
Calvin mendonorkan darahnya untuk Angelina. Sementara Angelina mengerang kesakitan di atas ranjang. Suster menyuntik cairan di tangan wanita itu.
"Apakah sudah menemukan orang sama tipe darah dengannya?" tanya Dokter itu yang bersiap melakukan operasi Caesar.
"Sudah," jawab salah satu suster itu.
Sementara di luar sana Diana datang menghampiri Zean yang sedang mondar mandir di depan ruangan itu.
"Zean," seru Diana.
Zean menghentikan langkahnya melihat wanita itu dan kemudian berjalan ke sana sini.
"Apakah dia begitu penting sehingga kamu begitu cemas?"
"Diana, ini menyangkut tiga nyawa, Apa kamu lakukan di kamar tadi?" tanya Zean.
Saat Zean dan Diana sedang berbicara, Calvin yang sudah selesai mendonorkan darahnya. ia hanya diam di sana mendengar pembicaraan mereka.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Aku hanya menjenguknya saja," jawab Diana yang tanpa rasa bersalah.
"Apakah semudah itu?" tanya Zean yang tidak percaya.
"Kenapa kamu merasa aku akan menyakitinya? Aku bahkan tidak kenal akrab dengannya," jawab Diana.
"Saat Angelina butuh bantuan, Kenapa kamu diam saja? kamu bisa memanggil dokter. Tapi, kamu malah diam di sana," kata Zean.
"Apa yang wanita itu lakukan padamu sehingga kamu begitu membelanya dan tidak percaya dengan kataku?"
"Diana, aku sangat paham dengan sifatmu. Kalau Angelina dan bayi kembarnya terjadi sesuatu...aku tidak akan memaafkanmu," ketus Zean.
"Kenapa menyalahkan aku? Seharusnya kamu menyalahkan dia karena tidak tahu menjaga diri sendiri, Aku tidak melakukan apa pun. Kenapa harus aku yang disalahkan olehmu," ketus Diana.
"Cukup!" bentak Calvin.
"Kakak?"
"Saat aku dan Zean meninggalkan Angelina, Dia masih dalam kondisi baik-baik saja, Dokter sama sekali tidak mengatakan kalau kehamilannya ada masalah, Ibu hamil tidak boleh ada tekanan terutama menjelang masa persalinannya. Sejak kamu muncul di kamarnya. kamu tidak peduli walau dia menangis meminta tolong. Dari jauh aku dan Zean sudah mendengarnya. Tapi, dirimu berpura-pura menjadi tuli," ujar Calvin.
"Kakak, kenapa kamu dan Zean menyalahkan aku? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Kenapa membelanya dan tidak percaya padaku," kata Diana.
"Apakah kamu bisa dipercaya?" tanya Calvin.
"Apa maksudmu?" tanya Diana.
"Kalau kamu bukan adikku...23 tahun lalu aku pasti sudah mengusirmu," ucap Calvin.
"Aku tidak menyangka Kakak tega berkata seperti itu," kata Diana yang kecewa dan mengeluarkan air mata.
"Pergi dan jangan pernah muncul di sini lagi!"
Diana yang kesal hanya bisa pergi dengan langkah yang cepat.
"Aku tidak mengerti kenapa terhadap Angelina saja dia tidak puas," kata Calvin.
"Semua ini salahku, Diana pasti salah paham kalau aku dan Angelina ada hubungan," jawab Zean.
"Jangan salahkan diri sendiri, Diana yang tidak sadar diri. Dari dulu dia sudah bersikap seperti itu. Andaikan papa tidak menjodohkan dia untukmu...kamu pasti tidak akan menderita," ujar Calvin.
Sementara di dalam ruangan itu dokter dan suster sedang mengangkat dua bayi kembar. Dua bayi tersebut menangis serentak dengan suara yang sangat keras sehingga terdengar oleh Calvin dan Zean.
Angelina menetes air matanya saat mendengar suara tangisan dua anak kembarnya itu.
"Nyonya, selamat, Bayinya sangat sehat. Anda telah melahirkan dua bayi kembar laki-laki," ucap Suster itu yang menunjukan dua bayi kembar itu.
Angelina tersenyum dan menangis haru saat melihat anaknya itu. Kondisinya semakin lemah karena kehilangan banyak darah.
"Aaron, Anak kita adalah bayi kembar laki-laki," batin Angelina.
Tidak lama kemudian Angelina memejamkan matanya.
Dokter langsung memeriksa nadi Angelina yang telah tidak ada reaksi.
__ADS_1
Dokter segera melakukan metode push fast, yaitu penekanan dada pasien.
Suster membuka mulut Angelina dan memasukkan sebuah alat yang dinamai laringoskop untuk membantu membuka jalan napas dan melihat organ pita suara.
Setelah pita suara berhasil terlihat, suster lalu memasukkan sebuah tabung berbahan plastik fleksibel yang dinamai tabung endotrakeal. Tabung ini akan dimasukkan dari mulut hingga ke dalam batang tenggorokan. Setelah terpasang suster memompa tabung endotrakeal berulang kali. Sementara dokter masih berusaha menekan dada pasien nya.
Dua suster lainnya membawa bayi kembar itu keluar dari ruangan itu.
Calvin dan Zean yang melihat dua bayi kembar yang gemuk, kemerahan, dan lucu mereka sangat bahagia.
"Mereka adalah kembar laki-laki," ucap Zean.
"Bagaimana dengan Angelina?" tanya Calvin.
"Pasien berhenti bernafas karena kehilangan terlalu banyak darah, Dokter sedang berupaya menyelamatkannya," jawab Suster.
London.
Di sebuah restoran
Aaron dan Monica makan bersama dengan di hiasi 2 lilin di meja makan, serta minuman anggur merah dan makanan untuk sepasang kekasih, Aaron mengunakan suasana romantis untuk menarik perhatian wanita cantik itu.
Di malam itu Monica mengenakan dress di atas lutut, ia dengan sengaja menampakan tubuhnya yang langsing serta memperlihatkan dua tonjolan besar dadanya.
"Aaron, suatu kebanggaan bagiku bisa makan malam bersamamu," kata Monica dengan senyum.
"Seharusnya aku yang merasa bangga karena bisa menikmati makanan mewah bersama wanita cantik sepertimu. ini adalah keberuntunganku," balas Aaron yang bersulang dengan Monica.
"Aku berharap ke depannya kita bisa sering makan bersama, apakah kamu sudi?" tanya Monica.
"Tentu saja, Bisa memiliki kesempatan ini, Mana mungkin aku keberatan," jawab Aaron dengan senyum.
"Ada yang ingin aku berikan padamu!" kata Aaron yang memberikan box perhiasan kepada Monica.
"Apa ini?"
"Anting-anting untuk melamarmu, apa kamu sudi menikah denganku?" tanya Aaron.
"Iya, kita sudah lama kenal, Bukan? Sudah saatnya kita menjalin hubungan yang lebih jauh," jawab Aaron.
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Aku dan dia sudah lama pisah rumah, Hubungan kami akan segera berakhir. Kalau kamu sudi menikah denganku. aku akan segera menceraikan dia," jawab Aaron.
"Apakah aku boleh tahu, kenapa hubunganmu dengan mantan-mantan istrimu tidak berakhir dengan baik?"
"Karena yang terbaik ada di depan mataku," jawab Aaron yang menyentuh tangan wanita itu.
Monica tersenyum bahagia saat menerima lamaran pria yang telah menarik perhatiannya dari sejak dulu
Aaron yang tersenyum tiba-tiba gelas yang ditangannya terlepas dan jatuh ke lantai sehingga pecah berkeping-keping. Pria itu memiliki firasat buruk seakan terjadi sesuatu.
"Angelina," gumam Aaron yang terbayang istrinya.
"Aaron, apa kamu baik-baik saja?" tanya Monica.
"Kenapa aku terbayang dia lagi, Apakah Angelina terjadi sesuatu," batin Aaron.
"Aku tidak apa-apa," jawab Aaron.
"Tuan, biarkan saya membersihkan serpihan kaca ini," ujar Pelayan restoran dengan sopan.
"Baiklah, Maaf," jawab Aaron yang masih terbayang Angelina.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Monica.
"Monica, bagaimana kalau pesta diadakan lima hari ke depan?" tanya Aaron.
"Lima hari? bukankah ini sangat buru-buru," jawab Monica dengan hampir tidak percaya.
"Tentu saja tidak buru-buru, karena ini sudah saatnya, Aku hanya tidak sabar ingin segera menikahi wanita secantikmu," jawab Aaron.
__ADS_1
"Apakah aku paling cantik di antara dua mantanmu itu?" tanya Monica.
"Iya."
"Kalau begitu, Apakah aku adalah wanita terakhir dalam hidupmu?"
"Sudah pasti, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu," jawab Aaron.
"Aku tidak sabar lagi ingin menikah denganmu," ujar Monica dengan senyum bahagia.
Satu jam kemudian.
Aaron meninggalkan restoran dan berada di dalam perjalanan menuju ke mansionnya.
"Bos, apa Anda baik-baik saja? belakangan ini kelihatannya Anda kurang sehat," tanya Louis yang sedang menyetir.
"Aku tidak apa-apa, Aku tidak sabar ingin menghancurkan rubah itu. setelah bukti jatuh ke tanganku. aku bersumpah akan menjatuhkan mereka," kata Aaron.
"Bos, kita pasti berhasil. anting-anting itu telah dipasang penyadap. dan itu akan menjadi bukti kita," jawab Louis.
Sementara Dokter yang sedang berusaha menyelamatkan Angelina masih belum berhenti melakukan penyelamatan. Dokter itu berulang kali menekan dada pasiennya yang berhenti bernafas.
"Cepat cari tipe darah yang sama!" perintah Dokter itu.
"Baik," jawab Suster itu.
Suster itu bergegas keluar dari ruangan dan menemui Calvin dan Zean.
"Tuan, apakah masih ada yang memiliki darah Tipe AB-?"
"Ambil saja darahku!" jawab Calvin.
"Bagaimana dengan Angelina?" tanya Zean.
"Dokter sedang berusaha menyelamatkannya," jawab suster.
"Ambil darahku juga, Tipe darahku adalah AB-!" suara Ronald yang baru datang.
"Pa!" seru Calvin.
"Paman," seru Zean.
"Angelina terjadi sesuatu, kenapa tidak memberi tahu aku," kata Ronald.
"Pa, kondisi Papa apakah bisa...?"
"Bisa, aku hanya memeriksa kesehatan saja, Bukan karena suatu penyakit," jawab Ronald.
"Suster ambil darahku!" pinta Ronald.
"Baiklah, Tuan. Silakan ikut dengan saya," kata Suster itu.
"Mudah-mudahan Angelina bisa diselamatkan," gumam Zean.
Zean kemudian kembali ke kamar Angelina dengan wajah yang lesu. ia melihat darah yang mengotori ranjang membuatnya semakin merasa bersalah.
"Angelina, Andaikan aku tidak meninggalkanmu sendirian, Mungkin kamu tidak akan terjadi seperti ini. asalkan kamu selamat aku rela melakukan apa saja," ucap Zean yang melangkah masuk mendekati ranjang itu.
Mata Zean kemudian fokus pada kalung milik Angelina yang dilepaskan oleh suster tadi sebelum di bawa masuk ke ruangan persalinan.
Zean membulatkan mata besarnya melihat liontin yang tidak asing baginya.
"Tanggal lahir? kenapa kalung ini mirip dengan dipakai Calvin dan Diana? Calvin mengatakan bahwa Cecillia juga memiliki kalung yang sama dengannya," gumam Zean.
Ronald dan Calvin yang telah mendonorkan darah meninggalkan ruangan itu. Sesaat kemudian Ronald tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Pa, ada apa?" tanya Calvin.
"Suster, tolong lakukan sesuatu untukku!" pinta Ronald.
"Silakan katakan, Tuan."
__ADS_1
"Lakukan Tes DNA untuk aku dan Angelina!" jawab Ronald.