
"Tuan Davidson, ini bukan urusanmu, Untuk apa kamu ikut campur,"jawab Cecillia yang cemas.
"Chris, mari duduk di sini, Jangan menganggu paman itu!" ujar Cecillia.
"Mama, Aku ingin duduk dengan paman ini sebentar, Lagi pula tidak tahu kapan lagi kami akan bertemu," jawab Chris.
"Chris anak yang baik, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi," ujar Aaron.
"Benarkah, Paman sudi bertemu dengan aku lagi?" tanya Chris dengan senyum.
"Tentu benar, kalau kamu suka, kamu bisa datang bermain-main ke rumah paman bersama adikmu!" jawab Aaron.
"Kenapa Cecillia dan Aaron seperti bermusuhan saja, dan kenapa Aaron sangat menyukai Chris. Diperhatikan dengan teliti mereka sangat mirip. Apakah hanya kebetulan saja," batin Calvin.
"Chris, tidak boleh seperti itu, Kamu hanya akan menganggu paman!" kata Cecillia.
"Aku menyukainya, Jadi, Mana mungkin dia akan mengangguku," jawab Aaron.
"Dia adalah anakku, Tuan Davidson. Kalau aku tidak izinkan, Maka, dia tidak bisa ke mana-mana," kata Cecillia.
"Nona Christoper, Apakah kamu membenciku, sehingga tidak mengizinkan putramu bermain denganku?" tanya Aaron.
"Bukan membenci, Aku hanya sedang mengajar putraku agar tidak menganggu orang lain," jawab Cecillia.
"Kenapa Nick masih belum datang?" tanya Calvin yang sengaja mengalihkan topik.
"Paman, biarkan saja! Adik kalau sudah tidak sanggup lari dia baru bisa berhenti bermain. Aku yakin pelayan restoran tidak akan berhasil membawanya ke sini," jawab Chris.
"Dia sangat aktif sekali," ujar Aaron.
"Adik memang sangat aktif sekali, saat di sekolah saja guru dan kami yang mencari dia. Dia suka bersembunyi di kelas lain," kata Nick
Di sisi lain Nick sedang berlari untuk menghindar pelayan yang sedang mencarinya. Anak kecil itu merangkak masuk ke dalam bawah meja makan sambil tertawa.
"He he he...ingin menangkapku tidak semudah itu," gumam Nick.
Restoran tersebut diramaikan oleh para pengunjung.
Nick yang duduk di bawah meja sana. ia melihat pelayan yang sedang mencarinya di mana-mana.
"Jangan berharap bisa menemukanku," batin Nick.
Saat Nick sedang perhatikan orang-orang yang di sana, Ia melihat seorang pria berkaca mata sedang mengeluarkan sesuatu dari saku belakangnya. dan tanpa disadari dompetnya jatuh ke lantai.
"Hm...itu sepertinya dompet untuk menyimpan uang," batin Nick.
Nick kemudian merangkak keluar dari meja dan langsung menuju ke dompet itu. Ia mengambil dan kemudian ia berdiri di samping pria itu.
"Paman," sapa Nick pada pemilik dompet.
"Ada apa? Jangan menganggu, pergi minta makan di sana," jawab pria itu dengan nada ketus.
"Aku bukan datang minta makan, Tapi, untuk mengembalikan dompetmu jatuh," jawab Nick yang memberikan dompet itu pada pemiliknya. Bukannya berterima kasih. Pria itu justru mendorong Nick dengan kasar.
__ADS_1
Bruk...
"Aarrgh!"
"Berani sekali kau mencuri dompetku," ketus Pria itu yang berdiri sambil memeriksa dompetnya.
"Aku hanya mengembalikan dan tidak mencuri," jawab Nick yang membantah dan kemudian berdiri.
Kejadian itu menarik perhatian semua pengunjung di sana.
"Di mana orang tuamu? uangku kurang, kalau bukan kamu yang mengambilnya, Mana mungkin bisa hilang," bentak Pria itu.
"Johan, Jangan kasar pada anak-anak!" ujar wanita itu yang adalah istrinya.
"Anak sekecil ini sudah bisa mencuri, Kalau tidak diajar setelah dewasa akan menjadi apa," jawabnya.
"Paman sudah tua, Tapi, masih bodoh dan tidak tahu berterima kasih. Aku bukan pencuri. Bahkan, keluargaku lebih kaya darimu. Pakaianmu saja sudah kalah dari harga pakaianku. Kalau tidak percaya coba tanya saja," jawab Nick yang tidak mau kalah.
"Berani sekali kau melawanku, Kecil-kecil sudah kurang ajar, Siapa orang tuamu?" tanya Johan.
"Lalu, kamu anak siapa?" tanya Nick dengan kesal.
"Kurang ajar!" bentak Johan yang ingin melayangkan tangannya ke arah anak itu. Nick langsung maju melewati pria itu dan kemudian naik ke kursi. Ia kemudian mengambil gelas yang berisi minuman itu.
"He he he...ingin menamparku, Tidak semudah itu, Paman jelek," kata Nick dengan mengejek.
"Apa yang kau lakukan? Turun!" bentak Johan semakin kesal dan menghampiri Anak itu.
"Ha ha ha...," suara Nick yang tertawa gembira.
Tiba-tiba tangan seorang pria yang mencengkerem bagian tengkuk Anak itu dari belakang.
"Berani sekali kau menganggu atasanku," kata pria itu.
"Le-lepaskan tanganmu," ucap Nick yang kesakitan. Tangan besar pria itu mengenggam erat anak kecil itu.
"Masih saja berani melawanku, Setan kecil? Lihat saja bagaimana aku menghajarmu nanti," ujar Johan.
"Dia adalah anak kecil, kenapa kau melakukan itu."
"Lepaskan tanganmu, kau bisa membunuhnya. Dia hanya anak kecil saja."
"Kalian adalah orang dewasa, Tapi, tidak sadar diri."
Perbuatan dua pria dewasa itu menuai cemohan dari pengunjung lain.
"Diam!" bentak Johan.
Tidak lama kemudian seorang pria yang adalah Manager menghampiri mereka.
"Tuan, tolong lepaskan anak ini!" pinta Manager itu yang melihat Nick sedang kesakitan sehingga tidak bisa bersuara.
Karena permintaan Manager tersebut, Pria itu hanya bisa melepaskan Nick dengan kasar. sehingga tubuh mungil itu terhempas ke lantai.
__ADS_1
Bruk...
"Aarrgh!"
"Anak siapa ini? Dia mencuri uangku, dia harus ganti rugi," kata Johan dengan tegas.
"Tuan, mungkin hanya kesalahpahaman, Adik ini hanya suka bermain dan tidak mungkin dia mencuri uang Anda. Lagi pula, adik ini adalah cucu dari keluarga besar," jawab Manager.
"Aku tidak peduli kalau dia dari mana, yang paling penting adalah dia harus membayar uangku yang hilang itu," jawab Johan dengan ketus.
"Paman, aku tidak mencuri uangnya, dia menjatuhkan dompet dan aku hanya mengutip dan mengembalikan padanya," jelas Nick pada Manager.
"Tuan, apakah Anda sudah mendengarnya? Anak ini hanya mengembalikan dan bukan mencuri," ujar Manager itu.
"Lalu, bagaimana dengan uangku yang hilang? Jangan mencari alasan untuk menutup kesalahan!" ketus Johan.
"Berapa uang Anda yang hilang itu?" tanya Manager.
"Enam ribu lima ratus dollar," jawab Johan.
"Uang pecahan berapa dan berapa lembar?" tanya Nick.
"Uang pecahan seratus dollar dan ada tujuh puluh lima lembar," jawab Johan.
"Ha ha ha...," suara Nick yang sedang tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Johan dengan kesal
"Paman, apakah kamu ingin merampokku? Kalau tidak ada uang, Jangan datang ke restoran mewah untuk makan," jawab Nick dengan mengejek.
"Apa yang kamu katakan?"
"Kalau Enam ribu lima ratus dollar, berarti uang pecahan seratus dollar harus ada enam puluh lima lembar. Bukan tujuh puluh lima lembar," jawab Nick.
"Jangan bercanda! Kalau kamu tidak ingin membayar ganti rugi, Jangan salahkan aku menuntut keluargamu," kecam Johan.
"He he he...ingin menuntut keluargaku? Aku yakin Paman pasti akan dihajar mamaku. Sedangkan serigala betina saja kalah dari mamaku. Apa lagi Paman yang seperti kambing tua yang tak berjenggot pasti akan dihajar habis-habisan," kata Nick.
"Berani sekali kau, Anak kurang ajar," bentak Johan yang menampar anak itu.
"Hentikan, Tuan. Anda tidak bisa bertindak kasar di sini," kata Manager itu yang menahan tangan Johan.
"Jangan ikut campur!" Ketus Johan
"Aku akan menuntutmu karena sudah bertindak kasar padaku," ujar Nick.
"Silakan keluar dari sini!" kata Manager dengan tegas.
"Aku adalah pelanggan di ini," ujar Johan yang tidak mau mengalah.
Chris yang kemudian keluar mencari adiknya, Ia melihat kejadian yang tidak menyenangkan itu.
"Huff....sering saja terjadi sesuatu kalau dia lari sana sini," gumam Chris. ia kemudian mengambil piring makanan dari salah satu meja restoran.
__ADS_1