawanya pergi dari rumah sakit sehingga kita kehilangan dia," kata Nella dengan nada sedikit kesal.
"Ma, aku tahu aku sudah salah, Tapi, aku sudah menebusnya selama ini, Papa dan Mama sering marah padaku. Apa lagi yang harus aku lakukan?"
"Kamu masih berani bertanya seperti itu? Kenapa kamu bisa begitu tega dengan adik sendiri? Apa kamu sudah buta? Saat itu adikmu usianya baru beberapa hari. Dia baru dilahirkan dan kamu membawanya pergi dan meletakkan dia di pinggir jalan. di mana hati nuranimu? Saat itu usiamu baru tujuh tahun. Akan tetapi, dirimu sudah berani dan kejam membuang bayi yang baru dilahirkan ke jalan. Apa lagi dia adalah adik kandungmu," bentak Nella.
"Apakah kamu tahu hati seorang ibu betapa sakitnya kehilangan anaknya? Aku takut adikmu terluka, aku takut dia meninggal. Selama hampir 24 tahun aku mengkhawatirkan adikmu terus. Aku selalu berpikir tanpa berhenti...apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Apakah kamu tahu satu perbuatanmu telah membuat orang tuamu tersiksa selama ini," ucap Nella mengeluarkan air mata.
"Ma, aku akan menebus semua kesalahanku."
"Dengan cara apa? Nyawa kecil yang tidak berdosa kau korbankan hanya karena hatimu yang iri," ujar Nella
"Apa yang Mama katakan?"
"Kamu masih tidak mengakuinya? Kamu adalah anak yang keluar dari rahimku, Mana mungkin aku tidak tahu pikiranmu. Dari kecil kamu sudah memiliki sifat yang buruk. Iri pada kakak dan adik sendiri. Apa yang kakakmu miliki kamu juga memilikinya. Asal kamu tahu...selama ini aku dan papamu sama sekali tidak pernah berat sebelah. Dari kecil kami sudah memberikan segalanya padamu. Setiap ulang tahunmu papa akan memberimu sejumlah uang dan hadiah apa pun yang kamu inginkan. Sepuluh ribu dollar setiap tahun untuk hadiah ulang tahunmu. Apakah kamu masih tidak puas," bentak Nella.
__ADS_1
"Ma...."
"Sedangkan Cecillia, baru dilahirkan. Dia tidak tahu apa-apa. Tapi, dibuang olehmu. Apakah kamu sanggup menebus dosa yang telah Kamu lakukan?"
"Aku tahu aku sudah salah, Ma."
"Tidak berguna lagi, Nyawa putri bungsuku masih belum ada kepastiannya. Diana, Calvin adalah kakakmu. Apakah setelah membuang adikmu kamu juga ingin mencelakai kakakmu sendiri?"
"Ma, mana mungkin aku melakukan itu," jawab Diana.
"Diana, kalian semua adalah anakku, Dirimu lah yang membuat diri sendiri semakin terjerumus. Perusahaan dikendalikan oleh kakakmu. Sementara kamu malah bertemu dengan pemegang saham lainnya untuk tarik diri. Kalau perusahaan terjadi sesuatu. Maka, yang harus bertanggung jawab adalah kakakmu," ujar Nella.
Diana Semakin pucat saat mendengar ucapan ibunya. Ia semakin ketakutan dan gemetar di seluruh tubuhnya.
"Saat itu kamu masih tujuh tahun, dan bagaimana dengan sekarang? Usiamu sudah masuk tiga puluh tahun. Apakah masih tidak bisa bersikap dewasa?"
"Maaf," ucap Diana.
"Aku dan papamu sudah tahu semua niat busukmu itu, Karena kamu adalah putri kami, Makanya, kami pilih diam. Lebih baik kamu berpikir ulang apakah yang kamu lakukan selama ini bersalah atau tidak!" ujar Nella.
Di sisi lain Calvin dan Zean berdiri di balkon lantai dua rumah sakit.
"Angelina akan melahirkan tidak lama lagi, Apakah suaminya tidak tahu?" tanya Calvin.
"Tidak tahu, Angelina tidak berani memberi tahunya, Karena dia takut pria itu akan mengambil anaknya," jawab Zean.
"Setelah anak dilahirkan, Angelina akan kesulitan karena harus merawat anak kembarnya," ujar Calvin.
"Sebenarnya...," ucap Zean yang terhenti.
"Ada apa?" tanya Calvin.
"Dia masih merindukan suaminya, Hanya saja...dia tidak pernah mengatakannya."
"Apakah suaminya tidak pernah mencarinya?" tanya Calvin.
"Pernah, oleh karena itu aku membawa ke sini," jawab Zean.
"Lalu, kenapa Angelina tidak ingin bertemu dengan suaminya?"
"Menikah karena terpaksa tidak akan bahagia," jawab Zean.
Diana yang baru keluar dari kamar ibunya. ia berjalan dan melewati salah satu kamar yang pintunya tidak tutup rapat.
"Wanita itu...," ucap Diana sambil berusaha mengingat semula di mana ia pernah bertemu dengan wanita yang inap di kamar itu.
"Dia adalah wanita yang tinggal di rumah Zean," batin Diana.
"Dia hamil besar, Apakah dia mengandung anak Zean," ucap Diana.
__ADS_1