
Mendengar apa yang dikatakan Anak kecil itu, Membuat Aaron menatapnya dengan sedih.
"Kenapa air matanya membuatku perih," batin Aaron
"Kalau Papa tidak sudi, Juga tidak apa-apa," ucap Chris yang kecewa dan menunduk. Ia berjalan dengan lesu menuju ke arah lain.
"Siapa namamu?" tanya Aaron yang menghentikan langkah anak itu.
Chris menoleh ke arah Aaron dan menjawab," Namaku adalah Chris Christoper."
"Mari ke sini!" seru Aaron.
Chris berjalan menghampiri Aaron sambil memandang pria itu.
"Kamu sangat merindukan papamu?"
"Iya, Walau pun tidak ada harapan untuk bertemu, Aku tetap menunggu," jawab Chris.
"Kenapa harus menunggu seseorang yang tidak pernah kamu lihat?"
"Karena dia adalah papaku, Aku yakin kalau dia melihat aku dan adik. Papa pasti akan kembali," jawab Chris.
"Paman, Apakah sudah menikah?" tanya Chris.
"Sudah!" Aaron menyentuh wajah anak itu.
"Apakah Paman memiliki anak?"
"Tidak."
"Apakah Paman ingin punya anak?"
"Ingin, Tapi, untuk saat belum bisa," jawab Aaron.
"Kenapa?"
"Karena belum waktunya," jawab Aaron dengan senyum.
"Kalau begitu, Apakah aku bisa menjadi anak Paman walau hanya sehari saja?" tanya Chris dengan berharap.
"Menjadi anakku?"
"Iya, aku akan memberi tahu mama dan paman, Kalau hari ini aku punya papa," jawab Chris yang membuat Aaron dan Louis semakin terharu. Mata anak itu terlihat jelas sedang bersedih.
Aaron langsung mengendong anak itu dengan lembut. Senyuman terlukis di wajah Chris yang mendapatkan pelukan hangat dari pria itu.
"Lepaskan kakakku!" suara Nick yang berdiri di sana.
"Apakah kalian adalah kembar?" tanya Louis pada Nick.
"Dia adalah adikku, Namanya Nick," jawab Chris.
"Mirip sekali," ujar Louis.
"Paman siapa dan dari mana? Kenapa bisa mirip dengan kami?" tanya Nick dengan terus terang.
"Nick, jangan bersikap tidak sopan. Paman ini adalah orang baik," kata Chris.
__ADS_1
"Kakak kenapa digendongnya?"
"Aku yang memintanya," jawab Chris.
"Walau wajah kita mirip, Tapi, aku lebih tampan. Jadi, Paman, cepat lepaskan kakakku. Kalau tidak, Aku akan mengadu pada pemadam kebakaran!" kecam Nick.
"Hah...untuk apa kamu mengadu pemadam kebakaran.?" tanya Louis.
"Untuk menangkap paman ini," jawab Nick yang menunjuk ke arah Aaron.
"Pikiran pendek," kata Aaron.
"Siapa yang bilang aku pendek, Aku hanya lebih muda makanya masih kecil," jawab Nick yang tidak mau kalah.
"Adik, jangan bicara sembarangan lagi!" ujar Chris.
"Dari mana kamu belajar memanggil pemadam kebakaran untuk menangkap orang?" tanya Aaron.
"Suka hatiku ingin bicara apa," jawab Nick.
Paman, Jangan peduli dengan adikku, Dia lebih suka bermain sehingga tidak tahu apa kegunaan Polisi," kata Chris.
"Kalian berdua adalah kembar, Tapi, kamu masih lebih pintar," ujar Aaron pada Chris.
"Walau aku tidak sepintar kakakku, Tapi, aku lebih tampan darimu. Jadi, turunkan kakakku, kalau tidak, aku akan berteriak!" kecam Nick.
"Aku tidak ingin melakukannya, Lantas, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Aaron dengan sengaja.
"Aneh, kenapa bos malah sudi berdebat dengan anak-anak? Tidak seperti biasa bos melayani orang yang baru dia kenal," batin Louis.
Aaron menurunkan anak itu dan menyentuh kepalanya.
"Paman, Terima kasih karena sudah mengendongku," ucap Chris.
"Sama-sama!" jawab Aaron.
"Nick, mari kita temui paman dulu! Kita sudah lama keluar!" ajak Chris yang menarik tangan adiknya.
"Paman, sampai jumpa!" Pamit Chris.
"Jangan jumpa lagi!" ucap Nick pada Aaron dan ikuti langkah kakaknya.
Aaron tersenyum melihat dua anak kembar itu yang begitu mengemaskan.
"Bos," seru Louis.
"Apakah kamu tidak merasa bahwa mereka sangat lucu?" tanya Aaron.
"Mereka berdua sangat pintar dan memiliki sifat yang berbeda," jawab Louis.
"Kenapa aku memiliki perasaan yang aneh terhadap dua anak itu," batin Aaron.
Cecillia yang duduk di ruangan menunggu kedatangan Zean.
"Kenapa Zean belum datang, Ya?" gumam Cecillia yang mencoba menghubungi pria itu. akan tetapi tidak bisa dihubungi.
Saat Aaron ingin menuju ke ruangan pertemuannya dengan Calvin, Ia disapa oleh seorang pelayan restoran.
__ADS_1
"Tuan Davidson."
"Ada apa?"
"Teman Anda sedang menunggu di ruang makan ujung," jawab Pelayan dengan sopan.
"Bukankah di sebelah kanan, kenapa malah di ujung sana?" tanya Louis.
"Teman Anda yang memesannya," jawab pelayan itu dengan hormat.
Aaron yang tanpa bertanya ia pun langsung menuju ke tempat yang ditunjukan oleh pelayan itu.
Sementara Cecillia yang sedang menunggu selama hampir satu jam dia bangkit dan ingin beranjak dari sana.
"Mungkin Zean tidak datang karena sibuk, Lebih baik aku temui kakak saja," gumam Cecillia yang menghampiri itu dan membukanya dan di saat yang sama Aaron telah berdiri di luar sana. Sehingga mereka saling berhadapan dan bertatapan.
Cecillia membulatkan mata besarnya dengan rasa tidak percaya melihat mantan suaminya yang tiba-tiba muncul di hadapan.
Aaron menatap diam pada istrinya itu.
"Angelina?" batin Louis.
Aaron mulai melangkah maju menghampiri istrinya, sementara Cecillia memundurkan langkahnya.
"Tidak kusangka kita bertemu di sini," ucap Aaron.
Cecillia langsung berpaling ke arah lain, karena tidak sanggup berhadapan dengan ayah dari anak-anaknya. Sementara Louis menutup pintu agar tidak menganggu atasannya bersama istrinya itu.
"Sekian lama tidak bertemu, Kamu mengalami banyak perubahan," kata Aaron.
"Anak-anak ada di sini, Jangan sampai dia tahu. Kalau tidak, dia pasti akan membawa pergi anakku," batin Cecillia.
"Aku masih ada janji dengan orang, Aku harus pergi!" pamit Cecillia yang ingin beranjak akan tetapi ia ditahan oleh pria itu.
"Urusan kita masih belum selesai, Lima tahun kamu menghilang dan kini kamu bahkan tidak ingin menyapa suamimu," ujar Aaron yang menahan lengan Cecillia.
"Suamiku? Apakah kamu sudah salah bicara? Sejak kapan aku menjadi istrimu? Tuan Davidson, sebagai seorang pria yang sudah menikah tidak baik bersama wanita lain di ruangan ini," jawab Cecillia yang menepis tangan Aaron.
"Menikah? Aku bersama dengan istriku sendiri, apakah salah?" tanya Aaron yang mendorong wanita itu sehingga mengenai pintu.
"Istrimu? Berapa orang istrimu? Aku hanyalah seorang wanita yang menjadi korbanmu, Apakah masih tidak cukup menyakitiku?" tanya Cecillia dengan kecewa.
"Kamu sudah menikah dan memiliki anak, Bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Aku melihatmu di bandara, Seorang anak kecil dan seorang pria yang adalah suamimu. Kamu cukup bahagia," jawab Aaron.
"Apakah dia mengira Chris dan Nick adalah anak Zean?" batin Cecillia.
"Benar katamu! Aku dan suamiku saling mencintai dan memiliki anak yang lucu dan tampan. Apakah kamu sudah puas," jawab Cecillia.
"Di saat kamu masih berstatus sebagai istriku kau menikah dengan pria lain, Apa mungkin aku akan diam saja," kata Aaron.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Cecillia dengan cemas.
"Merebutmu kembali," jawab Aaron yang mencium bibir Cecilia dengan paksa. wanita itu berusaha meronta. akan tetapi ia ditahan oleh suaminya itu.
__ADS_1