
"Jones, Ada apa denganmu? Kenapa kau bicara seperti itu? Kamu sudah lupa bahwa kamu yang mengejarku saat itu," ujar Diana.
"Aku mengejarmu karena kamu adalah putri tunggal dari keluarga kalangan atas, Kini, kamu sudah diusir dan tidak berguna lagi bagiku," jawab Jones yang duduk kembali ke sofa dan menaikan kakinya ke atas meja.
"Kenapa kamu bersikap begitu padaku? Aku mencintaiku dengan tulus," ujar Diana.
"Cinta itu apa? Tanpa uang tidak ada cinta," ketus Jones.
"Kau sangat tega, Aku sangat percaya padamu dan mati-matian aku membelamu, Tapi, apa yang kamu lakukan padaku. Karena kamu... aku selalu saja dimarahi dan dipukul oleh papaku. Tapi, kini kau malah mengkhianatiku," tangisan Diana yang terluka. Selama ini dia sangat mencintai pria itu sehingga sering berseteru dengan ayahnya sendiri.
"Orang tuamu itu tidak sadar diri, Sudah beruntung karena putraku menyukai putrinya. Masih saja berani membantah," ketus Ibu Jones dengan menghina.
"Bibi, Apa yang kamu katakan? di-dunia ini masih banyak pria yang jauh lebih baik dari putramu," jawab Diana dengan nada kesal.
"Jangan meninggikan suaramu pada mamaku," bentak Jones yang mendorong Diana hingga terkapar.
Brugh....
"Aargh...," jeritan Diana yang kesakitan.
"Wanita tidak tahu diri, Kalau bukan karena bersamamu, Aku sudah bisa menikah dengan Elina," bentak Jones.
"Kau adalah pria murahan, Dirimu telah membohongiku selama ini. Kalian semua...kalian semua sangat keterlaluan," bentak Diana yang bangkit dan berdiri.
"Kamu sudah tidak berguna bagi kami, Jones masih muda dan tampan, dia akan mendapatkan gadis yang lebih cantik dan kaya darimu," ujar ayah Jones.
"Sekeluarga yang tidak tahu malu," Suara seorang pria yang adalah Calvin yang melangkah masuk.
Calvin langsung melayangkan pukulan ke wajah Jones dengan keras.
Bruk...
"Aargh...," jeritan Jones yang terkapar di lantai.
"Hei, Jangan bertindak sesuka hatimu, di sini adalah rumah kami. Jangan karena kalian adalah orang kaya dan suka menindas orang," bentak ayah Jones.
"Aku akan menuntutmu," kecam ibu Jones.
"Kalian adalah sekeluarga yang tidak tahu malu, Membohongi adikku hanya demi harta. Tidak mengukur baju sendiri dan tidak sadar diri. Apakah kalian mengira putra kalian layak bersama adikku. Dengan statusnya yang hanya seorang pekerja kasino sama sekali tidak layak menjadi menantu keluarga besar kami," bentak Calvin.
"Diana, kamu sudah melihat bagaimana sifatnya, 'kan?" tanya Calvin.
"Kakak, Maafkan aku, Aku sudah salah menilai orang," ucap Diana.
__ADS_1
"Ini adalah pelajaran bagimu, Jangan salah pilih orang," ujar Calvin.
"Iya," jawab Diana yang menyesal.
"Kalian dengar baik-baik! Apa yang kalian lakukan pada adikku, Aku tidak tinggal diam. Tunggu saja pembalasanku," kecam Calvin.
"Mari kita pulang!" ajak Calvin yang memegang tangan adiknya.
"Bukankah kalian sudah putus hubungan?" tanya Jones.
"Aku dan Diana sedang bertaruh untuk mengujimu, aku sangat yakin bahwa dirimu sedang mempermainkan adikku. dan ternyata aku tidak salah. Kamu memang pria brengsek dan orang tuamu yang tidak sadar diri. Ingin bermimpi supaya bisa terbang ke langit. Akan tetapi kamu tidak sadar bahwa dirimu hanya cocok untuk alas kakiku," bentak Calvin.
"Kamu hanya sedang akting?" tanya Jones yang hampir tidak percaya.
"Kalau bukan karena ini adalah rencana kakakku untuk mengujimu, Aku akan dibohongi olehmu seumur hidupku. Aku sangat menyesal karena meninggalkan Zean yang begitu baik padaku hanya demi kamu. dibandingkan dengan dia...kamu bukan siapa-siapa sama sekali," jawab Diana
"Diana...Calvin...kami hanya bercanda, Jangan simpan dalam hati!" ujar ibu Jones yang tersenyum.
"Anda adalah ibunya dan mendukungnya menindas adikku, Mana mungkin kami akan menyerahkan Diana kepada keluarga seperti ini. Kalian benar-benar orang bawahan yang tidak tahu diri," ketus Calvin yang menarik tangan adiknya keluar dari sana.
"Jones, Bagaimana kalau pergi bujuk Diana lagi!" pinta Ibunya.
"Iya, pergilah cepat! Menyinggung keluarga mereka sama saja cari mati," ujar Ayahnya.
"Dia tidak akan menerimaku, Rencana kita sudah terbongkar," jawab Jones.
Calvin dan Diana kembali ke rumah. Kekecewaan yang dirasakan oleh Diana membuat wanita itu sangat terluka.
"Akhirnya kamu sadar kenapa papa selama ini tidak percaya dengan pria itu, Selama ini demi dia sudah berapa kali kamu menantang papa," kata Calvin yang duduk di sofa.
"Aku menyesal karena percaya padanya selama ini, Kata manisnya membuatku percaya padanya," sesal Diana yang menyeka air matanya.
"Lupakan dia, Jangan ingat lagi dengan pria tipe seperti dia," ujar Calvin.
"Kakak, bagaimana dengan Zean belakangan ini?"
"Dia baik-baik saja, Kenapa kamu bertanya tentang dia?"
"Aku menyesal atas apa yang sudah aku lakukan, Aku ingin secara langsung meminta maaf padanya."
"Zean adalah pria yang baik, Dia tidak mungkin masih marah padamu," kata Calvin.
"Kakak, Aku akan mendatangi Villa nya untuk meminta maaf," ujar Diana.
__ADS_1
"Apa kamu ingin berbaikan dengan dia?"
"Aku tahu aku tidak layak, Tapi, aku sudah sadar betapa sakitnya saat dikhianati," jawab Diana.
"Kamu bisa pergi meminta maaf padanya, Akan tetapi jangan memaksanya untuk menerimamu," ujar Calvin.
"Aku mengerti," jawab Diana.
Jam dinding menunjukan pukul 23.00.
Calvin sedang duduk di tepi kasurnya sambil melihat foto yang disimpan di dalam dompetnya.
"Adik kecil, kamu ada di mana sekarang? Apakah masih hidup," gumam Calvin yang menatap sedih pada bayi yang di dalam foto itu. Wajah bayi itu sangat merah karena baru usia beberapa sebulan.
"Cecillia, Kakak merindukanmu selama ini, senyumanmu sangat lucu hingga sekarang kakak masih ingat dengan jelas. Tapi, sayang sekali karena kesalahan Diana membuatmu hilang entah ke mana," gumam Calvin dalam hati.
Diana yang melewati kamar Calvin, ia menghentikan langkahnya dan melihat kakaknya yang sedang duduk memandang foto yang di dompetnya itu.
Raut wajah Diana langsung berubah saat melihat kakaknya yang memandang foto itu.
"Semua orang yang di rumah ini masih merindukan dia, Mereka hingga saat ini pasti masih sangat membenciku," gumam Diana.
"Masuklah!" suara Calvin yang menyadari adiknya sedang berdiri di pintu.
"Kakak, kenapa masih belum tidur?" tanya Diana yang melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya yang cukup mewah itu.
"Apa kamu ingat besok hari apa?" tanya Calvin
"Tidak ingat, besok hari apa?"
"Besok tepat 23 tahun adik kita menghilang, 23 tahun yang lalu kita mencarinya ke semua tempat dan juga adalah hari yang paling menyakitkan. Mana mungkin aku bisa lupa," ucapnya sedih
"Apakah Kakak membenciku?"
"Benci tetap tidak bisa menemukan dia, Benci sangat lelah. Tapi, tidak bisa dipungkiri setiap aku melihatmu aku masih mengingat kejadian itu," jawab Calvin.
"Apa pun yang aku lakukan tidak bisa menyembuhkan luka di hatimu, papa dan mama," ucap Diana.
"Andaikan kamu bersikap baik, Maka, keluarga kita sudah sempurna..Kamu tahu bila kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Maka, sangat sulit membuat papa dan mama memaafkanmu."
"Oleh karena itu mama dan papa lebih sering tinggal di luar dari pada di sini," kata Diana.
"Diana, Kakak hanya memintamu untuk mengubah sikapmu. Jangan egois dan serakah. kalau tidak, pada akhirnya kamu yang akan rugi!"
__ADS_1
"Kakak, aku tidak berpikir seperti itu," ujar Diana.
"Kamu adalah adikku, Mana mungkin aku tidak bisa membaca pikiranmu. Kalau bukan karena rasa irimu pada Cecillia. Mana mungkin kamu tega melakukan itu. Sudah malam kembalilah ke kamarmu. Besok aku akan menemanimu menjumpai Zean di villa nya," kata Calvin yang menuju ke kamar mandi.