
"Kalian adalah anak yang tidak tahu diri," bentak Diana.
Nick mengambil bola kasti itu melempar lagi ke arah wanita itu.
Bruk...
"Aarrh!" jeritan Diana yang kesakitan.
"Ha ha ha...," suara tertawa Nick sambil menguling-guling di lantai.
"Kurang ajar!" bentak Diana dengan nada kesal.
"He he he....!" Nick tertawa girang sambil melompat-lompat.
"Anak jahanam...," bentak Diana.
Chris mengedip mata pada adiknya. Ia langsung mematahkan pensil yang dia gunakan. Sementara Nick mematahkan pesawat mainannya.
"Bibi, kenapa selalu saja menindas kami...," teriak Chris dan Nick dengan serentak dan menangis sama-sama.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" tanya Diana dengan nada kesal.
"Kakek...pesawat yang kakek beli dipatahkan oleh bibi," teriak Nick yang menangis dengan kuat.
"Paman, pensilku dipatahkan oleh bibi...," tangisan Chris yang duduk di lantai.
Si kembar itu menangis sambil berteriak sehingga semua orang yang ada di rumah itu keluar.
"Ada apa?" tanya Ronald yang cemas mendengar dua cucunya yang menangis dengan histeris sehingga berbaring di lantai.
"Chris, Nick, kenapa dengan kalian?" tanya Nella.
Ronald menghampiri Chris sementara Nella mengendong Nick yang berguling-guling di lantai sambil menangis.
"Diana, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?" tanya Cavin dengan nada ketus.
"Kakak, aku tidak melakukan apa-apa, Mereka yang menyerangku, Nick dia melemparku berkali-kali, lihatlah hidungku menjadi memar," jelas Diana.
"Kenapa setiap kali kau pulang selalu saja menimbulkan masalah? Mereka hanya anak-anak yang tidak tahu apa-apa," bentak Ronald.
"Pa, aku...," ucap Diana yang terhenti
"Nick, apa kamu terluka, Sayang?" tanya Nella yang menyeka air mata cucunya.
"Cucuku, Katakan ada apa?" tanya Ronald yang membuju Chris.
"Pensilku dan pesawat adik sudah patah," jawab Chris sambil menangis histeris.
"Diana, lebih baik kamu jangan pulang, kalau tujuanmu hanya ingin menyakiti sikembar," ketus Calvin.
"Mainanku sudah rusak, Itu pesawat yang baru dibeli oleh Kakek," tangisan Nick.
"Nick, Kakek akan membelikan yang baru untukmu," ujar Ronald.
"Chris, Kakek akan membelikan pensil yang baru untukmu, Jangan menangis lagi, Ya," bujuk Ronald sambil membujuk cucunya.
__ADS_1
"Mereka menjebakku, Aku tidak merusakan barang mereka, kalian harus percaya padaku," jelas Diana yang berusaha menyakinkan mereka.
"Kakek, Bibi mengatakan kami adalah anak sampah hanya karena kami tidak punya papa," kata Chris yang menangis dengan sedih.
"Siapa yang bilang kamu anak sampah, Itu semua tidak benar. Kamu dan Nick adalah cucu kesayangan kami," kata Ronald sambil membujuk anak itu.
"Pergi!" bentak Calvin.
"Kakak, kenapa kalian selalu saja berat sebelah? Mereka adalah cucumu bagaimana dengan putraku?" tanya Diana yang tidak puas.
"Putramu sangat kasihan memiliki ibu sepertimu yang tidak pernah dewasa dan bersikap baik," bentak Nella yang sedang mengendong Nick.
"Kenapa kalian tidak percaya dengan kataku?"
"Bagaimana kami bisa percaya padamu, karena dengan anak kecil saja kau juga tidak ingin melepaskannya," jawab Calvin.
"Paman, jangan salah paham, Mereka yang menindas mama. Kakak Nick melempar mama terus," jelas putra Diana.
"Paman, Aku melemparnya karena dia menghina kami adalah anak sampah," ujar Nick.
"Bawa anakmu pulang sana!" bentak Ronald.
"Pa...."
"Pergi!" ketus Ronald.
Diana yang tidak berupaya hanya bisa pergi meninggalkan rumah orang tuanya itu. Sementara Chris dan Nick masih sedang menangis. Ronald dan Nella sedang membujuk sikembar.
"Chris, Nick, jangan sedih! Paman akan belikan yang baru untuk kalian," ujar Calvin.
"Paman, aku ingin pesawat baru!" pinta Nick
"Iya, iya, Paman akan membelikan untuk kalian. Kalian jangan menangis lagi!" jawab Calvin.
"Mungkin mamamu sudah mau pulang, ini adalah waktu makan siang," kata Ronald.
"Paman, kapan mama pergi Los Angeles?" tanya Nick.
"Dua hari lagi," jawab Calvin.
"Apakah kami bisa ikut?" tanya Chris dan Nick dengan serentak.
"Baiklah, kalian boleh ikut, Tapi, berjanji jangan berulah! Karena kepergian paman dan mama kalian adalah...untuk urusan bisnis," jawab Calvin.
"Siap, Paman," jawab Chris dan Nick dengan serentak.
"Kali ini kalian akan pergi berapa lama?" tanya Nella.
"Mungkin seminggu atau lebih, sekalian ingin membawa Cecillia dan sikembar jalan-jalan!" jawab Calvin.
"Hati-hati saja saat di negara orang, Apa lagi kalian akan membawa dua anak ini!" ujar Ronald.
"Baik, Pa," jawab Calvin.
Diana yang baru keluar dari rumah orang tuanya ia sangat kesal karena dirinya yang harus diusir.
__ADS_1
Tidak lama kemudian sebuah mobil putih berhenti di depan rumah. Seorang wanita anggun yang turun dari mobil. Wanita cantik itu berambut panjang lurus dan mengenakan sepatu hak tinggi yang sesuai dengan penampilannya. Diana yang melihat wanita itu ia semakin kesal dan perasaan iri pun muncul kembali.
"Hidupmu sudah mewah sekarang setelah berhasil mencuci otak papa dan mama," sindir Calvin.
"Apakah ada masalah? Sehingga Kakak berkata seperti itu?" tanya wanita itu yang adalah Cecillia.
"Pintar menghasut mereka sehingga aku diusir dan anakku tidak diakui," ujar Diana.
"Apakah kamu sudah lupa kenapa kamu diusir dan anakmu tidak diakui? Semua kejadian yang kamu alami tidak ada hubungan denganku. Jangan menyalahkan orang lain ketika kamu yang melakukan kesalahan!" jawab Cecillia.
"Kamu sungguh pintar berakting, baru kembali saja sudah memiliki segalanya."
"Tidak! Aku memiliki segalanya dengan belajar dari awal, selama lima tahun di perusahaan sebagai karyawan biasa aku belajar banyak dari kakak Calvin. Aku mulai dari nol dan bukan memetik hasil tanpa berusaha," jawab Cecillia.
"Kamu menang dan kamu bangga?"
"Kakak, apa salahku padamu? Kenapa kamu selalu membenciku?"
"Karena ada kamu, Aku tidak akan mendapatkan apa yang aku inginkan," jawab Diana.
"Lantas, apa yang kamu inginkan? dari sejak kecil kamu sudah hidup mewah dan memiliki segalanya. Andaikan kakak seorang pebisnis yang profesional aku rela menyerahkan posisiku sekarang untukmu. Akan tetapi, apa yang akan kamu lakukan untuk perusahaan kita," kata Cecillia.
"Kalau bukan karena kamu, Aku tidak akan kehilangan posisiku," ketus Diana.
"Terserah apa yang kamu katakan," jawab Cecillia yang ingin melangkah masuk karena malas melayani kakaknya itu.
"Anak kembarmu itu dijaga dengan baik, Jangan sampai mereka mengalami kesialan sebanyak tujuh keturunan," bentak Diana yang membuat Cecillia menghentikan langkahnya.
Cecillia berpaling pada kakaknya dan langsung menampar wajah wanita itu.
Plak...
"Aargh!"
"Jaga mulutmu! Aku masih menghormatimu sebagai kakak, Tapi, jangan coba-coba melibatkan anak-anakku. Aku tidak menaruh dendam tentang masa lalu. Asal kamu ingat saja, Kalau kamu berani menyakiti putraku...aku tidak akan sungkan mengambil nyawamu," kecam Cecillia.
Los Angeles.
Seorang pria sedang menghajar anggotanya berulang kali. Ia terlihat kesal dengan kesalahan yang dilakukan oleh anggotanya yang terkapar dengan kepala dan mulutnya yang mengeluarkan darah.
Anggotanya yang terluka berusaha mendapatkan ampun dari atasannya itu. ia berlutut sambil memohon dan menangis.
"Tuan, maafkan aku! Maafkan aku! aku sudah salah!" ucapnya yang menyesal.
Pria yang berwajah datar sedang mengelap tangannya yang terkena darah dari anggotanya itu.
"Kata maaf tidak berguna bagiku, kau menjual data perusahaanku sehingga aku mengalami banyak kerugian. Bukankah kau hanya ingin cari mati," ketusnya.
"Tuan, Uangnya akan kukembalikan, Aku berjanji tidak akan kurang sedikit pun."
"Uang? aku tidak kekurangan uang, dengan uangku aku bisa menguburmu hidup-hidup," ujarnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Tuan, silakan perintah!"
"Louis, bawa dia ke tempat yang sepi dan kubur dia hidup-hidup. Andaikan dirimu bisa bertahan selama seminggu. aku akan memaafkanmu," jawab pria itu yang kemudian beranjak dari sana.
__ADS_1
Pria dingin itu yang tak lain adalah Aaron Andres Davidson yang dikenal sangat kejam dan berdarah dingin. setiap orang yang mengkhianatinya tidak akan berkesempatan untuk hidup. ia menetap di Los Angeles sudah setahun lamanya karena perusahaan barunya berdiri di kota itu.