
"Ternyata perusahaan Aaron juga bekerja sama dengan mereka," kata Angelina.
"Jangan cemaskan hal ini, Kamu dan dia tidak akan bertemu lagi. Lagi pula Aaron jarang datang ke Shanghai. Dia lebih sering berada di eropah. Calvin bertemu dengan Aaron saat di Boston. Karena kecocokan mereka pun tidak ragu tanda tangan kontrak," ujar Zean.
"Iya, Aku mengerti," jawah Angelina yang murung.
"Angelina, Apakah kamu menyesal dengan pernikahan ini?"
"Tidak tahu, Menyesal juga tidak berguna. Hanya bisa menerima apa adanya," jawab Angelina.
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Lupakan semua yang telah berlalu," ujar Zean.
"Wajahku baru tersebar di berita dunia, sangat bahaya kalau aku keluar sekarang," jawab Angelina.
"Kamu tidak bosan karena di rumah terus?"
"Tidak, menurutku di sini sangat nyaman, Udaranya segar. dan tidak ada beban. Aku suka tempat ini," jawab Angelina.
"Baguslah kalau kamu menyukainya," ucap Zean.
"Sudah malam, apakah kamu tidak lapar dan makanlah sesuatu," ujar Angelina.
"Kamu pasti sudah menyediakan makan malam, baiklah...temani aku makan bersama," jawab Zean yang bangkit dan beranjak dari kamarnya.
Di sisi lain seorang pria berparas tampan dan hidung mancung sedang duduk menonton berita dunia yang sedang menayangkan berita penceraian Aaron dan Angelina. Foto keduanya tampil di berita tersebut.
Pria itu yang tak lain adalah Calvin, sahabat Zean dan kakak dari Diana, mantan kekasih Zean. Ia mengenakan kaos putih dan terlihat tangannya yang berotot. Kalung putih yang digantung di lehernya terdapat liontin dan juga tercantum angka kelahirannya. Kalung tersebut adalah kalung milik keluarga besarnya.
"Selama ini tidak pernah mendengar berita pernikahannya, tiba-tiba saja sudah bercerai," ucap Calvin yang meneguk minumannya.
Mata pria itu kemudian fokus pada foto Angelina.
"Kenapa tidak asing, siapa dia?" gumam Calvin.
"Calvin," suara seorang pria beruban yang berjalan menuju ruang keluarga. Ia mengunakan tongkat tiga kaki untuk membantunya berjalan. Terlihat kepala singa yang dipegangan pria itu.
"Pa," sahutnya yang memapah ayahnya itu.
Ayah Calvin, Ronald Christoper adalah seorang pengusaha sukses yang berbasis di Shanghai dan beberapa negara lainnya. di kalangan bisnis ia terkenal dengan sifatnya yang murah hati dan sering melakukan kebajikan. Ia dan istrinya selalu membantu warga Afrika yang kurang mampu. Walau berbeda negara ia tidak berhenti suka memberi bantuan pada negara lain.
__ADS_1
Akan tetapi pria yang dipanggil Ronald sangat tegas dan keras dalam mendidik anak-anaknya.
"Pa, kapan mama pulang?" tanya Calvin yang duduk bersama dengan ayahnya.
"Pamanmu ulang tahun dan mamamu mungkin akan tinggal di sana untuk beberapa hari," jawab ayahnya itu.
"Mungkin bagus juga buat mama, Agar meluangkan banyak waktu untuk paman," kata Calvin.
"Apakah Diana masih belum pulang?"
"Belum, mungkin sedang berkencan," jawab Calvin.
"Hm...pria seperti itu yang dia pilih, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Zean," kata Ronald dengan nada kesal.
"Jangan marah, Hanya menyakiti diri sendiri. Kalau dia tidak ingin mendengar nasehat kita... percuma saja kalau kita ikut campur."
"Tidak tahu dia mirip dengan siapa, Zean adalah pemuda yang baik, Tapi, dia malah selingkuh dengan pria lain sehingga mempermalukan keluarga kita. Kenapa...kenapa dia tidak mirip denganmu walau hanya sedikit," ketus Ronald.
"Pa, mungkin saja Zean dan Diana tidak berjodoh, Kita tidak bisa memaksa mereka," kata Calvin.
"Kalau memang tidak berjodoh, Papa tidak akan menyalahkan dia. Tidak ada kecocokan pisah baik-baik. Bukan begini caranya. Sejak bersama pria itu adikmu menjadi orang bodoh saja. Jarang ke perusahaan dan setiap rapat dia juga jarang hadir. Lalu, untuk apa dia sebagai manager," ujar Ronald dengan kesal.
"Pa, Kakak," seru Diana yang baru kembali. Ia berdiri di hadapan Ronald dan Calvin.
"Pa, Kakak, aku dan Jones sudah pertimbangkan akan bertunangan," ucapnya dengan senyum.
Ronald yang mendengar ucapan putrinya ia semakin kesal dan menahan emosi. Calvin yang sudah paham pikiran ayahnya ia pun langsung membantah rencana adiknya itu.
"Sekarang belum saatnya, Diana, untuk apa terburu-buru? Usiamu masih muda," kata Calvin dengan alasan.
"Kakak, kami bersama sudah selama setahun. dan kami sudah membicarakan mengenai pertunangan ini di depan keluarganya," jawab Diana.
"Apakah keluarganya setujua?" tanya Calvin.
"Iya, Paman dan bibi sangat baik padaku, Makanya, mereka langsung setuju," jawab Diana.
Ronald bangkit dan langsung melayangkan tongkatnya ke bagian kaki putrinya itu.
Bruk...
__ADS_1
"Aarrgh...," jeritan Diana yang kesakitan.
Bruk...
Pukulan keras yang dilakukan Ronald yang sedang emosi
"Pa...," teriak Diana yang kesakitan.
"Berlutut!" perintah Ronald dengan nada tegas.
Diana yang kesakitan hanya bisa patuh dan berlutut di hadapan ayahnya itu.
"Tidak berguna, Aku memiliki seorang putri yang tidak berguna, Seharian hanya tahu berjalan dengan pria itu. di mana harga dirimu sebagai seorang gadis? Berselingkuh dan kini kau ingin bertunangan dengannya. Apakah kau ingin kehilangan segalanya," bentak Ronald yang sangking kesalnya.
"Pa, aku dan Jones saling mencintai, Tolong restui kami!"
"Saling mencintai? Apakah pria tidak berguna mencintaimu ketika kamu kehilangan segalanya? Coba saja kalau kamu berani bertunangan dengannya, aku tidak akan membiarkanmu melangkah masuk ke dalam rumah ini lagi," kecam Ronald dengan tegas.
"Pa, kenapa harus membencinya? Dia sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik," ujar Diana.
"Jangan memohon padaku, Cepat pergi dari hadapanku, sebelum aku pecahkan kepalamu," bentak Ronald dengan nada tinggi.
"Diana, kembali ke kamarmu!" titah Calvin.
Diana yang sedang menangis harus menahan sakit untuk berdiri dan menuju ke kamarnya.
"Pa, kenapa tidak memberi kesempatan untuk Jones?"
"Anak itu tidak bisa diharapkan, adikmu dibutakan karena cinta. Sekian banyak pilihan dia malah memilih seorang pekerja kasino. Kamu juga lihat teman-teman sekitarnya...tidak ada satu yang baik. Semuanya hanya tahu menghabiskan uang orang tua," jawab Ronald.
"Tapi, Diana sudah mencintainya selama ini, Sulit untuk memisahkan mereka."
"Nasibku yang tidak baik, adikmu tidak bisa apa-apa, pekerjaannya kurang teliti dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk pria itu. Sedangkan adik bungsumu hingga saat ini masih belum bisa ditemukan. Tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak," ujar Ronald.
"Pa, Selama 23 tahun kita mencarinya tanpa berhenti, rumah sakit itu sudah kudatangi beberapa kali, Akan tetapi tidak mendapatkan sembarang petunjuk. Anggota kita sudah mencari di hampir semua tempat," kata Calvin.
"Tidak peduli 23 tahun atau berapa lama, Tetap cari! Aku yakin adikmu masih hidup. Aku hanya berharap sebelum aku meninggal bisa bertemu dengan putri bungsuku,," ujar Ronald.
"Pa, tidak mendapatkan beritanya bukan berarti dia sudah meninggal, Mungkin saja dia sudah dewasa dan hidup dengan baik," kata Calvin.
__ADS_1
...****************...
Hai, teman-teman! Jangan lupa mampir ke karya terbaru saya berjudul Perjalanan Hidup Molly🙏🙏🙏