Bisu Tawanan Hartawan

Bisu Tawanan Hartawan
Serangan Dari Musuh Aaron


__ADS_3

"Aku masih ingin duduk di sini, dan tidak ada selera makan," jawab Angelina dengan alasan.


"Nona, Tapi...."


"Aku masih kenyang dan belum bisa makan, Nanti saja kalau aku lapar lagi aku baru pergi makan," ujar Angelina dengan alasan. Karena ia mencurigai ada keanehan pada mereka.


Karena penolakan Angelina, Mereka hanya bisa pergi dengan pasrah karena terdapat begitu banyak tamu yang duduk di Lobby sehingga mereka tidak bisa bertindak.


Sementara beberapa pria asing yang berniat menyerang Aaron, mereka menuju ke kamar suami Angelina itu.


Mereka mengenakan pakaian yang rapi agar tidak dicurigai. masing-masing di dalam jas mereka tersimpan senjata tajam untuk digunakan melawan sasarannya.


Tok...tok...


Ketukan pintu yang dilakukan oleh mereka.


"Siapa?" tanya Aaron yang di dalam kamar.


"Pelayan kamar, Tuan!" jawab salah satu pria asing itu.


Aaron yang berada di kamar berjalan mendekati pintunya.


"Kenapa pelayan bisa datang sekarang? Padahal aku tidak pesan apapun," gumam Aaron.


Aaron membuka pintu dan melihat beberapa pria asing yang bernampilan rapi berdiri di depannya.


"Bos kami ingin bertemu," ujar salah satu pria itu.


Aaron hanya tersenyum dan persilahkan mereka masuk ke dalam kamarnya.


"Apakah dia begitu pengecut sehingga tidak berani datang menemuiku?" tanya Aaron yang berjalan mendekati mejanya yang terdapat minuman favoritnya.


"Kalau kamu berani ikut kami mememui bos kami!"


"Tidak ada alasannya aku harus ikuti perintah kalian," jawab Aaron yang meneguk minumannya.


"Aaron Andres Davidson, kamu tidak ada hak untuk menolak."


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan kalau aku tidak ingin mengikuti kalian? membunuhku di tempat umum? Atau ingin melemparku ke bawah?" tanya Aaron dengan senyum santai.


"Aaron, jangan bersikap sombong dengan kami! lebih baik kamu patuh daripada melawan!" kecam mereka yang mengeluarkan senjata tajam.


"Hanya dengan senjata tajam ini kalian ingin melawanku?" tanya Aaron dengan bersikap santai.


"Kami ada beberapa orang, sedangkan kamu hanya seorang diri. Jadi, kamu tidak akan bisa lolos!" kata salah satu pria itu yang ingin menikam Aaron.


Aaron yang melihat pria itu menyerangnya, ia langsung menghindar dan menahan tangan lawannya yang ingin menikamnya.


"Apakah kalian mengira sanggup mengalahkan aku," ketus Aaron yang menendang bagian perut lawannya.


Brugh...


"Aarggh...," jeritan lawannya yang terkapar akibat tendangan Aaron. Aaron merebut pisau milik lawannya itu untuk melawan mereka semua.


"Kalian mengira akan berhasil jika mengunakan cara ini untuk mengambil nyawaku?" kata Aaron dengan senyum.


"Aaron Andres Davidson, sehebat apapun dirimu, kau tetap akan mati. karena jumlah kami lebih banyak sementara kau hanya seorang diri," ujar pria asing itu dengan yakin.


Di saat Aaron berbicara dengan empat pria itu, salah seorang pria asing ingin menikamnya, pria itu mengangkat tangan yang memegang senjata tajam sambil melangkah dengan perlahan mendekati sasarannya. akan tetapi di saat yang sama Aaron langsung menoleh ke arah pria itu dengan cepat dan menikam bagian perutnya sehingga berkali-kali.


Srek...srek....


"Aaarrgghh," jeritan pria itu yang kesakitan sehingga darahnya berceceran di lantai.


Mereka yang melihat Aaron menikam temannya, mereka pun langsung menyerang bersama-sama.


Di saat mereka sama-sama mengarahkan senjata tajam ke arah Aaron. Dengan cepatnya Aaron mengunakan tubuh pria itu menghadang senjata tajam dari lawannya yang menyerangnya dari depan.


Srek..srek..


"Aarrggh" teriakan pria itu yang dijadikan penghadang oleh Aaron sehingga tubuhnya ditikam oleh temannya sendiri.


Sesaat kemudian dia tewas dengan beberapa tikaman dari Aaron dan temannya.


''Brengs*k," ketus salah satu dari mereka dengan kesal.


"Lakukan jika kalian ingin menyerangku," tantang Aaron.

__ADS_1


Mereka kompak langsung menyerang Aaron, Aaron langsung menahan tangan salah satu pria itu lalu mengunakan sekuat tenaga menarik dan membanting tubuh pria itu ke lantai dengan keras.


Bruk....


"Aarghh," teriakan pria itu karena kesakitan.


Di saat pria itu dibanting, Aaron pun langsung menikam tubuh lawannya berulang kali.


Srek...


"Aarrggh."


Tikaman berkali-kali yang dillakukan oleh Aaron akhirnya menewaskan pria itu dengan darah berserakan di lantai serta mengotori tangannya.


"Aku akan membunuhmu," teriak salah satu dari pria itu yang sama-sama menyerang Aaron.


Satu tendangan keras dari Aaron melayang ke sisi kiri wajah salah satu pria yang menghampirinya itu sehingga kepalanya terbentur ke dinding.


Brugh...


"Aarghh...," jeritan lawannya yang kesakitan.


Aaron menarik rambut pria itu dan membenturkan ke tembok dengan berulang kali.


Brugh...brugh...


"Aarrgh...," jeritannya yang kesakitan dan pada akhirnya tewas dengan kepalanya yang mengeluarkan banyak darah.


Setelah pria itu tewas sisa satu teman mereka yang masih hidup, Aaron langsung menyerangnya dengan beberapa tikaman.


Srek....srek....


Tikaman demi tikaman dilakukan oleh Aaron menembus tubuh pria itu.


Srek...srek.


"Aarrgh....," jeritan pria itu yang kemudian tewas di tempat.


Beberapa pembunuh yang ingin menyerang Aaron akhirnya tewas tak tersisa, walau mereka telah dikalahkan akan tetapi masih terdapat beberapa pria bersenjata tajam yang baru melangkah masuk ke dalam hotel itu.


"Bos," seru Louis yang baru tiba.


"Baik!" jawab Louis dengan patuh.


"Apakah kamu melihat Angelina?" tanya Aaron.


"Nyonya ada di Lobby, sementara masih aman, karena di sana banyak orang," jawab Louis.


"Hubungi Tim A!" perintah Aaron yang melangkah keluar dari kamarnya.


"Baik!" jawab Louis.


Tidak lama kemudian Aaron beranjak dari kamarnya dan jasad lawannya disembunyikan oleh Louis, Aaron melangkah pergi karena mengetahui masih ada musuhnya yang lain.


Sementara di lantai dasar beberapa pria asing yang datang mencari keberadaan Aaron. masing-masing dari mereka mengunakan senjata tajam, mereka kemudian berpencar untuk mencari jejak sasarannya.


Dua pria itu berjalan ke salah satu koridor hotel yang terdapat beberapa kamar di sana. dua pria itu memeriksa kiri dan kanan ruangan yang terdapat di lorongan itu, mereka sambil mengetuk pintu satu-persatu untuk memeriksa keberadaan sasaran mereka. dan di saat yang sama pria itu menghentikan langkahnya di depan salah satu kamar hotel. tiba-tiba saja sebilah pisau langsung menancap ke tubuhnya.


Srek...


"Aaaagghh" jeritannya akibat ditikam oleh Aaron yang tiba-tiba muncul.


Srek...


"Aarrgh...," jeritan lawannya yang kesakitan dan tergeletak tidak bernyawa.


"Sialan," ketus teman lainnya yang menyerang Aaron.


"Hiaaaaak," teriakan pria itu sambil mengarahkan senjata tajam ke wajah Aaron.


Saat diserang Aaron langsung mengelak ke kiri dan langsung menahan tangan pria itu ke belakang serta mendorong tubuhnya menghadap tembok dengan keras.


Brugh..


"Ingin membunuhku? kau masih belum layak," gertak Aaron yang membekap mulut lawannya dan langsung menikam bagian jantung.


Srek....srek...srek...

__ADS_1


"Em...," jeritannya yang sedang ditikam sehingga mengeluarkan darah yang membanjiri lantai di tempat dia berdiri.


Di sisi lain tiga pembunuh lainnya sedang mencari Aaron di lantai dua sambil melihat sana sini. di saat mereka sedang berjalan, Aaron tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan langsung melempar pisau tajamnya ke arah salah satu pria itu.


Srek...


Lemparan pisau Aaron menancap di bagian dahi pria itu.


"Aargh...," jeritan sesaat pria itu dan kemudian langsung tewas di tempat.


Sisa temannya yang masih hidup menyerang Aaron dengan pistol.


Aaron yang melihat pembunuh itu yang ingin menyerangnya ia langsung mencabut pisau yang menancap dahi pria tadi.


"Aaron Andres Davidson, aku ingin melihat apakah kau masih bisa lolos dari tanganku," bentak pembunuh itu yang berjalan menghampiri Aaron sambil menyerang dengan senjata tajamnya.


Dor...dor...dor...


Aaron menendang wajah pria itu dengan keras sehingga wajah lawannya terbentur ke tembok.


Brugh...


"Aarghh...," jeritan lawannya yang kesakitan dan kemudian terkapar ke lantai.


Di saat lawannya terkapar, Aaron langsung mengambil senjata tajamnya menikam bagian jantung lawannya itu.


Srek...


"Arggh...."


Beberapa tikaman yang dilakukan oleh Aaron berhasil membuat pria itu kehilangan nyawanya.


Tidak lama kemudian seorang pria datang menghampiri Aaron.


"Tuan Davidson, Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan sopan.


"Aku tidak apa-apa!" jawab Aaron.


"Tuan, mungkin Anda harus menganti pakaian," kata pria itu yang adalah seorang Manager hotel.


"Sembunyikan mereka semua, Apakah kamu melihat istriku?"


"Nyonya ada di lobby dan anggota kita ada yang mengawasinya dari jauh. Yang lain sudah tiba," jawab Manager.


"Baiklah, perintah mereka melindungi istriku dan tunggu aku turun menjemputnya!" perintah Aaron.


"Baik, Tuan," jawab Manager itu dengan patuh.


Di sisi lain Angelina yang masih duduk di lobby sambil membolak balikan majalah dengan gelisah.


"Kenapa aneh sekali hari ini? Sepertinya banyak yang sedang memandang ke arahku. Lebih baik aku kembali ke kamar," batin Angelina.


Angelina yang ingin beranjak dari tempat duduknya, Diikuti oleh musuh suaminya yang telah menunggu kesempatan dari tadi.


Sementara terdapat puluhan orang yang menghampiri musuh Aaron yang berniat ingin mendekati Angelina. langkah mereka dihentikan oleh puluhan orang itu yang tidak lain adalah anggota Aaron.


"Jangan coba-coba menyentuhnya!" kecam salah satu anggota Aaron.


"Kalian tidak akan bisa lolos."


"Di sini begitu banyak orang, Apakah kalian ingin bertindak?" tanya anggota Aaron yang bermaksud mengancam.


Angelina yang menuju ke kamarnya, ia diikuti oleh anggota Aaron dari jarak jauh.


"Angelina," seru Aaron yang baru keluar dari kamarnya.


"Kamu ingin keluar?" tanya Angelina yang melangkah masuk ke dalam akan tetapi ia ditahan oleh suaminya.


"Mari kita pulang ke rumah!" ajak Aaron.


"Hm...iya," jawab Angelina yang tanpa tanda tanya.


"Kenapa kamu tidak bertanya padaku kenapa tiba-tiba pulang?"


"Kenapa kita pulang?"


"Ada urusan mendadak, Oleh sebab itu kita harus pulang," jawab Aaron.

__ADS_1


Di hari itu musuh Aaron tidak berhasil menyentuhnya sama sekali. Mereka dihalang oleh anggota Aaron yang lebih unggul jumlahnya.


Hotel yang mereka tempati adalah milik keluarga Davidson yang selama ini dikelola oleh Aaron sendiri.


__ADS_2