Bisu Tawanan Hartawan

Bisu Tawanan Hartawan
Angelina Sadar


__ADS_3

Aaron menemani Angelina di sepanjang malam. pria itu menyentuh wajah gadis itu yang kelihatan sangat pucat.


"Selama tinggal bersamaku, aku selalu sengaja bersikap tegas dengannya karena dia menolak menikah denganku. aku juga sengaja ingin membuatnya cemburu. tapi, pada akhirnya aku yang menyesal," batin Aaron.


Keesokan harinya.


Angelina akhirnya sadar dan melihat sekelilingnya.


"Angelina, bagaimana dengan kondisimu?" tanya Aaron yang duduk di samping kiri ranjang dan memegang tangan gadis itu.


Angelina menatap kecewa terhadap pria itu, ia pun memalingkan tatapannya ke samping kanan.


"Apakah kamu merasa tidak nyaman dengan tubuhmu?" tanya Aaron yang perhatian.


"Setidaknya aku belum mati," jawab Angelina yang menepis tangan pria itu.


"Angelina, apakah kamu sudah tahu kalau kamu hamil?"


"Apa bedanya tahu dan tidak tahu," jawab Angelina tanpa memandang ke arah pria itu.


"Kenapa kamu tidak beritahu aku?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Untuk apa? supaya mendapat simpati dari pria ego sepertimu," balas Angelina.


"Aku pernah mengatakan akan menikahimu, untuk bertanggung jawab," kata Aaron.


"Menikahiku demi tanggung jawab adalah sebuah beban bagimu dan penyiksaan bagiku, tidak menikah saja aku sudah dianggap barang murahan, apa lagi kalau sudah menikah maka kau akan menganggapku sebagai istri yang hanya membuatmu kesal setiap hari," jawab Angelina yang memejamkan matanya.


"Angelina, seharusnya kau beritahu aku kalau dirimu telah hamil anakku!"


"Kalau aku tahu untuk apa aku pertahankan darah daging dari seorang pria yang tidak berperasaan. seharusnya kamu merasa tenang karena tidak ada beban. dan untuk apa kamu pusingkan," jawab Angelina dengan sengaja.


"Baiklah, ini salahku!" ucap Aaron dengan pasrah.


"Kamu adalah majikanku, kamu tidak pernah salah, keluar dan pulang saja ke rumah. aku akan segera pulang dan bekerja setelah aku sembuh," ujar Angelina yang membelakangi Aaron. gadis itu menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Istirahatlah dengan baik! katakan saja kalau kamu butuh sesuatu!" kata Aaron yang bangkit dari tempat duduknya.


"Tidak butuh! terima kasih! silakan keluar aku ingin tidur agar cepat sembuh dan bisa segera masuk kerja supaya tidak dihukum," jawab Angelina dengan nada kesal.


Aaron hanya bisa pasrah melihat sifat gadis itu yang berubah menjadi lebih keras dan tidak peduli padanya. tidak lama kemudian pria itu beranjak dari sana.


Angelina mengeluarkan air mata dan kemudian ia bangkit dan berubah dengan posisi duduk.

__ADS_1


Gadis itu mengusap air matanya karena merasa kehilangan. walau ia tidak menyadari bahwa dirinya telah hamil akan tetapi ia tetap menyayangkan janin yang sudah berada dalam kandungannya itu.


"Bagaimana dengan nasibku seterusnya? selain bekerja dengannya untuk melunasi hutangku, aku tidak bisa ke tempat lain lagi," gumam Angelina.


"Harus butuh berapa tahun untuk melunasi hutangku," batin Angelina.


"Setelah keluar aku harus pastikan berapa upahku sebulan, agar aku bisa tahu harus bekerja berapa lama dengannya," ucap Angelina.


Aaron mencuci mukanya di kamar kecil di rumah sakit itu. raut wajah pria itu tidak gembira dan menyesali semua yang menimpa Angelina.


Tidak lama kemudian ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap wajahnya hingga kering. setelah selesai ia membuang sapu tangannya ke dalam tong sampah. sudah kebiasaan bagi pria itu dibuang setelah sekali pemakaian.


Aaron kemudian beranjak keluar dari kamar kecil dan bertemu dengan temannya, Darwine.


"Aaron, ternyata kau ada di sini," sapa temannya itu.


"Hm...," jawab Aaron dengan cuek.


"Apakah Angelina sudah sadar? bagaimana kondisinya?"


"Masih lemah, dan emosinya lebih tinggi," jawab Aaron.

__ADS_1


"Kamu harus memahami kondisinya, dia lebih terluka darimu. janin dalam kandungannya hilang begitu saja," ujar Darwine.


__ADS_2