
"Jalani saja hidup ini, Tidak tahu ke depannya apa yang akan terjadi aku harus tetap bertahan. Setidaknya aku tidak akan disiksa seperti saat tinggal di rumah keluarga Hamilton dan tidak akan sakit hati seperti bersama dia," gumam Angelina.
Hari demi hari telah berlalu.
Angelina bekerja dengan tekun di rumah Zean yang telah menolongnya. Wanita itu melakukan semua pekerjaan rumah dengan tanpa bantuan pelayan lain.
Sementara Zean sedang mengawasi setiap gerak-gerik Angelina melalui handphonenya.
"Di desa tidak ada yang bernama Angeliza, Dia berbohong. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia memiliki kesulitan sehingga menyembunyikan identitasnya," ucap Zean.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mengungkap siapa dirinya," gumam Zean.
Angeliza yang bekerja dari pagi hingga siang ia masih belum istirahat. Sejak kecil dirinya telah biasa melakukan pekerjaan rumah sehingga tidak sulit baginya melakukannya sendirian.
Makan siang telah tiba, Angelina yang sudah tahu tugasnya, ia langsung menyediakan beberapa jenis hidangan di atas meja.
"Tuan, saatnya makan siang!" seru Angelina yang mendatangi ruangan pribadi pria itu.
"Baiklah, aku tahu," jawab Zean.
Pada saat Zean melihat hidangan-hidangan yang ada di atas meja ia semakin yakin wanita itu bukan berasal dari desa melainkan dari kota.
"Masakan ini hanya orang yang tinggal di kota mampu menyediakannya," gumam Zean.
__ADS_1
"Angeliza, dari mana kamu bisa memasakan makanan selezat ini?"
"Gawat! Dia pasti heran kenapa aku bisa menyediakan hidangan ini," batinnya.
"Aku belajar dengan temanku yang tinggal di kota, Maaf, kalau rasanya tidak sesuai dengan selera Anda!" ucap Angelina.
"Tidak apa-apa!" jawab Zean yang duduk ke kursi dan menyantap makanan itu.
"Apakah hingga saat ini kamu masih belum ada rencana beri tahu aku siapa kamu?"
"Aku?"
"Aku tidak suka orang yang memiliki rahasia, Terutama pelayan yang bekerja di sini," kata Zean sambil menyantap makanannya.
Wajah Angelina terlihat pucat dan tidak lama kemudian ia tidak sadarkan diri. Tubuh wanita itu yang lemah akhirnya terhempas ke lantai.
Zean langsung melarikan Angelina ke rumah sakit terdekat.
Pria itu terlihat cemas sehingga tidak bisa duduk diam dan mondar mandir di sana.
Beberapa saat kemudian.
Dokter keluar dari ruangan itu sambil melepaskan maskernya.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana dengan dia?" tanya Zean.
"Tuan, Selamat! Karena istri Anda sudah hamil," ucap Dokter.
"A-apa? Hamil?" tanya Zean yang hampir tidak percaya.
"Iya, Usia janinnya baru tiga minggu. Rawatlah Istri Anda dengan baik, Jangan membiarkan dia kewalahan. Kondisi tubuhnya lemah dan tidak bagus. Jangan sampai melakukan kerja yang berat. Awal kehamilan harus di jaga dengan baik," ujar Dokter.
"I-iya," jawab Zean.
"Kenapa bisa hamil di saat ini? siapa ayah dari janin dalam kandungannya?" gumam Zean.
Zean kemudian memasuki kamar Angelina. wanita itu sudah sadar dan duduk dengan menyandarkan diri.
"Selamat, kamu sudah hamil tiga minggu," ucap Zean.
Angelina hanya diam dan sedih memikirkan nasib anaknya yang baru tumbuh di dalam rahimnya.
"Kenapa kamu tidak bahagia? bisa memiliki seorang anak adalah kebahagiaan."
"Maaf, karena sudah menyusahkan Anda. aku akan pergi setelah keluar dari rumah sakit," ucap Angelina.
"Apakah kamu ada tujuan?"
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Angelina yang mengeleng-geleng kepala.
"Kalau kamu tidak keberatan, Aku berharap kamu bisa memberi tahu aku siapa ayah kandung anak ini," kata Zean