Bisu Tawanan Hartawan

Bisu Tawanan Hartawan
Pertemuan Angelina dan Calvin


__ADS_3

Diana kembali ke kamarnya dengan suasana hati yang sedih. Ia kemudian duduk di ujung kasur sambil mengingat kembali kejadian lalu.


23 tahun yang lalu.


London


Suatu malam di Hospital London terdengar suara jeritan seorang wanita yang sedang kesakitan karena ingin melahirkan. Seorang pria yang adalah suaminya sedang menemaninya dengan setia di dalam ruangan itu. Sementara di luar terlihat seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang adalah anak dari pasangan itu.


Tidak lama kemudian wanita itu melahirkan seorang bayi perempuan. Suara tangisan bayi itu cukup kuat dan membuat pasangan itu menangis haru. Wajah bayi tersebut sangat cantik dan kemerahan.


Dua anak kecil itu sangat bahagia saat mendengar suara tangisan adik bungsu mereka.


"Kakak, Mama sudah melahirkan," kata gadis kecil itu dengan girang yang baru usia 7 tahun.


"Benar! Mari kita masuk ke dalam dan melihat adik kita!" ajak anak laki-laki itu yang sebagai anak tertua berusia 12 tahun.


Dua bersaudara itu memasuki ruangan yang penuh haru dan suka cita.


"Ronald, beri nama untuk putri kecil kita!" ucap wanita itu.


"Cecillia Ainsley," jawab suaminya dengan senyum.


"Nama yang bagus, Aku yakin anak kita pasti suka."


"Nella, terima kasih karena telah melahirkan seorang putri yang cantik," ucap Ronald yang mengecup dahi istrinya.


"Papa, Mama, adik sangat cantik," kata anak laki-laki itu.


"Calvin, kamu bisa mengendongnya," ujar Ronald.


Calvin kemudian mengendong bayi cantik itu. Gadis kecil itu juga sangat menyukai adiknya dan menyentuh pipinya yang tembam dan bulat.


"Diana, mulai hari ini kita sebagai kakak akan melindungi Cecilia."


"Iya, Kak," jawab Diana.


"Nella, Aku ingin membeli sebuah rumah besar untuk Cecillia," kata Ronadl.


"Cecillia masih kecil, dia belum mengerti apa-apa," jawab Nella dengan senyum.


"Tapi, ini adalah niatku untuk memberi hadiah kepada putri bungsu kita. Aku ingin memberi hadiah di setiap ulang tahunnya," ujar Ronald.


" Setiap tahun? Kamu sangat memanjakannya," kata Nella dengan senyum.


"Cecillia adalah putri kesayanganku, Memberinya hadiah di setiap ulang tahunnya adalah hal yang wajar," jawab Ronald.


"Pa, Ma, adik sangat cantik," ucap Calvin yang memandang ke arah orang tuanya.


Diana yang mendengar pembicaran orang tuanya, Raut wajahnya yang tadi berseri-seri kini menjadi cemberut.


"Adik baru dilahirkan sudah diberi hadiah, Bukankah sama saja aku tidak kebagian," batin Diana.


Diana yang saat itu baru berusia tujuh tahun telah memiliki rasa iri pada adiknya. Saat ia sedang mengendong adiknya ia mengenggam erat telapak tangan mungil adiknya itu saat keluarganya tidak perhatikan.


Bayi baru dillahirkan itu langsung menangis dengan histeris karena terkejut dan kesakitan.


"Cecillia menangis lagi, Mungkin dia lapar," ujar Ronald yang langsung mengendong putri kecilnya.

__ADS_1


"Tuan, Biarkan kami membersihkannya, Nyonya harus dipindahkan ke kamar dan istirahat," ujar Suster itu.


"Baiklah, Maaf, karena sangat bahagia sehingga kami jadi lupa," ucap Ronald dengan senyum.


Tidak lama kemudian Nella dipindahkan ke kamar pasien VIP. Suaminya dan dua orang anaknya ikut menemaninya di sana. Pasangan suami istri itu sangat bahagia dan terlihat sangat mesra. sang suami mengecup dahi istrinya sebagai tanda terima kasih karena telah melahirkan anak perempuan untuknya.


"Papa, Mama, lain kali aku bisa membawa adik jalan-jalan," ujar Calvin.


"Benar, Calvin, kamu akan menjadi kakak yang baik," jawab Ronald.


"Nella, Aku harus menghiasi kamar untuk Cecillia," ujar Ronald.


"Putri kita masih kecil, Untuk apa kamu menghiasi kamar?"


"Dia adalah putri kesayangan kita, Mana mungkin aku tidak memberikan yang terbaik untuknya. Bukan hanya kamar saja...semua kebutuhannya harus yang bermerk dan berkualitas. Karena Cecillia Ainsley Christoper adalah putri yang berharga bagi kita. Selain itu tentang kelahirannya akan ku umumkan, Sebagai tanda kebahagiaan kita...aku ingin menyumbang dana dan pakaian untuk beberapa panti asuhan. Agar mereka tidak kekurangan apa pun," ucap Ronald.


"Lihatlah dirimu begitu semangat," ujar Nella.


"Mana mungkin aku tidak semangat, Kita sudah lama menantikan kelahiran anak ketiga. Kini kita sudah dapat. Kita menunggu selama tujuh tahun dan akhirnya kita berhasil. tentu saja aku ingin kebahagiaan kita dirasakan oleh semua orang," Ronald.


"Papa dan mama begitu bahagia setelah kelahiran Cecillia sehingga rela mengeluarkan banyak uang. Cecillia bahkan mendapatkan hadiah setiap tahun. Kehadirannya membuat papa dan mama begitu bahagia. Bagaimana denganku nantinya? Aku juga adalah putrinya kenapa nasib kami berbeda. aku bahkan tidak pernah dapat hadiah rumah saat ulang tahun," batin Diana.


Beberapa hari setelah kelahiran Nella masih tinggal di rumah sakit. Seluruh keluarganya sangat mencintai Cecillia. Ronald dan Nella sering mengendong buah hati mereka. Cecillia adalah seorang anak yang suka senyum. Ia memiliki senyuman yang lucu dan cantik.


"Kita akan pulang besok," ujar Nella.


"Aoa kamu yakin? tubuhmu masih lemah."


"Aku tidak apa-apa, Lagi pula di rumah, aku bisa istirahat juga," jawab Nella.


Flash Back off.


"Maafkan aku yang dulunya iri padamu, aku tahu karena kesalahanku membuatmu jauh dari keluarga atau menderita di luar sana. Cecillia Ainsley, Aku hanya bisa menyesal dengan apa yang aku lakukan. Tapi, jangan salahkan aku juga. Aku tidak ingin kehilangan posisiku di rumah ini. Walau kini papa dan mama serta kakak masih membenciku. aku tetap adalah putri mereka satu-satunya," gumam Diana.


Keesokan harinya.


Diana dan Calvin sedang sarapan bersama Ronald.


"Pa, ada yang ingin aku katakan," kata Calvin.


"Katakan saja!" jawab Ronald sambil menyantap makanan.


"Diana dan Jones sudah putus," kata Calvin.


"Apa yang membuatmu sadar?" tanya Ronald pada Diana.


"Papa, Maafkan aku, Karena salah penilaian," ucap Diana.


"Kamu salah penilaian karena kebodohan dan buta karena cinta," ucap Ronald.


"Pa, aku akan bertemu dengan Zean dan meminta maaf padanya. Mungkin saja dia akan memaafkan aku. Aku yakin dia pasti mencintaiku lagi," ujar Diana.


Ronald yang kesal mendengar ucapan putrinya ia langsung menghentakan meja dengan keras.


Brak...


"Tidak tahu malu, tidak sadar diri," ketus Ronald.

__ADS_1


"Kamu yang mengkhianatinya dan kini setelah mengetahui Jones tidak mencintaimu kamu baru ingin kembali padanya. Apakah kamu masih waras? Jangan egois dan ingin orang lain selalu mengikuti keinginanmu. Kamu bukan bidadari yang turun dari langit sehingga Zean harus menerimamu," bentak Ronald.


"Pa...," ucap Diana.


"Tidak tahu diri," ketus Ronald yang beranjak dari meja makan.


"Pa, bukankah Papa ingin aku menikah dengannya? Mungkin saja dia masih menungguku selama ini," ujar Diana yang bangkit dari tempat duduknya.


"Diam! Apakah kamu masih tidak tahu malu ingin mencarinya? Seharusnya kamu sadar kamu adalah penganti Cecillia. Kalau bukan karena ulah busukmu mana mungkin aku menjodohkan Zean untukmu. Zean adalah pria yang bijaksana. dia sudah kuanggap sebagai putraku sendiri. Tapi, kau...kau yang mempermalukan aku," bentak Ronald.


"Sekarang mukamu masih tebal dan ingin kembali bersamanya setelah satu tahun kamu bersama pria lain dan bebas melakukan apa saja. Apakah masih tidak cukup untuk mempermalukan keluarga ini," ketus Ronald.


"Calvin, Bawa oleh-oleh untuk Zean! Temui dia karena dia sudah seperti keluarga kita!" perintah Ronald.


"Baik, Pa," jawab Calvin.


"Kenapa aku bisa memiliki seorang putri yang tidak berguna dan tidak tahu malu sepertimu," ketus Ronald yang kemudian menuju ke kamarnya.


Diana hanya menahan kecewa dan sedih karena sikap ayahnya yang selama ini tidak pernah berubah.


Diana memang seorang wanita yang keras kepala, iri hati dan suka bersikap sombong pada karyawan di perusahaan. Sehingga banyak yang tidak menyukai dirinya dan melaporkan kepada Calvin yang sebagai pengurus.


"Dengar kata papa! Biar aku saja yang pergi. Kamu jangan menemui Zean saat ini!" ujar Calvin.


"Kakak, Aku sudah menyesal, Apakah Zean tidak akan memberi kesempatan?"


"Andaikan kamu di posisinya, Apakah kamu akan memberi dia kesempatan? Cinta butuh kepercayaan. Sedangkan kamu sudah menyakitinya. Mana mungkin lagi dia bisa percaya padamu," jawab Calvin.


Villa Zean.


"Angelina, Hari ini mungkin aku akan pulang malam, Aku ada janjian dengan klien," kata Zean yang menuruni anak tangga. Pria itu telah berpenampilan rapi dan membawa tas kerjanya.


"Iya, aku sudah sediakan makanan untukmu, Bawalah dan jangan lupa makan," kata Angelina yang memberikan lunch bag berisi makanan kepada Zean.


"Terima kasih! aku pergi dulu. Kamu hati-hati juga di rumah," ucap Zean.


"Jangan khawatirkan aku! aku bisa jaga diriku," jawab Angelina dengan senyum.


"Sampai jumpa malam ini."


Tidak lama kemudian Zean pergi meninggalkan Villa nya. Angelina masih melanjutkan kerjanya di dapur.


Ting tong...


Bunyi bel yang ditekan seseorang dari luar.


Calvin yang berdiri di depan pintu sambil membawa dua botol minum anggur merah yang adalah minuman Favoritnya dan Zean.


Klek...


Angelina membuka pintu tersebut dan melihat seorang pria yang berdiri di depan pintunya.


Calvin memandang wanita yang muncul di hadapannya dengan tatapan dalam dan cukup lama ia terdiam.


Angelina dan Calvin saling menatap tanpa beralih pandangan.


"Siapa pria ini, kenapa aku merasa dekat dengannya," batin Angelina.

__ADS_1


"Kenapa wanita ini tidak asing dan mirip dengan Mama," batin Calvin.


__ADS_2